Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (28)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Al-Bukhari meriwayatkan, bahwa Anas bin Malik ra. berkata: “Ketika Rasulullah saw. menikahi Zainab binti Jahsy, beliau mengundang shahabatnya makan-makan. Setelah selesai makan, mereka pun duduk berbincang-bincang, sehingga Rasulullah saw. siap akan berdiri, tetapi mereka tidak juga ikut berdiri. Tatkala beliau melihat seperti itu, Rasulullah pun berdiri, dan diikuti oleh sebagian yang hadir, tetapi tiga orang lainnya masih bercakap-cakap. Lalu Nabi berkehendak untuk masuk [kamar] sedangkan orang-orang itu masih tetap duduk, lalu merekapun berdiri dan pergi. Maka aku mengabarkan kepada Nabi bahwa mereka telah pergi [pulang]. Maka datanglah Nabi sampai beliau masuk kembali. Aku pun masuk, dan Rasulullah memasang hijab antara aku dan beliau.

Berkenaan dengan peristiwa itu maka turunlah ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah Amat besar (dosanya) di sisi Allah.” Beliau meriwayatkan pula di tempat yang lain. Demikian pula Muslim dan an-Nasa’i meriwayatkan dari beberapa jalan dari Mu’amir bin Sulaiman.

Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa ‘Aisyah ra. berkata: “Saudah keluar rumah untuk suatu keperluan setelah turunnya ayat hijab. Ia seorang wanita yang badannya tinggi sehingga mudah dikenal orang. Pada waktu itu, ‘Umar melihatnya dan ia berkata: “Hai Saudah, demi Allah, bagaimanapun kami akan dapat mengenalmu. Karenanya cobalah pikir, mengapa engkau keluar?” dengan tergesa-gesa ia pulang dan di saat itu Rasulullah saw. berada di rumahku sedang makan malam. Ketika masuk ia berkata: “Ya Rasulallah, aku keluar untuk suatu keperluan dan ‘Umar menegurku begini dan begitu.” ‘Aisyah berkata: “Lalu Allah menurunkan wahyu kepada beliau di saat susu masih berada di tangannya. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: “Sesungguhnya Allah telah mengizinkan engkau keluar rumah untuk suatu keperluan.” (lafadz al-Bukhari)

Firman Allah: laa tadkhuluu buyuutan nabiyyi (“Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi.”) mengharamkan kaum Mukminin untuk masuk ke rumah Rasulullah saw. tanpa izin, sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di masa jahiliyyah dan di saat permulaan Islam. Sehingga Allah swt. merasa cemburu dengan umat ini dengan memerintahkan mereka untuk melakukan hal tersebut. Masalah ini merupakan pemuliaan Allah Ta’ala kepada umat ini. Untuk itu Rasulullah saw. bersabda: “Jauhkanlah [perbuatan] memasuki tempat kaum wanita.”

Kemudian Allah mengecualikan dari masalah tersebut. Allah berfirman: illaa ay yu’dzanalakum ilaa tha’aamin ghaira naadhiriina inaaHu (“kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak [makanannya].”) Mujahid, Qatadah dan selain keduanya berkata: “Yaitu tidak mengharap kematangan dan waktu siapnya.”

Itu berarti janganlah kalian mengawasi makanan, jika telah dimasak, hingga saat mendekati kesiapannya, kalianpun siap untuk masuk. Karena masalah ini termasuk sesuatu yang dibenci dan dicela oleh Allah swt. Ayat ini menjadi dalil tentang haramnya tathfiil [menghadiri walimah tanpa diundang] yang dikenal oleh bangsa Arab dengan adh-Dhaifan. Al-Khatib al-Baghdadi menyusun satu kitab tentang masalah tersebut dalam mencela kaum thufaili serta menceritakan kisah mereka secara panjang lebar.

Firman Allah: walaakin idzaa du’iitum fadkhuluu fa idzaa tha’imtum fantasyiruu (“Tetapi jika kamu diundang, maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu.”) di dalam Shahih Muslim, dari Ibnu ‘Umar ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang kalian mengundang saudaranya, maka hendaklah ia memperkenankannya, baik walimah perkawinan ataupun yang sepertinya.” Asal hadits ini berasal dari ash-Shahihain.

Di dalam haidts shahih pula, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya aku diundang dalam satu jamuan, niscaya aku akan memperkenankannya. Seandainya aku dihadiahi sayur pun, niscaya aku akan menerima. Lalu jika kalian telah menyelesaikan undangan tersebut, maka ringankanlah pemilik rumah dan keluarlah.”

Firman Allah: wa laa musta’nisiina lihadiits (“tanpa asyik memperpanjang percakapan.”) yaitu sebagaimana yang terjadi pada tiga orang yang terus saja berbincang-bincang dan lupa diri, sehingga membuat gundah Rasulullah saw. sebagaimana firman Allah: inna dzaalikum kaana yu’dzin nabiyyi fayastahyii mingkum (“Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepada dirimu.”) satu pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud adalah masuknya kalian ke rumah beliau tanpa izinnya membuat gundah dan mengganggu beliau. Akan tetapi beliau enggan melarang mereka karena rasa malu beliau yang tinggi, sehingga Allah swt. menurunkan larangan tersebut. Untuk itu Allah berfirman: wallaaHu laa yastahyii minal haqqi (“Dan Allah tidak malu [menerangkan] yang benar.”) untuk itu Allah melarang dan mengancam kalian.

Firman Allah: wa idzaa sa-altumuuHunna mataa’an fas-aluuHunna miw waraa-i hijaab (“Apabila kamu meminta sesuatu [keperluan] kepada mereka [istri-istri Nabi], maka mintalah dari belakang tabir.”) yaitu sebagaimana Aku melarang kalian masuk terhadap mereka [istri-istri Nabi], demikian pula janganlah kalian memandang mereka secara menyeluruh. Seandainya seseorang memiliki hajat terhadap mereka, maka janganlah dia memandang mereka dan tidak meminta hajatnya kecuali dari belakang tabir. Dzaalikum athHaru liquluubikum wa quluubiHinna (“Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”)

Bersambung ke bagian 29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: