Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (21)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Firman Allah: maa kaana muhammadun abaa ahadim mir rijaalikum (“Muhammad itu sekali-sekali bukanlah bapak dari seseorang laki-laki di antara kamu.”) beliau dilarang setelah ini menyebut Zaid bin Muhammad, yaitu dia bukanlah bapaknya, sekalipun dia mengangkatnya sebagai anak. Karena tidak ada anak laki-laki Nabi saw. yang hidup hingga dewasa. Nabi saw. memiliki anak laki-laki yaitu Qasim, Thayyib dan Thahir dari Khadijah ra. dan mereka meninggal ketika kecil. Beliau juga mendapatkan anak laki-laki dari Mariyatul Qibthiyyah, yaitu Ibrahim yang meninggal pada saat masih menyusu. Sedangkan pada Khadijah, beliau memiliki 4 anak wanita: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathimah ra. Tiga putrinya meninggal ketika beliau masih hidup. Sedangkan Fathimah wafat lebih akhir, yaitu setelah enam bulan Nabi saw. wafat.

Firman Allah: walaakir rasuulallaaHi wa khaataman nabiyyiina wa kaanallaaHu bikulli syai-in ‘aliiman (“Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”)

Seperti firman Allah: AllaaHu a’lamu haitsu yaj’alu risaalataHu (“Allah lebih mengetahui dimana Allah menempatkan tugas kerasulan.”)(al-An’am: 124). Ayat ini menetapkan bahwa tidak ada Nabi setelah beliau. Dan jika tidak ada Nabi sesudahnya, maka demikian pula tidak ada Rasul sesudahnya. Karena Nabi san setiap Nabi belum tentu Rasul.

Dalam masalah ini telah terdapat hadits mutawatir dari Rasulullah yang berasal dari sejumlah shahabat. Abu Dawud ath-Thayalisi meriwayatkan, bahwa Jabir bin ‘Abdullah ra. berkata, Rasulullah bersabda: “Perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi adalah seperti seorang laki-laki yang membangun satu buah rumah, lalu dia sempurnakan dan memperindahnya, kecuali satu bagian batanya. Setiap orang yang memasukinya akan memandang dan berkata: ‘Alangkah indahnya kecuali satu tempat bagian bata ini. Akulah satu bata tersebut.’ Para Nabi ditutup olehku.” (“al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi berkata: “Shahih gharib dari jalan ini.”)

Hadits lain, Imam Ahmad meriwayatkan, Yunus bin Muhammad bercerita kepada kami, dari Hammad bin Zaid bahwa ‘Utsman bin ‘Ubaid ar-Rasbi berkata: Aku mendengar Abu ath-Thufail berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada nabi setelahku kecuali penyampai kabar gembira. Beliau ditanya: ‘Apa penyampai berita gembira itu, ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Mimpi yang baik.”

Hadits lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Aku diberi kelebihan di atas para Nabi yang lain dengan 6 hal; aku diberi kalimat lengkap, aku ditolong dengan memberi rasa gentar [kepada musuh], dihalalkan bagiku harta rampasan perang, dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan alat bersuci, aku diutus kepada seluruh makhluk dan para Nabi ditutup olehku.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Isma’il bin Ja’far. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih”)

Hadits lain, az-Zuhri berkata, Muhammad bin Jubair bin Muth’im mengabarkanku, bahwa ayahnya berkata: aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku memiliki nama, aku Muhammad, Ahmad, al-Mahiy dimana Allah Ta’ala menghapus kekufuran denganku, aku Hasyir dimana manusia digiring di bawah jejak kakiku. Dan aku adalah al-‘Agib yang tidak ada Nabi setelahnya.” (ditakhrij dalam ash-Shahihain)
Hadits-hadits lain dalam masalah ini cukup banyak.

Di antara rahmat Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah diutusnya Muhammad saw. kepada mereka. Kemudian di antara penghormatan-Nya kepada mereka, Dia menutup para Nabi dan Rasul dengan beliau serta menyempurnakan agama-Nya yang hanif.

Allah mengabarkan di dalam Kitab-Nya dan dalam sunnah mutawatir, bahwa tidak ada nabi setelah beliau, agar mereka mengetahui bahwa setiap orang yang mengaku menduduki kedudukan ini setelahnya maka ia adalah pendusta, Dajjal yang sesat dan menyesatkan, meskipun dia begitu hebat dan aneh dengan berbagai bentuk sihir, jimat dan ilmu ghaib. Seluruhnya adalah mustahil dan sesat menurut orang-orang yang berakal, sebagaimana Allah memperlihatkan hal tersebut di tangan al-Aswad al ‘Ansy di Yaman dan Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah dengan berbagai bentuk kerusakan dan perkataan yang tidak berarti. Setiap orang yang memiliki pemikiran, pemahaman dan bukti pasti mengetahui bahwa keduanya adalah pendusta yang sesat –semoga Allah melaknat keduanya-.

Demikian pula orang yang mengaku hal tersebut hingga hari kiamat, sampai mereka ditutup dengan al-Masih ad Dajjal. Setiap seorang dari para pendusta itu diciptakan oleh Allah dengan bukti yang dapat dilihat oleh para ulama dan orang-orang yang beriman sebagai bukti kedustaannya. Dan di antara kesempurnaan kasih sayang Allah Ta’ala kepada para makhluk-Nya, secara pasti mereka tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kecuali secara kebetulan atau karena memiliki tujuan lain. Hal itu adalah kedustaan dan kedhaliman yang paling besar dalam perkataan dan perbuatan mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa.” (asy-Syu’araa’: 221-222)

Hal ini berbeda dengan kondisi para Nabi, karena mereka adalah orang yang sangat jujur, berbakti, benar, istiqamah dan adil pada apa yang mereka ucapkan dan kerjakan, perintah dan larangan mereka disertai dengan berbagai mukjizat serta dalil-dalil yang jelas dan bukti-bukti yang nyata. Maka shalawat dan salam Allah kepada mereka akan terus-menerus selama adanya bumi dan langit.

Bersambung ke bagian 22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: