Arsip | 15.03

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (38)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 70-71“70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, 71. niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzaab: 70-71)

Allah Ta’ala berfirman memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa dan beribadah kepada-Nya, suatu ibadah yang seakan dia melihat-Nya serta mengatakan, qaulan syadiidan (“Perkataan yang benar”) yaitu yang lurus, tidak bengkok dan tidak menyimpang. Allah menjadikan mereka, jika mereka melakukan demikian, Allah akan membalas mereka dengan diperbaikinya amal-amal mereka, yaitu dengan diberinya taufiq untuk beramal shalih, diampuni dosa-dosanya yang lalu, serta apa yang akan terjadi pada mereka di masa yang akan datang.

Allah memberikan ilham kepada mereka untuk bertaubat. Kemudian Allah berfirman: wa may yuthi-‘illaaHa wa rasuulaHuu faqad faaza fauzan ‘adhiiman (“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”) hal itu adalah bahwasannya dia dijaga dari api neraka yang menyala-nyala dan dimasukkan ke surga yang penuh kenikmatan.

‘Ikrimah berkata: “alqaulus sadiid; adalah: laa ilaaHa illallaaH [tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah].” Sedangkan yang lainnya berkata: “As-Sadiid adalah kejujuran.”

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 72-73“72. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh, 73. sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzaab: 72-73)

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yang dimaksud dengan al-amanah adalah, ketaatan yang ditawarkan kepada mereka sebelum ditawarkan kepada Adam, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Lalu Allah swt. berfirman kepada Adam: “Sesungguhnya Aku memberikan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Apakah kamu sanggup untuk menerimanya?” Dia menjawab: “Ya Rabb-ku, apa isinya?” Allah berfirman: “Jika engkau berbuat baik, engkau akan diberi balasan, dan jika engkau berbuat keburukan engkau akan disiksa.” Lalu Adam as. menerimanya dan menanggungnya. Itulah firman Allah: wa hamalaHal insaanu innal insaanu kaana dhaluuman jaHuulan (“dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan amat bodoh.”)

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas ra.: “Amanah adalah kewajiban-kewajiban yang ditawarkan oleh Allah swt. kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Jika mereka menunaikannya, Allah akan membalas mereka. Dan jika mereka menyia-nyiakannya niscaya Allah akan menyiksa mereka. Mereka enggan menerimanya dan menolaknya bukan karena maksiat, akan tetapi karena ta’zhim [menghormati] agama Allah kalau-kalau mereka tidak mampu menunaikannya.”
Kemudian Allah menawarkannya kepada Adam, maka Adam menerimanya dengan segala konsekuensinya. Itulah firman Allah: wa hamalaHal insaanu innal insaanu kaana dhaluuman jaHuulan (“dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan amat bodoh.”) yaitu pelanggar [menyimpangkan] perintah Allah.

Malik meriwayatkan bahwa Zaid bin Aslam berkata: “Amanah itu tiga: shalat, shaum dan mandi junub.”

Semua pendapat tersebut tidak saling bertentangan, bahkan saling melengkapi. Semuanya kembali kepada makna, bahwa amanah tersebut adalah taklif [pembebanan] serta menerima berbagai perintah dan larangan dengan syaratnya. Yaitu jika melaksanakan mendapat pahala, dan jika meninggalkannya dia akan disiksa. Maka manusia menerimanya atas kelemahan, kebodohan dan kedhalimannya kecuali orang yang diberi taufiq oleh Allah swt. Kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Di antara yang berkaitan dengan amanah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Hudzaifah ra. berkata: “Rasulullah saw. bercerita kepada kami dengan dua cerita. Aku sudah mengetaui cerita yang pertama dan aku sedang menunggu cerita yang kedua. Beliau bercerita kepada kami, bahwa amanah turun di dalam hati seseorang, kemudian al-Qur’an turun. Maka mereka memahami al-Qur’an dan memahami as-Sunnah.

Kemudian beliau bercerita kepada kami tentang diangkatnya amanah dengan bersabda: “Seseorang tidur lalu amanah dicabut dari hatinya, sehingga bekasnya begitu tampak hitam legam seperti bekas terakar, padahal tidak ada apa-apa –kemudian beliau mengambil kerikil dan dijatuhkan ke kakinya-. Ia pun meneruskan perkataannya: “Maka manusia dalam hal jual-beli hampir tidak ada satupun yang menunaikan amanah. Sehingga dikatakan: “Sesungguhnya di bani Fulan ada seorang laki-laki yang amanah [jujur].” Sehingga dikatakan kepada mereka: “Alangkah kuatnya, alangkah indahnya dan alangkah berakalnya, padahal di dalam hatinya tidak ada keimanan [amanah] seberat dzarrah pun. Sesungguhnya akan datang suatu masa, dan aku tidak peduli apakah aku telah berjual beli dengan kalian. Jika ia seorang Muslim, niscaya kejujurannya itu dikembalikan kepada agamanya. Jika ia seorang Nasrani/Yahudi, niscaya kejujurannya itu dikembalikan kepada usahanya [usahanya yang membuat dia berlaku jujur]. Adapun pada waktu itu, aku tidak berjual beli dengan seseorang dari kalian kecuali si Fulan dan si Fulan [yang aku ketahui kejujurannya].” Ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim.

Imam Ahmad berkata dari ‘Abdullah bin ‘Amr ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Empat hal, jika ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang hilang dari dunia; menjaga amanah, jujur dalam tutur kata, baik akhlak dan iffah [kemurnian] dalam kesucian.” (demikian yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya)

Ath-Thabrani meriwayatkan di dalam Musnadnya, dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab ra, bercerita kepadaku Yahnya bin Ayyub al-‘Allaf al-Mishri, bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Empat hal, jika ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang hilang dari dunia; menjaga amanah, jujur dalam tutur kata, baik akhlak dan iffah [kemurnian] dalam kesucian.” (di dalam isnad ditambahkan Ibnu Hujairah dan menjadikannya di dalam Musnad Ibnu ‘Umar)

Telah ada pula larangan bersumpah dengan amanah. Dalam hal ini terdapat hadits marfu’. Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Buraidah, bahwa ayahnya berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang bersumpah dengan amanah, maka bukan termasuk golongan kami.” (Abu Dawud meriwayatkannya sendiri)

Firman Allah: liyu’adzdibunallaaHul munaafiqiina wal munaafiqaati wal musyrikiina wal musyrikaati (“Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan.”) yakni, anak Adam bersedia menanggung amanah ini, yaitu berupa taklif, sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan di antara mereka. Mereka adalah orang-orang yang menampakkan keimanan, karena takut terhadap lingkungannya serta menyembunyikan kekafiran karena mengikuti lingkungannya.

Wal musyrikiina wal musyrikaati (“dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan.”) mereka adalah orang-orang yang dhahir dan batinnya musyrik kepada Allah dan melanggar Rasul-Nya.
Wa yatuuballaaHu ‘alal mu’miniina wal mu’minaati (“dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan.”) agar Allah menyayangi orang-orang Mukmin, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan para Rasul-Nya serta mengerjakan ketaatan.

Wa kaanallaaHu ghafuurar rahiiman (“Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

Sekian.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (37)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Rabbanaa aatiHim dli’faini minal ‘adzaab (“Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat.”) yaitu dengan sebab kekafiran dan tipu daya mereka kepada kami. Wal ‘anHum la’nan kabiiran (“dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.”)

Sebagian qari membacaa dengan “ba” [kabiiran} sedangkan ulama lain membacanya dengan “tsa” [katsiiran]. Keduanya mempunyai makna yang dekat sebagaimana di dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa Abu Bakar berkata: “Ya Rasulallah, ajarkanlah kepadaku sebuah doa yang dapat aku panjatkan di waktu shalat.” Beliau menjawab: “Ucapkanlah: allaaHumma innii dhalamtu nafsii dhulman katsiiran walaa yaghfirudz dzunuuba illa anta faghfirlii maghfiratan min ‘indika warhamnii innaka antal ghafuurur rahiim (Ya Allah, sesungguhnya aku telah mendhalimi diriku sendiri dengan kedhaliman yang besar. Dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku sebuah ampunan dari sisi-Mu. Dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang.’” (ditakhrij oleh keduanya [al-Bukhari dan Muslim] di dalam ash-Shahihain)

Diriwayatkan dengan kata-kata “katsiiran” [banyak] dan kabiiran [besar].” Kedua makna tersebut benar. Sebagian mereka menganjurkan pepada orang yang berdoa untuk menggabungkan kedua lafadz tersebut di dalam doanya.

Dalam masalah ini perlu kajian. Yang lebih utama adalah terkadang menggunakan lafadz “katsiiran” dan menggunakan lafadz “kabiiran”, sebagaimana seorang qari memilih di antara dua qiraat, mana saja yang dibacanya, maka itu adalah baik dan tidak perlu menggabung antara keduanya.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 69“69. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (al-Ahzaab: 69)

Al-Bukhari berkata ketika menafsirkan ayat ini, bahwa Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Musa as. adalah seorang laki-laki pemalu.” Itulah firman Allah: yaa ayyuHalladziina aamanuu laa takuunuu kalladziina aadzau muusaa fabarra-aHullaaHu mimmaa qaaluu wa kaana ‘indallaaHi wajiiHan (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”) demikian beliau membawakan hadits ini secara singkat disini.

Beliau pun meriwayatkan dalam Ahaadiitsul Anbiyaa’ dengan sanad yang sama, bahwasannya Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Musa as. adalah seorang laki-laki pemalu dan tertutup. Padahal tubuhnya tidak menampakkan sesuatu yang harus membuatnya malu. Lalu seseorang dari bani Israil menyakitinya. Mereka berkata: ‘Dia tidak tertutup kecuali karena cacat di kulitnya; mungkin kusta, penyakit kulit atau luka.’ Sesungguhnya Allah hendak membebaskannya dari apa yang mereka katakan kepada Musa as. Suatu hari beliau menyendiri, lalu membuka bajunya di atas sebuah batu, kemudian dia mandi. Ketika beliau telah selesai, beliau mencari bajunya untuk dipakai kembali, akan tetapi batu itu menutupi bajunya. Lalu Musa as. mengambil tongkatnya untuk mengangkat batu itu, sambil berkata: ‘Bajuku, [hai] batu, bajuku [hai] batu.’ Sehingga berita itu sampai kepada bani Israil. Lalu mereka melihat Musa as. dalam keadaan telanjang dengan bentuk tubuh terindah yang diciptakan Allah swt. Allah membebaskan dari apa yang mereka katakan. Lalu batu itu terangkat dan beliau mengambil bajunya kembali untuk dipakainya. Maka dia memukul keras batu itu dengan tongkatnya. Demi Allah, sesungguhnya pada batu tersebut terdapat guratan akibat pukulannya; tiga, empat atau lima guratan. Itulah firman Allah: yaa ayyuHalladziina aamanuu laa takuunuu kalladziina aadzau muusaa fabarra-aHullaaHu mimmaa qaaluu wa kaana ‘indallaaHi wajiiHan (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”) dan ini adalah rangkaian kalimat yang baik dan panjang.”

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Abdullah berkata: “Suatu hari Rasulullah saw. membagikan sesuatu. Lalu seorang laki-laki Anshar berkata: ‘Pembagian ini tidak menghendaki wajah Allah.’ Lalu aku berkata: ‘Hai musuh Allah, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal ini kepada Rasulullah saw.’ lalu hal itu aku ceritakan kepada Rasulullah saw., lalu tampak merah padam wajahnya, kemudian beliau bersabda: “Rahmat Allah untuk Musa. Dia telah disakiti lebih dari ini, lalu dia bersabar.” (ditakhrij oleh keduanya di dalam ash-Shahihain)

Firman Allah: wa kaana ‘indallaaHi wajiiHan (“Dan adalah dia seseorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”) yaitu, dia memiliki kedudukan yang diberikan di sisi Allah.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Beliau adalah orang yang doanya diperkenankan di sisi Allah.” Sebagian ulama salaf berkata: “Tidaklah dia meminta sesuatu kepada Allah, melainkan pasti diberikan-Nya. Akan tetapi dia cegah untuk melihat-Nya, sesuai kehendak Allah swt.” Sebagian mereka berkata: “Di antara kedudukannya yang terhormat di sisi Allah adalah dia memberiikan syafaat kepada saudaranya, Harun, agar Allah mengutus bersama dia. lalu Allah memperkenankan permintaannya.”

Firman Allah: wa waHabnaa laHuu mir rahmatinaa akhaaHuu Haaruuna nabiyyan (“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menajadi seorang Nabi.” (Maryam: 53)

Bersambung ke bagian 38

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (36)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Firman Allah: wa kaanallaaHu ghafuurar rahiiman (“Dan Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) terhadap apa yang telah berlalu di masa jahiliyyah, dimana mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Kemudian Allah Ta’ala berfirman mengancam orang-orang munafik, yaitu mereka menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.

Walladziina fii quluubiHim maradlun (“Orang-orang yang berpenyakit di dalam hatinya.”) ‘Ikrimah dan lain-lain berkata: “Mereka adalah para tukang zina.”
Wal murjifuuna fil madiinati (“dan orang-orang yang menyebarkan berita bohong di Madinah”) yaitu orang-orang yang berkata: “Musuh telah datang dan peperangan telah tiba.” Padahal itu dusta dan kebohongan. Jika mereka tidak berhenti dan kembali kepada kebenaran, lanughriyannaka biHim (“Niscaya Kami perintahkan kamu [untuk memerangi] mereka.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Niscaya Kami akan memberikan kekuasaan kepadamu atas mereka.”

Qatadah berkata: “Kami akan menguasakanmu terhadap mereka.” Sedangkan as-Suddi berkata: “Kami akan beritahukan engkau tentang mereka.”
Tsumma laa yujaawiruunaka fiiHaa (“kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu.”) di Madinah. Illaa qaliilan. Mal’uuniin (“Melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat.”) kondisi mereka di masa mereka tinggal di Madinah adalah sangat pendek dalam keadaan terbuang dan terhina. Ainamaa tsuqifuu (“dimana saja mereka dijumpai”) dimana saja mereka berada. Ukhidzuu (“Mereka ditangkap”) karena kehinaan dan minoritas mereka. Wa quttiluu taqtiilan (“dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.”)

Kemudian Allah berfirman: sunnatallaaHi filladziina khalau ming qablu (“Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu.”) ini adalah sunnah-sunnah-Nya pada orang-orang munafik, jika mereka bersikeras dalam kemunafikan dan kekafiran mereka, serta tidak mau kembali dari perilaku mereka tersebut. Sesungguhnya orang yang beriman akan menguasai dan mengalahkan mereka. Wa lan tajida lisunnatillaaHi tabdiilan (“dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah”) yaitu, sunnah Allah pada masalah itu tidak akan berganti dan berubah.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 63-68“63. manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. 64. Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), 65. mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. 66. pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.’ 67. dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). 68. Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.’” (al-Ahzaab: 63-68)

Allah Ta’ala mengabarkan Rasul-Nya saw. bahwa dia tidak mengetahui tentang terjadinya hari kiamat, jika manusia bertanya tentang hal tersebut. Juga memberikan petunjuk untuk menyerahkan ilmunya kepada Allah swt. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah al-A’raaf yang tergolong surah Makkiyyah. Sedangkan ayat ini tergolong Madaniyyah. Keadaannya tetap berlangsung untuk menyerahkan ilmunya kepada Rabb yang menetapkannya, akan tetapi Allah mengabarkannya kepada Nabi, bahwa peristiwa itu telah dekat dengan firman-Nya: wa maa yudriika la’allas saa’ata takuunu qariiban (“Dan tahukah kamu hai [Muhammad], boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.”)

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: iqtarabatis saa’atu wansyaqqal qamara (“Telah dekat [datangnya] saat itu dan telah terbelah bulan.”)(al-Qamar: 1)

Kemudian firman Allah: innallaaHa la’anal kaafiriina (“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir.”) yaitu menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. wa a-‘adda laHum sa’iiran (“Dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala [neraka].”) di negeri akhirat. Khaalidiina fiiHaa abadan (“mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”) yaitu mereka tinggal terus-menerus, tidak keluar dan tidak hilang darinya. Laa yajiduuna waliyyaw walaa nashiiran (“Mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak [pula] seorang penolong.”) yaitu mereka tidak memiliki pelindung dan penolong yang dapat menyelamatkan mereka dari apa yang mereka alami.

Firman Allah: yauma tuqallabu wujuuHuHum fin naari yaquuluuna yaa laitanaa atha’nallaaHa wa atha’nar rasuulaa (“Pada hari ketika muk mereka dibolak-balik dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikan kami taat kepada Allah dan taat [pula] kepada Rasul.”) yaitu mereka dijerumuskan ke dalam api neraka [di] atas wajah-wajah mereka serta memanggang wajah-wajah mereka di neraka jahanam. Mereka berkata dalam keadaan demikian dengan penuh angan-angan: “ Seandainya dulu di dunia aku termasuk orang yang taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.”

Sebagaimana firman Allah: rabbanaa yawaddul ladziina kafaruu lau kaanuu muslimiina (“Orang-orang kafir itu seringkali [nanti di akhirat] menginginkan, kiranya mereka dulu [di dunia] menjadi orang-orang Muslim.”)(al-Hijr: 2)

Demikianlah, Allah mengabarkan tentang mereka, bahwa mereka menginginkan seandainya mentaati Allah dan mentaati Rasul di dunia. Wa qaaluu rabbanaa innaa atha’naa saadatanaa wa kubaraa anaa fa adlalluunas sabiilan (“Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnay kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan [yang benar].”)

Thawus berkata: saadatanaa; yaitu para pembesar dan kubaraa-anaa adalah para ulama.” (HR Ibnu Abi Hatim)

Bersambung ke bagian 37

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (35)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Firman Allah: walladziina yu’dzuunal mu’miniina wal mu’minaati bighairi maktasabuu (“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat.”) yaitu mereka menuduh sesuatu yang sebenarnya bersih dari kaum Mukmin dan Mukminat, dimana mereka tidak mengamalkan dan tidak memperbuatnya. Faqadih tamaluu buHtaanaw wa itsmam mubiinan (“Maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”) ini adalah kebohongan besar, yaitu suatu cara menceritakan dan mengumbar berita tentang sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang-orang Mukmin dan Mukminat dengan cara mencela dan merendahkan mereka. Di antara orang yang banyak masuk dalam kategori ini adalah orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kaum Rafidhah (Syi’ah) yang mencela dan merendahkan Shahabat dengan sesuatu yang sebenarnya Allah telah membebaskan mereka dari hal itu serta mensifatkan pula mereka dengan sifat-sifat yang berlawanan dengan kabar yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah telah mengabarkan bahwa Dia telah meridlai dan memuji kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Sedangkan orang-orang bodoh dan jahil itu mencela dan merendahkan mereka serta menyebut mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada diri mereka dan tidak mereka lakukan sama sekali. Mereka pada hakekatnya adalah penderita sakit hati yang mencela orang-orang terpuji dan memuji orang-orang tercela.

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. ditanya: “Ya Rasulallah, apa ghibah itu?” Beliau menjawab: “Menceritakan saudaramu sesuatu yang dibencinya.” Ditanya lagi: “Apakah pendapatmu, jika yang dikatakan itu memang benar ada pada dirinya?” Beliau menjawab: “Jika benar ada pada dirinya, maka engkau telah membuat ghibah kepadanya. Dan jika tidak ada pada dirinya, maka berarti engkau telah berdusta.” (demikian yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Kemudian dia berkata: “Hasan Shahih.”)

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 59-62“59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 60. Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, 61. dalam Keadaan terlaknat. di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. 62. sebagai sunnah Allah yang Berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.” (al-Ahzaab: 59-62)

Allah berfirman memerintahkan Rasul-Nya saw. untuk memerintahkan kaum wanita –khususnya istri-istri dan anak-anak perempuan beliau karena kemuliaan mereka- untuk mengulurkan jilbab mereka, agar mereka berbeda dengan ciri-ciri wanita jahiliyyah dan ciri-ciri wanita budak. Jilbab adalah ar-rida’ [kain penutup] di atas kerudung. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, ‘Ubaidah, Qatadah, al-Hasan al-Bashri, Sa’id bin Jubair, Ibrahim an-Nakha’i, ‘Atha’ al-Khurasani dan selain mereka. Jilbab sama dengan izar [kain] saat ini. Al-Jauhari berkata: “Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh.”

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Allah memerintahkan wanita-wanita kaum Mukminin, jika keluar dari rumah mereka untuk suatu keperluan agar menutup wajah mereka dari atas kepala mereka dengan jilbab serta menampakkan satu mata.”

Muhammad bin Sirin berkata, aku bertanya kepada ‘Ubaidah as-Salmani tentang firman Allah: yubdiina ‘alaiHinna min jalaabiibiHinna (“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”) lalu dia menutup wajah dan kepalanya serta menampakkan matanya yang kiri. ‘Ikrimah berkata: “Dia menutup bagian pipinya dengan jilbabnya yang diulurkan di atasnya.”

Ibnu Abi Hatim berkata, bahwa Ummu Salamah berkata: “Tatkala ayat ini turun, yubdiina ‘alaiHinna min jalaabiibiHinna (“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”) wanita-wanita Anshar keluar, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung gagak karena ketenangan jalannya. Di atas mereka terdapat pakaian-pakaian hitam yang mereka pakai.

Ibnu Abi Hatim berkata, ayahku bercerita kepadaku, dari Abu Shalih, dari al-Laits, bahwa Yunus bin Zaid berkata: kami bertanya kepada az-Zuhri: “Apakah budak wanita wajib memakai, baik dia sudah kawin atau belum kawin?” Beliau menjawab: “Wajib baginya memakai kerudung, jika dia sudah kawin, dan dilarang berjilbab, karena makruh menyamai mereka dengan wanita-wanita merdeka dan muhshan.”

As-Suddi berkata tentang firman Allah: yaa ayyuHan nabiyyu qul li azwaajika wa banaatika wa nisaa-il mu’miniina yudniina ‘alaiHinna min jalaabiibiHinna. Dzaalika adnaa ay yu’rafna falaa yu’dzain (“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrmu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”)
Dahulu orang-orang fasik penduduk Madinah keluar di waktu malam di saat kegelapan malam merasuk jalan-jalan Madinah. Lalu mereka mencari wanita-wanita. Dahulu rumah-rumah penduduk Madinah sangat sempit. Jika waktu malam tiba, wanita-wanita itu keluar ke jalan-jalan untuk menunaikan hajat mereka. Lalu orang-orang fasik itu mencari-cari mereka. Jika mereka melihat wanita-wanita memakai jilbab, mereka berkata: “Ini wanita merdeka, tahanlah diri dari mereka.” Dan jika mereka melihat wanita tidak berjilbab, mereka berkata: “Ini adalah budak wanita.” Maka mereka menggodanya.

Mujahid berkata: “Mereka berjilbab, sehingga mereka dikenal sebagai wanita-wanita merdeka. Maka orang fasik tidak akan mengganggu dan menggoda mereka.”

Bersambung ke bagian 36

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (34)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Berdasarkan hadits Jabir, bahwa istrinya berkata: “Ya Rasulallah, beshalawatlah untukku dan untuk suamiku.” Maka beliau bersabda: “Allah bershalawat kepadamu dan kepada suamimu.”

Jumhur ulama mengatakan bahwa tidak boleh menyendiri shalawat kepada selain para Nabi, karena hal ini menjadi syi’ar bagi para Nabi, jika nama mereka disebutkan, maka tidak dapat diqiaskan kepada selain mereka. Maka tidak boleh dikatakan Abu Bakar saw, atau ‘Ali saw. sekalipun maknanya shahih. Sebagaimana tidak disebutkan Muhammad ‘Azza wa Jalla, sekalipun beliau amat perkasa dan agung. Karena hal ini telah menjadi syi’ar sebutan Allah Azza wa Jalla. Serta membawa makna adanya shalawat yang terdapat di dalam kitab dan as-Sunnah kepada selain para Nabi sebagai suatu doa untuk mereka. Untuk itu, hal tersebut tidak menjadi syi’ar bagi keluarga Abu Aufa, Jabir dan istrinya. Dian ini adalah penyelesaian yang baik.

Sedangkan ulama lain berkata bahwa hal tersebut tiadak dibolehkan, karena bershalawat kepada selain para Nabi telah menjadi syi’ar ahli hawa nafsu, dimana mereka bershalawat kepada orang yang mereka yakini di kalangan mereka. Maka hal itu tidak diperbolehkan mensuritauladani mereka. wallaaHu a’lam.

Kemudian para ulama yang melarangnya berbeda pendapat, apakah hal tersebut termasuk perkara yang diharamkan atau makruh tanzih, atau menyalahi hal utama? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat. Itulah yang dikisahkan oleh Syaikh Abu Zakariya an-Nawawi dalam kitab al-Adzkaar. Kemudian dia berkata: “Pendapat yang shahih yang dipegang oleh kebanyakan para ulama adalah makruh tanzih, karena masalah ini adalah menjadi syi’ar ahli bid’ah, padahal kita dilarang mencontoh syi’ar mereka.”

Sedangkan masalah salam, Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini, di kalangan Shahabat kami berkata: “Masalah ini sama dengan makna shalawat, sehingga tidak boleh digunakan pada yang ghaib dan kepada selain para Nabi. Maka tidak boleh dikatakan ‘Ali ‘alaiHis salam, baik dalam keadaan hidup ataupun sudah wafat. Sedangkan pada orang yang hadir, maka dikhithab dengan “assalaamu ‘alaika [salam sejahtera untukmu] assalaamu ‘alaikum [salam sejahtera untuk kalian]. Inilah yang disepakati.

Menurut Ibnu Katsir masalah ini telah mendominasi ungkapan-ungkapan kebanyakan para penulis kitab dengan mengistimewakan ‘Ali ra. dengan ungkapan ‘alaiHis salam, tanpa shahabat lainnya atau KarramallaaHu wajHaH. Ungkapan ini sekalipun bermakna shahih, akan tetapi selayaknya dia menyamakan seluruh shahabat, karena masalah ini adalah masalah penghormatan dan kemuliaan. Dia pendahulu dan ‘Utsman lebih utama untuk diucapkan dengan demikian. Isma’il al-Qadli berkata, bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Tidak sah bershalawat kepada seseorang kecuali kepada Nabi saw. akan tetapi dia dapat meminta doa ampunan untuk kaum Muslimin dan Muslimat.”

(Satu cabang masalah), an-Nawawi berkata: “Jika dia bershalawat kepada Nabi saw. maka hendaklah menggabungkan antara shalawat dan salam, tidak membatasi salah satunya saja. maka tidak dikatakan: shalallaaHu ‘alaiHi ; atau ‘alaiHis salaam saja.” apa yang dikatakannya ini diambil dari firman Allah : yaa ayyuHal ladziina aamanuu shalluu ‘alaiHi wa sallimuu tasliiman (“Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”) maka yang lebih utama diucapkan: shalallaaHu ‘alaiHi wa sallama tasliiman.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 57-58“57. Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. 58. dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzaab: 57-58)

Allah Ta’ala berfirman memberikan tekanan dan ancaman kepada orang yang menyakiti-Nya dengan cara melanggar perintah-perintah-Nya, melakukan larangan-larangan-Nya dan berusaha bergelimang di dalamnya serta menyakiti Rasul-Nya dengan cara menghina dan merendahkan –semoga Allah melindungi kita dari sikap sepert ini-.

‘Ikrimah berkata tentang firman Allah: innalladziina yu’dzuunallaaHa wa rasuulaHu (“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.”) adalah turun berkenaan dengan para pelukis. Di dalam ash-Shahihain diriwayatkan dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah, dari az-Zuhri, dari Sa’id bin al-Musayyab, bahwa Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. berfirman: ‘Anak Adam menyakiti-Ku, Dia mencela masa, Aku-lah Masa dimana Aku puta malam dan siangnya.’”

Makna hadits ini, bahwa di masa jahiliyyah dahulu mereka berkata: “Hai celakalah masa, dia melakukan ini dan itu pada kita.” Mereka menyandarkan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala kepada masa dan mencelanya. Padahal pelakunya adalah Allah, hingga mereka dilarang melakukan hal tersebut. Demikian yang ditetapkan oleh asy-Syafi’i, Abu ‘Ubaidah dan ulama lainnya.

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: innalladziina yu’dzuunallaaHa wa rasuulaHu (“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.”) adalah turun pada orang-orang yang menuduh Nabi saw. di waktu menikahi Shafiyyah binti Huyay bin al-Akhthab. Yang dhahir pada ayat ini umum pada setiap orang yang menyakitinya dengan cara apa pun. Barangsiapa yang menyakitinya, maka berarti menyakiti Allah. Begitu pula orang yang mentaatinya, maka berarti ia mentaati Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Mughaffal al-Muzani berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Allah, Allah [semoga dijauhkan] tentang shahabatku. Janganlah kalian jadikan mereka sebagai pusat sasaran sesudahku. Barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku Allah mencintai mereka. Dan barangsiapa yang membenci mereka, maka dengan kebencianku Allah membenci mereka. Barangsiapa yang menyakiti mereka maka berarti dia menyakiti aku, dan barangsiapa yang menyakiti aku maka berarti menyakiti Allah, dan barangsiapa yang menyakiti Allah, Dia pasti akan menyiksanya.” (HR at-Tirmidzi dari hadits ‘Ubaidah bin Abi Ra-ithah. Kemudian dia berkata: “Ini hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari jalan ini.” Dan didlaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dla’iifull Jaami’ [1160])

Bersambung ke bagian 35

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (33)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Di antaranya pula adalah dalam shalat ‘Ied. Isma’il al-Qadli berkata dari ‘Alqamah, bahwa Ibnu Mas’ud, Abu Musa dan Hudzaifah ditemui oleh al-Walid bin ‘Uqbah sebelum hari ‘Ied. Dia bertanya kepada mereka: “Sesungguhnya hari ‘Ied hampir tiba, bagaimana takbir di dalamnya?” ‘Abdullah berkata: “Engkau mulai dengan takbir pembuka shalat, memuji Rabbmu dan bershalawat kepada Nabi saw. kemudian engkau berdoa, bertakbir dan melakukan hal yang sama. Kemudian bertakbir dan melakukan hal yang sama. Bertakbir dan melakukan hal yang sama. Kemudian engkau membaca, kemudian bertakbir dan rukuk. Kemudian engkau bangun, lalu membaca, memuji Rabbmu dan bershalawat kepada Nabi saw., kemudian berdoa, bertakbir dan melakukan hal yang sama kemudian rukuk.’ “ Hudzaifah dan Abu Musa berkata: “Abi ‘Abdirrahman benar.” (isnadnya shahih)

Di antaranya lagi dianjurkan menutup doa dengan bershalawat kepada Nabi saw. at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Doa terhenti antara langit dan bumi, tidak ada satupun yang naik, hingga ia bershalawat kepada nabimu.” (demikian yang diriwayatkan oleh Ayyub bin Musa dari Sa’id bin al-Musayyab, dari ‘Umar bin al-Khaththab. Dan diriwayatkan oleh Mu’adz bin al-Harits, dari Abu Qurrah, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari ‘Umar secara marfu)

Di antara yang ditekankan adalah doa qunut, berdasarkan riwayat Ahmad, Ahlus Sunan, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari hadits Abul Juza, bahwa al-Hasan bin ‘Ali berkata, Rasulullah saw. mengajarkanku beberapa kalimat yang aku baca dalam shalat witir: “Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan [dari penyakit dan apa yang tidak disukai] sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, uruslah aku sebagaimana ornag yang telah Engkau urus. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, peliharalah aku dari kejelekan apa yang Engkau tuntunkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qadla’ dan tidak ada yang memberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau cintai tidak akan terhina dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Mahasuci Engkau wahai Rabb kami dan Mahatinggi.”

An-Nasa’i menambahkan dalam sunannya setelah ini: wa shallallaaHu ‘alaa muhammad (“Dan Allah bershalawat kepada Muhammad.”)

Di antaranya ada pula yang dianjurkan memperbanyak shalawat kepadanya pada hari Jum’at dan malam jum’at. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Aus bin Aus ats-Tsaqafi ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Di antara hari kalian yang utama adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at itu diciptakan Adam dan diwafatkannya. Pada hari itu pula terjadinya tiupan sangkakala yang mengagetkan. Maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada saat itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku.”
Mereka bertanya: “Ya Rasulallah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu, padahal engkau sudah menjadi tulang-belulang?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi.” (HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari hadits Husain bin ‘Ali al-Ju’fi. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni dan an-Nawawi dalam al-Adzkaar)

Begitu pula diwajibkan bagi seorang khatib untuk bershalawat kepada Nabi saw. pada hari Jum’at di atas mimbar dalam kedua khutbah. Dan tidak sah kedua khutbah tersebut kecuali dengan shalawat, karena ini adalah masalah ibadah. Dzikir kepada Allah adalah syarat di dalam khutbah, maka wajib pula menyebut Rasulullah saw. di dalamnya, seperti adzan dan shalat. Inilah madzab asy-Syafi’i dan Ahmad.

Demikian pula dianjurkan bershalawat dan salam kepadanya ketika menziarahi kubur beliau saw.
Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah akan mengembalikan ruhku, sehingga aku dapat menjawab salam untuknya.” (Abu Dawud meriwayatkannya sendiri dan dishahihkan oleh an-Nawawi dalam al-Adzkaar)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para pengawas di dunia yang menyampaian salam kepadaku dari umatku.” (demikian yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i)

Para shahabat kami berpendapat bahwa orang yang ihram dianjurkan jika mengucapkan talbiyah dan telah selesai dari talbiyahnya agar beshalawat kepada Nabi saw. berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh asy-Syafi’i dan ad-Daruquthni dari riwayat Shalih bin Muhammad bin Zaidah, bahwa al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: “Jika laki-laki telah selesai dari talbiyahnya, diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi saw. dalam segala hal.”

(Masalah) disunnahkan bagi penulis untuk mengulang tulisan shalawatnya kepada Nabi saw. setiap kali menulis.

(Pasal) Sedangkan bershalawat kepada selain para Nabi, jika sebagai pengikutan, seperti yang lalu dalam hadits: “Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad, keluarga, istri-istri dan keturunannya.” Maka dalam hal ini diperbolehkan menurut ijma’. Perbedaan hanya terjadi pada mengucapkan shalawat kepada selain para Nabi, jika menyendiri. Sebagian membolehkan hal tersebut. Mereka berhujjah dengan firman Allah: Huwalladzii yushalli ‘alaikum wa malaa-ikatuHu (“Allah-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya [memohonkan ampun untukmu].”)(al-Ahzaab: 43)

Firman-Nya: ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmaH (“Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya.”)(al-Baqarah: 157)

Juga firman-Nya: khudz min amwaaliHim shadaqatan tuthaHHiruHum wa tuzakkiiHim biHaa wa shalli ‘alaiHim (“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka…”) dan ayat seterusnya (at-Taubah: 103)

Serta dalam hadits ‘Abdullah bin Abi ‘Aufa ia berkata: “Jika satu kaum datang kepada Rasulullah saw. membawa shadaqahnya, beliau berkata: “AllaaHumma shalli ‘alaa aali abii aufaa [Ya Allah, bershalawatlah untuk keluarga Abu ‘Aufa]” (ditakhrij di dalam ash-Shahihain)

Bersambung ke bagian 34

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (32)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Hadits lain, Imam Ahmad meriwayatkan, dari ‘Abdullah bin ‘Ali bin al-Husain dari ayahnya, ‘Ali bin al-Husain dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “orang yang bakhil adalah orang yang aku disebut di sisinya dan dia tidak bershalawat kepadaku.” Abu Said berkata: “Lalu dia tidak bershalawat kepadaku.” (HR at-Tirmidzi dari hadits Sulaiman bin Bilal, kemudian dia berkata: “hadits ini hasan gharib shahih.”)

Hadits lain, at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Celakalah seseorang yang aku disebut disisinya, lalu dia tidak bershalawat kepadaku. Celakalah seseorang yang memasuki bulan Ramadlan kemudian terlewati sebelum dia diampuni karenanya. Dan celakalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya yang sudah renta lalu keduanya tidak menyebabkan dia masuk surga.” (kemudian dia berkata: “hasan gharib.”)

Menurut Ibnu Katsir, ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab. Hadits ini sebelumnya menjadi dalil bagi wajibnya bershalawat kepada Nabi saw. sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Inilah madzab sekelompok ulama, di antaranya adalah ath-Thahawi dan al-Halimi. Serta diperkuat oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang lupa bershalawat kepadaku, niscaya dia keliru menuju jalan ke surga.”

Janadah adalah dlaif, akan tetapi diriwayatkan oleh Isma’il al-Qadli bukan dari satu jalan saja. dari Abu Ja’far Muhammd bin ‘Ali al-Baqir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang lupa bershalawat kepadaku, niscaya dia keliru menuju jalan ke surga.” (ini adalah mursal yang memperkuat hadist sebelumnya) wallaaHu a’lam.

Para ulama yang lain berpendapat, bahwa wajib bershalawat kepadanya di dalam satu majelis satu kali. Kemudian tidak diwajibkan pada waktu selanjutnya, akan tetapi hanya dianjurkan. Inilah yang dinukil oleh at-Tirmidzi dari sebagian ulama. Dan hal ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak ada suatu kaum yang duduk di satu majelis, dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi mereka di dalamnya, melainkan mereka akan mendapatkan kerugian pada hari kiamat. Jika Allah menghendaki, Allah akan mengadzab mereka. Dan jika Allah menghendaki, Allah akan mengampuni mereka.” (at-Tirmidzi meriwayatkannya sendiri dari jalanini. Serta diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Kemudian at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan.”)

Diceritakana dari sebagian ulama, bahwa diwajibkan bershalawat kepada beliau saw. sekali seumur hidup, sebagai sikap menjunjung tinggi perintah ayat. Kemudian dianjurkan dalam segala hal. Inilah pendapat yang didukung oleh al-Qadli ‘Iyadh setelah menceritakan adanya ijma’ tentang kewajiban bershalawat kepadanya secara global. Dia berkata, ath-Thabrani menceritakan bahwa kemungkinan ayat ini adalah anjuran dan dan dia mengkalim adanya ijma’ dalam masalah ini. Dia berkata: “Boleh jadi yang dimaksud adalah yang lebih dari satu kali dan yang wajib adalah satu kali tersebut, seperti syahadat kepada kenabian.” Sedangkan yang lebih, merupakan perkara yang dianjurkan dan disenangi di antara sunnah-sunnah Islam dan syi’ar penganutnya.

Menurut Ibnu Katsir ini adalah pendapat aneh, karena adanya perintah yang berkenaan dengan kewajiban bershalawat kepada beliau di banyak waktu. Di antaranya ada yang wajib dan di antaranya ada yang dianjurkan, sebagaimana yang telah dijelaskan. Di antaranya setelah adzan shalat, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu ‘Abdirrahman menceritakan kepadaku dari Haywah, dari Ka’ab bin ‘Alqamah menceritakan kepadaku, bahwa dia mendengar ‘Abdurrahman bin Jubair berkata, dia mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr al-‘Ash berkata, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apayang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena barangsiapa yang beshalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah untukku wasilah, karena dia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak dapat diraih, kecuali oleh suatu hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap akulah hamba itu. Barangsiapa yang memintakan aku wasilah, niscaya dia akan mendapatkan syafaat.” (ditakhrij oleh Muslim, Abu dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Di antaranya lagi adalah ketika masuk dan keluar masjid, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin al-Hasan dari ibunya, Fatimah binti al-Husain dari neneknya, Fatimah purtri Rasulullah saw. yang berkata: “Rasulullah saw. jika masuk ke dalam masjid, beliau bershalawat dan salam kepada Muhammad, kemudian berkata: “AllaaHummaghfirlii dzunuubii waftahlii abwaaba rahmatika [ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu]”

Apabila beliau keluara masjid, beliau bershalawat dan salam kepada Muhammad, kemudian berkata: “AllaaHummaghfirlii dzunuubii waftahlii abwaaba fadl-lika [ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu keutamaan-Mu]”

Sedangkan pada tasyahud awal, maka tidak diwajibkan [mengucapkannya]. Tentang hal ini hanya ada satu pendapat. Dan apakah dianjurkan shalawat pada tasyahud awal? Dalam hal ini terdapat dua pendapat dari Imam asy-Syafi’i.

Di antaranya pula adalah bershalawat kepada Nabi saw. diwaktu shalat jenazah. Karena menurut sunnah, pada takbir pertama membaca al-Fatihah. Pada takbir kedua bershalawat kepada Nabi saw. ketiga, berdoa untuk mayit dan keempat berdoa: “Ya Allah janganlah Engkau haramkan kami pahalanya dan janganlah Engkau fitnah kami sesudahnya.”

Asy-Syafi’i berkata, Muthrif bin Mazin bercerita kepada kami dari Ma’mar, dari az-Zuhri, bahwa Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif bercerita kepadaku, bahwa seorang sahabat Rasulullah saw. bercerita kepadaku: “Sunnah dalam shalat jenazah adalah, bahwa imam takbir, kemudian membaca Fatihatul kitab setelah takbir pertama secara sir pada dirinya. Kemudian bershalawat kepada Nabi saw. dan mengikhlaskan doa untuk jenazah. Dan dalam takbir terakhir tidak membaca apapun, kemudian salam secara sir pada dirinya.” (HR an-Nasa’i dari Abu Umamah, bahwa dia berkata: “Di antara sunnah…, lalu disebutkan kelanjutannya. Beliau adalah termasuk shahabat, jadi termasuk bagian hadist marfu’ secara shahih dan diriwayatkan oleh Isma’il al-Qadli) demikian pula yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar dan asy-Sya’bi.

Bersambung ke bagian 33

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (31)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Sesungguhnya kami telah meriwayatkan kewajiban tersebut dan perintah bershalawat kepada Rasulullah saw. di waktu shalat, sebagaimana dhahir ayat tersebut serta penafsiran hadits tersebut dari sekelompok sahabat, seperti Ibnu Mas’ud, Abu Mas’ud al-Badri dan Jabir bin ‘Abdillah.

Sedangkan di kalangan Tabi’in adalah; asy-Sya’bi, Abu Ja’far al-Baqir dan Muqatil bin Hayyan dan itulah pendapat Imam asy-Syafi’i, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini serta di kalangan para shahabatnya. Itulah yang dipegang oleh Imam Ahmad pada akhirnya, seperti yang dikutip oleh Abu Zur’ah ad-Dimasyqi. Itu pulalah yang dikatakan oleh Ishaq bin Rahawaih, al-Faqih Imam Muhammad bin Ibrahim yang dikenal dengan Ibnul Mawaz al-Maliki.

Pendapat yang mengatakan wajib merupakan dhahir haidts. Yang penting adalah bahwa pendapat Imam Syafi’i tentang kewajiban bershalawat kepada Nabi saw. merupakan pendapat ulama Salaf dan Khalaf, sebagaimana pada penjelasan yang lalu. Segala puji bagi Allah. Maka tidak ada ijma’ yang berbeda dengan pendapat tersebut, baik pada masa lalu maupun sekarang. Di antara dalil yang mendukung hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi serta dishahihkannya, an-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, bahwa Fadhalah bin ‘Ubaid berkata: Rasulullah saw. mendengar seseorang berdoa di waktu shalatnya, dimana dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi saw. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Laki-laki ini terlalu tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggilnya dan berkata kepadanya juga kepada yang lain: “Jika salah seorang kalian berdoa, maka mulailah dengan mengagungkan Allah swt. dan memujinya. Kemudian bershalawat kepada Nabi, kemudian berdoa setelah itu apa yang engkau mau.”

Hadits lain, Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Ashim bin ‘Ubaidillah berkata, aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah bercerita, bahwa ayahnya berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat satu shalawat kepadaku, niscaya para malaikat bershalawat kepadanya selama ia bershalawat kepadaku. Maka seorang hamba berbuat seperti itu sedikit atau banyak.” (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Syu’bah)

Hadits lain, Abu ‘Isa at-Tirmidzi meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Manusia paling utama bagiku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (at-Tirmidzi meriwayatkannya sendiri. Kemudian dia berkata: “haidts ini hasan gharib.”)

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Thufail bin Ubay bin Ka’ab, bahwa ayahnya berkata, Rasulullah saw. jika telah melewati dua pertiga malam, beliau bangun dan berkata: “Hai manusia, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Telah datang tiupan pertama menggoncangkan alam yang diiringi oleh tiupan kedua. Di dalamnya datang kematian, di dalamnya datang kematian.”
‘Ubay bertanya: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku memperbanyak shalawat kepadamu. Berapa banyak aku harus bershalawat kepadamu?” Beliau menjawab: “Sesuai yang engkau kehendaki.” Aku bertanya: “Seperempat?” Beliau menjawab: “Terserah kamu. Jika engkau tambah itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya: “Setengah?” Beliau menjawab: “Terserah kamu. Jika engkau tambah itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya: “Dua pertiga?” Beliau menjawab: “Terserah kamu. Jika engkau tambah itu lebih baik bagimu.” Aku berkata: “Kalau begitu aku akan bershalawat untukmu seluruhnya.” Beliau bersabda: “Dengan itu, semangatmu sungguh telah cukup dan dosamu akan diampuni.” (kemudian at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan.”)

Jalan lain, Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa ‘Abdurrahman bin Auf berkata, Rasulullah saw. berdiri menghadap tempat shalat sunnahnya. Kemudian beliau menghadap kiblat, lalu beliau tersungkur sujud dan lama sekali di dalam sujudnya, sehingga aku mengira bahwa Allah telah merenggut nyawanya. Lalu aku mendekatinya, kemudian aku duduk. Maka beliau mengangkat kepalanya dan berkata: “Siapa ini?” aku menjawab: “’Abdurrahman.” Beliau bertanya: “Ada apa denganmu?” aku menjawab: “Ya Rasulallah, engkau melakukan sujud yang aku khawatir Allah telah merenggut nyawamu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan memberikan kabar keapadaku [ia mengatakan], bahwa Allah swt. berkata kepadamu: ‘Barangsiapa yang bershalawat kepadamu, niscaya Aku akan bershalawat kepadany. Dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu, niscaya Aku akan mengucapkan salam kepadanya.’ Lalu aku pun bersujud kepada Allah swt. sebagai tanda syukur.” (HR Isma’il bin Ishaq al-Qadli di dalam kitabnya)

Hadits lain, Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Thalhah al-Anshari berkata: “Suatu pagi terlihat ketenangan jiwa Rasulullah saw. dari wajahnya yang cerah. Mereka bertanya: ‘Ya Rasulallah, pagi ini engkau begitu senang dan terlihat rasa gembira pada wajahmu.” Beliau menjawab: “Betul, utusan Rabb-ku telah datang kepadaku, ia berkata: ‘Barangsiapa di antara umatmu bershalawat kepadamu satu shalawat, niscaya Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan, menghapus sepuluh keburukan dan mengangkat sepuluh derajat dan menjawabnya dengan [hal] yang sama.’” (ini pun isnad yang jayyid)

Hadits lain, Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i meriwayatkan dari hadits Isma’il bin Ja’far, dari al-‘Ala bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, bahwa Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (at-Tirmidzi berkata: “Hadist ini hasan shahih.”)

Hadits lain, Abu Dawud ath-Thayalisi meriwayatkan, bahwa Anas berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang aku disebut di sisinya, maka hendaklah ia bershalawat kepadaku. Dan barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR An-Nasa’i di dalam ‘Amalul Yaum wal-Lailah, dari hadits Abu Dawud ath-Thayalisi.)

Bersambung ke bagian 32

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (30)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Di dalam hadits lain: “Ya Allah shalawatkanlah keluarga Abu al-Aufa.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Terdapat hadits-hadits mutawathir dari Rasulullah saw. yang memerintahkan bershalawat kepada beliau.

Al-Bukhari meriwayatkan ketika menafsirkan ayat ini, bahwa Ka’ab bin ‘Ujrah berkata, ditanyakan: “Ya Rasulallah, untuk salam kepadamu kami telah mengetahui, maka bagaimana bershalawat itu?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: allaaHumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shalaita ‘alaa aali ibraaHiima innaka hamiidum majiid. allaaHuma baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa aali ibraaHiima innaka hamiidum majiid (Ya Allah, bershalawatlah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahapemurah. Ya Allah berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahapemurah.” (Hadits ini ditakhrij oleh Jama’ah di dalam kitab-kitab mereka dari berbagai macam jalan)

Makna perkataan mereka: “Untuk salam kepadamu, kami telah mengetahuinya.” Adalah tsyahhud telah diajarkan kepada mereka, sebagaimana beliau mengajarkan surah al-Qur’an. Di dalamnya terdapat: assalaamu ‘alaika ayyuHan nabiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Salam sejahtera untukmu, hai Nabi dan rahmat Allah dan keberkahan-Nya”)

Hadits lain, al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Sa’id al-Khudri berkata, kami berkata: “Ya Rasulallah, ini adalah salam kepadamu. Bagaimana kami bershalawat kepadamu?” beliau menjawab: “Ucapkanlah: allaaHuma shalli ‘alaa muhammadin ‘abdika wa rasuulika kamaa shallaita ‘alaa aali ibraaHiima, wa baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa aali ibraaHiima (Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada keluarga Ibrahim.”

Abu Shalih berkata dari al-Laits: ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa aali ibraahiim “Kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimaan Engkau berikan berkah kepada Ibrahim.”)

Ibrahim bin Hamzah berkata kepada kami, dari Ibnu Abi Hazim dan d-Darawardi bercerita kepada kami, bahwa Yazid bin al-Had berkata: kamaa shallaita ‘alaa ibraaHiima wa baarik ‘alaa muhammadin wa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa ibraaHiima [wa aali ibraaHiima] (“Sebagaimana Engkau bershalawat kepada Ibrahim. Dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.” (ditakhrij oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Hadits lain, Imam Ahmad meriwayatkan, aku membaca kepada ‘Abdurrahman bin Malik, dari’ Abdullah bin Abi Bakar, dari ayahnya, bahwa ‘Amr bin Sulaim berkata, Abu Humaid as-Sa’di mengabarkan kepadaku, bahwa mereka bertanya: “Ya Rasulallah, bagaimana kami bershalawat kepadamu?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah: AllaaHumma shalli ‘alaa muhammadin wa azwaahiHi wa dzurriyyatiHi kamaa shlallaita ‘alaa ibraaHiima, wa baarik ‘alaa muhammadin wa azwaajiHi wa dzurriyyatiHi kamaa baarakta ‘alaa aali ibraaHiima, innaka hamiidum majiid (“Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau bershalawat kepada Ibrahim. Dan berikanlah keberkahan kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahapemurah.” (ditakhrij oleh Jama’ah lain selain at-Tirmidzi dari hadits malik)

Hadits lain, Muslim meriwayatkan bahwa Mas’ud al-Anshari berkata: Rasulullah saw. mendatangi kami di saat kami berada di majelis Sa’ad bin ‘Ubadah. Lalu Basyir bin Sa’ad bertanya kepadanya: “Allah memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu, ya Rasulallah. Bagaimana kami bershalawat kepadamu?” Rasulullah saw. diam, hingga kami mengandaikan [untuk] tidak menanyakan hal tersebut. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Ucapkanlah oleh kalian: allaaHumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shallaita ‘alaa aali ibraaHiima, wa baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa aali ibraaHiima, fil ‘alaaminiina innaka hamiidun majiidun was salaamu kamaa qad ‘alimtum. (“Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berilah keberkahan kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahapermurah.”) sedangkan salam sebagaimana yang kalian ketahui.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Jarir dari hadits Malik, at-Tirmidzi berkata: “hasan shahih.” Dan diriwayatkan oleh asy-Syafi’i dalam musnadnya dari Abu Hurairah seperti itu)

Dari sinilah Imam Syafi’i berpendapat tentang wajibnya bagi orang yang shalat untuk bershalawat kepada Rasulullah saw. pada tasyahud akhir. Jika ditinggalkan, tidak sah shalatnya. Sebagaimana kaum mutaakhirin Malikiyah dan lain-lain mencela Imam Syafi’i yang mensyaratkan hal tersebut di waktu shalat serta menyangka bahwa beliau berpendapat menyendiri dalam hal ini. Sedangkan mengenai ijma’ yang berbeda dengan pendapat tesebut diceritakan oleh Abu Ja’far ath-Thabari, ath-Thahawi, al-Khaththabi dan lain-lain sesuai yang dinukilkan oleh al-Qadli ‘Iyadh dari mereka. Orang yang berpendapat seperti ini sangat berlebihan dalam membantah pendapat Imam Syafi’i dan memaksakan dalam pengakuan adanya ijma’ dalam masalah tersebut serta mengatakan sesuatu yang belum dimengerti ilmunya.

Bersambung ke bagian 31

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (29)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Perkara hijab yang Aku perintahkan dan syariatkan kepada kalian ini adalah lebih suci dan lebih baik. Firman Allah: wa maa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallaaHi walaa an tankihuu azwaajaHuu mim ba’diHii abadan inna dzaalikum kaana ‘indallaaHi ‘adhiiman (“Dan tidak boleh kamu menyakiti [hati] Rasulullah dan tidak [pula] mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah dia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar [dosanya] di sisi Allah.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata tentang firman Allah: wamaa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallaaH (“Dan tidak boleh kamu menyakiti [hati] Rasulullah.”) ayat ini turun pada seorang laki-laki yang bertekad mengawini istri Rasulullah saw. setelah beliau wafat. Seorang laki-laki berkata kepada Sufyan: “Apakah dia ‘Aisyah?” demikian pula yang dikatakan oleh Muqatil ibn Hayyan dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Inna dzaalikum ‘inndallaaHi ‘adhiiman (“Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar [dosanya] di sisi Allah.”

Firman Allah: in tubduu syai-an au tukhfuuHu fa innallaaHa kaana bikulli syai-in ‘aliiman (“Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah adalah Mahamengetahui segala sesuatu.”) bagaimanapun yang disembunyikan oleh hati-hati kalian dan dipendam oleh rahasia-rahasia kalian, sesungguhnya Allah mengetahuinya, karena tidak satupun yang tersembunyi dari-Nya.
Ya’lamu khaa-inatal a’yuni wamaa tukhfish shuduur (“Allah mengetahui [pandangan] mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”)(al-Mu’min: 19)

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 55“55. tidak ada dosa atas isteri-isteri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” (al-Ahzaab: 55)

Ketika Allah memerintahkan istri-istri beliau untuk berhijab dari laki-laki asing, Allah menjelaskan bahwa tidak wajib berhijab terhadap kerabat-kerabat mereka, sebagaimana orang-orang yang dikecualikan-Nya di dalam surah an-Nuur. Sebagian ulama salaf bertanya: “Mengapa Allah tidak menyebut ‘amm [saudara ayah] dan khal [saudara ibu] dalam dua ayat ini?” ‘Ikrimah dan asy-Sya’bi menjawab: “Keduanya tidak disebutkan, karena keduanya digolongkan pada hubungan anak.”

Ibnu Jarir berkata dari asy-Sya’bi dan ‘Ikrimah tentang firman-Nya: laa junaaha ‘alaiHinna fii aabaa-iHinna (“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi [untuk berjumpa tanpa tabir] dengan bapak-bapak mereka.”) aku bertanya: “Mengapa ‘amm dan khal tidak disebutkan?” Beliau menjawab: “Karena keduanya disifatkan pada anak-anak keduanya.” dimakruhkan wanita mengulurkan khimarnya terhadap khal dan ‘amm-nya.

Firman Allah: wa laa nisaa-iHinna (“perempuan-perempuan yang beriman.”) yaitu dengan demikian tidak diwajibkan berhijab terhadap wanita-wanita Mukminah. Firman Allah: wamaa maa malakat aimaanuHunna (“Dan hamba-hamba sahaya yang mereka miliki.”) yaitu, budak laki-laki dan wanita, sebagaimana yang telah diisyaratkan. Sa’id bin al-Musayyab berkata: “Yang dimaksud hanyalah budak-budak wanita saja.” (HR Ibnu Abi Hatim).

Firman Allah: wattaqiinallaaHa innallaaHa kaana ‘alaa kulli syai-in syaHiidan (“dan bertakwalah kamu [hai istri-istri Nabi] kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu.” Tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya, maka hendaklah diawasi oleh Rabb Mahapengawas.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 56“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanyya.” (al-Ahzaab: 56)

Al-Bukhari meriwayatkan, Abul ‘Aliyah berkata: “Shalawat Allah swt. adalah pujian-Nya kepada Nabi di sisi para malaikat. Sedangkan shalawat para malaikat adalah doa.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Malaikat bershalawat, mereka meminta barakah.” Demikian yang dita’liq oleh al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas.
Bukan hanya satu ulama yang berkata: “Shalawat Rabb adalah rahmat dan shalawat malaikat adalah istighfar.”

Yang dimaksud dari ayat ini adalah, bahwa Allah swt. mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba dan Nabi-Nya di sisi-Nya di alam tinggi. Yaitu Allah memujinya di sisi para malaikat muqarrabin, dan para malaikat pun bershalawat kepadanya. Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan penduduk alam bawah [bumi] untuk mengucapkan shalawat dan salam kepadanya, agar menyatu antara pujian penghuni alam atas dan alam bawah seluruhnya.

Sesungguhnya Allah mengabarkan bahwa Dia bershalawat kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di dalam firman-Nya:
“41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. 42. dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. 43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzaab: 41-43)

Di dalam suatu hadits: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff bagian kanan.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah. Didlaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dla’iiful Jaami’ [1668], ia berkata: “Lafadz yang kuat yaitu…. atas orang-orang yang shalat di shaff-shaff].)

Bersambung ke bagian 30