Kemuliaan dan Keutamaan Wali Allah

27 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Al-Qur’ana – Hadits

Firman Allah: “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Yunus: 62-64)

Firman Allah: “Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan dan minumlah.” (Maryam: 25-26)

Firman Allah: “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (Ali Imraan: 37)

“dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri..” (al-Kahfi: 16-17)

Dari Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq ra. bahwasannya Ashabush Shuffah adalah orang-orang yang miskin, dan pada suatu ketika Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa mempunyai makanan untuk dua orang hendaknya ia makan bertiga, dan barangsiapa yang mempunyai makanan untuk empat orang hendaknya makan berlima atau berenam, atau sebagaimana yang beliau sabdakan.
Dan sesungguhnya Abu Bakar mengajak tiga orang, sedangkan Nabi saw. mengajak sepuluh orang. Kemudian Abu Bakar makan malam bersama Nabi saw. dan tinggal di sana sampai isya’, setelah waktu sudah cukup malam maka dia pulang, dan setibanya di rumah ia ditanya oleh istrinya: “Apakah yang menyebabkan engkau menelantarkan tamu-tamumu?” Abu Bakar bertanya: “Apakah kamu belum menjamu mereka?” Istrinya menjawab: “Mereka enggan sebelum engkau pulang, padahal makanan sudah dihidangkan untuk mereka.” Abdurrahman berkata: “Kemudian saya pergi dan bersembunyi, maka Abu Bakar memanggil-manggil: “Wahai si bodoh, Abu Bakar memaki-maki dan mencaci-caci saya. Kemudian Abu Bakar bertanya kepada tamu-tamunya: “Silakan makan seadanya, demi Allah saya sendiri tidak akan makan.” Abdurrahman berkata: “Demi Allah setiap kali saya mengambil makanan itu maka dari bawahnya menyumberlah makanan yang lebih banyak, sehingga mereka merasa kenyang semua, dan sisa makakan itu malah lebih banyak daripada sebelum dimakan. Kemudian Abu Bakar memperhatikan makanan yang bertambah banyak itu dan berkata kepada istrinya: “Wahai saudari Bani Firas, apakah ini?” Istrinya berkata: “Betapa senangnya hatiku, sekarang makanan ini malah lebih banyak daripada sebelum dimakan, bahkan tiga kali lipat.” Kemudian Abu Bakar makan dan berkata: “Sesungguhnya sumpahku tadi adalah semata-mata karena godaan setan.” Setelah Abu Bakar makan sesuap daripada makanan itu, ia lantas membawanya ke tempat nabi saw, kemudian makanan itu semua berada di tempat beliau.
Pada saat itu ada rapat membicarakan suatu perjanjian antara kami dengan kaum lain, dimana setelah selesai rapat kami membagi orang-orang yang rapat itu menjadi dua belas kelompok, setiap kelompok terdiri dari beberapa orang dimana hanya Allah saja yang tahu berapa jumlah setiap kelompok itu, dan semua dapat makan dari sisa makanan yang dibawa ke tempat Nabi saw. itu.
Dalam riwayat lain dikatakan: “Abu Bakar bersumpah untuk tidak makan, istrinyapun bersumpah untuk tidak makan, maka tamu-tamu itu bersumpah untuk tidak makan sebelum Abu Bakar bersedia untuk makan bersama-sama. Kemudian Abu Bakar berkata: “Sumpah ini adalah semata-mata karena godaan setan.” Maka ia meminta agar makanan itu pun segera dihidangkan, lantas Abu Bakar makan dan para tamu itupun makan bersamanya.
Kemudian setiap kali mereka mengangkat makanan, maka dari bawahnya menyumberlah makanan yang lebih banyak. Abu Bakar lantas berkata kepada istrinya: “Wahai saudari Bani Firas, apakah ini?” Istrinya berkata: “Alangkah senangnya hatiku, sungguh makanan ini lebih banyak daripada sebelum kami makan.” Setelah selesai makan, ia membawa sisa makanan itu kepada Nabi saw. diriwayatkan beliaupun berkenan makan makanan itu.”
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Abu Bakar berpesan kepada Abdurrahman: “Layanilah tamu-tamu dengan baik karena saya akan pergi ke tempat Nabi saw. dan hidangkanlah makanan kepada mereka sebelum saya datang.” Ketika sampai di rumah, Abdurrahman segera menghidangkan makanan yang ada kepada para tamuu itu seraya berkata: “Silakan makan.” Mereka bertanya: “Dimanakah tuan rumah?” Abdurrahman berkata: “Ia telah berpesan agar saya segera menghidangkan makanan kepada kalian, nanti apabila ia datang sedangkan kalian semua belum makan, maka ia akan memarahi saya.” Mereka tetap tidak mau makan. Saya berkeyakinan bahwa saya akan dimarahi olehnya, maka ketika ia [Abu Bakar] datang saya terus bersembunyi, dan Abu Bakar bertanya kepada para tamunya: “Apakah yang telah kalian perbuat?” Mereka menceritakan apa adanya, kemudian Abu Bakar memanggil: “Wahai Abdurrahman,” saya diam. Ia memanggil lagi, “Wahai Abdurrahman.” Saya pun tetap diam. Kemudian ia memanggil lagi: “Wahai Abdurrahman.” Saya pun tetap diam. Kemudian dia memanggil lagi: “Wahai si tolol, saya bersumpah bila kamu mendengar suaraku ini, maka kamu harus segera datang.” Maka saya pun keluar dan berkata: “Tanyakan kepada tamu-tamumu.” Para tamu berkata: “Benar ia tadi telah menghidangkan makanan untuk kami.” Abu Bakar bertanya: “Jadi kalian menunggu saya, padahal demi Allah saya tidak akan makan pada malam ini.” Mereka berkata: “Demi Allah, kami tidak akan makan sebelum engkau bersedia makan.” Abu Bakar berkata: “Celaka kalian, mengapa kalian tidak bersedia menikmati makanan yang telah kami persiapkan? Hidangkanlah makanan itu.” Kemudian makanan itu pun dikeluarkan, dan ia mengulurkan tangannya seraya berkata: “BismillaaH, yang pertama [sumpah] tadi adalah semata karena setan.” Maka Abu Bakar pun makan bersama-sama dengan tamu. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh pada umat-umat sebelum kamu sekalian ada orang-orang yang mendapat ilham, seandainya pada umatku ada salah seorang yang mendapat ilham niscaya ia adalah Umar.” (HR Bukhari)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah.

Dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: Penduduk Kuffah mengadukan Sa’ad yakni Ibnu Abu Waqqash ra. kepada Umar bin Kaththab ra, kemudian Umar menggantinya dan mengangkat Ammar untuk penduduk Kuffah itu. Saat mereka mengadukan Sa’ad sampai-sampai mereka mengatakan baha ia tidak sempurna shalatnya, kemudian Umar memanggilnya dan berkata: “Wahai Abu Ishak, sesungguhnya penduduk Kuffah menyangka bahwa engkau tidak sempurna shalatnya.” Kemudian ia berkata: “Demi Allah sesungguhnya saya shalat bersama mereka persis seperti shalat Rasulullah saw. saya tidak menyimpang sedikitpun. Apabila saya shalat Isya’, maka saya agak lama dalam dua rakaat pertama dan saya lebih cepat pada dua rakaat yang akhir.” Umar berkata: “Demikianlah persangkaan terhadap dirimu wahai Abu Ishak.”
Setelah itu Umar mengirim Sa’ad bersama dengan beberapa orang pergi ke Kuffah untuk menyelidiki penduduk Kuffah secara keseluruhan. Pada tiap masjid dia menanyakan tentang keadaan Sa’ad dan pada umumnya mereka memuji kebaikan Sa’ad, hanya saja ketika ia masuk ke dalam masjid Bani Abs, di situ ada seseorang di antara mereka yang berdiri bernama Usamah bin Qatadah yang biasa dipanggil dengan Abu Sa’dah, dimana ia berkata: “Apabila kamu menanyakan tentang Sa’ad kepada kami, maka sesungguhnya ia adalah pemimpin yang tidak pernah memimpin pasukan, ia tidak pernah membagi barang rampasan dengan sama rata, dan ia tidak adil dalam menentukan hukuman. Sa’ad berkata: “Demi Allah saya benar-benar akan berdoa dengan tiga macam doa yaitu: Wahai Allah apabila hamba-Mu ini berdusta hanya karena riya’ dan sum’ah (menjilat), maka panjangkanlah usianya, dan lanjutkanlah kemiskinannya, serta timpakanlah berbagai fitnah kepadanya.” Kemudian dikabulkanlah doa itu, sehingga apabila ia ditanya oleh seseorang maka ia menjawab: “Saya tua renta dan ditimpa berbagai macam fitnah adalah akibat doa Sa’ad.” Abdul Malik bin Umar perawi hadits ini dari Jabir bin Samurah berkata: “Saya sendiri telah melihat Usamah demikian tuanya, sehingga kedua kelopaknya hampir menutup kedua matanya, dan ia selalu duduk-duduk di tepi jalan untuk mengganggu perempuan-perempuan yang lewat disitu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Urwah bin az-Zubair bahwasannya Sa’id Zaid bin Amr bin Nufail ra. diadukan oleh Arwa binti Aus kepada Marwan bin al-Hakam, dimana ia menuduh bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya, kemudian Said berkata: “Saya merampas tanahnya setelah saya mendengar sabda Rasulullah saw.” Marwan bertanya: “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah saw.?” Sa’id menjawab: “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa merampas sejengkal tanah dengan aniaya, maka akan dikalungkan di lehernya tujuh petala bumi.” Kemudian Marwan berkata kepadanya: “Saya lantas berdoa: Ya Allah, apabila Arwa berdusta semoga dibutakan matanya dan semoga ia mati di bumi yang dipersoalkan itu.” Urwah menceritakan bahwa Arwa benar-benar buta sebelum ia mati, dan suatu ketika ia berjalan pada bumi yang dipersoalkan itu, kemudian ia jatuh terperosok ke dalam sebuah lobang sehingga mati di situ.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan, dari Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar dengan maksud yang sama; dan diceritakan bahwa ia melihat Arwa itu buta berjalan dengan meraba-raba di dinding serta berkata: “Saya tertimpa musibah akibat doa Sa’id.” Dan bahwasannya sewaktu ia berjalan di bumi yang dipersoalkan itu ia terperosok ke dalam sebuah sumur yang berada di situ, sehingga ia mati dan sumur itulah yang merupakan kubur baginya.

Dari Jabir bin Abdullah ra. ia berkata: Ketika perang Uhud telah dimulai, pada malam harinya ayah memanggil saya dan berkata: “Menurut perkiraan saya, saya adalah orang yang pertama kali terbunuh di antara shahabat-shahabat Nabi saw., dan sesungguhnya saya tidak meninggalkan seseorang yang lebih saya sayangi melebihi kamu sekalian selain Rasulullah saw. sendiri, dan sesungguhnya saya mempunyai utang, maka bayarlah utang itu dan saya berwasiat rawatlah baik-baik saudara perempuanmu.”
Kemudian pada pagi harinya benarlah ayah adalah orang yang pertama kali terbunuh, dan sya menguburkannya dengan orang lain dalam satu liang kubur. Lama kelamaan saya merasa tidak enak untuk membiarkan ayah bersama orang lain dalam satu liang kubur, maka setelah enam bulan saya ambil lagi dari kuburnya dan waktu itu jasad ayah masih seperti pada hari saya memasukkan ke liang kubur hanya telinganya yang agak berubah, kemudian jasad ayah saya kuburkan dalam laing tersendiri.” (HR Bukhari)

Dari Anas ra. bahwasannya ada dua shahabat keluar dari majelis nabi saw. pada malam yang gelap gulita, kemudian di depan kedua shahabat itu ada semacam dua buah lampu, dan ketika shahabat itu berpisah maka kedua benda semacam lampu itu menyertai masing-masing kedua shahabat itu, sehingga sampai di rumahnya.” (HR Bukhari)
Dalam sebuah hadits yang lain diceritakan bahwa kedua shahabat tersebut adalah Usaid bin Hudlair dan Abbad bin Bisyr.

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah mengirimkan sepuluh orang mata-mata (pengintai). Dan beliau mengangkat Ashim bin Tsabit al-Anshariy ra. sebagai pemimpin mereka. Setelah mereka berangkat dan sampai di Hudah, tempat antara ‘Usfan dan Makkah, maka mereka diketahui oleh kelompok kaum Hudzil yaitu Bani Lihyan, kemudian mereka mengeluarkan seratus orang ahli panah untuk menyerang rombongan ‘Ashim. Ketika ‘Ashim dan teman-temannya merasa bertemu mereka, maka ia berlindung di suatu tempat, lalu sekawanan orang (Bani Lihyan) mengepungnya. Mereka berkata kepadanya: “Singgahlah dan angkat tanganmu, kalian memiliki perjanjian, bahwa kami tidak membunuh seorangpun dari kalian.” Lalu ‘Ashim bin Tsabit berkata: “Wahai sekalian orang, saya tidak akan singgah di dalam jaminan keamanan orang kafir.” Kemudian ia berdoa: “Ya Allah beritahukanlah kepada Nabi-Mu mengenai diri kami.”
Mereka melempari ‘Ashim dan teman-temannya, sehingga terbunuhlah ‘Ashim. Ada tiga orang yang tetap tinggal dengan mendapat jaminan keamanan, antara lain Khubaib, Zaid bin Datsinah dan seorang laki-laki (Abdullah bin Thariq). Ketika mereka telah menguasainya, maka mereka melepaskan tali busur, lalu mengikatnya dengan tali itu. Laki-laki yang ketiga berkata: “Ini adalah awal pengkhianatan, demi Allah, saya tidak akan mau berdamai dengan kalian dan bagi saya lebih baik mengikuti jejak kawan-kawan yang telah gugur.”
Ia berpendapat lebih baik dibunuh daripada berdamai dengan mereka. Kemudian mereka menyiksa dan membunuhnya. Lalu Khubaib dan Zaid bin Datsinah dibawa ke Makkah, sehingga mereka menjual keduanya setelah peristiwa perang Badar. Kemudian anak-anak Harist bin Amir bin Abdu Manaf membeli Khubaib. Padahal Khubaib adalah orang yang membunuh Harits bin Amir pada perang Badar. Khubaib tingga di sisi mereka sebagai tawanan, sehingga mereka sepakat untuk membunuhnya.
Pernah pada suatu hari Khubaib meminjam pisau kepada salah seorang putri Haris, maka putri itupun meminjaminya, kemudian ada anak kecil yang lalai, sehingga sampai kepada Khubaib. Dia menjumpai anaknya berada di pangkuan Khubaib, padahal pisau cukur itu berada di gengamannya.
Putri Haris berkata: “Saya sangat terkejut, sehingga diketahui oleh Khubaib.” Maka Khubaib bertanya: “Apakah kamu takut aku akan membunuhnya? Sungguh aku tidak akan melakukan hal itu.”
Puteri Harits berkata: “Demi Tuhan, sama sekali saya belum pernah melihat seorang tawanan yang lebih baik dari Khubaib. Demi Allah, pada suatu hari saya pernah menjumpai ia sedang memakan setandan anggur, padahal ia diikat dengan besi dan waktu itu di Makkah tidak ada anggur.” Puteri Harits berkata: “Sesungguhny demikian itu adalah rizky yang telah diberikan Allah kepada Khubaib.”
Ketika mereka membawa Khubaib keluar dari tanah Haram untuk membunuhnya di tanah Halal (luar tanah Haram), maka Khubaib berkata kepada mereka: “Biarkanlah diriku shalat dua rakaat.” Maka mereka meninggalkannya, lalu ia shalat dua rakaat dan berkata: “Demi Allah, kalau saja mereka tidak menyangka, bahwa tiada keluh kesah pada diriku, niscaya aku menambah (dua rakaat lagi).” Kemudian ia berdoa: “Ya Allah, hitunglah jumlah mereka, bunuhlah mereka dengan bercerai-berai, dan janganlah Engkau sisakan seorang pun dari mereka.” Kemudian ia berkata: “Aku tidak peduli, di kala aku terbunuh sebagai seorang muslim. Di sebelah manapun, maka hanya kepada Allah tempat aku terbanting (berbaring). Semua itu terserah kepada Allah, jika Dia menghendaki, maka Dia memberi berkah atas tubuh yang telah dicabik-cabik.”
Khubaib adalah orang yang memberi contoh kepada setiap muslim yang akan dibunuh, dimana ia bersabar dan mengerjakan shalat. Dan diberitakan kepada Tsabit di saat mereka diberi sesuatu dari (jasadnya) yang dapat diketahui. Karena dia pernah membunuh seseorang dari para tokoh mereka. Kemudian Allah mengirim untuk ‘Ashim sekawanan lebah seperti awan hitam, sehingga menyelamatkannya dari para utusan orang-orang Quraisy. Maka mereka tidak kuasa memotong sedikitpun dari (jasad) ‘Ashim).” (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Sama sekali saya tidak pernah mendengar Umar ra. mengatakan tentang sesuatu: saya memperkirakan akan terjadi begini, melainkan terjadilah apa yang diperkirakannya itu.” (HR Bukhari)

Satu Tanggapan to “Kemuliaan dan Keutamaan Wali Allah”

  1. abdchalim 5 Juli 2013 pada 04.36 #

    SEMOGA Alloh Senantiasa Memberikan kemuliaan dan Keagungan serta kelak memberikan safaat bagi pembacanya kisa Aulyaalloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: