Arsip | 15.57

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qiyaamah (4)

20 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qiyaamah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; Surah ke 75: 40 ayat

tulisan arab alquran surat al qiyaamah ayat 26-40“26. sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, 27. dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”, 28. dan Dia yakin bahwa Sesungguhnya Itulah waktu perpisahan (dengan dunia), 29. dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan) 30. kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. 31. dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat, 32. tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran), 33. kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). 34. kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, 35. kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. 36. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) 37. Bukankah Dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), 38. kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, 39. lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. 40. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 26-40)

Allah menceritakan tentang keadaan sekarat dan berbagai hal mengerikan yang menyertainya. Mudah-mudahan saat ini Allah memberikan keteguhan kepada kita dengan ucapan yang teguh. Allah berfirman: Kallaa idzaa balaghatit taraaqii (“sekali-sekali jangan, apabila nafas telah mendesak sampai ke kerongkongan.”) jika kita menempatkan kata “kallaa” sebagai penolakan, maka hal itu berarti “di sana, wahai anak Adam, engkau tidak akan bisa mendustakan apa yang engkau tidak bisa mendustakan apa yang engkau beritahukan, bahkan semua itu akan tampak dengan jelas di depan matamu.” Dan jika kata itu kita artikan yang sebenarnya, maka maksudnya tampak jelas, yaitu sungguh jika nafas sudah sampai di tenggorokan. Dengan kata lain, jika nyawamu telah terlepas dari ragamu dan sudah sampai di tenggorokanmu. Kata at-taraaqiy merupakan jamak dari kata tarquwwaH, yaitu tulang yang terdapat antara lubang urat-urat sembelihan dan pundak.

Wa qiila man raaq (“Dan dikatakan, ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan ?”) Ikrimah menceritakan dari Ibnu ‘Abbas, yaitu siapakah yang meruqyah. Demikian pula yang disampaikan oleh Abu Qilabah, “Yakni [siapakah] dari kalangan dokter-dokter yang dapat menyembuhkan. Dan dari Ibnu Abbas: “Siapakah yang merukyah ruhnya, malaikat pemberi rahmat atau malaikat pemberi adzab?” berdasarkan hal tersebut, ini termasuk ungkapan malaikat. Dan juga dari ibnu ‘Abbas, mengenai firman-Nya: waltaffatis saaqu bis saaq (“dan bertaut betis dengan betis.”) yakni perkara besar dengan perkara bersar.

waltaffatis saaqu bis saaq (“dan bertaut betis dengan betis.”) al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Keduanya adalah kedua betismu saat bertautan.” Dan dalam sebuah riwayat darinya, kedua kaki itu mati sehingga tidak bisa membawa dirinya, dimana biasanya ia melakukan perjalanan dengan menggunakan keduanya. demikian pula yang dikatakan oleh oleh as-Suddi dari Abu Malik. Dan dalam sebuah riwayat dari al-Hasan, yaitu balutan keduanya di dalam kafan.

Firman Allah: ilaa rabbika yauma-idzinil masaaq (“Kepada Rabb-mulah pada hari itu kamu dihalau.”) yakni tempat kembali. Allah berfirman: “Kemudian mereka [hamba Allah] dikembalikan kepada Allah, Pengunasa mereka sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum [pada hari itu] adalah kepunyaan-Nya. Dan Dia-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat.” (al-An’am: 62)

Firman Allah: falaa shaddaqa wa laa shallaa. Wa laakin kadzdzaba wa tawallaa (“dan ia tidak mau membenarkan [Rasul dan al-Qur’an] dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan [Rasul] dan berpaling.”) ini adalah pemberitahuan tentang orang kafir, dimana ketika di dunia dia mendustakan kebenaran dengan hatinya, dan enggan untuk beramal dengan anggota tubuhnya, sehingga tidak ada kebaikan di dalam hatinya, baik lahir maupun batin. Oleh karena itu, Allah berfirman: falaa shaddaqa wa laa shallaa. Wa laakin kadzdzaba wa tawallaa. Tsumma dzaHaba ilaa aHliHii yatamaththaa (“dan ia tidak mau membenarkan [Rasul dan al-Qur’an] dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan [Rasul] dan berpaling. Kemudian dia pergi kepada ahlinya dengan berlagak.”) yaitu gembira, angkuh, sombong dan malas, tidak mempunyai gairah dan tidak juga mau beramal, sebagaimana yang difirmankan Allah: wa idzang qalabuu ilaa aHlimung qalabuu fakiHiin (“Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (al-Muthaffifiin: 31)
Ad-Dlahhak menceritakan dari Ibnu Abbas: tsumma dzaHaba ilaa aHliHii yatamaththaa (“Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak.”) yakni menyombongkan diri.

Qatadah dan Zaid bin Aslam mengatakan, Allah berfirman: aulaa laka fa aulaa. Tsumma aulaa laka fa aulaa (“Kecelakaanlah bagimu [hai orang kafir] dan kecelakaanlah bagimu. Kemudian kecelakaanlah bagimu [hai orang kafir] dan kecelakaanlah bagimu.”) ini merupakan intimidasi sekaligus ancaman keras dari Allah kepada orang kafir yang sombong dalam langkahnya. Dengan kata lain, silakan engkau berjalan seperti ini, karena engkau memang telah kafir kepada al-Khaliq, Rabb Penciptamu. Sebagaimana kondisi seperti ini juga bisa diucapkan dengan nada mengintimidasi, dan mengancam, seperti misalnya firman Allah: “Rasakanlah, sesungguhnya engkau orang yang perkasa lagi mulia.” (ad-Dukhaan: 49)

Firman Allah: ayahsabul insaanu ay yutraka sudaa (“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?”) as-Suddi mengatakan: “Yakni tidak dibangkitkan.” Mujahid, asy-Syafi’i, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Yakni tidak diperintah dan tidak juga dilarang.” Secara lahiriyah ayat tersebut mencakup kedua keadaan tersebut. Dan yang dimaksudkan disini adalah penetapan adanya kebangkitan dan penolakan terhadap orang-orang yang mengingkarinya dari kalangan orang-orang yang melakukan penyimpangan, orang-orang bodoh lagi membangkang. Oleh karena itu, Allah berfirman seraya berdalil tentang pembangkitan makhluk dengan penciptaan pertama. dimana Dia berfirman: alam yaku nuth-fatam mim miniyyiy yumnaa (“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan.”) maksudnya bukankah manusia itu hanya berasal dari air mani yang lemah dan hina yang dituang, dan ditumpahkan dari tulang rusuk ke dalam rahim. Tsumma kaana ‘alaqatan fakhalaqa fasawwaa (“Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya.”) yakni menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging, dan selanjutnya dibentuk dan ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga akhirnya menjadi makhluk lain yang sempurna dengan anggota tubuh yang normal, laki-laki maupun perempuan, dengan izin Allah dan ketetapan-Nya. Oleh karena itu Allah berfirman: faja-‘ala minHuz zaujainidz dzakara wal untsaa (“Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan.”) kemudian Allah berfirman: alaisa dzaalika biqaadirin ‘alaa ay yuhyihal mautaa (“Bukankah yang berbuat demikian berkuasa [pula] menghidupkan orang yang mati?”) maksudnya, bukankah Allah yang telah menciptakan makhluk yang sempurna dari air yang lemah ini mampu untuk mengembalikannya?”
Selesai.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qiyaamah (3)

20 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qiyaamah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; Surah ke 75: 40 ayat

Firman Allah: kallaa bal tuhibbuunal ‘aajilaH. Wa tadzaruunal aakhiraH (“Sekali-sekali janganlah demikian. Sebenarnya kamu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan kehidupan akhirat.”) maksudnya yang menyebabkan mereka mendustakan hari kiamat dan penolakan mereka terhadap wahyu yang haq dan al-Qur’an al-‘Adhim yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, karena sesungguhnya yang menjadi keinginan mereka adalah kehidupan dunia, sedang mereka lengah dan lalai terhadap kehidupan akhirat.

Lebih lanjut, Allan berfirman: wujuHuy yauma-idzin naa-‘imaH (“Wajah-wajah [orang-orang mukmin] pada hari itu berseri-seri.”) berasal dari kata an-nadharaH yang berarti rupawan, menawan, cemerlang lagi penuh kebahagiaan.
Ilaa rabbiHaa naadhiraH (“Kepada Rabbnyalah mereka melihat.”) yakni melihat dengan kasatmata. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam shahihnya: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan kasatmata.”

Dan telah ditegaskan mengenai penglihatan orang-orang mukmin terhadap Allah di akhirat kelak dalam beberapa hadits shahih melalui beberapa jalan mutawatir yang ada pada para imam hadits, yang tidak mungkin ditolak dan ditentang. Hal itu didasarkan pada hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairah, yang keduanya terdapat di dalam kitab Ash-Shahihain bahwasannya ada bebarapa orang yang bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat kelak?” Beliau menjawab: “Apakah kalian merasa sakit saat melihat matahari dan bulan yang tidak dihalangi oleh awan?? Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya seperti itulah kalian akan melihat Rabb kalian.”

Dan di dalma kitab ash-Shahihain disebutkan dari jarir, dia berkata: Rasulullah saw. pernah melihat bulan pada bulan purnama, beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulana ini. Jika kalian mampu tidak dikalahkan [oleh perasaan lelah/mengantuk] dari mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan tidak juga sebelum ternggelamnya, maka kerjakanlah.”

Masih di dalam kitab ash-Shahihain, dari Abu Musa dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ada dua surga yang bejana dan semua isinya terbuat dari emas, dan ada juga dua surga yang bejana dan semua isinya terbuat dari perak. Tidaklah terdapat tirai antara dua kaum dengan penglihatan mereka kepada Allah, melainkan terdapat selendang kebesaran pada wajah-Nya di Surga ‘Adn.”

Di dalam riwayat Muslim dari Shuhaib, dari Nabi beliau bersabda: “Jika penghuni surga memasuki surga -beliau bersabda- Allah ta’ala berfirman: ‘Apakah kalian mau Aku beri tambahan sesuatu?’ Merekapun menjawab: ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah kami berwarna putih. Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga, dan menyelamatkan kami nari neraka.’
Beliau berkata: “Maka Allah pun mengyingkap hijab, mereka tidak diberi sesuatu yang lebih mereka sukai daripada melihat Rabb mereka [secara langsung]. Dan itulah tambahannya.”
Kemudian beliau membaca ayat berikut ini: alladziina ahsanuul husna wa ziyaadaH (“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik [surga] dan tambahannya.” (Yunus: 26)

Juga masih dalam riwayat Muslim dari Jabir di dalam haditsnya: “ Sesungguhnya Allah akan memperlihatkan diri kepada orang-orang mukmin dalam keadaan tertawa.” Yakni di persidangan pada hari kiamat kelak.
Di dalam hadits –hadits tersebut terkandung pengertian bahwa orang-orang mukmin itu akan melihat Rabb mereka di pelataran hari Kiamat dan di taman-taman surga.”

Demikianlah, alhamdulillah, hal tersebut telah menjadi kesepakatan di antar para shahabat, tabi’in, dan kaum salaf dari umat ini, sebagaimana juga telah disepakati oleh para imam kaum muslimin.

Firman Allah: wujuuHuy yauma-idzim baasiraH. Tadhunnu ay yuf’ala biHaa faaqiraH (“Dan wajah-wajah [orang kafir] pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang amat dahsyat.”) itulah wajah orang-orang jahat, dimana pada hari kiamat wajah-wajah tersebut menjadi muram. Qatadah berkata: “Cemberut.” Ibnu Zaid mengatakan tentang firman Allah: baasiraH; yakni masam. Tadhunnu; yang berarti yakin. Ay yuf’ala biHaa faaqiraH (“Bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang amat dahsyat.” Mujahid mengatakan: “Yakni malapetaka.” Sedangkan Qatadah mengatakan: “Yaitu keburukan.”
(bersambung ke bagian 4)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qiyaamah (2)

20 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qiyaamah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; Surah ke 75: 40 ayat

Firman Allah: wa khasafal qamaru (“dan apabila bulan telah hilang cahayanya.”) yakni tidak lagi bercahaya. Wa jumi-‘asy syamsu wal qamaru (“sedang matahari dan bulan dikumpulkan.”) Mujahid mengatakan: “Yakni menjadi satu bulan.” Dalam menafsirkan ayat di atas, Ibnu Zaid membaca ayat-ayat berikut ini: idzasy-syamsu kuwwirat. Wa idzan nujuumung kadarat (“apabila matahari digulung. dan apabila bintang-bintang berjatuhan.”)(at-Takwir: 1-2)

Firman Allah Ta’ala: yaquulul insaanu yauma-idzin ainal mafarr (“pada hari itu manusia berkata: ‘Kemana tempat lari?’”) jika anak cucu Adam telah menyaksikan peristiwa mengerikan itu pada hari kiamat kelak, maka mereka hendak melarikan diri dan berkata: “Kemana tempat berlari?” yakni adakah tempat berlindung?

Allah berfirman: kallaa laa wazara. Ilaa rabbika yauma-idzinil mustaqarru (“Sekali-sekali tidak. Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Rabb-mu sajalah pada hari itu tempat kembali.”) Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair dan lain-lain dari ulama salaf mengatakan: “Yakni tidak ada keselamatan.” Dan ayat tersebut sama dengan firman Allah yang artinya: “Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari. Demikian pula disini Allah berfirman, laa wazara (“tidak dapat berlindung.”) yakni kalian tidak akan mendapatkan tempat untuk berlindung padanya. Oleh karen itu, Dia berfirman: ilaa rabbika yauma-idzinil mustaqarru (“Hanya kepada Rabb-mu sajalah pada hari itu tempat kembali.”) yakni tempat kembali.

Kemudian Dia berfirman: yunabba-ul insaanu yauma-idzin bimaa qaddama wa akhkhara (“pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.”) maksudnya Allah memberitahukan seluruh amal perbuatannya, baik yang lama maupun yang baru, yang pertama maupun yang terakhir, kecil maupun besar, demikian setersunya.

Firman Allah: balil insaanu ‘alaa nafsiHii bashiiratun. Wa lau alqaa ma-‘aadziiraHu (“bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”) maksudnya dia menjadi saksi bagi dirinya sendiri, dia mengetahui apa yang dia kerjakan meskipun dia telah memberikan alasan dan juga penolakan, sebagaimana Dia berfirman: iqra’ kitaabaka kafaa binafsikal yauma ‘alaika hasiiban (“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadap dirimu.”)(al-Israa’: 14). ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas tentang ayat, balil insaanu ‘alaa nafsiHii bashiiratun (“bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.”) dia mengatakan: “Yakni pendengaran, pandangan, kedua tangan, kedua kaki, dan seluruh anggota tubuhnya.”

tulisan arab alquran surat al qiyaamah ayat 16-25“16. janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. 17. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. 18. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. 19. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya. 20. sekali-kali janganlah demikian. sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, 21. dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. 22. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. 23. kepada Tuhannyalah mereka melihat. 24. dan Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, 25. mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang Amat dahsyat.” (al-Qiyamah: 16-25)

Ini merupakan pelajaran dari Alllah bai Rasulullah saw. mengenai cara menerima wahyu dari malaikat. Dimana beliau akan segera mengambilnya dan mendahului malaikat dalam membacanya. Maka Allah memerintahkannya, jika malaikat mendatanginya dengan membawa wahyu, maka hendaklah dia mendengarkannya, dan Allah menjamin untuk mengumpulkannya ke dalam hatinya serta menjadikannya mudah melaksanakannya sesuai dengan apa yang disampaikan kepadanya serta memberikan penjelasan, penafsiran, dan keterangan kepadanya.

Dengan demikian, proses pertama adalah pengumpulan wahyu di dalam dada Nabi saw. proses kedua adalah pembacaanya. Dan proses ketiga adalah penafsiran sekaligus penjelasan maknanya. Oleh karena itu Allah berfirman: laa tuharrik biHii lisaanaka lita’jalabiHi (“janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca al-Qur’an karena hendak cepat-cepat [menguasai]nya.”) yakni menguasai al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya yang artinnya: “Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan pewahyuannya kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmmu pengetahuan…’” (ThaaHaa: 114)

Kemudian Allah berfirman: inna ‘alainaa jam-‘aHu (“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah pengumpulannya.”) yaitu di dadamu. Wa qur-aanaHu (“dan pembacaannya”) yakni membacanya. Fa idzaa qara’naaHu (“apabila Kami telah selesai membacanya.”) yakni jika malaikat telah selesai membaca wahyu dari Allah Ta’ala. Fattabi’ qur-aanaHu (“Maka ikutilah bacaan itu.”) yakni dengarkanlah kemudian bacakan kepadanya sebagaimana dia [malaikat] telah membacakannya kepadamu. Tsumma inna ‘alainaa bayaanaHu (“Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.”) yakni setelah dia menghafal dan membacanya, maka Kami yang akan menjelaskan, menerangkan, dan mengilhamkan maknanya untukmu sesuai dengan apa yang Kami kehendaki dan syariatkan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia bercerita, Rasulullah saw. berusaha menghilangkan rasa gemetar beliau akibat turunnya wahyu dengan menggerakkan kedua bibirnya. Dia bercerita, Ibnu ‘Abbas berkata kepadaku: “Aku menggerakkan kedua bibirku sebagaimana Rasulullah saw. menggerakkan kedua bibir beliau.” Sedang Sa’id juga pernah berkata kepadaku: “Aku menggerakkan kedua bibirku sebagaimana aku melihat Ibnu ‘Abbas menggerakkan keduanya.” lalu Allah menurunkan firman-Nya: laa tuharrik biHii lisaanaka lita’jalabiHi inna ‘alainaa jam-‘aHu Wa qur-aanaHu (“janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca al-Qur’an karena hendak cepat-cepat [menguasai]nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah pengumpulannya di dalam dadamu dan membuatmu pandai membacanya.”) dia mengatakan: “Yaitu mengumpulkannya di dalam hatimu, kemudian kami membacakannya.” Fa idzaa qara’naaHu fattabi’ qur-aanaHu (“Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.”) yaitu dengarkanlah dan perhatikanlah. Tsumma inna ‘alainaa bayaanaHu (“Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”) setelah Jibril berlalu beliau membacanya sebagaimana Jibril membacakannya kepadanya. Dan telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan jalan lain.
(bersambung ke bagian 3)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qiyaamah (1)

20 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qiyaamah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; Surah ke 75: 40 ayat

tulisan arab alquran surat al qiyaamah ayat 1-15bismillaaHir rahmaanir rahiim
“1. aku bersumpah demi hari kiamat, 2. dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? 4. bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. 5. bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus. 6. ia berkata: “Bilakah hari kiamat itu?”7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), 8. dan apabila bulan telah hilang cahayaNya, 9. dan matahari dan bulan dikumpulkan, 10. pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat berlari?” 11. sekali-kali tidak! tidak ada tempat berlindung! 12. hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. 13. pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. 14. bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri 15. meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya.” (al-Qiyamah: 1-15)

Telah disampaikan berulang kali bahwa jika obyek yang dijadikan sasaran sumpah itu dinafikan, maka boleh digunakan kata “laa” sebelum kata sumpah ini untuk menguatkan penafian. Dan yang menjadi obyek sumpah di sini adalah penetapan hari kebangkitan dan bantahan terhadap hamba-hamba Allah yang tidak berpengetahuan yang mengaku bahwa jasad-jasad ini tidak akan dibangkitkan. Oleh karena itu Allah berfirman:

Laa uqsimu biyaumil qiyaamaH. Wa laa uqsimu bin nafsillawwaamaH (“Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali [dirinya sendiri].”) Qatadah mengatakan: “Aku bersumpah dengan keduanya secara keseluruhan.”
Adapun mengenai hari kiamat, maka sudah sangat diketahui. Sedangkan, annafsullawwaamaH; maka Qurrah bin Khalid berkata dari Hasan al-Bashri mengenai ayat ini, “Sesungguhnya orang mukmin, demi Allah, kami tidak melihatnya melainkan mencela dirinya sendiri. Yang aku maksud dengan kalimatku ini adalah sama seperti apa yang dimaksud dengan makanku, dan apa yang aku maksud dengan hadiitsu nafsii [instropeksi diri]. Dan sesungguhnya orang jahat akan berjalan tanpa mencela dirinya sendiri.”

Juwaibir mengatakan, kami pernah mendapatkan kabar dari al-Hasan bahwasannya ia pernah berkata mengenai firman Allah: wa laa uqsimu bin nafsillawwaamaH (“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesal.”) dia mengatakan: “Tidak ada seorangpun dari penghuni langit dan bumi ini melainkan akan mencela dirinya sendiri pada hari kiamat kelak.”

Ibnu Jarir mengatakan: “Yang lebih dekat dengan lahiriyah ayat bahwa jiwa mencela pemiliknya atas kebaikan dan keburukan, serta menyesali segala hal yang telah berlalu.

Firman Allah: ayahsabul insaanu allay yajma-‘a ‘idhaamaH (“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya?”)
Yakni pada hari kiamat kelak manusia akan mengira bahwa Kami [Allah] tidak akan mampu mengembalikan sekaligus mengumpulkan tulang-belulangnya dari tempat yang terpisah-pisah? Balaa qaadiriina ‘alaa annusawwiya banaanaH (“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun [kembali] jari jemarinya dengan sempurna.”) Sa’id bin Jubair dan al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Kami [Allah] mampu membuatnya beralas kaki atau bertelanjang kaki.” Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah adl-Dlahhak, dan Ibnu Jarir. Dan Ibnu Jarir mengarahkannya, bahwa jika Allah Ta’ala menghendaki, maka Dia akanmelakukan hal tersebut di dunia.

Lahiriyah ayat menunjukkan bahwa firman Allah Ta’ala: qaadiriina; merupakan haal [keadaan] dari firman-Nya, najma-‘a; artinya, apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mampu mengumpulkan tulang belulangnya? Sudah pasti Kami akan mengumpulkannya sekaligus mampu untuk menyusun jari jemarinya. Dengan kata lain, kekuasaan Kami mampu untuk melakukan pengumpulan terhadapnya. Dan jika menghendaki, Kami bisa membangkitkannya dengan menambahkan lebih dari apa yang ada padanya sebelumnya, lalu Kami akan menjadikan ujung jari-jemarinya sama rata. Dan itulah makna ungkapan Ibnu Qatadah dan az-Zujaj.

Firman Allah: bal yuriidul insaanu liyafjura amaamaH (“Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus-menerus.”) Sa’id mengatakan dari Ibnnu ‘Abbas: “Berjalan terus.” Sedangkan al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: bal yuriidul insaanu liyafjura amaamaH (“Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus-menerus.”) yakni angan-angan.” Manusia berkata: “Aku akan melakukan ini kemudian akan bertaubat sebelum kiamat.”
‘Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: yaitu orang kafir yang mendustakan hari perhitungan. Demikian pula yang dikemukakan oleh Ibnu Zaid. Dan inilah pengertian yang lebih jelas. Oleh karena itu, setelahnya Dia berfirman: yas-alu ayyaana yaumul qiyaamaH (“Ia bertanya: ‘Bilakah hari kiamat itu?’”) maksudnya dia bertanya: kapankah hari kiamat itu tiba? Pertanyaan yang diajukan tersebut menuju ke arah menganggap mustahil kejadian hari kiamat dan mendustakan keberadaannya. Di sini Allah berfirman: fa idzaa bariqal bashar (“Maka apabila mata terbelalak.”) Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ membaca “bariq” dengan harakat kasrah pada huruf “ra”. dan apa yang difirmankan-Nya ini sama seperti firman-Nya: laa yartaddu ilaiHim tharfuHum (“Sedang mata mereka tidak berkedip”)(Ibrahim: 43). Maksudnya, tetapi mereka melihat karena terkejut, begini dan begitu. Mata mereka tidak tertuju pada sesuatu pun karena rasa takut yang sangat luar biasa. Ahli qiraat lainnya membaca “baraqa” dengan menggunakan harakat fathah pada huruf “ra”, dan kata tersebut mempunyai pengertian yang sangat dekat denngan yang pertama. dan maksudnya bahwa semua mata terbelalak pada hari kiamat kelak dengan penuh kekhusyu’an, bingung, keheranan, serta merasa hina karena rasa takut yang mencekam dan karena kedahsyatan berbagai hal yang mereka saksikan.
(bersambung ke bagian 2)