Shalat Khauf

11 Jul

Kajian Fiqih Empat Imam madzab
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Empat Imam Madzab sepakat bahwa shalat khauf hukumnya tetap berlaku sesudah wafat Rasulullah saw. Diriwayatkan bahwa al-Muzani berpendapat: shalat khauf sudah di-mansukh.
Abu Yusuf berpendapat: shalat khauf dikhususkan bagi Rasulullah saw.

Empat imam madzab sepakat bahwa shalat khauf bagi orang yang mukim adalah empat rakaat, sedangkan dalam perjalanan adalah dua rakaat. Merekapun sepakat bahwa sifat yang diriwayatkan dari Nabi saw. dalam shalat khauf bermacam-macam. Namun mereka berbeda pendapat tentang menetapkan mana yang lebih kuat.

Tidak boleh shalat khauf dalam peperangan yang dilarang kecuali menurut pendapat Hanafi. Boleh mengerjakan shalat khauf dengan cara berjamaah atau sendirian. Hanafi berpendapat: shalat khauf tidak boleh dikerjakan secara berjamaah.

Shalat khauf boleh dikerjakan di tempat mukim. Demikian pendapat Syafi’i, Hanafi, dan Hambali. Sedangkan Maliki berpendapat: tidak boleh dikerjakan shalat khauf di tempat mukim. Tetapi para ulama pengikut Maliki membolehkannya.

Tiga imam madzab berpendapat bahwa boleh seseorang shalat dua rakaat bersama satu golongan, dan shalat dua rakaat bersama golongan lain. Namun, mereka berbeda pendapat tentang shalat dalam keadaan takut, seperti ketika terjadi peperangan dengan sengit dan sangat menakutkan.

Syafi’i, Maliki dan Hambali berpendapat bahwa apabila perang telah berkecamuk, saling berhadapan, ketekutan telah memuncak, maka hendaklah dikerjakan shalat dalam keadaan itu sedapat mungkin, menghadap Kiblat atau tidak, serta mengisyaratkan saja dengan kepala sebagai pengganti rukuk dan sujud.
Hanafi berpendapat: dalam keadaan tersebut, tidak dikerjakan shalat, melainkan diakhirkan hingga peperangan telah reda, yakni hingga shalat dapat dikerjakan sebagaimana mestinya.
Maliki, Syafi’i dan Hambali: tidak boleh mengakhirkan shalat, melainkan harus shalat sedapat mungkin. Sudah mencukupi apabila mereka shalat menurut kemampuan, dengan berjalan atau di atas kendaraan, baik menghadap Kiblat ataupun tidak, dengan menggunakan isyarat untuk rukuk dan sujud dengan kepala.

Apakah wajib menyandang senjata dalam shalat khauf? Menurut Hanafi, Syafi’i dalam pendapat yang jelas, dan Hambali, menyandang senjata adalah mustahab, tidak wajib. Namun menurut pendapat Syafi’i yang lain dan pendapat Maliki: menyandang senjata adalah wajib.

Para imam Madzab sepakat bahwa apabila pasukan melihat bayang-bayang hitam di hadapannya, lalu mereka menduganya musuh, kemudian mereka shalat khauf, tetapi kemudian dugaan mereka tidak benar, maka mereka harus mengulang shalat kecuali menurut Syafi’i dan satu riwayat dari Hambali.

Empat imam madzab sepakat bahwa laki-laki tidak boleh memakai sutera dalam keadaan tidak perang. Namun mereka berbeda pendapat memakai sutera dalam keadaan perang. Dalam masalah ini Maliki, Syafi’i, Abu Yusuf, dan Muhammad bin al-Hasan membolehkan memakai sutera di kala perang. Sedangkan Hanafi dan Hambali memakruhkannya.
Mempergunakan sutera sebagai tempat duduk dan bersandar hukumnya haram, sebagaimana menggunakannya sebagai pakaian. Demikian menurut kesepakatan empat imam madzab.
Ada riwayat dari Hanafi, bahwa ia hanya mengharamkan sutera yang dipakai sebagai pakaian.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: