Tafsir Ibu Katsir Surah Shaad (4)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Shaad
Surah Makkiyyah; Surah ke 38: 88 ayat

tulisan arab alquran surat shaad ayat 17-20“17. bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan). 18. Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama Dia (Daud) di waktu petang dan pagi, 19. dan (kami tundukkan pula) burung-burung dalam Keadaan terkumpul. masing-masingnya Amat taat kepada Allah. 20. dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Shaad: 17-20)

Allah Ta’ala menceritakan tentang seorang hamba dan Rasul-Nya Dawud as. yang memiliki kekuatan. “Al aidi” adalah kekuatan dalam ilmu dan amal. Ibnu ‘Abbas ra. as-Suddi dan Ibnu Zaid berkata: “Al aidi adalah kekuatan.” Qatadah berkata: “Dawud as. diberikan kekuatan dalam beribadah dan pemahaman dalam Islam.”

Di dalam Shahihain dinyatakan, bahwa Rasulullah bersabda: “Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Dawud. Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud. Beliau tidur setengah malam, bangung sepertiganya dan tidur seperempatnya. Beliau puasa satu hari dan berbuka satu hari. Beliau tidak lari jika berjumpa musuh. Dan sesungguhnya beliau adalah orang yang awwab [orang yang segera kembali kepada Allah dalam seluruh perkara dan keadaan].”

Firman Allah: innaa sakhkharnal jibaala ma’aHu yusabbihna bil ‘asyiyyi wal isyraaq (“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya [Dawud] di waktu petang dan pagi.”) yaitu bahwasannya Allah Ta’ala menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya ketika terbit matahari dan di akhir siang. Sebagaimana firman Allah: yaa jibaalu awwibii ma’aHuu waththaira (“Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud.”) (Saba’: 10) demikian pula dengan burung-burung yang bertasbih bersama tasbihnya, dan bersenandung dengan senandungnya. Jika burung yang terbang di udara melewati beliau yang sedang menyenandung Zabur lalu dia mendengarnya, maka dia tidak mau pergi, dia tetap berada di udara dan bertasbih bersamanya. Sedangkan gunung-gunung yang kokoh ikut serta bersenandung dan bertasbih bersamanya.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah sampai berita kepada Ibnu ‘Abbas, Ummu Hani menceritakan, pada saat Fat-h [pembebasan] Makkah, Rasulullah saw. melakukan shalat Dluha delapan rakaat. Lalu Ibnu ‘Abbas berkata: “Aku mengira bahwa pada saat ini ada waktu shalat, Allah swt. berfirman: yusabbihna bil ‘asyiyyi wal isyraaq (“Untuk bertasbih bersamanya [Dawud] di waktu petang dan pagi.”)

Kemudian dia meriwayatkan hadits dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Abul Mutawakkil, dari Ayyub bin Shafwan, dari maulanya ‘Abdullah bin al-Harits bin Naufal, bahwa Ibnu ‘Abbas ra. tidak melakukan shalaat dluha, dia berkata: “Aku membawanya masuk menemui Ummu Hani, lalu aku berkata: ‘Beritahukanlah orang ini apa yang telah engkau kabarkan kepadaku.’ Dia berkata: ‘Pada fathu Makkah, Rasulullah saw. masuk menemuiku di rumahku. Kemudian beliau memerintahkan agar mengambil air yang dituangkan di sebuah bejana. Kemudian beliau meminta sehelai kain untuk menghalangi antara aku dengannya, lalu beliau mandi. Kemudian, beliau membersihkan bagian sudut rumah. Lalu beliau shalat delapan rakaat, dan itu termasuk shalat dluha, yaitu berdiri, rukuk, sujud dan duduknya hampir sama.’” Lalu Ibnu ‘Abbas ra. keluar sambil berkata: “Aku telah membaca ayat-ayat yang berada di antara dua lauh, aku tidak mengenal shalat dluha kecuali sekarang ini. yusabbihna bil ‘asyiyyi wal isyraaq (“Untuk bertasbih bersamanya [Dawud] di waktu petang dan pagi.”). Dahulu aku mengatakan: “Mana dalil shalat isyraq?” lalu sekarang dia berpendapat adanya shalat isyraq.

Firman Allah: waththaira mahsyuuratan (“Dan [Kami tundukkan pula] burung-burung.”) dalam keadaan tertahan di udara. Kullul laHuu awwaab (“Masing-masing amat taat kepada Allah.”) yaitu amat taat bertasbih mengikutinya.

Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan Malik berkata dari Zaid bin Aslam dan Ibnu Zaid: “Kullul laHuu awwaab (“Masing-masing amat taat kepada Allah.”) yaitu amat patuh.”

Firman Allah: wa syadadnaa mulkaHu (“Dan Kami kuatkan kerajaannya.”) yaitu kami jadikan untuknya kerajaan yang sempurna dari seluruh apa yang dibutuhkan oleh para raja.
Wa aatainaaHul hikmata (“Dan Kami berikan kepadanya hikmah.”) Mujahid berkata: “Yaitu pemahaman, akal fikiran dan kepandaian.” Qatadah berkata: “[Yaitu] Kitab Allah dan mengikuti isinya.” As-Suddi berkata: “Alhikmah, yaitu kenabian.”

Dan firman Allah: wa fashlal khithaab (“Dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.”) Mujahid dan as-Suddi berkata: “Yaitu, kebenaran dan pemahaman tentang keputusan.” Mujahid pun berkata: “Yaitu, ketegasan dalam pembicaraan maupun dalam hukum.” Dan inilah makna yang dimaksud dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Ibnu Abi Hatim berkata bahwa Abu Musa al-‘Asy’ari berkata: “Orang yang pertama kali mengucapkan amma ba’du adalah Dawud as. dan itulah fashlul khitab.” Demikian pula yang asy-Sya’bi berkata: “Fashlul khitab adalah [ucapan] amma ba’du.”

Bersambung ke bagian 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: