Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (9)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 33-36“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?’ Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Fushshilat: 33-36)

Firman Allah: wa man ahsanu qaulan mimman da’aa ilallaaHi (“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.”) yakni menyeru para hamba Allah kepada-Nya. Wa ‘amila shaalihaw wa qaala innanii minal muslimiin (“Dan mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’”) artinya dia sendiri menjalankan apa yang dikatakannya, maka manfaaatnya untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dia bukan termasuk orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf akan tetapi dia sendiri mengerjakannya. Serta melarang dari kemungkaran akan tetapi dia sendiri mengerjakannyha. Akan tetapi ia adalah orang yang melaksanakan kebaikan, meninggalkan keburukan dan menyeru manusia kepada kebaikan yang menyeru manusia kepada kebaikan dan dia sendiri melaksanakannya. Rasulullah saw. adalah manusia yang lebih utama dalam masalah ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Sirin, as-Suddi dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Satu pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para muadzin yang baik, sebagaimana tercantum dalam shahih Bukhari: “Para muadzin adalah manusia yang terpanjang lehernya pada hari kiamat.”
Dan di dalam kitab sunan secara marfu’: “Imam adalah penanggungjawab dan muadzin adalah pemegang amanah. Semoga Allah memberikan hidayah kepada para imam dan mengampuni para muadzin.”

Ibnu Mas’ud berkata: “Seandainya dulu aku seorang muadzin, niscaya aku tidak berhaji, tidak berumrah, ataupun berjihad.”
Umar bin al-Khaththab berkata: “Seandainya dulu aku seorang muadzin, niscaya sempurnalah urusanku. Dan aku tidak peduli apakah aku tidak mendirikan qiyamul lail ataupun shiyam sepanjang hari.” Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Ya Allah ampunilah para muadzin.” (3x)

Al-Baghawi menyebutkan dari Abu Umamah al-Bahili, bahwa dia berkata tentang firman Allah: wa ‘amila shaalihan (“Mengerjakan amal yang shalih.”) yaitu shalat dua rakaat antara adzan dan iqamat. Kemudian al-Baghawi membawakan hadits Abdullah al-Mughaffal, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Di antara setiap dua adzan terdapat shalat –kemudian beliau bersabda pada [ucapan] yang ketiga- bagi orang yang menghendakinya.’”)

Dan diriwayatkan oleh beberapa ahli hadits dalam kitab-kitab mereka, dari Abdullah bin Buraidah dan ats-Tsauri dari Zaid al-‘Ama, dari Abu Iyasy Mu’awiyah bin Qurrah, dari Anas bin Malik, dimana ats-Tsauri berkata: “Aku tidak melihatnya kecuali hal itu dinyatakannya sebagai hadits marfu’, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Doa tidak ditolak antara adzan dan iqamat.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i di dalam al-Yaum wal lailah, dari hadits ats-Tsauri, at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan.” Dan diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dari hadits Salman at-Taimi dari Qatadah, dari Anas.)

Pendapat yang shahih bahwa ayat ini bersifat umum, mencakup para muadzin dan selain mereka.

Firman Allah: walaa tastawil hasanatu walas sayyiatu (“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.”) yaitu terdapat perbedaan yang amat besar antara kebaikan dan kejahatan. Idfa’ billati Hiya ahsan (“Tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik.”) yaitu jika ada orang yang berlaku buruk kepadamu, maka tolaklah dengan cara yang lebih baik. Sebagaimana Umar berkata: “Tolaklah menghukum orang yang berbuat maksiat kepada Allah dalam dirimu sebagaimana bila engkau berbuat taat kepada Allah dalam dirinya.”

Firman Allah: fa idzalladzii bainaka wa bainaHu ‘adaawatun ka annaHu waliyyun hamiim (“Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”) yaitu sebagai teman baik. Yakni jika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, niscaya kebaikan itu akan mengarahkannya untuk bersikap tulus kepadamu, mencintaimu dan merindukanmu, sehingga seakan-akan dia menjadi teman setia, dalam arti mendekatimu dengan rasa kasih sayang dan berbuat baik.

Kemudian Allah berfirman: wa maa yulaqqaaHaa illalladziina shabaruu (“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar.” Tidak ada yang dapat menerima dan mengamalkan wasiat ini kecuali orang yang sabar atas hal ini, karena ini amat berat bagi jiwa.
Wa maa yulaqqaaHaa illaa dzuu hadhdhin ‘adhiim (“Dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang sangat besar.”) yaitu orang yang mendapatkan bagian terbersar berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan ayat ini: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk sabar ketika marah, dan lapang dada ketika dibodohi, serta memaafkan ketika disalahkan. Jika mereka melakukan hal itu niscaya Allah memelihara mereka dari syaitan serta menundukkan musuh-musuh mereka, seakan-akan menjadi teman setia.”

Firman Allah: wa immaa yanzaghannaka minasy syaithaani nazghun fasta-‘idz billaaHi (“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.”) maksudnya syaitan dari bangsa manusia terkadang dapat ditundukkan dengan cara berbuat baik kepadanya, sedangkan syaitan dari bangsa jin jika melakukan waswas, tidak ada jalan keluar baginya kecuali meminta perlindungan kepada [Rabb] Mahapencipta yang telah memperkenankannya menguasaimu. Jika engkau memohon perlindungan kepada Allah dan menuju kepada-Nya, niscaya Dia akan mencegahnya darimu dan menolak tipu dayanya.

Bersambung ke bagian 10

2 Tanggapan to “Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (9)”

  1. ahmad 28 Desember 2013 pada 11.20 #

    tafsir surah al fushshilat ayat 9

    • untungsugiyarto 2 Januari 2014 pada 06.06 #

      Memang, Tafsir surah Fushshilat bagian 9, bukan “al-Fushshilat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: