Tafsir Ibu Katsir Surah Ash-Shaaffaat (12)

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Ash-Shaaffaat (Yang Bershaff-shaff)
Surah Makkiyyah; Surah ke 37: 182 ayat

Firman Allah: wa fadainaaHu bidzibhin ‘adhiim (“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”) Sufyan ats-Tsauri menceritakan dari Jabir al-Ju’fi, dari Abuth Thufail, dari ‘Ali, wa fadainaaHu bidzibhin ‘adhiim (“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”) dia mengatakan: “Yakni dengan seekor domba jantan yang berwarna putih, bermata bagus, bertanduk serta diikat dengan tali dari rumput samurah.” Abuth Thufail mengatakan: “Mereka mendapatkannya dalam keadaan terikat dengan rumput samurah.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Shafiyyah binti Syaibah, dia bercerita bahwa ada seorang wanita dari Bani Sulaim yang baru melahirkan memberitahuku: “Keluarga kami meminta kepada Rasulullah saw. berbicara kepada ‘Utsman bin Thalhah ra.” Dan suatu kali, wanita itu bertanya kepada ‘Utsman: “Untuk apa Rasulullah memanggilmu?” Dia menjawab: “Rasulullah saw. bersabda kepadaku: ‘Sesungguhnya aku melihat dua tanduk domba ketika aku memasuki Baitullah, tetapi aku lupa menyuruhmu untuk menutupinya [dengan kain]. Oleh karena itu tutuplah keduanya, karena sesungguhnya tidak selayaknya di dalam Baitullah ini ada sesuatu yang bisa menyibukkan [melengahkan] orang yang shalat.’”

Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “Kedua tanduk domba itu masih tetap tergantung di Baitullah, hingga Baitullah itu terbakar, maka keduanya pun ikut terbakar. Hal itu merupakan dalil tersendiri yang menunjukkan bahwa yang disembelih adalah Isma’il as. Karena sesungguhnya kaum Quraisy mewarisi dua tanduk domba yang dengannya Ibrahim diberi tebusan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi, sampai akhirnya Allah swt. mengutus Rasul-Nya, Muhammad saw. wallaaHu a’lam.”

Ibnu Jarir menguatkan pilihannya yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ishaq dengan firman Allah: fabasysyarnaaHu bighulaamin haliim (“Maka, Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”) dimana Ibnu Jarir menjadikan kabar gembira disini sebagai kabar gembira atas kedatangan Ishaq yang terdapat pada firman Allah: basysyiruuHu bigulaamin ‘aliim (“Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan [kelahiran] seorang anak yang alim [Ishaq].”)(adz-Dzaariyaat: 28). Dan dia menjawab kabar gembira itu dengan Ya’kub as. dengan alasan bahwa dia telah remaja dan bisa berusaha atau bekerja bersamanya. Dan kemungkinan yang lain bahwa telah lahir banyak anak bersama Ya’kub as.

Ibnu Jarir mengatakan: “Adapun kedua tanduk yang bergantung di Ka’bah, maka boleh jadi keduanya dipindahkan dari negeri Kan’an.” Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ada beberapa orang yang berpendapat, Ibrahim menyembelih Ishaq disana. Dan itulah yang dia jadikan sandaran dalam tafsirnya, tetapi hal ini bukan merupakan suatu pendapat dan bukan suatu keharusan, bahkan yang demikian itu jauh sekali dari kebenaran. Dan yang dijadikan dalil oleh Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi bahwa dia adalah Isma’il adalah lebih tegas, benar dan lebih kuat, wallaaHu a’lam.

Firman Allah: wa basysyarnaaHu bi ishaaqa nabiyyam minash shaalihiin (“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan [kelahiran] Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang shalih.”) sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu mengenai kabar gembira dengan anaknya yang disembelih, yaitu Isma’il, maka Allah pun menyebutkan kabar gembira dengan kedatangan saudaranya, Ishaq as. Dan masalah ini telah diuraikan dalam dua surah, yaitu surah Huud dan surah al-Hijr.

Firman Allah: nabiyyan [“Seorang Nabi”] dengan pengertian bahwa dia akan menjadi seorang Nabi yang shalih. Kemudian Allah berfirman: wa baaraknaa ‘alaiHi ishaaqa (“Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaaq.”) demikian juga firman-Nya:
Wa baaraknaa ‘alaiHi wa ‘alaa ishaaqa wa min dzurriyyatiHimaa muhsinuw wa dhaalimul linafsiHii mubiin (“Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada [pula] yang dhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.”)

tulisan arab alquran surat ash shaaffaat ayat 114-122“114. dan Sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. 115. dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. 116. dan Kami tolong mereka, Maka jadilah mereka orang-orang yang menang. 117. dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. 118. dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus. 119. dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian; 120. (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun”. 121. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang- orang yang berbuat baik. 122. Sesungguhnya keduanya Termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (ash-Shaaffaat: 114-122)

Allah Ta’ala menyebutkan apa yang telah dianugerahkan kepada Musa dan Harun as. berupa kenabian dan keselamatan bersama orang-orang yang beriman kepada keduanya dari kekejaman Fir’aun dan para pengikutnya, serta dari kejahatan yang telah dilancarkan oleh mereka, yaitu membunuh anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan, serta mempekerjakan mereka untuk hal-hal yang hina. Kemudian setelah mengalami berbagai peristiwa tersebut, Allah Ta’ala memberikan pertolongan kepada mereka dan membahagiakan hati mereka, hingga merekapun mendapatkan kemenangan dan berhasil mengambil kembali bumi, harta, dan semua yang berhasil mereka kumpulkan sepanjang hidup mereka.

Lalu Allah menurunkan kepada Musa satu Kitab yang agung, jelas, nyata dan gamblang, yaitu Taurat, sebagaimana yang Dia firmankan: wa laqad aatainaa muusaa wa Haaruunal furqaana wa dliyaa-an (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan.”)(al-Anbiyaa’: 48)

Selanjutnya Allah menafsirkan ayat tersebut dengan firman-Nya: Walaqad aatainaa Humal kitaabal mustabiina wa Hadainaa Humash shiraathal mustaqiima (“dan Kami berikan kepada keduanya Kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus.”) yaitu dalam ucapan dan perbuatan. Wa taraknaa ‘alaiHimaa fil aakhiriina (“dan Kami abadikan untuk keduanya [pujian yang baik] di kalangan orang-orang yang baik dan pujian yang menyenangkan. selanjutnya Allah menafsirkan ayat tersebut dengan firman-Nya: salaamun ‘alaa muusaa wa Haaruuna innaa kadzaalika najzil muhsiniina innaHumaa min ‘ibaadinal mu’miniina (“[yaitu]: ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”)

Bersambung ke bagian 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: