Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (25)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 50“50. Hai Nabi, Sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang Termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzaab: 50)

Allah Ta’ala berfirman mengajak Nabi-Nya saw. untuk berdialog, dimana Allah telah menghalalkan baginya di antara wanita-wanita itu untuk menjadi istri-istrinya yang telah diberikan maharnya kepada mereka yang di dalam ayat ini menggunakan kata ujur [upah], sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid dan lain-lain. Mahar untuk istri-istri beliau adalah duabelas setengah uqiyah yang seluruhnya menjadi limaratus dirham, kecuali Ummu Habibah binti Abu Sufyan yang diberi mahar oleh raja Najasy sebesar 400 dinar. Serta dikecualikan pula Shafiyyah binti Huyay yang dipilih oleh beliau dari tawanan perang Khaibar yang kemudian dimerdekakan dan kemerdekaannya itulah yang menjadi maharnya. Begitu pula Juwairiyyah Binti al-Harits al-Mushthaliqiyyah yang ditebus oleh beliau pembayarannya dari Tsabit bin Qais bin Syammas yang kemudian beliau memilikinya. Semoga Allah meridlai mereka semua.

Firman Allah: wa maa malakat yamiinuka mimmaa afaa allaaHu ‘alaika (“Dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu.”) yaitu Allah halalkan bagimu sesuatu yang kau ambil dari harta rampasan perang. Beliau memiliki Shafiyyah dan Juwairiyyah dari rampasan tersebut, lalu beliau memerdekakan dan menikahi keduanya. beliau memiliki Raihanah binti Syam’un an-Nadlariyyah, serta Mariyatul Qibthiyyah ibu Ibrahim anak beliau, yang keduanya adalah tawanan.

Firman Allah: wa banaati ‘ammika wa banaati ‘ammaati khaalika wa banaati khaalaatika (“Dan [demikian pula] anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.”) ini merupakan keadilan, pertengahan antara sangat lebih dan sangat kurang.

Orang-orang Nasrani tidak akan menikahi seorang wanita kecuali jika hubungan antara laki-laki dan wanita tersebut berada pada jenjang tujuh keturunan atau di atasnya. Sedangkan orang-orang Yahudi dapat nikah dengan anak perempuan dari saudara laki-lakinya dan anak perempuan dari saudara perempuannya. Lalu datanglah syariat yang sempurna dan suci ini menghapuskan kekurangan orang-orang Nasrani dengan bolehnya menikahi anak-anak perempuan dari paman dan anak-anak perempuan dari bibi. Serta mengharamkan pendapat Yahudi yang terlalu ekstrim yang membolehkan kawin dengan anak perempuan dari saudara laki-lakinya dan anak-anak perempuan dari saudara perempuannya dan ini merupakan keburukan yang amat keji.

Firman Allah: wa banaati ‘ammika wa banaati ‘ammaati khaalika wa banaati khaalaatika (“Dan [demikian pula] anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.”) Allah menunggalkan lafadz laki-laki karena kemuliaannya serta terjamakkan wanita karena kekurangannya, seperti firman Allah: yukhrijuHum minadh dhulumaati ilannuur (“Yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (al-Baqarah: 257) waja’aladh dhulumaati wan nuur (“Dan mengadakan gelap dan terang.”)(al-An’aam: 1)

Abu Razin dan Qatadah berkata, bahwa yang dimaksud adalah orang yang berhijrah bersama beliau ke kota Madinah. Di dalam satu riwayat dari Qatadah, allaatii Haajarna ma’aka (“Yang turun hijrah bersamamu.”) yaitu yang masuk Islam.
Firman Allah: wamra-atam mu’minatan iw waHabat nafsaHaa linnabiyyi in araadan nabiyyu ay yastankihaHaa khaalishatan (“Dan perempuan Mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau menikahinya, sebagai pengkhususan bagimu.”) yaitu dihalalkan bagimu hai Nabi, wanita Mukminah yang menyerahkan dirinya kepadamu, jika engkau bermaksud menikahinya tanpa mahar. Ayat ini diiringi oleh dua syarat di dalamnya, seperti perkataan Musa as.: “Berkata Musa: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.’” (Yunus: 84)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Ishaq bercerita kepada kami, bahwa Malik mengabarkan kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi, bahwa Rasulullah saw. didatangi seorang wanita yang berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku menyerahkan diriku kepadamu.” Dia berdiri amat lama lalu seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulallah, nikahkanlah aku dengannya jika engkau tidak butuh.” Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk maharnya?” laki-laki itu menjawab: “Aku tidak memiliki apa-apa kecuali kainku ini.” Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Jika engkau berikan kainmu itu, niscaya engkau duduk tanpa kain. Carilah sesuatu yang lain.” Laki-laki itu menjawab: “Tidak ada lagi.” Rasul pun berkata: “Carilah sekalipun cincin yang terbuat dari besi.” Lalu dia mencarinya, akan tetapi dia tidak menemukan apa-apa. Lalu Nabi saw. bertanya: “Apakah engkau memiliki hafalan al-Qur’an?” laki-laki itu menjawab: “Ya, surah ini dan surah itu.” Dengan menyebut beberapa surah. Maka Nabi saw. bersabda: “Aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar hafalan al-Qur’anmu.” (ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Malik)

Al-Bukhari meriwayatkan, bahwa Zakariya bin Yahya bercerita kepada kami, bahwa ‘Aisyah berkata: “Dahulu aku cemburu dengan wanita-wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabi saw. dan aku berkata: ‘Apakah wanita itu menyerahkan dirinya?’ lalu ketika Allah menurunkan: turjii man tasyaa-u minHunna wa tu’wii ilaika man tasyaa-u wa manibtaghaita mimman ‘azalta falaa junaaha ‘alaika (“Kamu boleh menangguhkan [menggauli] siapa yang kamu kehendaki di antara mereka [istri-istrimu] dan [boleh pula] menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, karena tidak ada dosa bagimu.”) aku berkata: ‘Aku tidak melihat Rabb-mu kecuali begitu menyambut keinginanmu.’”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas: “Rasulullah saw. tidak memiliki istri dari wanita yang menyerahkan dirinya kepada beliau.” (HR Ibnu Jarir)
Itu artinya, beliau tidak menerima seorang wanitapun yang menyerahkan dirinya kepada beliau. Dan hal itu dibolehkan dan dikhususkan untuknya, karena semuanya dikembalikan kepada kehendaknya. Sebagaimana Allah berfirman: in araadan nabiyyu ay yastankihaHaa (“Jika Nabi mau menikahinya.”) yaitu jika engkau memilihnya.

Bersambung ke bagian 26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: