Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ahzab (9)

20 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)
Surah Maddaniyyah; surah ke 33: 73 ayat

Untuk itu Allah berfirman: wa shaddaqallaaHu wa rasuuluHu (“Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya”) dan firman Allah: wa maa zaadaHum illaa iimaanaw wa tasliimaa (“Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”) ini adalah dalil bertambah dan menguatnya keimanan yang masuk kepada manusia dan kondisi mereka.
Sebagaimana jumhur para imam mengatakan, bahwa iman bertambah dan berkurang, hal ini sudah ditegaskan di awal syarh al-Bukhari. alhamdulillaH.

Wa maa zaadaHum (“Dan yang demikian itu tidaklah menambahkan kepada mereka.”) yaitu kondisi, kesempitan dan kesulitan itu. Illaa iimaanaa (“Kecuali iman.”) kepada Allah, wa tasliimaaa (“dan ketundukan”) yaitu, ketundukan kepada perintah-perintah-Nya dan taat kepada Rasul-Nya.

tulisan arab alquran surat al ahzab ayat 23-24“23. di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), 24. supaya Allah memberikan Balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 23-24)

Ketika Allah telah menyebutkan tentang orang-orang munafik yang tidak memenuhi perjanjian yang mereka janjikan kepada Allah bahwa mereka tidak akan mundur, maka Allah menggambarkan tentang orang-orang beriman yang selalu memenuhi perjanjian dan amanah yang dipercayakan kepada mereka. Dan:
Shadaquu maa ‘aaHadullaaHa ‘alaiHi fa minHum mang qadlaa nahbaHuu (“Yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.”) sebagian mereka berkata: “NahbaHu artinya ajalnya.” Al-Bukhari berkata: “NahbaHu artinya perjanjianya, yaitu ia kembali kepada yang pertama.”

Wa minHum may yantadhiru wa maa baddaluu tabdiilaa (“Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah [janjinya].”) yaitu mereka tidak merubah, tidak membatalkan dan tidak menggantikan perjanjian Allah.

Al-Bukhari meriwayatkan dari az-Zuhri, ia mengatakan: “Kharijah bin Zaid bin Tsabit bercerita kepadaku, bahwa ayahnya berkata: ketika kami telah menulis mush-haf, satu ayat dari surat al-Ahzaab yang pernah kami dengar dibaca oleh Rasulullah saw. terluput dari kami. Dan aku tidak menemukan ayat itu kecuali pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari yang persaksiannya dijadikan oleh Rasulullah saw. sama dengan persaksian dua orang.
Minal mu’miniina rijaalun shadaquu maa ‘aaHadullaaHa ‘alaiHi (“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.”) (HR Bukhari secara sendiri, tanpa Muslim dan juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dalam at-Tafsiir di sunannya dari hadits az-Zuhri, at-Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”)

Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Anas bin Malik mengatakan: “Kami berpendapat bahwa ayat ini turun pada Anas bin an-Nadhar: Minal mu’miniina rijaalun shadaquu maa ‘aaHadullaaHa ‘alaiHi fa minHum mang qadlaa nahbaHuu wa minHum may yantadhiru wa maa baddaluu tabdiilaa (“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah [janjinya].”)
(al-Bukhari meriwayatkan sendiri dari segi ini, akan tetapi dia memiliki penguat lain).

Imam Ahmad berkata dari Tsabit, bahwa Anas mengatakan: “Pamanku, Anas bin an-Nadhar tidak ikut serta bersama Rasulullah saw. dalam perang Badar, hingga membuatnya merasa susah hati. Dia berkata: “Satu peperangan bersama Rasulullah saw. yang tidak aku sempat aku saksikan. Sesungguhnya jika Allah memberi kesempatan kepadaku setelah ini untuk mengikuti satu peperangan bersama Rasulullah saw. niscaya Allah akan memperlihatkan apa yang akan aku lakukan.’ Hal itu diucapkannya dengan penuh kebanggaan di depan orang lain. Lalu dia diberi kesempatan mengikuti peperangan bersama Rasulullah saw. di perang Uhud. Saat disambut oleh Sa’ad bin Mu’adz, Anas berkata kepadanya: ‘Ya Abu ‘Amr, menuju kemanakah?’ Dijawabnya: ‘Ke tempat yang terdapat wawangian surga, itu aku dapati di bawah Uhud.’ Maka dia memerangi mereka, hingga diapun mati terbunuh. Di tubuhnya ditemukan 80 lebih luka tusukan, pukulan dan anak panah.”

Saudara perempuannya, yaitu bibiku ar-Rabi’ binti an-Nadhar berkata: “Aku tidak lagi mengenali saudaraku itu kecuali dari ujung jari-jarinya.” Maka turunlah ayat ini: Minal mu’miniina rijaalun shadaquu maa ‘aaHadullaaHa ‘alaiHi fa minHum mang qadlaa nahbaHuu wa minHum may yantadhiru wa maa baddaluu tabdiilaa (“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah [janjinya].”) mereka berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beliau dan teman-temannya (yang gugur di Uhud).” (HR Muslim, Tirmidzi dan an-Nasa’i dari hadits Sulaiman bin al-Mughirah serta diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dan Ibnu Jarir.

Mujahid berkata tentang firman Allah: fa minHum mang qa-dlaa nahbaHu (“Maka di antara mereka ada yang gugur.”) yaitu yang memenuhi janjinya. Wa minHum may yantadhir (“Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu.”) yaitu, pada hari terjadinya peperangan, hingga dia buktikan janjinya dalam menghadapi musuh.

Al-Hasan berkata: fa minHum mang qa-dlaa nahbaHu (“Maka di antara mereka ada yang gugur.”) yaitu kematiannya di atas kejujuran dan pemenuhan janji. Serta di antara mereka ada yang menungguh-nunggu kematian seperti itu dan di antara mereka pula ada yang tidak merubah janjinya sedikitpun. Demikian yang dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Zaid. Sebagian mereka berkata: “Nahbahu adalah nadzarnya [memenuhi nadzarnya].”

Firman Allah: wa maa baddaluu tabdiilaa (“dan mereka sedikitpun tidak merubah [janjinya].”) yaitu mereka tidak merubah perjanjian mereka serta tidak menggantikan penunaian janjinya dengan pengkhianatan. Akan tetapi mereka terus konsekuen di dalam janji mereka kepada Allah, dan tidak membatalkannya seperti perilaku orang-orang munafik.

Bersambung ke bagian 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: