Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (7)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Adapun orang munafik, maka tampak kemunafikannya. Sedangkan orang yang di dalam hatinya terdapat syubhat atau dengki, maka menjadi lemah kondisinya, lalu dia menarik nafas kecewa karena was-was yang ada di dalam jiwanya dikarenakan lemahnya iman dan dahsyatnya kondisi mereka yang sangat picik. Sedangkan kaum lain berkata, sebagaimana firman Allah: wa idz qaalat thaa-ifatum minHum yaa aHla yats-riba (“Dan [ingatlah] ketika segolongan di antara mereka berkata: ‘Hai penduduk Yatsrib.’”) yaitu penduduk Madinah, sebagaimana yang datang keterangannya di dalam hadits shahih:
“Aku bermimpi di waktu tidur melihat negeri tempat kalian berhijrah, yaitu sebuah negeri di antara dua kampung. Lalu hilanglah kekagetanku bahwa itu adalah kota Hajar, akan tetapi itu adalah kota Yatsrib.” Di dalam satu lafazh, yaitu kota Madinah.

Firman-Nya: laa muqaama lakum (“Tidak ada tempat bagimu.”) yakni disana. Yang mereka maksudkan, bersama Nabi saw. dalam ikatakan menghadapi musuh [di sekitar Khandaq]. Farji-‘uu (“Maka kembalilah kamu.”) ke rumah-rumah dan tempat-tempat tinggal kalian. Wa yasta’dzinu fariiqum minHumun nabiyya (“Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi.”)
Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Mereka yang meminta izin adalah bani Haritsah dan berkata: ‘Rumah-rumah kami dikhawatirkan dimasuki para pencuri.’”
Demikian yang dikatakan oleh banyak ulama. Ibnu Ishaq menceritakan bahwa yang berkata demikian adalah Aus bin Qaizhi. Yaitu, mereka meminta izin untuk kembali ke rumah-rumah mereka, karena rumah mereka aurat [tidak terjaga], yang artinya tidak ada pertahanan yang menghalanginya dari musuh mereka, sehingga mereka takut musuh-musuh itu menembusnya.
Allah berfirman: wa maa Hiya bi-‘auraH (“Dan rumah-rumah itu sekali-sekali tidak terbuka.”) yaitu, tidak sebagaimana yang mereka katakan. Iy yuriiduuna illaa firaaraa (“Mereka tidak lain hanyalah hendak lari.”) yaitu lari dari medan peperangan.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 14-17“14. kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. 15. dan Sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. dan adalah Perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. 16. Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”.17. Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (al-Ahzab: 14-17)

Allah mengabarkan tentang mereka yang: yaquuluuna inna buyuutanaa ‘auratuw wa maa Hiya bi-‘auratin, iy yuriiduuna illaa firaaraa (“Berkata: ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka [tidak ada penjaga].’ Dan rumah-rumah mereka itu sekali-sekali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.”) bahwa seandainya musuh-musuh mereka memasukinya dari berbagai sudut kota Madinah dan dari berbagai pelosok, kemudian musuh itu menuntut untuk masuk ke dalam kekufuran, niscaya mereka pun menjadi kafir dengan sangat cepat. Mereka sama sekali tidak menjaga keimanan serta tidak berpegang teguh dengannya, walaupun hanya dengan takut dan kaget yang ringan [sedikit] saja.
Demikian itu ditafsirkan oleh Qatadah, ‘Abdurrahman bin Zaid dan Ibnu Jarir. Ini merupakan celaan yang amat jelek bagi mereka.

Kemudian Allah berfirman mengingatkan mereka tentang peristiwa perjanjian yang mereka lakukan kepada Allah sebelum rasa takut itu ada, bahwa mereka tidak akan mundur dan tidak akan lari dari medan peperangan: wa kaana ‘aHdullaaHi mas-uulaa (“Dan adalah perjanjian dengan Allah akan dimintai pertanggungjawabannya.”) yaitu, sesungguhnya Allah akan mempertanyakan mereka tentang perjanjian tersebut.

Kemudian Allah mengabarkan kepada mereka bahwa pelarian mereka itu tidak membuat ajal mereka tertangguhkan, dan tidak juga memperpanjang umur mereka. Bahkan terkadang hal tersebut menjadi sebab disegerakannya hukuman bagi mereka. Untuk itu Allah berfirman: qul mataa-‘uddun-yaa qaliilu wal aakhiratu khairul limanit taqaa (“katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.” (an-Nisaa’: 77)

Kemudian allah berfirman: qul man dzalladzii ya’shimukum minallaaHi (“Katakanlah siapakah yang dapat melindungimu dari [takdir] Allah.”) yang dapat mencegah kalian. In araada bikum suu-an au araada bikum rahmataw walaa yajiduuna laHum min duunillaaHi waliyyaw wa laa nashiiran (“Jika Allah menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu. Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.”) yaitu tidak ada penolong dan tidak ada pelindung bagi mereka sendiri maupun bagi orang lain, melainkan hanya Allah swt.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 18-19“18. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang- halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara- saudaranya: “Marilah kepada kami”. dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. 19. mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu Lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. mereka itu tidak beriman, Maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Ahzab: 18-19)

Allah mengabarkan tentang ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Allah Ta’ala mengetahui orang-orang yang menghalangi orang lain untuk hadir dalam perang, serta orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara mereka, yaitu rekan-rekan, keluarga dan teman-teman mereka: Halumma ilainaa (“Marilah kepada kami.”) yaitu kepada apa yang kami lakukan, berteduh dari terik matahari dan menikmati buah-buahan.
Disamping itu, laa ya’tuunal ba’sa illaa qaliilan asyihhatan ‘alaikum (“Mereka tidak mendatangi peperangan melainkan hanya sebentar. Mereka bakhil terhadapmu.”) yaitu bakhil dalam kasih sayang terhadap kalian.
As-Suddi berkata: “Asyihhatan ‘alaikum (mereka bakhil terhadapmu), dalam masalah ghanimah [harta rampasan perang].”

Bersambung ke bagian 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: