Shalat ‘Id (Hari Raya)

11 Jul

Kajian Fiqih Empat Imam madzab
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Empat imam madzab sepakat bahwa shalat dua hari raya itu disyariatkan. Mereka berbeda pendapat tentang hukumnya. Hanafi berpendapat: shalat ‘id wajib atas setiap orang, sebagaimana shalat Jum’at. Maliki dan Syafi’i: sunnah. Ini juga pendapat Hanafi dalam satu riwayat. Hambali : fardlu kifayah.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang syarat-syaratnya. Hanafi dan Hambali: di antara syarat-syaratnya adalah mukim dan diikuti oleh sejumlah orang, mendapat izin penguasa sebagaimana dikatakan oleh Hambali ketika membicarakan izin shalat Jum’at. Bahkan Hanafi menambahkan dengan keharusan diselenggarakan di kota besar.
Maliki dan Syafi’i, masing-masing di atas bukan merupakan syarat sahnya shalat ‘Id. Mereka membolehkan shalat ‘Id dengan sendirian bagi yang menghendakinya, baik laki-laki maupun perempuan.

Empat imam madzab sepakat bahwa shalat ‘Id dimulai dengan takbiratul ihram. Mereka berbeda pendapat tentang jumlah takbir sesudahnya. Hanafi: tiga kali takbir dalam rakaat pertama dan tiga kali dalam rakaat kedua. Maliki dan Hambali: enam kali takbir pada rakaat pertam dan lima kali takbir pada rakaat kedua. Syafi’i: tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

Syafi’i dan Hambali: disunnahkan mengucapkan dzikir di antara tiap-tiap takbir. Hanafi dan Maliki: harus mendekatkan antara tiap takbir hingga terkait.

Mereka berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya mendahulukan takbir daripada membaca al-Fatihah. Maliki dan Syafi’i: didahulukan takbir atas al-Fatihah dari kedua rakaat tersebut. Takbir didahulukan sebelum bacaan al-Fatihah pada rakaat pertama, pada rakaat kedua al-fatihah didahulukan daripada takbir. Dari Hambali diperoleh dua riwayat, yakni seperti kedua madzab tersebut.

Empat imam madzab sepakat bahwa mengangkat tangan adalah dalam seluruh takbir. Tetapi ada satu riwayat dari Maliki bahwa mengangkat tangan hanya ketika takbiratul ihram.

Mereka berbeda pendapat tentang orang yang tertinggal shalat ‘id, apakah ia harus mengqadla-nya? Hanafi dan Maliki: tidak perlu diqadla. Hanafi: harus mengqadla sendirian. Dari Syafi’i diperoleh dua keterangan sebagaimana pendapat di atas, namun yang paling shahih adalah mengqadlanya sendiri.

Tentang tata cara mengqadlanya: Hambali dalam riwayatnya yang masyhur: shalat empat rakaat sebagaimana shalat dhuhur. Pendapat ini yang dipilih menurut penelitian ulama para pengikutnya. Syafi’i: mengqadlanya dua rakaat seperti shalat imam. Demikian juga menurut Hambali dalam riwayat yang lain. Diriwayatkan dari Hambali yang merupakan riwayat ketiga dalam masalah ini, yaitu boleh memilih antara shalat dua rakaat dan empat rakaat.

Mereka sepakat bahwa disunnahkan shalat ‘id itu dilakukan di masjid atau di tempat lain yang bukan masjid. Jika keadaan kaum Muslimin masih lemah, tidak dapat pergi ke tanah lapang, lalu mereka mengadakan shalat ‘id di masjid, maka hal itu dibolehkan, kecuali menurut Syafi’i yang berpendapat: mengerjakannya di masjid adalah lebih utama jika masjid itu luas.

Mereka berbeda pendapat tentang bolehnya sholat sunnah sebelum shalat ‘id dan sesudahnya bagi orang yang menghadirinya. Hanafi: tidak boleh shalat sunnah sebelumnya, dan bagi yang menghendaki boleh shalat sesudahnya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara orang yang shalat dan lainnya, antara imam dan lainnya. Maliki: bila shalat dilakukan di mushala (bukan masjid) maka tidak boleh shalat sunnah sebelum dan sesudahnya, baik imam maupun makmum. Jika di masjid dari Maliki diperoleh dua pendapat. Menurut Syafi’i: boleh shalat sunnah sebelumnya maupun sesudahnya baik di masjid maupun bukan, kecuali bagi imam. Jika ia telah kelihatan oleh orang banyak, maka ia tidak boleh shalat sebelumnya. Hambali: tidak boleh shalat sebelum dan sesudahnya secara mutlak.

Disunnahkan mengumandangkan “ash-shalaatu jaami’aH”, demikian menurut kesepakatan empat imam madzab.
Diriwayatkan bahwa Ibn Zubair adzan pada shalat hari raya. Ibn Musayyab berpendapat: orang yang pertama kali adzan untuk shalat ‘id adalah Mu’awiyah.

Menurut Syafi’I, surah yang dibaca pada rakaat pertama adalah surah Qaf dan Iqtarabat pada rakaat kedua, atau surah Sabbih pada rakaat pertama dan al-Ghasiyyah pada rakaat kedua. Hanafi berpendapat: tidak ada ketentuan bacaan surah. Maliki dan Hambali berpendapat: hendaknya dibaca surah Sabbih dan al-Ghasyiyah.

Apabila orang banyak mengetahui hari raya pada hari ke tiga puluh dari bulan Ramadlan sesudah tergelincir matahari dengan melihat bulan, maka shalat ‘Id harus diqadla jika dikehendaki. Demikian pendapat Syafi’i yang paling shahih. Maliki berpendapat: shalat ‘id itu tidak diqadla. Jika tidak mungkin mengumpulkan orang pada hari diketahui sudah kelihatan bulan, maka shalat ‘id dikerjakan pada esok harinya. Pendapat Maliki ini sesuai dengan pendapat madzab Hambali. Menurut Hanafi: shalat ‘idul fitri boleh dikerjakan pada hari kedua, sedangkan shalat ‘idul adha boleh dikerjakan pada hari kedua atau ketiga.

Empat imam madzab sepakat bahwa disunahkan memperbanyak bacaan takbir pada hari ‘idul adha. Demikian juga pada ‘idul fitri kecuali menurut pendapat Hanafi. Dawud mewajibkan keduanya. an-Nakha’i berpendapat: hal demikian hanya dilakukan oleh al-Jawakun. Ibn Hubairah berpendapat: yang shahih, memperbanyak bacaan pada ‘idul fitri sangat dianjurkan mengingat firman Allah: “Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian.” (al-Baqarah: 185)

Empat imam madzab berbeda pendapat tentang permulaan dan akhir waktu memperbanyak takbir. Maliki: hendaknya takbir pada hari raya, bukan pada malamnya. Waktu akhirnya adalah sejak imam keluar dari rumah menuju tempat shalat. Syafi’i: tentang waktu akhir ada beberapa pendapat: pertama; sampai imam menuju ke tempat shalat. Kedua; sampai imam bertakbiratul ihram dalam shalat. Inilah pendapat yang paling kuat. Ketiga; sampai selesai shalat. Sedangkan permulaannya menurut Syafi’i adalah sejak terlihat bulan.
Tentang waktu akhirnya menurut Hambali ada dua riwayat. Pertama; apabila imam sudah keluar menuju ke tempat shalat. Kedua; apabila dua khutbah ‘idul fitri sudah selesai. Sdangkan permulaan menurut Hambali adalah sejak terlihat bulan.

Empat imam madzab berbeda pendapat tentang lafadz takbir. Menurut pendapat Hanafi dan Hambali adalah hendaknya mengucapkan: “AllaaHu akbar, allaaHu akbar, laa ilaaHa illallaaHu wallaaHu akbar, allaaHu akbaru walillaaHil hamdu (Allah mahabesar, Allah maha besar, tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha besar, Allah Maha besar, dan bagi Allah saja pujian)”
Hendaknya bilangan takbir digenapkan pada awal dan akhirnya.

Maliki berpendapat: hendaknya bertakbir tiga kali dengan terus menerus. diriwayatkan juga darinya: jika seseorang menghendaki, hendaknya ia bertakbir tiga kali atau dua kali. Syafi’i berpendapat: hendaknya takbir tiga kali terus menerus pada awal dan tiga kali pada akhirnya. Adapun lafadz yang dipilih para ulama kemudian pengikut Syafi’i adalah hendaknya takbir itu tiga kali dengan terus menerus pada awalnya dan takbir dua kali pada akhirnya. Takbir yang sempurna menurut mereka adalah: “AllaaHu akbar, allaaHu akbar, allaaHu akbar. Laa ilaaHa illallaaHu wallaaHu akbar. allaaHu akbar wa lillaaHil hamdu. allaaHu akbar kabiiraa, walhandu lillaaHi katsiiraa, wa subhaanallaaHi bukrataw wa ashiilaa, laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu, shadaqa wa’daHu, wa nashara ‘abdaHu, wa a-‘azza jundaHu, wa Hazamal ahzaaba wahdaHu. Laa ilaaHa illallaaHu wa laa na’budu illaa iyyaaHu, mukhlishiina laHuddiina walau kariHal kaafiruun. AllaaHumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhammadiw wa ‘alaa aali sayyidinaa lmuhammadiw wa ‘alaa ash-haa bin sayyidinaa muhammadiw wa ‘alaa anshaari sayyidinaa muhammadiw wa ‘alaa dzurriyyati sayyidinaa muhammadiw wa sallim tasliiman katsiiraa.
(Allah Maha besar, Allah Maha besar, Allah Maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, dan Allah maha besar. Allah mahabesar dan bagi Allah segala pujian. Allah sungguh mahabesar. Segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya pujian. Dan Mahasuci Allah pada waktu pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah yang Mahatunggal. Sungguh benar janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan bala tentara-Nya dan mengalahkan golongan-golongan musuh secara sendirian. Tiada Tuhan selain Allah dan kita menyembah hanya kepada-Nya. Dengan memurnikan agama kepada-Nya walaupun orang-oran kafir menaruh benci.
Ya Allah curahkanlah rahmat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga Sayyidina Muhammad, shahabat-shahabat Sayyidina Muhammad, penolong-penolong Sayyidina Muhammad, serta keturunan Sayyidina Muhammad. Dan berilah salam sejahtera sebanyak-banyaknya.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang memperbanyak takbir pada ‘idul adha dan hari-hari tasyrik, yakni tentang permulaan dan akhirnya bagi orang yang sedang ihram dan tidak ihram. Hanafi dan Hambali berpendapat: hendaknya diucapkan takbir sejak fajar hari ‘Arafah sampai takbir untuk shalat asyar dari hari nahar. Maliki: sejak dzuhur hari nahar hingga shubuh hari tasyrik terakhir, yaitu hari nahar keempat. Hal ini berlaku bagi orang yang sedang ihram maupun tidak.
Dari syafi’i ada perbedaan pendapat, yang termasyur adalah seperti pendapat Maliki. Yang diamalkan dari pendapatnya adalah sejak shubuh hari ‘Arafah sampai waktu asyar hari tasyrik terakhir. Orang yang sedang ihram adalah seperti orang lain. Demikian pendapat Syafi’i yang paling kuat.

Empat imam madzab sepakat bahwa memperbanyak takbir hukumnya adalah sunah bagi orang yang ihram maupun yang tidak ihram di belakang jama’ah. Para imam berbeda pendapat tentang orang yang shalat sendirian, baik di dalam ihram maupun tidak pada waktu-waktu tersebut. Menurut Hanafi dan Hambali dalam satu riwayat: orang yang shalat sendirian tidak disunnahkan membaca takbir. Sedangkan menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam riwayat lain: disunnahkan takbir.

Para Imam madzab sepakat tentang tidak disunnahkan takbir setelah mengerjakan shalat sunnah, kecuali menurut pendapat Syafi’i. Demikian juga pendapat para ulama pengikut Syafi’i yang paling kuat.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: