Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (14)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Ibnu ‘Abbas ra. berkata: “Yaitu nuyuz [pembangkangan kepada suami] dan buruk akhlak. Atas dasar apapun dia adalah suatu syarat. Dan suatu syarat tidak harus terjadi, seperti firman Allah: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada [para Nabi sebelummu]: ‘Jika kamu mempersekutukan [Allah], niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (az-Zumar: 65)

Ketika kedudukan mereka itu tinggi, maka sesuai sekali dosa untuk mereka amat berat jika terjatuh dalam kemaksiyatan dalam rangka menjaga kehormatan dan hijab mereka yang mulia. Untuk itu Allah berfirman: may ya’ti minkunna bifaahisyatim mubayyinatiy yudlaa’aflaHal ‘adzaabu dli’faini (“Siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat.”)

Malik berkata, dari Zaid bin Aslam: “yudlaa’aflaHal ‘adzaabu dli’faini (“niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat.”) di dunia dan di akhirat.” Pendapat senada diriwayatkan dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid.
Wa kaana dzaalika ‘alallaaHi yasiiran (“Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.”) yaitu mudah dan ringan. Kemudian Allah menyebutkan keadilan dan keutamaannya dalam firman-Nya: wa may yaqnut minkunnallaaHi wa rasuuliHi (“Dan barangsiapa di antara kamu sekalian [istri-istri Nabi] tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya.”) yaitu mentaati dan memperkenankan Allah dan Rasul-Nya.
Wa ta’mal shaalihan, nu’tiHaa ajraHaa ajraHaa marrataini wa a’tadnaa laHaa rizqan kariiman (“Dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rizky yang mulia.”) yaitu di dalam surga.

Karena mereka berada dalam kedudukan Rasulullah saw. di tempat yang amat tinggi di atas kedudukan seluruh makhluk pada maqam al-Wasilah yaitu tempat surga yang lebih dekat kepada ‘Arsy.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 32-34“32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik, 33. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. 34. dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui.” (al-Ahzab: 32-34)

Ini merupakan adab yang diperintahkan Allah swt. kepada para istri Nabi saw. serta istri umatnya yang mengikuti mereka. Allah Ta’ala berfirman berfirman berdialoq dengan istri-istri Nabi saw. bahkan jika mereka bertakwa kepada Allah swt. sebagaimana yang Allah perintahkan kepada mereka, maka mereka tidak sama dengan wanita lainnya dan tidak seimbang dalam keutamaan dan kedudukannya.

Firman Allah: falaa takhdla’na bilqauli (“Maka janganlah kamu tunduk dalam bicara.”) as-Suddi dan selainnya berkata: “Yang dimaksud adalah melembutkan kata-kata jika mereka berbicara dengan laki-laki. Untuk itu Allah berfirman: fayathma’al ladzii fi qalbiHii maradlun (“Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya.”) yaitu niat busuk. Faqulna qaulam ma’ruufan (“Dan ucapkanlah perkataan yang baik.”) Ibnu Zaid berkata: “Kata-kata yang baik, bagus dan ma’ruf dalam kebaikan. Makna hal ini adalah bahwa wanita berbicara kepada kaum pria dengan kata-kata yang tidak mengandung kelembutan. Artinya, janganlah seorang wanita berbicara dengan kaum pria seperti berbicara kepada suaminya.”

Firman Allah: wa qarna fii buyutikunna (“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.”) yaitu istiqamahlah di rumah-rumah kalian dan janganlah keluar tanpa hajat. Di antara hajat-hajat syar’i adalah shalat di masjid dengan syaratnya, serperti sabda Rasulullah saw.: “Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah wanita menuju masjid-masjid Allah dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.”
Dalam suatu riwayat: “Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (tercantum dalam Sunan Abi Dawud dan Musnad al-Imam Ahmad)

Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya yang lalu, serta Abu Dawud, bahwa Nabi saw. bersabda: “Shalat seorang wanita di dalam kamarnya adalah lebih baik daripada shalatnya di rumahnya. Dan shalatnya di rumahnya adalah lebih baik daripada shalatnya di luar rumanya.” (Isnad hadits ini jayyid)

Firman Allah: walaa tabarrajna tabarrujal jaaHiliyyatil uulaa (“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang terdahulu.”) Mujahid berkata: “Dahulu wanita keluar berjalan di antara laki-laki dan itulah tabarruj jahiliyyah.” Qatadah berkata: “walaa tabarrajna tabarrujal jaaHiliyyatil uulaa (“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang terdahulu.”) jika kalian keluar dari rumah-rumah kalian. Dahulu mereka bersikap lenggak-lenggok, manja dan bertingkah. Lalu Allah Ta’ala melarang hal tersebut.”

Muqatil bin Hayyan berkata: “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu.” Tabarruj adalah meletakkan kerudung di kepala dan tidak diikatnya, sehingga terlihat kalung, anting dan lehernya dan semua itu begitu tampak. Itulah tabarruj yang kemudian wanita-wanita kaum Muslimin merata dalam melakukannya.”

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas ra. berkata ketika dia membaca ayat ini: walaa tabarrajna tabarrujal jaaHiliyyatil uulaa (“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang terdahulu.”) dahulu di masa antara Nabi Nuh dan Idris as. yaitu 1000 tahun. Sesungguhnya keturunan anak Adam ada yang tinggal di daerah pantai dan ada juga yang tinggal di daerah pegunungan. Laki-laki gunung itu tampan dan wanitanya jelek. Sedangkan wanita pantai cantik-cantik dan lakinya jelek. Sesungguhnya iblis –laknatullah- mendatangi seorang laki-laki dalam bentuk seorang laki-laki yang bersedia menjadi pembantu laki-laki itu. Lalu iblis membuat sesuatu seperti seruling anak gembala yang mengeluarkan suara yang belum pernah didengar oleh manusia sebelumnya. Suara itu akhirnya terdengar oleh orang-orang sekitarnya yang menjadikan mereka sedang mendengarnya. Kemudian mereka membuat satu hari raya [setiap] satu tahun saat mereka berkumpul, dimana para wanita berdandan untuk kaum laki-laki. Dan laki-laki pun berhias untuk kaum wanita.
Sedangkan laki-laki gunung itu mendatangi mereka [penduduk pantai] di saat hari raya itu, lalu ia melihat wanita-wanita dan teman-temannya. Kemudian mengabarkan kepada teman-temannya tentang wanita-wanita tersebut, lalu mereka turun [ke pantai] sehingga terjadilah perzinahan busuk. Itulah firman Allah: walaa tabarrajna tabarrujal jaaHiliyyatil uulaa (“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang terdahulu.”)

Bersambung ke bagian 15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: