Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (12)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

Firman Allah: wa laqad aatainaa muusal kitaaba fakhtulifa fiiHi (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat, lalu diperselisihkan tentang Taurat itu.”) yaitu didustakan dan disakiti.
Fashbir kamaa shabara ulul ‘azmi minar rusuli (“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul yang telah bersabar.”)(al-Ahqaaf: 35) wa lau laa kalimatun sabaqat mir rabbika (“Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Rabb-mu.”) untuk menunda hingga hari kebangkitan. Laqu-dliya bainaHum (“tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan.”) yakni, niscaya hukuman akan disegerakan kepada mereka, bahkan bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-sekali tidak akan menemukan tempat berlindung darinya.

Wa innaHum lafii syakkim minHu muriib (“Dan sesungguhnya mereka terhadap al-Qur’an benar-benar berada dalam keragu-raguan yang membingungkan.”) maksudnya, pendustaan mereka terhadap al-Qur’an bukan berdasarkan pengetahuan mereka tentang apa yang mereka katakan, akan tetapi mereka berada dalam keraguan, maka apa yang mereka ucapkan tidak dapat memperkuat kondisi yang mereka alami. Demikian alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir, meskipun hal itu masih mungkin. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 46-48“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya. Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. pada hari Tuhan memanggil mereka: “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?”, mereka menjawab: “Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara Kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)”. Dan hilang lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka satu jalan keluarpun.” (Fushshilat: 46-48)

Allajh berfirman: man ‘amila shaalihan falinafsiHi (“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka [pahalanya] untuk dirinya sendiri.”) yakni manfaat amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Wa man asaa-a fa ‘alaiHaa (“Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka [dosanya] atas dirinya sendiri.”) yakni bahaya amalnya itupun akan kembali kepadanya. Wamaa rabbuka bidhallaamil lil’abiid (“Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba-Nya.”) artinya, Dia tidak menghukum seorang pun kecuali disebabkan oleh dosanya dan Dia tidak akan menyiksa seorangpun kecuali setelah tegaknya hujjah dan diutusnya para Rasul kepadanya.

Kemudian Allah berfirman: ilaiHi yuraddu ‘ilmus saa’ati (“Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.”) yaitu tidak ada seorangpun selain-Nya yang mengetahui hal tersebut, sebagaimana Allah berfirman: laa yujalliiHaa liwaqtiHaa illaa Huwa (“Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.”)(al-A’raaf: 187)

Firman Allah: wa maa takhruju min tsamaraatim min akmaamiHaa wa maa tahmilu min untsaa wa laa ta-dla-u illaa bi-‘ilmiHi (“Dan tidak ada buah-buahan dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak [pula] melahirkan, melainkan dengan pengetahuan-Nya.”) artinya, semua itu menurut sepengetahuan-Nya. tidak ada sesuatu seberat dzarrah pun di bumi dan di langit yang luput dari pengetahuan-Nya.

Firman Allah: wa yauma yunaadiiHim aina syurakaa-ii (“Pada hari [Rabb] memanggil mereka: ‘Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu?”) yaitu pada hari kiamat, Allah memanggil orang-orang musyrik di hadapan para makhluk-Nya: “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku yang kalian sembah bersama-Ku?” qaaluu aadzannaaka (“Mereka menjawab: ‘Kami nyatakan kepada Engkau.”) yaitu, kami beritahukan kepada-Mu. Maa minnaa min syaHiid (“Bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian.”) yakni, tidak ada seorangpun di antara kami yang dapat memberi kesaksian pada hari ini bahwa Engkau mempunyai sekutu.

Wa dlalluu ‘anHum maa kaanuu yad’uuna ming qablu (“Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu.”) yakni mereka hilang dan tidak bermanfaat bagi mereka (para penyembahnya). Wa dhannuu maa laHum mim mahiish (“Dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka suatu jalan keluar pun.”) artinya, orang-orang musyrik meyakini pada hari kiamat, kata dhann di sini memiliki makna meyakini: maa laHum mim mahiish (“Tidak ada bagi mereka suatu jalan keluar pun.”) yaitu, tidak ada tempat berlari bagi mereka dari adzab Allah.

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 49-51“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka Dia menjadi putus asa lagi putus harapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah Dia ditimpa kesusahan, pastilah Dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.” (Fushshilat: 49-51)

Allah berfirman: “Manusia tidak jemu memohon kebaikan dari Rabbnya berupa harta, kesehatan badan dan lain-lain. Dan jika ditimpa malapetaka berupa bencana atau kemiskinan, faya-uusung qanuuth (“Dia menjadi putus asa lagi putus harapan.”) maksudnya, muncul perasaan dalam benaknya bahwa tidak ada lagi kebaikan yang akan diperolehnya setelah itu.
Wa la-in adzaqnaaHu rahmatam minnaa mim ba’di dlarraa-a massatHu layaquulanna Haadzaalii (“Dan jika Kami merasakan kepadanya suatu nikmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: ‘Ini adalah hakku.’”) yaitu jika dia mendapatkan kebaikan dan rizky setelah sebelumnya berada dalam kesulitan, niscaya dia berkata: ‘Ini adalah hakku, aku memang dari dahulu berhak menerimanya di sisi Rabb-ku. Wa maa adhunnus saa’ata qaa-imatan (“Dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang.”) yaitu, dia mengingkari terjadinya hari kiamat.

Hal itu berarti bahwa saat dia mendapatkan kenikmatan, dia berbangga diri, sombong dan kufur. Sebagaimana firman Allah: “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (al-‘Alaq: 6-7)

Bersambung ke bagian 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: