Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (10)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Firman Allah: au yuubiqHunna bimaa kasabuu (“atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka.”) yaitu seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan membinasakan kapal-kapal itu dan menenggelamkannya disebabkan dosa-dosa para penumpangnya. Wa ya’fu ‘ang katsiirin (“atau Dia memberi maaf sebagian besar dari [mereka].”) yaitu atas dosa-dosa mereka. Seandainya Dia akan menghukum mereka dengan seluruh dosa-dosa mereka, niscaya Dia akan binasakan orang yang mengarungi lautan.

Sebagian ulama tafsir berkata: “Makna firman Allah: au yuubiqHunna bimaa kasabuu (“atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka.”) yakni seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan mengirimkan angin dahsyat yang sangat panas, lalu menerpa kapal-kapal tersebut dan memalingkannya dari jalan yang lurus yang ditujunya, serta menggoncangkannya ke arah kanan dan kiri hingga menjadi kacau tanpa jalan dan arah yang dituju. Perkataan ini mengandung sesuatu tentang hancurnya kapal-kapal itu. Dan sesuai dengan pendapat yang pertama, yaitu seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan mendiamkan angin, lalu angin pun berhenti. Atau Dia kencangkan angin itu hingga kapal-kapal itu hancur binasa. Akan tetapi, karena kelembutan dan rammat-Nya, Dia mengirimkan angin sesuai dengan kebutuhan, sebagaimana Dia mengirimkan hujan sesuai kecukupan. Seandainya Dia mengirimkan hujan secara berlimpah sekali, niscaya hancurlah gedung-gedung. Atau menurunkannya sedikit saja, niscaya tidak tumbuh tanam-tanaman dan buah-buahan. Sampai-sampai Dia mengirimkan ke negeri Mesir, misalnya air yang mengalir dari negeri lain, karena mereka tidak membutuhkan hujan. Seandainya hujan turun menimpa mereka, niscaya hancurlah bangunan-bangunan mereka dan runtuhlah tembok-tembok mereka.

Firman Allah: wa ya’lamalladziina yujaadiluuna fii aayaatinaa maa laHum mim mahiish (“dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat [kekuasaan] Kami mengetahui, bahwa mereka sekali-sekali tidak akan memperoleh jalan keluar [dari siksaan].”) yakni tidak ada jalan keluar bagi mereka dari adzab Kami, karena mereka berada di bawah kekuasaan Kami.

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 36-39“36. Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. 37. dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. 38. dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. 39. dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” (asy-Syuura: 36-39)

Allah berfirman, merendahkan kehidupan dunia dan perhiasannya serta keindahannya dan kenikmatan fana yang terdapat di dalamnya dengan firman-Nya: famaa uutiitum min syai-in fa mataa’ul hayaatiddun-yaa (“maka sesuatu apa pun yang diberkan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia.”) yakni apa saja yang kalian raih dan kalian kumpulkan, maka janganlah kalian tertipu, karena semua itu hanyalah nikmat kehidupan dunia. Dunia adalah tempat tinggal yang rendah, fana dan pasti akan binasa. Wa maa ‘indallaaHi khairuw wa abqaa (“dan yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”) yakni pahala di sisi Allah lebih baik daripada dunia, karena dia adalah kekal selama-lamanya. Maka janganlah mendahulukan sesuatu yang fana atas sesuatu yang kekal.

Untuk itu Allah berfirman: lilladziina aamanuu (“Bagi orang-orang yang beriman.”) yaitu bagi orang-orang yang sabar dalam meninggalkan kelezatan dunia. Wa ‘alaa rabbiHim yatawakkaluuna (“Dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal”) yakni guna menolong mereka bersikap sabar dalam menunaikan berbagai kewajiban dan meninggalkan berbagai larangan. Kemudian Allah berfirman: walladziina yajtanibuuna kabaa-iral itsmi wal fawaahisya (“Dan [bagi] orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji.”) pembicaraan tentang dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji telah dijelaskan dalam surah al-A’raaf. Wa idzaa maa ghadlibuu Hum yaghfiruuna (“Dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.”) yakni tabiat mereka menyebabkan mereka berlapang dada dan memaafkan manusia, bukan mendendam manusia.

Tercantum di dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah saw. tidak mendendam untuk dirinya sedikitpun, kecuali bila larangan-larangan Allah dilanggar.
Di dalam hadits lain, beliau bersabda kepada salah seorang kami, ketika mencela: “Mengapa dia, rugilah apa yang diperbuatnya.”

Firman Allah: walladziinas tajaabuu rabbaHum (“dan [bagi] orang-orang yang menerima [mematuhi] seruah Rabbnya.”) yakni mengikuti Rasul-Nya, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Wa aqaamush shalaata (“dan mendirikan shalat.”) dan shalat merupakan ibadah terbesar kepada Allah.
Wa amruHum syuuraa bainaHum (“sedang urusan mereka [diputuskan] dengan musyawarah antara mereka.”) yaitu, mereka tidak menunaikan satu urusan hingga mereka bermusyawarah agar mereka saling mendukung dengan pendapat mereka, seperti dalam peperangan dan urusan sejenisnya, sebagaimana firman Allah: wa syaawirHum fil amri (“dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini.”)(Ali Imraan: 159)

Untuk itu Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para shahabat dalam menentukan peperangan dan urusan sejenisnya, agar hati mereka menjadi baik. Demikian pula ketika Umar bin al-Khaththab menjelang wafat setelah ditusuk oleh seseorang, dijadikan masalah sesudahnya berdasarkan musyawarah enam orang shahabat, yaitu Utsman, ‘Ali, Thalhah, az-Zubair, Sa’ad dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, maka para shahabat bermufakat untuk mengangkat Utsman.

Wa mimmaa razaqnaaHum yungfiquuna (“dan mereka menafkahkan sebagian dari rizky yang Kami berikan kepada mereka.”) hal itu dilakukan dengan berbuat baik kepada para makhluk Allah, dari mulai kerabat dan orang-orang terdekat setelahnya.
(bersambung ke bagian 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: