Arsip | 11.58

Tata Cara Berdzikir Kepada Allah

17 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, [yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (Ali Imraan: 190-191)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. selalu berdzikir kepada Allah pada setiap saat.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Seandainya salah seorang di antara kalian sewaktu bersetubuh dengan istrinya membaca: bismillaaH, allaaHumma jannibnasy syaithaana wa jannibisy syaithaana maa razaqtanaa (dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari rizky yang Kau karuniakan kepada kami) kemudian dari persetubuhan itu ditakdirkan lahir anaknya, maka anak itu tidak mudah terganggu oleh setan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Doa akan tidur dan bangun tidur:
Dari Abu Hudzaifah dan Abu Darr ra. ia berkata: “Apabila Rasulullah saw. hendak tidur, beliau membaca: bismikallaaHumma ahyaa wa amuut (dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan aku mati) dan apabila bangun beliau membaca: alhamdu lillaaHil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaiHin nusyuur (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah Ia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami kembali) (HR Bukhari)

Keutamaan dan Anjuran Berdzikir (3)

17 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra. ia berkata: Ketika kami berada di hadapan Rasulullah saw. beliau bertanya: “Apakah masing-masing dari kalian tidak mampu untuk mengerjakan seribu kebaikan setiap hari?” Kemudian salah seorang di antara kami yang sedang duduk itu menanyakan tentang bagaimana mungkin seseorang itu dapat mengerjakan seribu kebaikan, lantas beliau bersabda: “Seseorang yang membaca tasbih seratus kali itu dituliskan babinya seribu kebaikan atau dihapuskan baginya seribu dosa.” (HR Muslim)

Dari Abu Dzar ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Pada waktu pagi, setiap persendian masing-masing dari kamu harus disedekahi, setiap tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah. Semua itu bisa dipenuhi dengan dua rakaat Dhuha yang ia kerjakan.” (HR Muslim)

Dari Ummul Mukminin Juwairiyah binti Haritsah ra. bahwasanya Nabi saw. pagi-pagi benar telah keluar untuk mengerjakan shalat shubuh, sedangkan dia sendiri (Juwairiyah) sudah duduk di masjid, kemudian ketika beliau pulang setelah mengerjakan shalat Dluha, ia pun masih tetap duduk. Beliau lantas bersabda: “Sejak pagi engkau belum beranjak?” Juwairiyah menjawab: “Benar.” Nabi saw. bersabda: “Aku tadi membaca empat kalimat tiga kali, yang seandainya ditimbang dengan apa yang kamu baca sejak tadi niscaya seimbang, yaitu: SubhaanallaaHi ‘adada khalqiHi, subhaanallaaHi ‘adada khalqiHi, SubhaanallaaHi ‘adada khalqiHi, subhaanallaaHi ridlaa niafsiHi, subhaanallaaHi ridlaa niafsiHi, subhaanallaaHi ridlaa niafsiHi, subhaanallaaHi zinata ‘arsyiHii, subhaanallaaHi zinata ‘arsyiHii, subhaanallaaHi zinata ‘arsyiHii, subhaanallaaHi midaada kalimaatiHii, subhaanallaaHi midaada kalimaatiHii, subhaanallaaHi midaada kalimaatiHii (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, seridla Dzat-Nya, seberat ‘Arsy-Nya dan sepanjang kalimat-Nya.)” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain berbunyia: subhaanallaaHi ‘adada khalqiHi, subhaanallaaHi ridlaa niafsiHi, subhaanallaaHi zinata ‘arsyiHii, subhaanallaaHi midaada kalimaatiHii.”
Dalam riwayat Turmudzi dikatakan: “SubhaanallaaHi ‘adada khalqiHi, subhaanallaaHi ‘adada khalqiHi, SubhaanallaaHi ‘adada khalqiHi, subhaanallaaHi ridlaa niafsiHi, subhaanallaaHi ridlaa niafsiHi, subhaanallaaHi ridlaa niafsiHi, subhaanallaaHi zinata ‘arsyiHii, subhaanallaaHi zinata ‘arsyiHii, subhaanallaaHi zinata ‘arsyiHii, subhaanallaaHi midaada kalimaatiHii, subhaanallaaHi midaada kalimaatiHii, subhaanallaaHi midaada kalimaatiHii.”

Dari Abu Musa al-Asy’ariy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang dzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak, bagaikan orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Perumpamaan rumah yang digunakan untuk berdzikir kepada Allah dengan yang tidak bagaikan orang yang hidup dengan orang yang mati.

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku selalu mengikuti sangkaan hamba-hamba-Ku, Aku selalu bersamanya selam ia ingat kepada-Ku. Apabila ia ingat kepada-Ku di dalam dirinya, maka Aku pun mengingatnya di dalam Dzat-Ku, dan apabila ia ingat kepada-Ku di tengah-tengah majelis, maka Aku pun mengingatnya dalam rombongan yang lebih baik daripada rombongannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Telah sampai lebih dulu al-Mufarriduun.” Para shahabat bertanya: “Apakah al-Mufarriduun itu?” Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaHa illallaaH (tiada Tuhan selain Allah).” (HR Turmudzi)

Dari Abdulllah bin Busr ra. bahwasannya ada seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam yang saya terima itu lebih banyak, kemudian bertahukanlah kepada saya tentang sesuatu yang benar-benar harus saya pegang baik-baik.” Beliau bersabda: “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir kepada Allah.” (HR Turmudzi)

Dari Jabir ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: subhaanallaaHi wabihamdiH, maka ditanamkan baginya sebatang pohon di dalam surga.” (HR Turmudzi)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pada malam Isra’ aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as. dan beliau bersabda: “Wahai Muhammad, sampaikanlah salamku untuk umatmu dan beritahukanlah kepada mereka bahwa surga itu tanahnya subur dan airnya segar, serta merupakan suatu kebun dan tanamannya adalah: subhaanallaaHi wal hamdulillaaHi wa laa ilaaHa illallaaHu wallaaHu akbar.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Darda’ ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang sebaik-baik amal perbuatan di hadapan Tuhanmu dan tertinggi derajatnya serta lebih baik daripada menafkahkan emas dan perak, lebih baik daripada menghadapi musuh kemudian kamu penggal leher mereka dan mereka memenggal lehermu?” Para shahabat menjawab: “Baiklah.” Beliau bersabda: “Yaitu dzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR Turmudzi)

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra. bahwasannya ia bersama Rasulullah saw. masuk ke tempat seorang perempuan yang di hadapannya ada biji-biji kurma, atau batu-batu kerikil yang digunakan untuk menghitung bacaan tasbihnya, kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku beritahu tentang amalan yang ringan atau lebih utama daripada perbuatanmu itu?” Kemudian beliau bersabda: “Yaitu membaca: subhaanallaaHi ‘adada maa khalaqa fis samaa-i wa subhaanallaaHi ‘adada maa khalaqa fil ardli, wa subhaanallaaHi ‘adada maa baina dzaalika, wa subhaanallaaHi ‘adada maa Huwa Khaaliq, membaca ‘wallaaHu akbaru’ dilanjutkan seperti itu, membaca alhamdulillaaHi dilanjutkan seperti itu, membaca laa ilaaHa illallaaHi dilanjutkan seperti itu, membaca laa haula walaa quwwata illaa billaaHi dilanjutkan seperti itu.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Musa ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan salah satu dari beberapa perbendaharaan surga?” Saya menjawab: “Mau wahai Rasulallah.” Kemudian beliau bersabda: “Yaitu laa haula wa laa quwwata illaa billaaH (tiada daya dan kekuatan kecuali dari pertolongan Allah).”
selesai.

Keutamaan dan Anjuran Berdzikir (2)

17 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya orang-orang dari shahabat Muhajirin datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Orang-orang kaya telah memperoleh derajat yang tinggi dan kebahagiaan yang abadi, dimana mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, mereka mempunyai kelebihan harta sehingga dapat menunaikan haji, umrah, berjuang dan bersedekah.” Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku ajari sesuatu yang dapat mengejar pahala orang-orang yang telah mendahului kamu dan juga orang-orang yang sesudah nanti serta tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kamu, kecuali orang yang berbuat sama seperti apa yang kalian perbuat?” Mereka menjawab: “Mau wahai Rasulallah.” Beliau bersabda: “Yaitu kalian membaca tasbih, tahmid dan takbir setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Abu Shalih orang yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah ra. berkata: “Ketika beliau ditanya tentang bagaimana mengucapkannya, beliau bersabda: “Shub-haanallaaH, alhamdulillaaH dan AllaaHu akbar, masing-masing dari tiga kalimat itu diucapkan tiga puluh tiga kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di dalam riwayat Muslim terdapat tambahan: kemudian orang-orang fakir Muhajirin datang lagi kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Setelah saudara-saudara kami yang kaya itu mendengar apa yang kami kerjakan, maka mereka mengerjakan seperti yang kami kerjakan.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiap membaca tasbih tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat, membaca tahmid tiga puluh tiga kali dan membaca takbir tiga puluh tiga kali, kemudian untuk melengkapi bilangan seratus ia membaca: laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariikalaH laHul mulku walaHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, maka diampunilah dosa-dosanya walaupun dosa-dosa itu seperti buih di lautan.” (HR Muslim)

Dari Ka’ab bin Ujzah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Bacaan-bacaan setelah shalat fardlu yang tidak mengecewakan orang yang membacanya atau mengerjakannya adalah: tasbih tigapuluh tiga kali, tahmid tigapuluh tiga kali dan takbir tiga puluh tiga kali.” (HR Muslim)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. bahwasannya Rasulullah saw. senantiasa berlindung diri sehabis shalat yaitu dengan mengucapkan: allaaHumma innii a-‘uudzubika minal jubni wal bukhli, wa a-‘uudzubika min an uradda ilaa ardzalil ‘umuri, wa a-‘uudzubika min fitnatiddun-yaa, wa a-‘uudzubika min fitnatil qabri (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kikir. Aku berlindung diri kepada-Mu daripada dilanjutkan usia hingga umur yang hina/tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Dan saya berlindung diri kepada-Mu dari fitnah kubur.” (HR Bukhari)

Dari Mu’adz ra. bahwasannya Rasulullah saw. memegang tangannya sambil bersabda: “Hai Mu’adz, demi Allah aku sungguh sayang kepadamu.” Kemudian beliau bersabda lagi: “Aku berpesan kepadamu hai Mu’adz, jangan sekali-sekali engkau setiap selesai shalat tidak membaca: allaaHumma a-‘innii ‘alaa dzik-rika wa syuk-rika wa husni ‘ibaadatika (Ya Allah, bantulah saya untuk selalu menyebut nama-Mu dan bersyukur kepada-Mu serta memperbaiki ibadah kepada-Mu) (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah berlindung diri kepada Allah dari empat macam, dimana dia hendaknya mengucapkan: allaaHumma innii a-‘uudzubika min ‘adzaabi jaHannam, wa min ‘adzaabil qab-ri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati, wa min syarri fitnatil masiihid dajjaal (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari siksaan neraka jahannam, dari siksaan kubur, dan fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah Dajjal)” (HR Turmudzi)

Dari Ali ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. mengerjakan shalat, maka pada akhir bacaan yaitu antara tasyahud dan salam, beliau membaca: allaaHumagh firlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa as-rar-tu wamaa a’lantu wa maa asraftu wa maa anta a’lamu biHii minnii antal muqaddimu wa antal mu-akhkhiru laa ilaaHa illaa anta (Ya Allah, ampunilah dosaku yakni dosa yang telah lalu, dosa yang akan datang, dosa yang saya lakukan dengan sembunyi-sembunyi, dosa yang saya lakukan dengan terang-terangan, dosa yang karena berlebih-lebihan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada saya sendiri. Engkau adalah Dzat yang mendahulukan dan Dzat yang mengakhirkan. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau)” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. pada waktu ruku’ dan sujud, beliau sering membaca subhaanakallaaHumma rabbanaa wa bihamdika allaaHumaghfirlii (Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan dengan memuji-Mu ya Allah ampunilah dosa saya).” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rasulullah saw. ketika ruku’ dan sujud beliau membaca: subbuuhun qudduusun rabbul malaa-ikati warruuh (Mahasuci Rabbnya malaikat dan Jibril)” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Adapun pada waktu ruku’ maka agungkanlah nama Tuhan dan pada waktu sujud maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena sudah sepantasnya apabila doamu pada waktu sujud itu dikabulkan.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya yaitu ketika ia sujud, oleh karena itu perbanyaklah berdoa.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. pada waktu sujud sering membaca: allaaHummaghfirlii dzanbii kullaHu diqqaHu wa jillaHu wa awwalaHuu wa aakhiraHu wa ‘alaa niyataHuu wa sirraHu (Ya Allah, ampunilah dosa saya baik dosa kecil, dosa besar, dosa pertama, dosa terakhir, dosa yang terang-terangan maupun dosa yang tersembunyi.” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Pada suatu malam, Nabi saw. pergi tanpa sepengetahuan saya, kemudian saya meraba-raba beliau. Pada waktu itu beliau sedang ruku’ dan sujud dengan membaca: subhaanaka wa bihamdika laa ilaaHa illaa anta.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Kemudian tangan saya menyentuh kedua telapak kaki beliau yang sedang ditegakkan dan waktu itu beliau berada dalam masjid, beliau membaca: AllaaHumma innii a-‘uudzu biri-dlaaka min sakhaatika wa bimu-‘aafatika min ‘uquubatika, wa a-‘uudzubika minka laa uhshii tsanaa-a ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika (Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri dengan keridlaan-Mu dari murka-Mu, dengan kesejahteraan-Mu, dari siksa-Mu. Dan saya berlindung diri dengan rahmat-Mu dari siksa-Mu, saya tidak dapat menghitung berapa banyak pujian bagi-Mu sebagaimana Engkau memuji kepada Dzat-Mu sendiri.” (HR Muslim)
(bersambung ke bagian 3)

Keutamaan dan Anjuran Berdzikir (1)

17 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan sesungguhnya mengingat Allah itulah yang paling besar.” (al-Ankabut: 45)

Firman Allah: “Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat [pula] kepadamu.” (al-Baqarah: 152)

Firman Allah: “Dan sebutlah [nama] Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (al-A’raaf: 205)

Firman Allah: “Dan sebutlah [nama] Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (al-Anfaal: 45)

Firman Allah:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah [dengan menyebut nama] Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (al-Ahzab: 41-42)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Dua kalimat yang ringan pada lisan, berat pada timbangan amal, disukai Allah Yang Maha Pengasih, yaitu: SubhaanallaaHi wa bihamdiH, subhaanallaaHil ‘adhiim [Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya; Maha Suci Allah Yang Maha Agung].” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh, jika aku mengucapkan: SubhaanallaaHi walhamdulillaaHi wa laa ilaaHa illallaaHu allaaHu akbar [Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar] itu lebih aku sukai, daripada apa yang disinari matahari [duni].” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: laa ilaaHa illallaaH wahdaHu laa syariikalaHu, laHul mulku walaHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (Tidak ada Tuhan selain Allah Zat Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala sesuatu) dalam sehari seratus kali, maka baginya [pahalanya] sama dengan memerdekakan sepuluh budak dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan dan ucapan itu merupakan penjagaan baginya dari gangguan syaitan pada hari tersebut sampai petang. Serta tidak seorangpun datang dengan membawa yang lebih utama dari apa yang ia bawa [kelak di hari kiamat], kecuali seseorang yang beramal lebih banyak daripada itu.” Dan beliau juga bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: subhaanallaaHi wa bihamdiH dalam sehari seratus kali, maka turunlah kesalahan-kesalahannya, meskipun kesalahan-kesalahannya itu sebanyak buih di laut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ayyub al-Anshariy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariikalaHu, laHul mulku walaHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir sepuluh kali, maka ia bagaikan orang yang memerdekakan empat jiwa dari keturunan Ismail.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Maukah kamu aku beritahu kalimat yang paling disukai Allah? Sesungguhnya kalimat yang paling disukai oleh Allah adalah: subhaanallaaHi wa bihamdiHi.” (HR Muslim)

Dari Abu Malik al-Asy’ariy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bersuci adalah sebagian dari iman, AlhamdulillaH memenuhi amal, dan subhaanallaaH wal hamdulillaaH memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi.” (HR Muslim)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. ia berkata: ada seorang Badui yang datang kepda Rasulullah saw. dan berkata: “Ajarkanlah kepada saya suatu kalimat yang harus saya baca.” Beliau bersabda: “Bacalah: laa ilaaHa illallaaH wahdaHu laa syariikalaH, AllaaHu akbar kabiiran walhamdulillaaHi katsiiran wa subhaanallaaHi rabbil ‘aalamiin wa laa haula wa laa quwwata illaa billaaHil ‘aziizil hakiim (Tiada tuhan selain Allah Dzat yang Mahaesa , tiada sekutu bagi-Nya. Allah Mahabesar, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya. Maha suci Allah Rabb semesta alam, dan tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Dzat Yang Maha Mulia dan Mahabijaksana)” Orang Badui itu berkata: “Semua itu adalah untuk Tuhanku, kemudian mana yang untuk kepentingan saya?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: allaaHumaghfirlii warhamnii waHdinii warzuqnii (Ya Allah, ampunilah dosaku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rizky)” (HR Muslim)

Dari Tasuban ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. apabila selesai dari shalatnya, beliau beristighfar kepada Allah tiga kali dan mengucapkan: allaaHumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam (Ya Allah, Engkau adalah Dzat Yang Maha Sejahtera dan dari Engkaulah kesejahteraan. Engkaulah yang senantiasa memberi berkah wahai Dzat Yang Maha Agung dan Mahamulia).” Ditanyakan kepada al-Auza’iy [ia adalah salah seorang dari perawi hadits ini]: “Bagaimanakah istighfar itu?” Jawabnya: “AstaghfirullaaH, astaghfirullaaH (saya mohon ampun kepada Allah, saya mohon ampun kepada Allah).” (HR Muslim)

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah ra. bahwasannya Rasulullah saw. setiap selesai shalat dan mengucapkan salam, beliau membaca: “Laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariikalaH laHul mulku wa laHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir, allaaHumma laa maani-‘a lima a’thaita, wa laa mu’thiya lima mana’ta wa laa yanfa-‘u dzal jaddi minkal jaddu (Tiada Tuhan selain Allah Dzat Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian; Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang dapat menghalangi terhadap apa yang Engkau berikan, tiada yang dapat memberikan apa yang Engkau halangi, dan tidak berarti apa-apa kekayaan bagi orang kaya karena semua berasal dari-Mu.)” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Zubair ra. bahwasannya apabila ia selesai shalat, sehabis mengucapkan salam ia senantiasa mengucapkan: “Laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariikalaH laHul mulku wa laHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir, walaa haula walaa quwwata illaa billaaH. Laa ilaaHa illallaaH wa laa na’budu illaa iyyaaH laHu ni’matu walaHul fadl-lu wa laHuts tsanaa-ul hasan, laa ilaaHa illallaaH, mukhlishiina laHud diina wa lau kariHal kaafiruun (Tiada tuhan selain Allah Dzat yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat dan keutamaan dan segala puji yang baik. Tiada Tuhan selain Allah, dengan ikhlas menganut agama karena-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya). Ibnu Zubair berkata: “Rasulullah saw. membaca bacaan tersebut setiap selesai shalat.” (HR Muslim)
(bersambung ke bagian 2)

Hadits Pembuat Bid’ah

17 Jun

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: merupakan masdar dari kata bada’a, yang berarti mengadakan sesuatu, sebagaimana dijumpai di dalam kamus.
b. Menurut istilah: kejadian baru di dalam agama, setelah sempurna, atau hal-hal baru sesudah Nabi saw. baik berupa keinginan [hawa nafsu] maupun perbuatan.

2. Jenisnya
a. Bid’ah mukaffirah: karena sebab-sebab tersebut pelakunya menjadi kafir. Seperti sesorang yang meyakini sesuatu yang jelas-jelas kufur; atau orang yang menolak perkara syariat yang mutawatir dan tergolong ma’lumun min ad-din bi adl-Dlarurah; atau orang yang meyakini kebalikannya.
b. Bid’ah mufassiqah: karena sebab-sebab tersebut pelakunya menjadi fasik; baik yang pada dasarnya tidak nisa ditolerir.

3. Hukum riwayat pembuat bid’ah
a. Jika bid’ahnya termasuk bid’ah mukaffirah, maka riwayatnya tertolak.
b. Jika bid’ahnya mafassiqah: menurut pendapat jumhur riwayatnya dapat diterima, dengan dua syarat: selama dia tidak mempropagandakan [mengajak] pada bid’ahnya; dan tidak meriwayatkan suatu perkara yang memperkuat bid’ahnya.

4. Untuk hadits yang diriwayatkan pembuat bid’ah tidak ada nama khusus. Hadits ini tergolong hadits mardud, seperti yang sudah dikenal. Dan haditsnya tidak diterima kecuali memenuhi dua syarat tadi.

Al-Jihalah Bi Ar-Rawi

17 Jun

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi:
a. Menurut bahasa: merupakan masdar dari kata jahila, lawan dari ‘alima; artinya tidak dikenal rawi
b. Menurut istilah: tidak dikenalnya sosok rawi dan keberadaannya

2. Penyebabnya
a. Terlampau banyaknya sifat si rawi: baik menyangkut namanya, atau kunyahnya, atau laqabnya, atau sifatnya atau pekerjaannya atau nasabnya. Ia lebih populer dengan sebutan salah satunya. Jika disebutkan dengan sebutan yang tidak populer –dengan berbagai maksud- maka hal itu disangka sebagai rawi lain. Akibatnya kondisinya tidak dikenal. Contoh: Muhammad bin Saib bin Bisyr al-Kulbi; sebagian ulama menasabkan pada kakeknya, lalu berkata: Muhammad bin Bisyr. Sebagian lainnya memberinya sebutan Hammad bin Saib, yang memiliki kunyah Abu Nadlir, sebagian lainnya memberinya kunyah Abu Sa’id, lainnya Abu Hisyam. Maka hal ini disangka sebagai sekelompok orang, padahal orangnya hanya satu.
b. Terlampau sedikit riwayatnya. Tidak banyak yang mengambil [hadits] darinya karena amat sedikit riwayatnya; kadangkala tidak diriwayatkan darinya kecuali hanya satu buah saja. contoh: Abu al-‘Usyara ad-Darimi; beliau berasal dari kalangan tabi’in, tidak ada orang yang mendapatkan riwayat darinya keculai Hammad bin Salmah.
c. Tidak jelas namanya, karena dimaksudkan untuk menyingkat atau yang semacamnya. Rawi yang tidak jelas dinamakan dengan mubham. Contoh: Perkataan rawi: Telah menuturkan kepadaku fulan, atau syekh, atau seseorang, atau yang semacamnya.

3. Definisi Majhul
Orang yang tidak diketahui identitas atau sifat-sifatnya. Ini berarti, dia adalah rawi yang tidak diketahui sosok atau kepribadiannya, atau diketahui dikenal sosoknya namun tidak diketahui sifat-sifatnya, yaitu menyangkut keadilannya dan kedlabitannya.

4. Jenis-jenis Majhul
a. Majhul sosoknya; definisinya: namanya disebut, tetapi tidak ada orang yang meriwayatkan darinya kecuali hanya seorang rawi. Hukum riwayatnya: tidak diterimma, kecuali jika dipercaya [ditsiqahkan] dengan melalui dua cara: 1) ditsiqahkan orang lain yang tidak meriwayatkan haditsnya. 2) ditsiqahkan oleh orang yang meriwayatkan haditsnya, namun orang itu harus dari kalangan ahli jarh wa ta’dil. Tidak ada nama khusus bagi hadits ini, tetapi termasuk jenis hadits dla’if.
b. Majhul kondisinya [disebut juga hadits mastur]; definisi: orang yang meriwayatkan darinya, dua orang atau lebih, tetapi tidak ditsiqahkan. Hukum riwayatnya: tertolak, menurut pernyataan jumhur yang shahih. Tidak ada nama khusus bagi hadits ini, tetapi termasuk jenis hadits yang dla’if.
c. Mubham: mubham dianggap jenis lain dari majhul, akan tetapi hakekatnya serupa dengan majhul.
Definisi: orang yang namanya tidak dijelaskan dalam hadits
Hukum riwayatnya: tidak diterima, hingga ada rawi [haditsnya] yang menyebutkan namanya; atau namanya diketahui melalui jalur lain yang menjelaskannya. Penyebab ditolak riwayatnya karena sosok rawinya tidak dikenal. Sebab, siapa pun yang tidak dikenal namanya berarti tidak diketahui pula sosoknya, tentu saja termasuk keadilannya. Riwayatnya tidak dapat diterima.
Jika mubham disertai lafadz ta’dil, apakah riwayatnya diterima? Seperti misalnya seorang rawi berkata: “Telah mengabarkan kepadaku orang yang tsiqah. Jawabannya adalah riwayatnya tetap tidak bisa diterima, karena ketsiqahannya itu menurut si rawi, belum tentu tsiqah menurut yang lain.
Untuk hadits ini ada nama khusus yaitu mubham. Hadits mubham adalah hadits yang di dalamnya terdapat rawi yang tidak disebut namanya. Al-Baiquni berkata dalam Mandhumatnya: “Mubham itu hadits yang di dalamnya terdapat rawi yang tidak disebut namanya.”

5. Kitab yang populer yang memuat sebab-sebab majhul
a. Yang menyangkut banyaknya sifat rawi: kitab Mudlih Auham al-Jama’ wa at-Tafriq, karya al-Khathib.
b. Yang menyangkut rawi yang sedikit meriwayatkan: al-Wuhdan, karya Imam Muslim; kitab ini memuat orang-orang yang tidak meriwayatkan melainkan hanya satu orang saja.
c. Yang menyangkut ketidakjelasan nama rawi: mengenai aspek mubham ini disusun kitab al-Asmau al-Mubhamah fi al-Anbai al-Muhkamah, karya al-Khathib al-Baghdadi. Dan kitab al-Mustafad min Mubhamat al-Matni wa al-Isnad, karya Waliyuddin al-‘Iraqi.

Hadits Syadz dan Hadits Mahfudh

17 Jun

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi Syadz
a. Menurut bahasa: merupakan isim fa’il dari kata syadz, yang berarti yang menyendiri [asing]. Jadi syadz itu bermakna terasing dari kebanyakan orang.
b. Menurut istilah: hadits yang diriwayatkan rawi maqbul [bisa diterima], yang menyelisihi dengan orang yang lebih utama.

2. Penjelasan
Yang dimaksud dengan maqbul adalah, [rawinya] adil dan sempurna kedlabitannya, atau [rawinya] adil tetapi tingkat kedlabitannya lebih ringan. Sedangkan yang dimaksud dengan orang yang lebih utama adalah, lebih rajih [kuat] dibandingkan dengan dirinya, baik karena derajat kedlabitannya lebih tinggi, atau lebih banyak jumlahnya, atau hal-hal lain yang termasuk dalam aspek tarjih.
Para ulama tidak sepakat mengenai definisinya dengan berbagai pernyataan, akan tetapi al-Hafidh Ibnu Hajar telah memilih definisi tersebut seraya berkata: “Definisi itu menjadi sandaran bagi definisi hadits syadz yang sesuai dengan istilah.

3. Syadz bisa terjadi pada sanad maupun matan
a. Contoh syadz pada sanad: hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah melalui jalur Ibnu ‘Uyainah dari Amru bin Dinar dari ‘Ausajah dari Ibnu ‘Abbas, bahwa seorang lelaki telah meninggal pada masa Rasulullah saw. sementara dia tidak meninggalkan waris kecuali hamba sahaya yang telah dimerdekakannya. Yang menghubungkan Ibnu ‘Uyainah hingga sampai kepadanya adalah Ibnu Juraji dan yang lainnya. Hammad bin Zaid menyelisihi mereka; riwayatnya dari Amru bin Dinar dari ‘Ausajah dan tidak menyebut Ibnu Abbas. Karena itu Abu Hatim berkata: “Yang mahfudh adalah haditsnya Ibnu ‘Uyainah.” Hammad bin Zaid termasuk golongan yang adil dan dlabith, tetapi Abu Hatim telah menguatkan riwayat dari orang yang jumlahnya lebih banyak.
b. Contoh syadz pada matan: hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi dari haditsnya Abdul Wahid bin Ziad dari al-A’masy dari Abi Shaleh dari Abu Hurairah, secara marfu’: “Apabila salah seorang dari kalian shalat fajar, hendaknya berbaring ke sebelah kanan.”
Al-Baihaqi berkata, dalam hal ini Abdul Wahid menyalahi banyak rawi. masyarakat itu meriwayatkan tentang perbuatan Nabi saw. bukan perkataannya. Dalam lafadz ini Abdul Wahid menyendiri dari rawi-rawi tsiqah yang menjadi shahabat al-A’masy.

4. Al-Mahfudh
Al-Mahfudh merupakan lawan dari syadz, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih tsiqah, yang menyelisihi dengan riwayat tsiqah lain. Contohnya sama dengan dua contoh yang disinggung jenis hadits syadz.

5. Hukum hadits syadz dan hadits Mahfudh
Sudah diketahui bahwa hadits syadz itu mardud [tertolak], sedangkan hadits mahfudh termasuk maqbul [diterima]

Hadits Mushahhaf

17 Jun

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: merupakan isim maf’ul dari kata at-tashhif, yang berarti kekeliruan pada halaman. Dari situ terdapat kata ash-shafiyu, yaitu orang yang keliru membaca halaman, kemudian sebagai lafadz jadi berubah disebabkan kekeliruan membacanya.
b. Menurut istilah: berubahnya kata di dalam hadits dengan kata selain yang diriwayatkan oleh [rawi] tsiqah, baik lafadznya maupun maknanya.

2. Urgensi dan nilainya
Termasuk cabang ilmu hadits yang amat tinggi dan bernilai. Sangat penting untuk mengungkap kekeliruan yang terjadi pada sebagian rawi. di antara para hafidh hadits yang tergerak karena pentingnya perkara ini adalah ad-Daruquthni.

3. Pembagian hadits Mushahhaf
Para ulama membagi hadits mushahhaf menjadi tiga bagian, masing-masing adalah:
a. Dilihat dari sisi tempatnya: hadits mushahhaf terbagi dua:
i. Tashhif pada sanad: contohnya adalah hadits Syu’bah dari al-‘Awwam bin Murajim; Ibnu Ma’in keliru dan merubahnya seraya berkata: dari al-‘Awwam bin Muzzahim
ii. Tashhif pada matan: contohnya adalah hadits Zaid bin Tsabit bahwa Nabi saw.: ihtajara fii al masjid…(menahannya di masjid); Ibnu Lahimah keliru dan merubahnya: ihtajama fii al-masjid.. (berbekam di masjid)
b. Dilihat dari sisi keadaannya: hadits mushahhaf juga terbagi dua:
i. Tashhif penglihatan: ini kasus tashhif yang paling banyak, yaitu kaburnya tulisan di mata pembacanya, bisa karena buruknya tulisannya atau tidak adanya titik. Contohnya: “Barangsiapa yang shaum di bulan Ramadlan, kemudian melanjutkan [shaumnya] selama enam hari dari bulan Syawal..”
Abu Bakar ash-Shuli keliru membacanya, dan menyebutkan: “Barangsiapa yang shaum di bulan Ramadlan, kemudian melanjutkan [shaumnya] dengan sesuatu dari bulan Syawal….” dia mengira kata sittan [enam hari] sebagai syai-an [sesuatu]
ii. Tashhif pendengaran: yaitu kaburnya pendengaran atau jauhnya si pendengar dari sumber suara, atau yang semacamnya. Lalu ia menyamakan sebagian kata dengan kata lain yang wazannya serupa. Contoh: hadits yang diriwayatkan dari ‘Ashim al-Ahwa. Sebagian mereka keliru dan menganggapnya sebagai, dari Washil al-Ahdab.
c. Dilihat dari sisi lafadz atau maknanya: hadits mushahhaf terbagi dua:
i. Tashhif pada lafadz: ini yang paling banyak. Sama dengan contoh sebelumnya.
ii. Tashhif pada makna: yaitu si rawi mushahhif menuturkan lafadz hadits sesuai dengan keadaannya, akan tetapi ia menafsirkan [lafadz hadits tersebut] yang menunjukkan penafsiran berbeda dengan makna yang dimaksud. Contohnya: Perkataan Abu Musa al-‘Anazi: “Kami adalah kaum yang memiliki kemuliaan, dan kami juga memiliki anazah [tombak]. Kemudian Rasulullah saw. shalat [menghadap] kepada kami.”
Ia mengira bahwa maksud dari hadits tersebut adalah, Nabi saw. shalat bagi anazah, yaitu menyangka bahwa Nabi saw. shalat bagi kabilah anazah. Padahal yang dimaksud anazah disini adalah tombak yang ditancapkan di hadapan yang shalat.

4. Pembagian menurut Ibnu Hajar
Iamam Ibnu Hajar membagi hadits mushahhaf yang berbeda, beliau membaginya menjadi dua:
a. Al-Mushahhaf: jika perubahannya hanya pada titik-titik huruf saja, sedangkan bentuk tulisannya tetap.
b. Al-Muharraf: jika perubahannya pada bentuk huruf, sementara tulisannya tetap.

5. Apakah tashhif bisa merusak rawi?
a. Jika tashhif yang dilakukan rawi itu sangat jarang maka hal itu tidak merusak kedlabitannya, sebab ia tidak selamat dari kesalahan, lagi pula tashhif yang dilakukannya sedikit.
b. Namun, jika yang dilakukannya itu banyak [sering], maka hal itu merusak kedlabitannya; sekaligus menunjukkan [tingkatannya] yang meringankan, dan ia tidak memiliki kelayakan dalam masalah ini.

6. Penyebab para perawi melakukan banyak tashhif
Pada umumnya, penyebab para rawi melakukan tashhif karena mengambil hadits dari dalam kitab dan lembaran-lembaran; tidak ada pertemuan dengan syekh atau guru-gurunya. Karena itu para imam hadits mengingatkan untuk tidak mengambil hadits dari tulisan, mereka berkata: “Hadits tidak boleh diambil dari tulisan [catatan].” Maksudnya hadits tidak boleh diambil dari orang yang mengambilnya dari catatan.

7. Kitab yang populer
a. At-Tashhif, karya Daruquthni
b. Ishlah Khatah’ al-Muhadditsin, karya al-Khathabi
c. Tshhifat al-Muhadditsin, Abu Ahmad al-‘Askari

Nasab, Kelahiran, dan Penyusuan Nabi Muhammad saw.

17 Jun

Sirah Nabawiyah; Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.; DR.Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy

Nasabnya ialah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib [namanya: Syaibatul Hamd] bin Hisyam bin Abdi manaf [namanya: al-Mughirah] bin Qushayyi [namanya: Zaid] bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan.

Itulah batas nasab Rasulullah saw. yang telah disepakati. Selebihnya, dari yang telah disebutkan, masih diperselisihkan. Akan tetapi, hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi ialah bahwa Adnan termasuk anak Ismail, Nabi Allah, bin Ibrahim kekasih Allah. Allah telah memilihnya [Nabi Muhammad saw] dari kabilah yang paling bersih, keturunan yang paling suci dan utama. Tak sedikitpun dari “karat-karat” jahiliyah menyusup ke dalam nasabnya.

Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya, Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail dan memilih Quraisy dari Kinanah, kemudian memilih Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari bani Hasyim.”

Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada Tahun Gajah, yakni tahun saat Abrahah al-Asyram berusaha menyerang Ka’bah dan menghancurkan Ka’bah. Lalu Allah menggagalkannya dengan mukjizat yang mengagumkan, sebagaimana diceritakan di dalam al-Qur’an. Menurut riwayat yang paling kuat, kelahiran Nabi saw. jatuh pada hari Senin malam, 12 Rabi’ul Awal.
Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Bapaknya, Abdullah meninggal ketika ibunya mengandungnya dua bulan. Beliau lalu diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib, dan disusukannya –sebagaimana tradisi Arab waktu itu- kepada seorang wanita dari bani Sa’ad bin Bakar bernama Halimah binti Abu Dzu’aib.

Para perawi sirah telah sepakat bahwa pedalaman bani Sa’ad pada waktu itu sedang mengalami musim kemarau yang menyebabkan keringnya ladang peternakan dan pertanian. Tidak lama setelah Muhammad saw. berada di rumah Halimah, tinggal di kamarnya, dan menyusu darinya, menghijaulah kembali tanaman-tanaman di sekitar rumahnya sehingga kambing-kambingnya pulang kandang dengan perut kenyang dan sarat air susu.

Selama keberadaan Nabi saw. di pedalaman bani Sa’ad terjadilah peristiwa “pembelahan dada”, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, kemudian beliau dikembalikan kepada ibunya setelah genap berumur lima tahun.
Ketika sudah berumur enam tahun, ibunnya, Aminah, meninggal dunia. Setelah itu beliau berada dalam asuhan kakeknya, Abdul Muththalib. Setelah genap berusia delapan tahun, beliau ditinggal wafat oleh kakeknya. Setelah itu, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Beberapa hikmah

Dari bagian sirah Nabi saw. di atas dapat diambil beberapa prinsip dan pelajaran yang penting, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Di dalam nasab Nabi saw. yang mulia tersebut terdapat beberapa dalil yang jelas bahwa Allah mengutamakan bangsa Arab dari semua manusia dan mengutamakan Quraisy dari semua kabilah yang lain. Hal ini dengan jelas dapat kita baca pula di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Juga terdapat hadits-hadits lain yang semakna, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Nabi saw. pernah berdiri di atas mimbar kemudian bersabda:
“Siapakah aku?” Para shahabat menjawab: “Engkau adalah Rasul Allah. Semoga keselamatan atasmu.” Nabi saw. bersabda: “Aku adalah Muhammad bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk [manusia] kemudian Dia menjadikan mereka dua kelompok lalu menjadikan aku di dalam kelompok terbaik, kemudian Dia menjadikan mereka beberapa kabilah dan menjadikan aku di dalam kabilah yang terbaik, kemudian Dia menjadikan mereka beberapa rumah dan menjadikan aku di dalam rumah yang terbaik dan paling baik jiwanya.”

Ketahuilah bahwa di antara konsekuensi mencintai Rasulullah saw. ialah mencintai kaum dan kabilah di mana Rasulullah saw. lahir. Bukan dari segi individu dan jenis, melainkan dari segi hakekat semata karena hakekat Arab Quraisy telah mendapatkan kehormatan dengan bernasabnya Rasulullah saw. kepada kabilah tersebut.
Hal ini tidaklah bertentangan dengan adanya orang-orang Arab atau Quraisy yang menyimpang dari jalan Allah dan merosot tingkat kehormatan Islamnya. Penyimpangan atau kemerosotan ini secara otomatis akan memutuskan dan menghapuskan kaitan nisbat antara mereka dengan Rasulullah saw.

2. Bukan suatu kebetulan jika Rasulullah saw. dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian tidak lama kehilangan kakeknya juga sehingga pertumbuhan pertama kehidupannya jauh dari asuhan bapak dan tidak mendapat kasih sayang dari ibunya.
Allah telah memilihkan pertumbuhan ini untuk Nabi-Nya karena beberapa hikmah. Di antara hikmah tersebut adalah agar musuh Islam tidak mendapat jalan untuk memasukkan keraguan ke dalam hati atau menuduh bahwa Muhammad saw. telah mereguk “susu” dakwah dan risalahnya semenjak kecil dengan bimbingan dan arahan bapak dan kakeknya sebab Abdul Muththalib adalah seorang tokoh di antara kaumnya. Kepadanyalah diserahkan tanggungjawab memberi jamuan makan dan minum para hujjaj. Adalah wajar bila seorang kakek atau bapak membimbing dan mengarahkan cucu atau anaknya kepada “Warisan” yang dimilikinya.

Hikmah Allah telah menghendaki agar musuh-musuh Islam tidak menemukan jalan kepada keraguan seperti itu sehingga Rasul-Nya tumbuh dan berkembang jauh dari tarbiyah [asuhan] bapak, ibu dan kakeknya. Masa kanak-kanaknya yang pertama, sesuai dengan kehendak Allah, bahkan harus dijalani di pedalaman bani Sa’ad, jauh dari keluarganya. Ketika kakeknya meninggal, ia berpindah asuhan kepada pamannya, Abu Thalib, yang hidup sampai tiga tahun sebelum hijrah. Sampai akhir kehidupannya, pamannya tidak pernah menyatakan masuk Islam. Ini juga merupakan hikmah lain agar tidak muncul tuduhan bahwa pamannya memiliki “saham” dalam dakwahnya dan bahwa persoalannya adalah persoalan kabilah, keluarga, kepemimpinan dan kedudukan.

Demikianlah hikmah yang Allah kehendaki agar Rasul-Nya tumbuh sebagai yatim, dipelihara oleh inayah Allah semata, jauh dari tangan-tangan yang memanjakannya dan harta yang akan membuatnya hidup dalam kemegahan, agar jiwanya tidak cenderung pada kemewahan dan kedudukan. Bahkan agar tidak terpengaruh oleh arti kepemimpinan dan ketokohan yang mengitarinya sehingga orang-orang akan mencampur adukkan kesucian nubuwah dengan kemegahan dunia, agar orang-orang tidak menuduhnya telah mendakwahkan nubuwwah demi mencapai kemegahan dunia.

3. Para perawi sirah nabawiyah telah sepakat bahwa ladang-ladang Halimah as-Sa’diyah kembali menghijau setelah sebelumnya mengalami kekeringan. Ambing susu untanya sudah tua dan telah berhenti meneteskan air susu bahkan kembali memproduksi air susu lagi. Kejadian ini menunjukkan ketinggian derajat dan martabat Rasulullah saw. di sisi Allah. Bahkan semenjak kecilnya, di antara bentuk kemuliaan Allah kepadanya yang paling menonjol adalah pemuliaan Allah kepada rumah Halimah as-Sa’diyah lantaran keberadaannya dan penyusuan di rumah itu. Hal ini tidak aneh sebab syariat Islam juga mengajarkan kepada kita agar pada waktu terjadi kemarau kita meminta hujan [kepada Allah] dengan perantaraan orang-orang shalih dan keluarga rumah Rasulullah saw. karena mengharap terkabulnya doa kita.
Kehadiran dan keberadaan Rasulullah saw. di tempat ini menjadi sebab utama bagi datangnya keberkahan dan pemuliaan Ilahi. Ini karena Rasulullah saw. merupakan rahmat bagi manusia, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya, “Dan Kami tidak mengutus kamu kecuali sebagai rahmat bagi segenap alam.”

4. Peristiwa pembelahan dada yang dialami oleh Rasulullah saw. ketika berada di pedalaman bani Sa’ad dianggap sebagai salah satu pertanda kenabian dan isyarat pemilihan Allah kepadanya untuk suatu perkara besar dan mulia. Peristiwa ini telah diriwayatkan dengan beberapa riwayat yang shahih dan dari banyak shahabat. di antaranya adalah Anas bin Malik dalam suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Muslim bahwa Rasulullah saw. didatangi oleh Jibril ketika beliau sedang bermain-main dengan anak-anak sebayanya. Kemudian Jibril mengambil dan menelentangkannya. Jibril lalu membelah hati [dada]nya dan mengeluarkannya. Jibril lalu mengeluarkan suatu gumpalan [‘alaqah] darinya, lantas berkata: “Ini adalah bagian setan yang ada padamu.” Jibril kemudian mencuci dengan bejana dari emas dengan air zamzam lalu mengembalikannya ke tempat semula. [Melihat peristiwa ini] anak-anak [yang sedang bermain dengannya] lari menuju ibu susuannya seraya berseru: “Muhammad telah dibunuh.” Mereka kemudian mendatanginya dengan penuh cemas. (Muslim I/101, 102. Dalam riwayat yang shahih, peristiwa pembelahan dada ini disebutkan lebih dari sekali).

Tujuan peristiwa ini, wallaHu a’lam, bukan untuk mencabut kelenjar kejahatan di dalam jasad Rasulullah saw. Hal ini karena jika kejahatan itu sumbernya terletak pada kelenjar yang ada dalam jasad atau pada gumpalan yang ada pada salah satu bagiannya, niscaya orang jahat bisa menjadi baik bila melakukan operasi bedah. Akan tetapi tampaknya tujuan peristiwa ini adalah sebagai pengumuman terhadap suatu perkara Rasulullah saw., persiapan untuk [mendapatkan] pemeliharaan [‘ishmah] dan wahyu semenjak kecilnya dengan sarana-sarana material. Ini terjadi agar manusia lebih mudah mengimani Rasulullah saw. dan membenarkan risalahnya. Dengan demikian, peristiwa tersebut merupakan “operasi pembersihan spiritual”, tetapi melalui proses fisik empirik sebagai pengumuman Ilahi kepada manusia.

Apapun hikmah peristiwa tersebut, kita tidak boleh –karena keshahihan riwayatnya- berusaha mencari jalan keluar untuk mengeluarkan hadits tersebut dari makna hakiki dan lahiriah dengan takwil-takwil yang jauh dan dibuat-buat. Hanya orang yang lemah imannya yang akan melakukannya.

Kita harus mengetahui bahwa kriteria penerimaan kita terhadap suatu khabar [hadits] adalah kebenaran dan keshahihan riwayatnya. Bila telah terbukti keshahihannya, tidak ada pilihan lain kecuali harus menerimanya dengan jelas secara bulat. Selanjutnya kriteria kita untuk memahaminya ialah menunjukkan [dhalalah] bahasa dan hukumnya. Dalam hal ini, asal setiap perkataan adalah hakekat. Seandainya setiap pembaca dan pembahas diperbolehkan untuk memalingkan setiap perkataan dari hakekatnya kepada berbagai dhalalah majaziyah [penunjukan di luar arti hakekat] niscaya dia akan memilih dengan seenaknya arti yang disukainya, disamping akan menghilangkan nilai bahasa dan penunjukannya. Akibatnya, terjadilah berbagai pemahaman yang membingungkan orang.

Selanjutnya, mengapa kita harus mencari takwil dan berusaha mengingkari hakekat? Sesungguhnya sikap ini hanya akan dilakukan oleh orang yang imannya kepada Allah dan keyakinannya kepada kenabian Muhammad saw. sangat lemah. Jika tidak, betapa mudahnya meyakini setiap riwayat yang shahih, baik diketahui hikmahnya maupun tidak.

Jahiliyah dan Sisa-sisa Hanifiyah

17 Jun

Sirah Nabawiyah; Analisis Ilmiyah Manhajjah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.; DR. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy

Hal ini merupakan muqaddimah penting yang harus dikaji sebelum memasuki pembahasan-pembahasan sirah dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya, karena masalah ini mengandung hakekat yang sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam.

Secara singkat, hakekat tersebut ialah bahwa Islam hanyalah merupakan kelanjutan dari hanifiyah yang dibawa oleh abul-anbiya’ [bapak para nabi], Ibrahim as. Hakekat ini secara tegas telah dinyatakan oleh kitab Allah di banyak tempat, antara lain:
“Dan berjihadlah di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-sekali tidak menjadikan kamu dalam agama suatu kesempitan. [Ikutilah] agama [millah] orang tuamu Ibrahim. Dia [Allah] telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dulu…”(al-Hajj: 78)
“Katakanlah: ‘Benar [apa yang difirmankan] Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus [hanif], dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Ali Imraan: 95)

Bangsa Arab adalah anak-anak Ismail as. Karena itu, mereka mewarisi millah dan minhaj yang menyerukan tauhidullah, beribadah kepada-Nya, mematuhi hukum-hukum-Nya, mengagungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya Baitul Haram, menghormati syiar-syiar-Nya dan mempertahankannya.
Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampur adukkan kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seperti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, masuklah kemusyrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala.
Tradisi-tradisi buruk dan kebejatan moral pun tersebar luas. Akhirnya, mereka jauh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiyah. Selama beberapa abad, mereka hidup dalam kehidupan jahiliyah sampai akhirnya datang bi’tsah Muhammad saw.
Orang yang pertama kali memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bin Luhayyi bin Qam’ah, nenek moyang bani Khuza’ah.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul harits at-Tamimi: Shalih as-Saman menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Aktsam bin Jun al-Khuza’i: “Wahai Aktsam, aku pernah melihat Amr bin Luhayyi bin Qam’ah bin Khandaf ditarik usus-ususnya di dalam neraka. aku tidak pernah melihat seorang pun mirip [wajahnya] dengannya kecuali kamu.” Aktsam lalu berkata: “Apakah kemiripan rupa tersebut akan membahayakan aku, wahai Rasulallah?” Rasulullah menjawab: “Tidak, sebab kamu Mukmin, sedangkan dia kafir. Sesungguhnya dia adalah orang yang pertama mengubah agama Ismail as. selanjutnya dia membuat patung-patung, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada thaghut-thaghut, menyembelih binatang untuk tuhan-tuhan mereka, membiarkan unta-unta untuk sesembahan, dan memerintahkan untuk tidak menaiki unta tertentu karena keyakinan kepada berhala.”

Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayyi ini memasukkan penyembahan berhala kepada bangsa Arab. Ia berkata: “Amr bin Luhayyi keluar Makah ke Syam untuk suatu keperluannya. Ketika sampai di Ma’ab, daerah Balqa’, waktu itu tempat tersebut terdapa anak keturunan Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh. Dia melihat mereka menyembah berhala-berhala. Amr bin Luhayyi lalu berkata kepada mereka: ‘Apakah berhala-berhala yang kamu sembah ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah. Kami meminta hujan kepadanya lalu kami diberi hujan. Kami minta pertolongan kepadanya lalu kami ditolong.’ Amr bin Luhayyi lalu berkata lagi: ‘Bolehkah kamu berikan satu berhala kepadaku untuk aku bawa ke negeri Arab agar mereka [juga] menyembahnya?’ mereka pun memberikan satu berhala yang bernama Hubal. Lalu Amr membawanya pulang ke Makkah dan dipasanglah berhala tesebut. Selanjutnya ia memerintahkan orang-orang untuk menyembah dan menghormatinya.”

Demikianlah, penyembahan berhala dan kemusyrikan telah tersebar di jazirah Arab. Mereka telah meninggalkan aqidah tauhid dan mengganti agam Ibrahim juga Ismail dan yang lainnya. Akhirnya mereka mengalami kesesatan, meyakini berbagai keyakinan yang keliru, dan melakukan tindakan-tindakan yang buruk, sebagaimana umat-umat lainnya.

Mereka melakukan hal itu semua karena kebodohan, keummian dan keinginan membalas terhadap kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Meskipun demikian, di antara mereka masih terdapat orang-orang, walaupun sedikit, yang berpegang teguh pada aqidah tauhid dan berjalan sesuai dengan ajaran hanifiyah, yaitu meyakini hari kebangkitan, mempercayai bahwa Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang taat dan menyiksa orang-orang yang berbuat maksiat, membenci penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab, dan mengecam kesesatan pikiran dan tindakan-tindakan buruk lainnya. Di antar tokoh dan penganut sisa-sisa hanifiyah ini yang terkenal antara lain: Qais bin Sa’idah al-Ayadi, Ri’ib asy-Syani, dan pendeta Bahira.

Selain itu, dalam tradisi-tradisi mereka juga masih terdapat “sisa-sisa” prinsip agama yang hanif dan syiar-syiarnya kendatipun kian lama kian berkurang. Karena itu, kejahilan mereka, dalam hal dan keadaan tertentu, masih ter-shibghah [terwarnai] oleh pengaruh, prinsip-prinsip dan syiar-syiar hanifiyah sekalipun hal itu hampir tak tampak dalam kehidupan mereka kecuali sudah dalam bentuknya yang tercemar. Seperti memuliakan Ka’bah, thawaf, haji, umrah, wuquf di Arafah dan berqurban. Semua itu merupakan syariat dan warisan peribadahan sejak nabi Ibrahim as. Akan tetapi, pelaksanaannya tidak sesuai dengan ajaran sebenarnya. Banyak hal yang sudah ditambahkan, seperti talbiyah haji dan umrah. Kabilah Kinanah dan Quraisy dalam talbiyah-nya mengucapkan: “Aku sambut [seruan-Mu] ya Allah, aku sambut [seruan-Mu]. aku sambut [seruan-Mu], tiada sekutu kecuali sekutu yang memang [pantas] bagi-Mu, yang Engkau dan dia miliki.”
Setelah talbiyah ini mereka membaca talbiyah yang mentauhidkan-Nya dan memasuki Ka’bah dengan membawa berhala-berhala mereka.

Sebagai kesimpulan, pertumbuhan sejarah Arab hanya berlangsung di dalam naungan hanifiyah samhah yang dibawa oleh Abul Anbiya’ Ibrahim as. Pada mulanya kehidupan mereka disinari oleh aqidah tauhid, cahaya petunjuk, dan keislaman. Setelah itu, sedikit demi sedikit bangsa Arab menjauhi kebenaran tersebut. Dalam kurun waktu cukup lama, akhirnya kehidupan mereka berbalik dalam kehidupan yang penuh dengan kegelapan, kemusyrikan, dan kesesatan pemikiran kendatipun kebenaran rambu-rambu yang lama masih “bergeliat” dalam sejarah perjalanan mereka secara amat lamban, semakin lama semakin lemah dan berkurang pendukungnya.

Ketika cahaya ad-Din al-Hanif merebak kembali dengan bi’tsah penutup para Nabi [Muhammad saw.]. wahyu Ilahi datang menyentuh segala kegelapan dan kesesatan yang telah berakar selama rentang zaman tersebut, kemudian menghapuskan dan menyinarinya dengan cahaya iman tauhid dan prinsip-prinsip keadilan, di samping menghidupkan kembali “sisa-sisa” hanifiyah yang ada.

Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikatakan ini merupakan suatu hal yang jelas bagi orang yang membaca sejarah dan mempelajari Islam. Akan tetapi untuk masa sekarang ini, kita terpaksa membuang banyak waktu untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat aksiomatik dan hal-hal yang sudah jelas karena adanya sebagian orang yang mengalahkan keyakinan-keyakinan mereka sekedar memperturutkan hawa nafsunya. Setiap orang pasti mengetahui betapa besar perbedaan antara orang yang meletakkan hawa nafsunya di belakang aqidahnya dan orang yang meletakkan aqidahnya di belakang hawa nafsunya.

Kendatipun apa yang dikemukakan di atas sudah jelas, sebagian orang mengatakan bahwa jahiliyah sudah mulai “menyadari” jalan terbaik yang harus diikutinya tidak lama sebelum bi’tsah Rasulullah saw. Pemikiran Arab sudah mulai menentang kemusyrikan, penyembahan berhala, dan segala khurafat jahiliyah. Puncak kesadaran dan revolusi ini tercermin dengan bi’tsah Rasulullah saw. dan dakwahnya yang baru.

Makna dari pemikiran ini ialah sejarah jahiliyah semakin terbuka kepada hakekat-hakekat tauhid dan sinar hidayah. Semakin jauh dari zaman Ibrahim as. mereka semakin dekat dengan prinsip-prinsip dan dakwah Islam sehingga mencapai titik puncak pada bi’tsah Rasulullah saw.

Setiap pengkaji dan pembahas yang obyektif pasti mengetahui bahwa masa diutusnya Nabi saw. merupakan masa jahiliyah yang paling jauh dari hidayah dalam dakwah Rasulullah saw. jika dibanding dengan masa-masa yang lain. Reruntuhan rambu-rambu hanifiyah pada bangsa Arab di masa bi’tsah Nabi saw. tercermin pada percikan-percikan kebencian pada berhala dan keengganan untuk menyembahnya atau keengganan memolak nilai-nilai Islam. “Sisa-sisa reruntuhan” ini tidak mencapai sepersepuluh dari apa yang muncul dengan jelas dalam kehidupan mereka beberapa abad sebelumnya. Sesuai dengan arti nubuwah dan bi’tsah dalam pandangan orang-orang tersebut, semestinya bi’tsah Nabi saw. terjadi beberapa abad sebelumnya.

Ada pula orang mengatakan bahwa ketika Muhammad saw. mampu menghapus sebagian besar kebiasaan, tradisi, ritual, dan keyakinan yang ada pada bangsa Arab, beliau berusaha memberikan “baju” agama pada semua hal itu dan menampilkannya dalam bentuk taklifah Ilahiah. Dengan ungkapan lain, Muhammad hanya menambahkan kepada sejumlah keyakinan ghaibiyah bangsa Arab, suatu riqabah ‘ulya [pengawasan tertinggi] yang berwujud Ilah yang Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Sesudah Islam, bangsa Arab masih terus meyakini sihir, jin, dan kepercayaan-kepercayaan serupa, sebagaimana halnya mereka masih melakukan thwaf di Ka’bah, memuliakan dan menunaikan ritual-ritual serta syiar-syiar tertentu yang tidak jauh berbeda dari yang dahulu mereka lakukan.

Tuduhan mereka ini sesungguhnya beranjak dari hipotesa. Pertama, Muhammad saw. bukanlah nabi. Kedua, sisa-sisa hanifiyah dari zaman Nabi Ibrahim yang terdapat di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang kita bahas tadi hanyalah kreasi mereka dan tradisi yang mereka ciptakan sendiri. Penghormatan kepada Ka’bah dan pengagungannya bukanlah pengaruh dari Abul anbiya’ Ibrahim as. melainkan hanya merupakan sesuatu yang diciptakan oleh sejumlah lingkungan Arab. Dengan demikian ia hanyalah salah satu dari sejumlah tradisi bangsa Arab yang beraneka ragam.

Untuk mempertahankan kedua hipotesa itu, mereka terpaksa menolak semua bukti dan fakta sejarah yang akan membatalkan hipotesa mereka dan menyatakan kepalsuannya.
Akan tetapi sebagaimana diketahui, pencarian suatu hakekat itu tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang selama dia tidak mau menempuh jalan yang menuju kepadanya, kecuali dalam batas hipotesis yang dengan apriori telah dibuatnya sebelum melakukan pembahasan apapun. Tidak perlu dijelaskan bahwa pembahasan mereka hanya seperti salah satu bentuk “permainan yang lucu.”

Kita tidak bisa menolak sama sekali tentang adanya bukti-bukti kenabian Muhammad saw. yang beraneka ragam, seperti fenomena wahyu, mukjizat al-Qur’an, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaknya, hanya karena kita harus menerima hipotesa bahwa Muhammad bukan Nabi.

Kita juga tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa Ibrahim telah membangun Ka’bah yang mulia atas perintah dan wahyu dari Allah yang menyatakan bahwa para nabi secara berantai telah berdakwah kepada tauhidullah, meyakini masalah-masalah ghaib yang berkaitan dengan hari kemudian [kebangkitan], pembalasan, surga dan neraka, yang telah disebutkan di dalam nash-nash kitab samawi yang telah dibenarkan oleh sejarah dan semua generasi, hanya karena kita harus menerima suatu hipotesa yang menyatakan bahwa apa yang disebut “sisa-sisa zaman Ibrahim” pada masa jahiliyah itu tidak lain hanyalah tradisi-tradisi yang diciptakan oleh pemikiran bangsa Arab dan Muhammad saw. hanya datang untuk “mengecatnya” dengan “cat agama”.

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam ini tidak memiliki bukti dan dalil-dalil sama sekali. Mereka hanya mengemukakan lontaran-lontaran pemikiran yang tidak ilmiah sama sekali. Jika anda memerlukan contohnya, bacalah buku “Sistematika Pemikiran Agama” yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris terkenal bernama H.A.R.Gibb. di dalam buki ini anda dapat mencium bau fanatisme buta terhadap orang-orang tersebut, fanatisme aneh yang saling mendorong seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan berlagak bodoh terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.

Sitem pemikiran di dalam agama, menurut pandangan Gibb, tidaklah berbeda dengan berbagai kepercayaan pemikiran-pemikiran transendental yang ada dalam diri bangsa Arab. Muhammad telah merenungkannya kemudian mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat dihindarinya, dia telah menutupinya dengan “kain” agama Islam. Ia juga tidak lupa mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap agama yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemusykilan yang besar. Dia ingin membangun kehidupan agama ini bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk semua bangsa dan umat. Karena itu, dia tegakkan kehidupan agama ini dalam sistem al-Qur’an. Itulah inti pemikiran Gibb di dalam bukunya tersebut.
Jika anda baca dari awal sampai akhir, anda tidak akan menemukan suatu argumen pun yang dikemukakannya. Jika anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, anda tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesituakan segala potensi intelektualnya dan sebagai gantinya, dia gunakan daya khayalnya sepuas-puasnya.

Tampaknya, ketika menuliskan pengantar terjemahan Arabnya, dia telah membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebut. Karena itu ia berkelit dengan mengatakan: “Sesungguhnya, pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penulis, melainkan pemikiran-pemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir dan kaum Muslimin yang terlalu banyak dikemukakan di sini. Akan tetapi, penulis sirah ini menyebutkan salah seorang di antara mereka, yaitu Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.
Gibb kemudian mengutip satu nash dari kitab Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah (I: 122). Tampaknya dia menyangka bahwa tidak seorangpun dari pembaca akan memeriksa teks kitab tersebut lalau dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Berikut teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb:
“Sesungguhnya, Nabi Muhammad saw. diutus dalam suatu bi’tsah yang meliputi bi’tsah lainnya. Yang pertama kepada bani Israil. Bi’tsah ini mengharuskan agar materi syariatnya berupa syiar-syiar cara ibadah dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Hal ini karena syariat hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali.”

Padahal teks yang terdapat di dalam Hujjatullah al-Balighah secara utuh adalah sebagai berikut:
“Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Ismail untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya, dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, Millah orang tuamu Ibrahim. Karena itu dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Hal ini karena Nabi saw. diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi tidak perlu mengubahnya atau menggantinya. Bahkan wajib meletakkannya karena hal itu lebih disukai oleh mereka dan lebih kuat bila dijadikan hujjah atas mereka. Anak-anak keturunan Ismail mewarisi ajaran bapak mereka [Ismail].
Mereka melaksanakan syariat tersebut sampai datang Amr bin Luhayyi yang memasukkan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Ia [Amr bin Luhayyi] mensyariatkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Sejak itulah agama menjadi rusak. Yang benar bercampur dengan yang bathil sehingga kehidupan mereka dikuasai oleh kebodohan, kerusakan, dan kemusyrikan.
Allah lalu mengutus Muhammad saw. untuk meluruskan kebengkokan mereka dan memperbaiki kerusakan mereka lalu Rasulullah saw. meninjau syariat mereka. Apa yang sesuai dengan ajaran Ismail atau syiar-syiar Allah, ditetapkan. Apa yang telah rusak atau diubah, termasuk syiar kemusyrikan atau kebathilan, dibatalkannya dan dicatatnya pembatalan tersebut.”

Tidak syak lagi bahwa penulis sirah Nabawiyah ini tidak mengemukakan pendapat “pembahasan” inii untuk dibahas dan didiskusikan. Adalah sia-sia mendiskusikan omong kosong seperti ini. Akan tetapi, dimaksudkan agar pembaca mengentahui sejauh mana fanatisme buta ini mempengaruhi seseorang. Hal inilah yang ingin penulis Sirah tersebut ingatkan, yaitu sejauh manakah metodologi dan objektivitas pembahasan ilmuwan Barat yang oleh sebagian orang diagung-agungkan itu.

Dari uraian terdahulu, jelaslah bagaimana kaitan antara Islam dan pemikiran jahiliyah yang berkembang di kalangan orang Arab sebelum kedatangan Islam. Dapat diketahui pula bagaimana kaitan antara masa jahiliyah dan millah hanifiyah yang telah dibawa oleh Ibrahim as.

Dari sini dapat diketahui pula mengapa Rasulullah saw. banyak menetapkan tradisi-tradisi dan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah berkembang di kalangan orang Arab. Akan tetapi, pada waktu yang sama, Rasulullah saw. juga menghapuskan dan memerangi yang lainnya.
Dengan demikian, kami telah cukup menjelaskan beberapa muqadimah yang diperlukan untuk melakukan kajian terhadap esensi Sirah nabawiyah dan meng-istinbath fiqih dan pelajaran-pelajarannya. Pada kajian-kajian mendatang, anda akan mendapatkan bukti dan penjelasan yang menegaskan apa yang telah dikemukakan di atas.