Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (6)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

Banyak hadits dan atsar yang telah disebutkan sebelumnya pada firman Allah Ta’ala dalam surah Yaasiin: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkata kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yaasiin: 65) maka tidak perlu diulangi lagi.

Firman Allah: wa maa kuntum tastatiruuna ay yasy-Hada ‘alaikum sam’ukum wa laa abshaarukum wa laa juluudukum (“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu.”) yaitu anggota-anggota tubuh dan kulit-kulit itu berkata kepada mereka ketika mereka mencelanya karena mengutarakan persaksiannya: “Kalian sekali-sekali tidak dapat menyembunyikan apa yang kalian kerjakan itu dari kami, bahkan kalian jelas-jelas menyatakan kekufuran dan kemaksiatan kalian kepada Allah. Dan kalian tidak peduli kepada-Nya dalam prasangka kalian, karena kalian tidak meyakini bahwa Dia Mahamengetahui seluruh perbuatan kalian.

Untuk itu Allah berfirman: wa laakin dhanantum annallaaHa laa ya’lamu katsiiram mimmaa ta’maluun. Wa dzaalikum dhannukumulladzii dhanantum birabbikum ardaakum (“Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakanmu.”)
Prasangka yang rusak itu adalah keyakinan kalian, bahwa Allah tidak dapat mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. Itulah yang menghancurkan dan membinasakan kalian dari sisi Rabb kalian. Fa-ashbahtum minal khaasiriin (“Maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”) yakni, di tempat berkumpul pada hari kiamat, kalian akan membuat rugi diri kalian sendiri dan keluarga kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abdullah berkata: “Dahulu aku pernah bersembunyi di belakang tirai Ka’bah, lalu datanglah tiga orang, satu orang Quraisy dan dua orang iparnya dari Tsaqif –atau satu orang dari Tsaqif dan dua orang iparnya dari Quraisy-. Perut mereka buncit dan akal fikiran mereka sedikit. Mereka berbicara tentang sesuatu yang tidak dapat aku dengar. Maka salah seorang dari mereka berkata: “Bagaimana pendapatmu, apakah Allah mendengar apa yang kita katakan?” yang lain menjawab: “Jika kita berbicara keras Ia akan mendengar, tetapi jika berbisik maka tentu tidak.” Tetapi seorang lagi berkata: “Jika Dia dapat mendengar di waktu kita bicara keras, pasti Dia mendengar seluruhnya.” Lalu hal itu aku ceritakan kepada Rasulullah saw. maka Allah menurunkan: wa maa kuntum tastatiruuna ay yasy-Hada ‘alaikum sam’ukum wa laa abshaarukum wa laa juluudukum (“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu.”) sampai pada firman-Nya: “termasuk orang-orang yang merugi.” Demikian pula diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, juga al-Bukhari dan Muslim dari hadits Sufyanain, dari Ibnu Mas’ud.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabari ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah salah seorang kalian mati kecuali dia dalam kedaan berbaik sangka kepada Allah. Sungguh ada suatu kaum yang menjadi binasa karena buruk sangka mereka kepada Allah, maka Allah berfirman: ‘Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangkakan terhadap Rabb-mu, prasangka itu telah membinasakanmu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

Firman Allah: fa iy yashbiruu fan naaru matswal laHum wa iy yasta’tibuu famaa Hum minal mu’tabiin (“Jika mereka bersabar [menerima adzab], maka nerakalah tempat diam mereka. Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya.” Artinya, sama saja bagi mereka, bersabar ataupun tidak, mereka tetap berada di neraka, tidak dapat lolos dan tidak ada jalan keluar bagi mereka. Jika mereka meminta dimaafkan dan mengemukakan alasan-alasan, maka alasan mereka itu tidak diterima dan kesalahan mereka tidak dapat dimaafkan.

Ibnu Jarir berkata: “Makna firman Allah: wa iy yasta’tibuu; yaitu jika mereka meminta dikembalikan ke dunia, maka tidak lagi diperkenankan.” Hal ini seperti firman Allah yang telah memberitakan tentang mereka: “Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya [dan kembalikanlah kami ke dunia], maka jika kami kembali [juga kepada kekafiran], sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim.’ Allah berfirman: ‘Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku.’”

Bersambung ke bagian 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: