Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (29)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Perkara hijab yang Aku perintahkan dan syariatkan kepada kalian ini adalah lebih suci dan lebih baik. Firman Allah: wa maa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallaaHi walaa an tankihuu azwaajaHuu mim ba’diHii abadan inna dzaalikum kaana ‘indallaaHi ‘adhiiman (“Dan tidak boleh kamu menyakiti [hati] Rasulullah dan tidak [pula] mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah dia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar [dosanya] di sisi Allah.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata tentang firman Allah: wamaa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallaaH (“Dan tidak boleh kamu menyakiti [hati] Rasulullah.”) ayat ini turun pada seorang laki-laki yang bertekad mengawini istri Rasulullah saw. setelah beliau wafat. Seorang laki-laki berkata kepada Sufyan: “Apakah dia ‘Aisyah?” demikian pula yang dikatakan oleh Muqatil ibn Hayyan dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Inna dzaalikum ‘inndallaaHi ‘adhiiman (“Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar [dosanya] di sisi Allah.”

Firman Allah: in tubduu syai-an au tukhfuuHu fa innallaaHa kaana bikulli syai-in ‘aliiman (“Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah adalah Mahamengetahui segala sesuatu.”) bagaimanapun yang disembunyikan oleh hati-hati kalian dan dipendam oleh rahasia-rahasia kalian, sesungguhnya Allah mengetahuinya, karena tidak satupun yang tersembunyi dari-Nya.
Ya’lamu khaa-inatal a’yuni wamaa tukhfish shuduur (“Allah mengetahui [pandangan] mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”)(al-Mu’min: 19)

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 55“55. tidak ada dosa atas isteri-isteri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” (al-Ahzaab: 55)

Ketika Allah memerintahkan istri-istri beliau untuk berhijab dari laki-laki asing, Allah menjelaskan bahwa tidak wajib berhijab terhadap kerabat-kerabat mereka, sebagaimana orang-orang yang dikecualikan-Nya di dalam surah an-Nuur. Sebagian ulama salaf bertanya: “Mengapa Allah tidak menyebut ‘amm [saudara ayah] dan khal [saudara ibu] dalam dua ayat ini?” ‘Ikrimah dan asy-Sya’bi menjawab: “Keduanya tidak disebutkan, karena keduanya digolongkan pada hubungan anak.”

Ibnu Jarir berkata dari asy-Sya’bi dan ‘Ikrimah tentang firman-Nya: laa junaaha ‘alaiHinna fii aabaa-iHinna (“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi [untuk berjumpa tanpa tabir] dengan bapak-bapak mereka.”) aku bertanya: “Mengapa ‘amm dan khal tidak disebutkan?” Beliau menjawab: “Karena keduanya disifatkan pada anak-anak keduanya.” dimakruhkan wanita mengulurkan khimarnya terhadap khal dan ‘amm-nya.

Firman Allah: wa laa nisaa-iHinna (“perempuan-perempuan yang beriman.”) yaitu dengan demikian tidak diwajibkan berhijab terhadap wanita-wanita Mukminah. Firman Allah: wamaa maa malakat aimaanuHunna (“Dan hamba-hamba sahaya yang mereka miliki.”) yaitu, budak laki-laki dan wanita, sebagaimana yang telah diisyaratkan. Sa’id bin al-Musayyab berkata: “Yang dimaksud hanyalah budak-budak wanita saja.” (HR Ibnu Abi Hatim).

Firman Allah: wattaqiinallaaHa innallaaHa kaana ‘alaa kulli syai-in syaHiidan (“dan bertakwalah kamu [hai istri-istri Nabi] kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu.” Tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya, maka hendaklah diawasi oleh Rabb Mahapengawas.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 56“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanyya.” (al-Ahzaab: 56)

Al-Bukhari meriwayatkan, Abul ‘Aliyah berkata: “Shalawat Allah swt. adalah pujian-Nya kepada Nabi di sisi para malaikat. Sedangkan shalawat para malaikat adalah doa.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Malaikat bershalawat, mereka meminta barakah.” Demikian yang dita’liq oleh al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas.
Bukan hanya satu ulama yang berkata: “Shalawat Rabb adalah rahmat dan shalawat malaikat adalah istighfar.”

Yang dimaksud dari ayat ini adalah, bahwa Allah swt. mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba dan Nabi-Nya di sisi-Nya di alam tinggi. Yaitu Allah memujinya di sisi para malaikat muqarrabin, dan para malaikat pun bershalawat kepadanya. Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan penduduk alam bawah [bumi] untuk mengucapkan shalawat dan salam kepadanya, agar menyatu antara pujian penghuni alam atas dan alam bawah seluruhnya.

Sesungguhnya Allah mengabarkan bahwa Dia bershalawat kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di dalam firman-Nya:
“41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. 42. dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. 43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzaab: 41-43)

Di dalam suatu hadits: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff bagian kanan.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah. Didlaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dla’iiful Jaami’ [1668], ia berkata: “Lafadz yang kuat yaitu…. atas orang-orang yang shalat di shaff-shaff].)

Bersambung ke bagian 30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: