Tafsir Ibu Katsir Surah Shaad (7)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Shaad
Surah Makkiyyah; Surah ke 38: 88 ayat

tulisan arab alquran surat shaad ayat 30-33“30. dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, Dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhannya), 31. (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, 32. Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.” (Shaad: 30-32)

Allah memberitakan bahwa Dia telah menganugerahkan Sulaiman kepada Dawud, yaitu sebagai seorang Nabi. Sebagaimana Allah berfirman: wawaritsa sulaimaanu daawuud (“Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud”)(an-Naml: 16) yaitu dalam kenabian. Kalau bukan kenabian, maka sungguh beliau memiliki banyak anak selain Sulaiman, karena beliau memiliki seratus istri merdeka [budak-budak]. Dan firman Allah: ni’mal ‘abdu innaHuu awwaab (“Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat [kepada Rabbnya].”) merupakan sebuah pujian kepada Sulaiman, karena beliau banyak berbuat taat, ibadah dan berserah diri kepada Allah. Firman Allah: idz ‘uri-dla ‘alaiHi bil ‘asyiyyish shaafinaatil jiyaad (“[ingatlah] ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di saat berhenti dan cepat saat berlari pada waktu sore.”) yaitu dipertunjukkan kepada Sulaiman pada saat memerintah dan berkuasa.

bil ‘asyiyyish shaafinaatil jiyaad (“kuda-kuda yang tenang di saat berhenti dan cepat saat berlari pada waktu sore.”) Mujahid berkata: “Yaitu kuda yang berhenti tegak di atas tiga kaki dan ujung tumit kaki keempat.” Demikian dikatakan oleh banyak ulama salaf. Ibnu Abi Hatim berkata, bahwa Ibrahim at-Taimi berkata: “Kuda-kuda yang menyibukkan Sulaiman berjumlah dua puluh ribu kuda yang kemudian disembelihnya.”

Faqaala innii ahbabtu hubbal khairi ‘an dzikri rabbii hattaa tawaarat bilhijaab (“Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik [kuda], sehingga aku lalai mengingat Rabb-ku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’”) banyak ulama salaf dan para ahli tafsir menyebutkan bahwa Sulaiman disibukkan oleh tampilan kuda-kuda itu, hingga terluput waktu shalat ‘Asyar. Yang pasti beliau tidak meninggalkannya secara sengaja, sebagaimana Nabi Muhammad saw. pada perang Khandaq disibukkan dari shalat asyar, sehingga beliau melakukan shalat setelah matahari terbenam.

Hal tersebut tercantum dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim dari beberapa jalan, antara lain dari Jabir, ia berkata: Umar datang pada perang Khandaq setelah matahari terbenam, lalu ia mencela orang-orang Quraisy dan berkata: “Ya Rasulallah, demi Allah aku hampir tidak shalat Asyar sehingga mendekati matahari terbenam.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Demi Allah, akupun belum menunaikan shalat.” Lalu kami berdiri [dan berjalan] menuju satu tempat, maka Nabi berwudlu untuk shalat dan kami pun berwudlu. Lalu beliau shalat asyar setelah matahari terbenam, setelah itu beliau melakukan shalat maghrib.”

Dan boleh jadi bahwa dalam agama mereka, mengakhirkan shalat karena udzur peperangan [adalah] dibolehkan, sedangkan kuda untuk digunakan dalam perang.

rudduuHaa ‘alayya fathafiqa masham bissuuqi wal a’naaq (“Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia mengusap-usap kaki dan lehernya.”) al-Hasan al-Bashri berkata: “Beliau berkata: ‘Tidak, demi Allah. Janganlah engkau sibukkan diriku dari beribadah kepada Rabb-ku, inilah kesempatan terakhirmu.’ Kemudian beliau memerintahkan untuk menyembalihnya.” Demikian pula yang dikatakan oleh Qatadah. Untuk itu beliau keluar tanpa kuda-kuda itu karena Allah Ta’ala, maka Allah menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu angin yang bertiup sesuai dengan perintahnya yang perjalanan di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan, dan perjalanan di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan [pula]. Angin itu justru lebih cepat dan lebih baik daripada kuda.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Qatadah dan Abud Dahma’ banyak melakukan perjalanan menuju Baitullah, keduanya berkata: Kami mendatangi seorang laki-laki penduduk kampung, lalu laki-laki desa itu berkata kepaa kami: ‘Rasulullah menggenggam tanganku dan mengajarkan kepadaku sesuatu yang diajarkan oleh Allah dan bersabda: “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takwa kepada Allah Ta’ala, melainkan Allah akan memberikan kepadamu sesuatu yang lebih baik darinya.’”

tulisan arab alquran surat shaad ayat 34-40“34. dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat. 35. ia berkata: ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.’ 36. kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakiNya, 37. dan (kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, 38. dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.39. Inilah anugerah kami; Maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. Dan sesungguhnya dia memiliki kedudukan yang dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (Shaad: 34-40)

Allah berfirman: laqad fatannaa sulaimaana (“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman.”) yaitu Kami mengujinya dengan mencabut kerajaannya. Wa alqainaa ‘alaa kursiyyiHii jasadan (“Dan Kami jadikan ia tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh.”) menurut Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, Qatadah dan lain-lain, yaitu syaitan.
Tsumma anaab (“Kemudian dia bertaubat.”) yaitu kembali kepada kerajaan, kekuasaan dan singgasananya.

Qaala rabbighfirlii wa hablii mulkal laa yanbaghii li-ahadim mim ba’dii innaka antal waHHaab (“Ia berkata: ‘Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahapemberi.”) sebagian ulama berkata: “Maknanya adalah, tidak patut bagi seseorang setelahku. Yakni tidak layak bagi seseorang pun untuk mencabutnya darinya sesudahku, sebagaimana masalah tubuh yang tergeletak di atas kursinya, bukan berarti dia mencegah orang lain sesudahnya.”

Pendapat yang shahih bahwa beliau meminta kepada Allah Ta’ala sebuah kerajaan yang tidak diberikan kepada manusia sesudahnya seperti kerajaan itu. Inilah makna yang jelas dalam ayat suci tersebut.

Bersambung ke bagian 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: