Tafsir Ibu Katsir Surah Al-Mu’min (8)

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’min (Orang Yang Beriman)
Surah Makkiyyah; Surah ke 40: 85 ayat

Firman Allah: Wa qad jaa-akum bil bayyinaati mir rabbikum (“Padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabb-mu”) yaitu bagaimana kalian membunuh seorang laki-laki karena ia mengatakan bahwa Rabb-ku adalah Allah, padahal telah tegak bagi kalian bukti atas kebenaran yang dibawanya? Kemudian dia menempatkan diri bersama mereka yang diajak bicara, lalu berkata: wa iy yaku kaadziban fa’alaiHi kadzibuHu wa iy yaku shaadiqay yushibkum ba’dlulladzii ya’idukum (“Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menaggung [dosa] dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian [bencana] yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.”) yaitu jika belum jelas bagi kalian kebenaran apa yang dibawanya, maka di antara rasionalitas, pemikiran dan perasaan yang matang, hendaklah kalian biarkan dia sendiri dan jangan sakiti dia. jika dia pendusta, sesungguhnya Allah Ta’ala akan membalas kedustaannya dengan memberikan hukuman di dunia dan di akhirat. Dan jika dia jujur, padahal kalian telah menyakitinya, maka sebagian bencana yang akan diancamkannya kepadamu akan menimpamu.

Firman Allah: innallaaHa laa yaHdii man Huwa musrifung kadzdzaab (“Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.”) seandainya dakwaan yang dikatakannya –bahwa dia diutus oleh Allah kepada kalian- adalah dusta seperti yang kalian kira, maka urusannya sudah jelas bagi setiap orang tentang perkataan dan perbuatannya, dimana dia pasti berada dalam puncak perselisihan dan keguncangan. Sedangkan orang ini kita lihat sangat teguh dan manhaj-nya lurus. Seandainya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta, niscaya Allah tidak akan memberikannya petunjuk dan arahan kepada apa yang kalian lihat berupa keteguhan perkara dan perbuatannya. Kemudian, seseorang yang beriman [itu] mengingatkan kaumnya akan hilangnya kenikmatan Allah yang diberikan kepada mereka dan datangnya kemurkaan Allah terhadap mereka.

Yaa qaumi lakumul mulkul yauma dhaaHiriina fil ardli (“[Musa berkata]: ‘Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi.”) sesungguhnya Allah telah memberikan kenikmatan kepada kalian dengan kerajaan dan kekuasaan di muka bumi, dengan kalimat yang dilaksanakan dan kehormatan yang tinggi, maka jagalah nikmat ini dengan bersyukur kepada Allah Ta’ala dan membenarkan Rasul-Nya a.s. serta waspadalah kalian terhadap kemurkaan Allah, jika kalian mendustakan Rasul-Nya.

Faman yanshurunaa mim ba’dillaaHi in jaa-anaa (“Siapakah yang akan menolong kita dari adzab Allah, jika adzab itu menimpa kita?”) yaitu tentara-tentara dan pasukan kalian tidak akan mampu membela dan mempertahankan kalian dari adzab Allah, jika Dia menghendaki keburukan menimpa kami. Qaala fir’aunu (“Fir’aun berkata.”) kepada kaumnya untuk menolak apa yang dikatakan laki-laki shalih yang berbakti dan pandai ini, yang sebenarnya lebih layak menjadi raja daripada Fir’aun. Maa uriikum illaa maa araa (“Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik.”) aku tidak mengatakan dan mengisyaratkan kepada kalian kecuali apa yang aku sendiri memandang baik. Fir’aun telah berdusta, karena sesungguhnya dia sendiri telah meyakini kebenaran risalah yang dibawa oleh Musa a.s.

Qaala laqad ‘alimta maa anzala Haa-ulaa-i illaa rabbus samaawaati wal ardli bashaa-ira (“Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.”)(al-Israa’: 102)

Maka perkataannya: maa uriikum illaa maa araa (“Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik.”) dia telah mengada-ada, berdusta dan berkhianat kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala, Rasul-Nya a.s. dan rakyatnya. Dia tipu mereka dan tidak memberikan nasehat kepada mereka. Demikian pula perkataannya: wa maa aHdikum illaa sabiilar rasyaad (“Dan aku tidak menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.”) yaitu aku tidak menyeru kalian kecuali kepada jalan kebenaran, kejujuran dan petunjuk, maka berarti dia pun berdusta, sekalipun kaumnya mentaati dan mengikutinya. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman: wa a-dlalla fir’aunu qaumaHu wa maa Hadaa (“Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk.”)(ThaaHaa: 79)

Di dalam hadits disebutkan: “Tidak ada seorang imam pun yang mati di saat kematiannya, sedangkan dia menipu rakyatnya melainkan dia tidak akan mencium wangi surga, walaupun sesungguhnya harumnya tercium dalam jarak perjalanan lima ratus tahun.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dengan lafadz: “Tidaklah seorang pemimpin yang memimpin rakyatnya dari kalangan kaum muslimin lalu ia mati sedang ia menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.”
Dan Allah memberikan taufiq kepada kebenaran.

tulisan arab alquran surat al mu'min ayat 30-35“Dan orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti Peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (yakni) seperti Keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai kaumku, Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil. (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk. Dan Sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu Senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika Dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (al-Mu’min: 30-35)

Bersambung ke bagian 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: