Tafsir Ibu Katsir Surah Ash-Shaaffaat (10)

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Ash-Shaaffaat (Yang Bershaff-shaff)
Surah Makkiyyah; Surah ke 37: 182 ayat

Maka ketika itu, setelah hujah disampaikan atas mereka, mereka beranjak [segera] menangkapnya dengan kasar seraya memaksanya dan berkata: ubnuu laHuu bun-yaanan fa alquuHu fil jahiim (“Dirikanlah suatu bangunan untuk [membakar] Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”) lalu terjadilah apa yang terjadi, Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim as. serta memenangkan atas mereka dan meninggikan serta menegakkan hujjah-Nya. oleh karena itu Allah berfirman: fa araaduu biHii kaidan faja’alnaaHumul asfaliina (“Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.”)

tulisan arab alquran surat ash shaaffaat ayat 99-113“99. dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. 101. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. 102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. 103. tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). 104. dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, 105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, 109. (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. 110. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 111. Sesungguhnya ia Termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. 112. dan Kami beri Dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang Nabi yang Termasuk orang-orang yang saleh. 113. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (ash-Shaaffaat: 99-113)

Allah berfirman seraya mengabarkan tentang kekasi-Nya, Ibrahim as. dimana setelah memenangkannya atas kaumnya serta berputus asa dari keimanan mereka setelah mereka menyaksikan kekuasaan yang sangat besar, Ibrahim pun pergi meninggalkan mereka seraya berkata: innii dzaaHibun ilaa rabbii sayaHdiin. Rabbi Hablii minash shaalihiin (“Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabb-ku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku [seorang anak] yang termasuk orang-orang yang shalih.”) yakni anak-anak yang taat, yang menjadi pengganti kaum dan keluarga yang dia tinggalkan.

Firman Allah: fabasysyarnaaHu bighulaamin haliim (“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”) ia adalah Isma’il as. Dia adalah anak pertama yang dengannya Ibrahim diberi kabar gembira, dan ia lebih besar/lebih tua dari Ishaq, menurut kesepakatan kaum Muslimin dan ahlul kitab. Bahkan di dalam nash kitab mereka disebutkan bahwa Isma’il dilahirkan ketika Ibrahim berusia 86 tahun. Sedangkan Ishaq dilahirkan ketika Ibrahim berusia 99 tahun. Menurut mereka, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anak satu-satunya, dan dalam naskah yang lain disebutkan bahwa ia adalah anak pertamanya. Mereka memasukkan kedustaan dan mengada-ada di sini, yaitu menyatakan bahwa anak yang akan disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq. Hal ini jelas salah, karena bertentangan dengan nash kitab mereka sendiri. Mereka menyebutkan bahwa yang disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq karena Ishaq adalah nenek moyang mereka [bangsa Yahudi], sedangkan Isma’il adalah nenek moyang bangsa Arab. Mereka iri kepada bangsa Arab sehingga mereka menambah-nambah dan mengubah kata “anak satu-satunya” dengan “anak yang tidak kamu miliki lagi selain dia [Ishaq].” Sebab Isma’il dan ibunya telah dibawa pergi oleh Ibrahim as. menuju Makkah. Ini adalah penafsiran dan pengubahan yang tidak benar. Sebab, Allah tidak akan mengatakan: “Anakmu satu-satunya” kepada Ibrahim jika masih ada anak yang lain. Disamping itu, sebenarnya anak pertama itu akan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya melebihi anak-anak yang lahir setelahnya. Dengan demikian perintah untuk menyembelihnya akan menjadi ujian dan cobaan yang sangat berat.

Sekelompok ulama berpendapat bahwa anak yang disembelih adalah Ishaq. Hal itu juga dikisahkan dari sekelompok ulama Salaf, bahkan ada nikilan dari sebagian sahabat. Tetapi hal itu tidak terdapat di dalam al-Qu’ran maupun as-Sunnah. Dan saya kira hal tersebut tidak diperoleh melainkan dari para tokoh ahlul kitab, dan diambil begitu saja tanpa dalil sama sekali.

Dan inilah kitab Allah yang menjadi saksi dan petunjuk, bahwa anak yang akan disembelih oleh Ibrahim itu adalah puteranya, Isma’il as. sebab kitab ini menyampaikan kabar gembira dengan kedatangan seorang anak yang sabar. Dan al-Qur’an juga menyebutkan bahwa anak itulah yang disembelih.

Firman Allah: wa basy-syarnaaHu bi ishaaqa nabiyyam minash shaalihiina (“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan [kelahiran] Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang shalih.”) setelah malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim dengan kedatangan Ishaq, maka malaikat itu berkata: innaa nubasysyiruka bighulaamin ‘aliim (“Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan [kelahiran seorang] anak [yang akan menjadi] orang yang alim.”)(al-Hijr: 53)

Firman Allah: fabasysyarnaaHaa bi ishaaqa wa miw waraa-i ishaaqa ya’quub (“Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang [kelahiran] Ishaq dan sesudah Ishaq [lahir pula] Ya’qub.”)(Huud: 71). Maksudnya akan dilahirkan untuk Ibrahim dan Ishaq seorang putera pada saat keduanya masih hidup, yaitu Ya’qub. Sehingga Ya’qub itu akan menjadi keturunan Ibrahimm dan Ishaq, sebagai anak dan cucunya. Dan kami telah sampaikan sebelumnya bahwa setelah Allah memberitahukan hal tersebut, tentu saja Ibrahim tidak akan diperintahkan untuk menyembelih Ishaq ketika masih kecil, sebab Allah Ta’ala telah menjadikan kepada keduanya, bahwa keduanya akan memperoleh keturunan yang bernama Ya’qub. Lalu bagaimana mungkin Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ishaq pada saat dia masih kecil, padahal Allah telah menjanjikan kepadanya bahwa dia (Ibrahim) akan memperoleh cucu dari Ishaq? Sedangkan Isma’il, dalam ayat ini diterangkan sebagai seorang penyabar, karena dia memang tepat untuk mendapat sebutan itu.

Bersambung ke bagian 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: