Arsip | 13.56

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Insaan (4)

13 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insaan (Manusia)
Surah Madaniyyah; Surah ke 76: 31 ayat

Setelah Allah menyebutkan hiasan luar berupa sutera dan perhiasan, maka selanjutnya Dia berfirman: wa saqaaHum rabbuHum syaraaban thaHuuran (“Dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih.”) yakni dibersihkan hati mereka dari sifat hasad, dengki, menyakiti orang lain dan dari seluruh sifat-sifat tercela lainnya. Allah berfirman: inna Haadzaa kaana lakum jazaa-aw wa kaana ya’yukum masykuuran (“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri.”) maksudnya dikatakan kepada mereka bahwa yang demikian itu merupakan penghormatan bagi mereka sekaligus sebagai bentuk kebaikan untuk mereka, sebagaimana difirmankan Allah: kuluu wasyrabuu Hanii-am bimaa aslaftum fil ayyaamil khaaliyah (“Makan dan minuumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”) (al-Haaqqah: 24)
wa kaana ya’yukum masykuuran (“dan usahamu adalah disyukuri.”) yakni, Allah akan membalas usaha kalian yang sedikit dengan balasan yang banyak.

tulisan arab alquran surat al insaan ayat 23-31

“23. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. 24. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka. 25. dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. 26. dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. 27. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). 28. Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. 29. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, Maka Barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya Dia mengambil jalan kepada Tuhannya. 30. dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. 31. dan memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya (surga). dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.” (al-Insaan: 23-31)

Allah berfiman memberikan karunia kepada Rasul-Nya yaitu berupa diturunkannya al-Qur’an al-‘Adhiim secara berangsur-angsur. Fashbir lihukmi rabbika (“Maka bersabarlah kamu untuk [melaksanakan] ketetapan Rabbmu.”) yakni sebagaimana Aku telah memuliakan dirimu dengan apa yang telah Aku turunkan kepadamu, maka bersabarlah atas ketetapan dan ketentuan-Nya. Dan ketahuilah bahwa Dia akan mengurusmu dengan sebaik-baiknya. Wa laa tuthi’ minHum aatsiiman au kafuuraa (“dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa atau orang-orang kafir di antara mereka.”) maksudnya janganlah kamu menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik jika mereka hendak menghalang-halangi dirimu untuk menyampaikan apa yang telah Dia turunkan kepadamu, tetapi hendaklah kamu tetap menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan bertawakkal lah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah akan melindungimu dari orang-orang. Dengan demikian, kata al aatsiman berarti orang-orang yang fajir dalam perbuatannya sedangkan alkafuuran adalah orang yang hatinya kafir.

Wadzkurisma rabbika bukrataw wa ashiilan (“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada [waktu] pagi dan petang.”) yakni permulaan dan akhir siang. Wa minal laili fasjud laHuu wa sabbihHu lailan thawiilan (“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah pada bagian yang panjang di malam hari.”) yang demikian itu sama seperti firman-Nya yang artinya: “Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajjutlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (al-Israa’: 79)

Kemudian firman Allah seraya memberikan penolakan terhadap orang-orang kafir dan yang serupa dengan mereka dalam mencintai serta mengejar dunia dan meninggalkan kehidupan akhirat jauh di belakang mereka,
Innaa Haa-ulaa-i yuhibbuunal ‘aajilata wa yadzaruuna waraa-aHum yauman tsaqiilan (“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka pada hari yang berat.”) yakni hari kiamat.

Nahnu khalaqnaaHum wa syadadnaa asraHum (“Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan lain-lain mengatakan: “Yakni, penciptaan mereka.” Wa idzaa syi’naa baddalnaa amtsaalaHum tabdiilan (“Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti [mereka] dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.”) Ibnu Zaid dan Ibnu Jarir mengatakan: “Yakni jika Kami mau, maka akan Kami datangkan kaum lain selain mereka.” Yang demikian itu seperti firman Allah yang artinya: “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, wahai manusia, dan Dia datangkan ummat yang lain [sebagai penggantimu]. Dan adalah Allah Mahakuasa berbuat demikian.” (an-Nisaa’: 133)

Selanjutnya Allah berfirman: inna HaadziHii tadzkiraH (“Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan.”) yakni bahwa surah ini menjadi peringatan.
Faman syaa-at takhadza ilaa rabbiHii sabiilan (“Karenanya, barangsiapa menghendaki [kebaikan bagi dirinya], niscaya dia mengambil jalan kepada Rabb-nya.”) yakni jalan. Dengan kata lain, barangsiapa mau maka dia bisa memperoleh petunjuk dari al-Qur’an.
Wa maa tasyaa-uuna illaa ay yasyaa allaaHu (“Dan kamu tidak mampu kecuali bila dikehendaki Allah.”) maksudnya, tidak ada seorangpun yang mampu memberi petunjuk kepada dirinya sendiri dan tidak juga masuk ke dalam iman serta tidak juga mengambil manfaat untuk dirinya sendiri, illaa ayyasyaa allaaHU innallaaHa kaana ‘aliiman hakiiman (“Kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”) maksudnya, Mahamengetahui siapa yang berhak mendapat petunjuk sehingga Dia akan memberi kemudahan kepadanya serta membentangkan sarana untuk menggapainya. Dan mengetahui pula siapa yang berhak untuk disimpangkan sehingga dia akan jauhkan dari petunjuk. Dan Dia memiliki hikmah yang sangat besar dan hujjah yang pasti.

Yudkhilu mayyasyaa-u fii rahmatiHii wadh dhaalimiina a-‘addalaHum ‘adzaaban aliiman (“Dia memasukkan siapa yang dihendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan bagi orang-orang dhalim disediakanNya adzab yang pedih.”) yakni, Dia akan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Allah kehendaki pula. Oleh karena itu barangsiapa yang Dia beri petunjuk, maka tidak ada seorang pun yang mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Dia sesatkan, maka tidak ada seorangpun yang mampu memberinya petunjuk.

Selesai.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Insaan (3)

13 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insaan (Manusia)
Surah Madaniyyah; Surah ke 76: 31 ayat

Allah mengabarkan tentang para penghuni surga serta berbagai kenikmatan abadi yang mereka dapatkan disana, dan juga limpahan karunia yang agung kepada mereka. Dimana Dia berfirman: muttaki-iina fiiHaa ‘alal araa-iki (“Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan.”) pembahasan masalah ini telah diberikan di dalam surah ash-Shaaffaat. Dan disebutkan perbedaan pendapat tentang kata al-ittikaa’, apakah yang dimaksudkan itu berbaring, bersandar, atau duduk bersila, atau diam dalam keadaan duduk. Sedangkan al-araa-ik berarti dipan yang diberi naungan.

Firman Allah: laa yarauna fiiHaa syamsaw walaa zamHariiran (Mereka tidak merasakan di dalamnya [teriknya] matahari dan tidak pula dingin yang menusuk.”) maksudnya, mereka tidak merasakan panas yang menyengat dan dingin yang menusuk. Melainkan suhu di sana seimbang, dimana mereka tidak menginginkan adanya perubahan. Wa daaniyatan ‘alaiHim dhilaaluHaa (“dan naungan dekat di atas mereka.”) yaitu dahan-dahan sangat dekat dengan mereka. Wa dzullilat quthuufuHaa tadzliilan (“dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.”) artinya kapan saja dia hendak memetiknya, maka buahnya mendekat kepadanya dan menyodorkan diri dari atas dahan, seakan-akan dia benar-benar mendengar dan taat. Qatadah mengatakan: “Tangan mereka tidak dihalangi oleh duri maupun jarak yang jauh.”

Firman Allah: wa yuthaafu ‘alaiHim bi-aaniyatim min fidl-dlatiw wa akwaabin (“dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala.”) yaitu mereka dikelilingi oleh pembantu-pembantu dengan membawa bejana makanan yang terbuat dari perak dan juga gelas-gelas minuman.

Firman Allah: qawaariiraa, qawaariira min fidldlatin (“Yang bening laksana kaca, yaitu kaca-kaca yang terbuat dari perak, dan piala-piala.”) kata qawaariiraa yang pertama manshub oleh khabar kaana. Yakni kaanat qawaariiraa. Sedangkan kata qawaariira yang kedua manshub, baik karena badal maupun tamyiz, karena telah dijelaskan oleh firman Allah Jalla wa ‘Alaa: qawaariira min fidldlati (“kaca-kaca yang terbuat dari perak.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, al-Hasan Bashri, dan lain-lain mengatakan: “Yaitu putih perak dalam kejernihan kaca.” Dan qawaariira itu tidak terbuat kecuali dari kaca. Dengan demikian gelas-gelas ini terbuat dari perak, sehingga dengan demikian isi yang ada di dalamnya akan tampak dari bagian luar. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Firman Allah: qaddaruuHaa taqdiiran (“Yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya”) yaitu diukur dengan tingkat kekenyangan mereka, tidak lebih dan tidak juga kurang, tetapi ia disiapkan sesuai dengan rasa kenyang peminumnya.

Firman Allah: wa yusqauna fiiHaa ka’san kaana mizaajuHaa zanjabiilan (“di dalam surga itu mereka diberi minum segelas [minuman] yang campurannya adalah jahe.”) maksudnya, mereka yaitu orang-orang yang berbuat baik, juga akan diberi minum dengan gelas-gelas ini. Ka’san; yaitu segelas minuman: kaana mizaajuHaa zanjabiilan (“yang campurannya adalah jahe”). Terkadang diberi minuman yang dicampur dengan kafur yang dingin, dan pada saat yang lain diberi minuman yang bercampur jahe yang hangat, agar ada keseimbangan bagi mereka. Terkadang minuman dingin dan terkadang panas. Dia berfirman: zanjabiilan [jahe] ini merupakan sebuah mata air di surga yang bernama Salsabila. ‘Ikrimah mengatakan: “Ia merupakan nama sumber air di surga.” Sedangkan Mujahid mengatakan: “Disebut demikian karena alirannya yang lembut dan tajam.”

Firman Allah Ta’ala: wa yathuufu ‘alaiHim wildaamum mukhalladuuna idzaa ra-aitaHum hasibtum lu’lu-am mantsuuran (“Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan.”) maksudnya, pelayan-pelayan muda itu mengelilingi para penghuni surga dalam rangka melayani mereka. Mukhalladuuna; yakni, selalu dalam satu keadaan, muda selamanya dan tidak akan mengalami perubahan, umur mereka tidak akan bertambah dari umur mereka itu.

Firman Allah: idzaa ra-aitaHum hasibtum lu’lu-am mantsuuran (“Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan.”) maksudnya, jika engkau melihat ketersebaran mereka dalam memberikan pelayanan kepada majikan mereka dan jumlahnya yang cukup banyak serta kecerahan wajah mereka serta indahnya warna mereka, juga pakaian dan perhiasan mereka, pasti engkau akan mengira bahwa mereka itu adalah mutiara yang bertaburan. Dan tidak ada penyerupaan yang lebih indah dari ini dan tidak pula pemandangan yang lebih indah dari mutiara yang bertaburan di tempat nan indah pula.

Firman Allah: wa idzaa ra-aita (“dan jika kamu melihat.”) yakni jika kamu menyaksikan, hai Muhammad, tsamma; yakni disana, yaitu di surga dengan segala kenikmatan, keluasan, ketinggian dan semua kebahagiaan dan kegembiraan yang terdapat di dalamnya, ra-aita na-‘iimaw wa mulkang kabiiran (“niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.”) yakni kerajaan milik Allah di sana sangat agung dan kekuasaan-Nya pun sangat megah.

Dan telah ditegaskan dalam hadits shahih bahwa Allah telah berfirman kepada penghuni neraka yang paling terakhir keluar, dan juga kepada kepada penghuni surga yang paling terakhir masuk: “Sesungguhnya kamu akan memperoleh kenikmatan seperti di dunia, bahkan sepuluh kali lipatnya.”

Firman Allah: ‘AaliyaHum tsiyaabu sundusin khudl-ruw wa istabraq (“Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal.”) yakni pakaian para penghuni surga di surga adalah sutera, yang diantaranya adalah sundus yang merupakan sutera yang berkualitas tinggi, seperti qimshan dan yang semisalnya, yang melekat pada badan mereka [pakaian dalam]. Ada juga istabraq, di dalamnya terdapat kilauan dan kilatan, dan itulah yang merupakan pakaian luar, sebagaimana lazimnya pakaian yang ada. Wa hulluu asaawira min fidldlaH (“Dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak.”) dan demikianlah sifat orang-orang yang berbuat baik. Adapun orang-orang yang mendekatkan diri adalah seperti yang difirmankan Allah yang artinya: “Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (al-Hajj: 23)

(bersambung ke bagian 4)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Insaan (2)

13 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insaan (Manusia)
Surah Madaniyyah; Surah ke 76: 31 ayat

Firman Allah: yufajjaruunaHaa tafjiiran (“yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.”) maksudnya, mereka bisa memanfaatkan air tersebut ke mana saja dan di mana saja mereka kehendaki, baik di dalam istana, rumah, majelis, maupun di tempat-tempat lainnya. Kata at-tafjiir berarti mengalirkan, sebagaimana yang Dia firmankan, wa fajjarnaa khilaalaHumaa maHaran (“Dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.”)(al-Kahfi: 33)

Firman Allah: yuufuuna binnadzri wa yakhaafuuna yauman kaana syarruHuu mustathiiran (“mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.”) maksudnya, mereka berusaha mengabdi kepada Allah dengan menunaikan semua yang Dia wajibkan kepada mereka, yaitu mengerjakan berbagai ketaatan wajib yang telah ditetapkan syariat dan juga yang telah mereka wajibkan untuk diri mereka sendiri dengan nadzar.

Imam Malik meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bernadzar hendak mentaati Allah, maka hendaklah ia mentaati-Nya, dan barangsiapa bernadzar akan bermaksiat kepada-Nya, maka hendaklah dia tidak bermaksiat kepada-Nya.” (HR Bukhari)

Dan juga meninggalkan berbagai hal haram yang dilarang mengerjakannya karena takut akan buruknya hisab pada hari kiamat kelak, yaitu hari dimana adzab tersebar dimana-mana, yakni meliputi semua manusia kecuali mereka yang diberi rahmat oleh Allah.

Firman Allah: wa yuth-‘imuunath tha-‘aama ‘alaa hubbiHi (“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya.”) Dlamir [kata ganti] dalam ayat ini kembali ke kata ath-tha’am. Artinya mereka memberikan makanan saat mereka menyukainya sekaligus sangat berselera pada makanan tersebut. Ayat tersebut sama dengan firman Allah: wa atal maala ‘alaa hubbiHi (“Dan memberikan harta yang dicintainya.”) (al-Baqarah: 177)

Dan dalam hadits shahih disebutkan: “Sebaik-baik sedekah adalah engkau bersedekah ketika engkau dalam keadaan sehat dan rakus [kikir], sangat mengharap kekayaan dan takut miskin.”

Yakni pada saat engkau benar-benar cinta pada harta, tamak dan sangat membutuhkannya. Oleh karena itu, Allah berfirman: wa yuth-‘imuunath tha-‘aama ‘alaa hubbiHii miskiinaw wa yatiimaw wa asiiran (“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”) adapun mengenai orang miskin dan anak-anak yatim maka sudah dijelaskan sifat-sifatnya sebelumnya. Sedangkan tentang tawanan, Sa’id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri, dan adl-Dlhahhak mengatakan: “Yaitu tawanan dari kalangan orang-orang yang menghadap kiblat [dari umat Islam].” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Tawanan-tawanan mereka pada hari itu adalah orang-orang musyrik.” Hal tersebut didasarkan pada dalil yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah menyuruh para shahabatnya pada saat perang Badar untuk memuliakan para tawanan, dimana mereka lebih mengutamakan para tawanan atsa diri mereka sendiri saat makan siang. ‘Ikrimah mengatakan: “Mereka itu adalah hamba sahaya.” Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Innamaa nuth’imukum liwajHillaaHi (“Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridlaan Allah.”) yakni mengharapkan pahala dan keridlaan Allah Ta’ala. Laa nuriidu minkum jazaa-aw walaa syukuuran (“Kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula [ucapan] terima kasih.”) yakni kami tidak menuntut kalian memberi balasan setimpal atasnya dan tidak meminta kalian berterima kasih di hadapan orang-orang kalian. Mujahid dan Sa’id bin Jubair mengatakan: “Demi Allah mereka ini tidak mengucapkannya melalui lisan mereka, tetapi Allah mengetahuinya dari hati mereka sehingga Dia pun memberikan pujian kepada mereka untuk memancing orang lain melakukan hal tersebut.

Innaa nakhaafu mir rabbinaa yauman ‘abuusan qamthariiran (“Sesungguhnya kami takut akan Rabb kami pada suatu hari dimana orang-orang yang bermuka masam penuh kesulitan.”) maksudnya kami lakukan hal tersebut dengan harapan Allah akan memberikan rahmat kepada kami dan menerima kami dengan penuh kelembutan pada hari dimana orang-orang tengah bermuka masam dan penuh kesulitan. ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, kata ‘abuusan berarti sempit, sedangkan qamthariiran berarti panjang,

Allah berfirman: fawaqaaHumullaaHu dzaalikal yaumi walaqqaaHum nadl-rataw wa suruuran (“Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan dan kegembiraan hati.”) yang ini termasuk dalam bab keserupaan yang sempurna: fawaqaaHumullaaHu syarra dzaalikal yaumi (“Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu.”) yakni Dia memberi rasa aman kepada mereka dari apa yang mereka takutkan. walaqqaaHum nadlratan (“Dan memberikan kepada mereka kejernihan.”) di wajah mereka. Wa suruuran (“dan kegembiraan.”) di dalam hati mereka. Demikian yang diungkapkan oleh al-Hasan al-Bashri, Qatadah, Abul ‘Aliyah, ar-Rabi’ bin Anas. Yang demikian itu, karena jika hati bergembira maka wajahpun menjadi berseri-seri. Dan firman Allah: wa jazaaHum bimaa shabaruu jannataw wa hariiran (“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka.”) yaitu karena kesabaran mereka, Allah memberi dan menyerahkan surga dan sutera serta menempatkan mereka di surga, yaitu tempat tinggal yang lapang, kehidupan yang sejahtera dan pakaian yang baik.

tulisan arab alquran surat al insaan ayat 13-22“13. di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. 14. dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. 15. dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, 16. (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. 17. di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. 18. (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. 19. dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. 20. dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. 21. mereka memakai pakaian sutera Halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. 22. Sesungguhnya ini adalah Balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).” (al-Insaan: 13-22)

(bersambung ke bagian 3)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Insaan (1)

13 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insaan (Manusia)
Surah Madaniyyah; Surah ke 76: 31 ayat

Telah disampaikan sebelumnya di dalam kitab Shahih Muslim dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. di dalam shalat Shubuh pada hari Jum’at biasa membaca: ali laam miim, tanziila dan Hal ataa ‘alal insaani.

tulisan arab alquran surat al insaan ayat 1-3bismillaaHir rahmaanir rahiim.
“1. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? 2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat. 3. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insaan: 1-3)

Allah berfirman mengabarkan tentang manusia, bahwa Dia telah menciptakannya setelah sebelumnya tidak pernah menjadi sesuatu yang disebut karena kerendahan dan kelemahannya. Dimana Allah berfirman: Hal ataa ‘alal insaani hiinum minaddaHri lam yakun syai-am madzkuuran (“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut.”) kemudian Dia menjelaskan hal tersebut di mana allah berfirman: innaa khalaqnal insaana min nuthfatin amsyaajin (“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.”) yakni yang bercampur. Kata “al-‘asy-ju” dan “al-masyii-ju” berarti sesuatu yang bercampur sebagian dengan sebagian lainnya.

Mengenai firman-Nya: min nuthfatin amsyaajin (“Setetes air mani yang bercampur.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni sperma laki-laki dan ovum perempuan jika telah bersatu dan bercampur, lalu beralih dari satu fase ke fase berikutnya, dari satu keadaan ke keadaan berikutnya, dan dari satu warna ke warna berikutnya.”

Firman Allah: nabtaliiHi (“Yang Kami hendak mengujinya.”) yakni mencobanya. Yang demikian itu sama dengan firman-Nya: liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan (“Siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya.”) (al-Mulk: 2). Faja-‘alnaaHu samii-‘am bashiiran (“Karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”) maksudnya, Kami berikan kepadanya pendengaran dan penglihatan sehingga dengan keduanya dia mampu berbuat ketaatan dan juga kemaksiatan.

Dan firman-Nya lebih lanjut: inna HadainaaHus sabiila (“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus.”) yakni Kami telah memberikan penjelasan dan keterangan sekaligus menjadikannya dapat melihat. Yang demikian itu seperti firman Allah Jalla wa ‘Alaa: wa HadainaaHun najdaiin (“Dan kami tunjuki dia dua jalan.”) maksudnya, kami jelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan.

Firman Allah: immaa syaakiraw wa immaa kafuuran (“Ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”) kalimat ini manshub [berharakat fathah] dalam kedudukannya sebagai haal dari huruf Haa’ di dalam firman-Nya: innaa HadainaaHus sabiila; yang artinya, dalam hal itu dia bisa sengsara dan bisa juga bahagia, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap orang pergi pada pagi hari, lalu dia akan mempertaruhkan dirinya, baik dia akan membinasakannya atau menyelamatkannya.”

tulisan arab alquran surat al insaan ayat 4-12“4. Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. 5. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. 6. (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. 7. mereka menunaikan Nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. 8. dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. 9. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. 10. Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Tuhan Kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. 11. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. 12. dan Dia memberi Balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,” (al-Insaan: 4-12)

Allah mengabarkan tentang apa yang telah Dia persiapkan bagi semua yang kafir dari makhluk-Nya, baik itu berupa rantai, belenggu, dan api yang menyala lagi membara di Neraka jahanam. Setelah menyebutkan api membara yang telah Dia sediakan bagi orang-orang yang sengsara itu maka lebih lanjut Allah berfirman: innal abraara yasyrabuuna min ka’sin kaana mizaajuHaa kaafuuran (“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas [berisi minuman] yang campurannya adalah aif kafur.”) sebagaimana diketahui, air kafur ini dingin lagi beraroma wangi. Ditambahkan dan berbagai kelezatan yang ada di surga. Oleh karena itu, Dia berfirman: ‘ainay yasyrabu biHaa ‘ibaadullaaHI yufajjiruunaHaa tafjiiran (“Yaitu mata air yang darinya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.”) maksudnya air kafur yang telah bercampur dan disediakan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan ini adalah mata air yang biasa diminum oleh hamba-hamba Allah yang mendekatkan diri, murni tanpa campuran, mereka minum sampai kenyang, sehingga dia menjadi kata tersebut muta’addi dengan ba’ dan memanshubkan kata ‘ainan sebagai pembeda. Sebagian mereka mengatakan bahwa dalam hal kualitas, minuman ini seperti air kafur. Sebagian lainnya mengatakan, ninuman tersebut berasal dari air kafur. Dan sebagian lainnya mengatakan, boleh juga menjadi manshub dengan kata yasyrab. Ketiga pendapat tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

(Bersambung ke bagian 2)