Arsip | 16.08

Ilmu Hadits

1 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; Ilmu Mushthalah Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Pendahuluan
2. Sejarah Ilmu Hadits
3. Kitab-kitab yang populer tentang Ilmu Hadits
4. Definisi-definisi dalam Ilmu Hadits
5. Pembagian khabar
6. Pembagian khabar dari sisi sampainya hadits
a. Khabar Mutawatir
b. Khabar Ahad
c. Hadits ‘Aziz
d. Hadits Gharib
e. Pembagian khabar Ahad dari sisi kuat/lemahnya
7. Khabar maqbul (Dapat diterima)
Pembagian khabar maqbul
a. Hadits shahih
b. Hadits Hasan
c. Shahih Lighairihi
d. Hasan Lighairihi
e. Indikasi Khabar Ahad maqbul
f. Pembagian Khabar Ahad dari sisi pengamalannya
g. Hadits Muhkam dan Mukhtalif
h. Hadits Nasikh dan Mansukh
8. Khabar Mardud (Tertolak)
a. Khabar Mardud dan sebab-sebab penolakannya
b. Hadits Dlaif
c. Hadits Mardud Disebabkan Gugurnya Sanad
d. Hadits Mu’allaq
e. Hadits Mursal
f. Hadits Mu’dlal
g. Hadits Munqathi’
h. Hadits Mudallas
i. Hadits Mursal Khafi
j. Hadits Mu’an’an dan Hadits Muannan
k. Hadits mardud disebabkan cacatnya Perawi
l. Hadits Maudlu’
m. Hadits Matruk
n. Hadits Munkar
o. Hadits Ma’ruf
p. Hadits Mu’allal
q. Mukhalaf Ats-Tsiqat
r. Hadits Mudraj
s. Hadits Maqlub
t. Al-Mazid Fii Muttashil Al-Asanid
u. Hadits Mudltharib
v. Hadits Mushahhaf
w. Hadits Syadz dan Hadits Mahfudh
x. Al-Jihalah Bi Ar-Rawi
y. Bid’ah
z. Su-u Al-Hifdhi
9. Khabar yang Bercampur Antara yang Diterima dan yang Ditolak
Pembagian Khabar Berdasarkan Aspek Orang yang Disandarinya
a. Hadits Qudsi
b. Hadits Marfu’
c. Hadits Mauquf
d. Hadits Maqthu’
e. Jenis-jenis Percampuran Lain Antara yang Diterima dan yang Ditolak
Musnad
Muttashil
Ziyadaat Ats-Tsiqat
I’tibar, Mutabi’ dan Syahid
10. Sifat Orang yang Diterima Riwayatnya dan Kaitannya dengan Jarh dan Ta’dil
a. Rawi dan Syarat-syarat Diterimanya
b. Pemikiran Umum Tentang Buku-buku Jarh dan Ta’dil
c. Tingkat Jarh dan Ta’dil
11. Tata Cara Memelihara Riwayat Hadits dan Jalan untuk Mengemban Riwayat Hadits
a. Tata Cara Mendengar Hadits, Mengembannya, dan Sifat-sifat Pemeliharaannya
b. Jalan-jalan Menerima Hadits dan Bentuk Penyampaiannya
c. Penulisan Hadits, Pemeliharaan dan Pembukuannya

d.Sifat Periwayatan Hadits

e. Hadits Gharib

12. Adab Periwayatan Hadits

a. Adab Muhaddits

b. Adab Penuntut Hadits

13. Sanad

a. Sanad yang ‘Ali dan Nazil
b. Musalsal
c. Riwayat Akabir dari Ashaghir
d. Riwayat Bapak dari Anak
e. Riwayat Anak dari Bapak
f. Mudabbaj dan Riwayat Aqran
g. As-Sabiq dan Al-Lahiq
14. Mengetahui Para Perawi Hadits
a. Mengetahui Para Shahabat
b. Mengetahui Para Tabi’in
c. Mengetahui Al-Ikhwah wa al-Akhwat
d. Mengetahui Muttafiq dan Muftariq
e. Mu-Talif dan Mukhtalif
f. Mutasyabih
g. Muhmal
h. Mengetahui Mubhamat
i. Mengetahui Wuhdan
j. Mengetahui Perawi yang Memiliki Nama dan Sifat yang Berbeda-beda
k. Mengetahui Nama-nama, Panggilan (Kunyah) dan Gelar (Laqab)
l. Mengetahui Nama Para Perawi yang Terkenal Nama Panggilan (Kunyah)nya
m. Mengetahui Gelar (Laqab)
n. Mengetahui Para Perawi yang Dinasabkan Bukan Kepada Nama Bapaknya
o. Mengetahui Nasab yang Berbeda dengan Penampakannya
p. Mengetahui Sejarah Para Perawi
q. Mengetahui Kerusakan Perawi Tsiqah
r. Mengetahui Thabaqat Ulama dan Para Perawi
s. Mengetahui Mawali dari Para Perawi dan Ulama
t. Mengetahui Para Perawi Tsiqah dan Dlaif
u. Mengetahui Negeri atau Domisili Para Perawi

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (9)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

tulisan arab alquran surat luqman ayat 34“34. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”  (Luqman: 34)

Inilah kunci-kunci keghaiban yang hanya menjadi otoritas ilmu Allah, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali setelah diberitahukan oleh Allah swt. Pengetahuan tentang hari kiamat tidak diketahui oleh seorang Nabi yang diutus pun serta tidak pula oleh malaikat yang terdekat pun. Laa yujalliiHaa li waqtiHaa illaa Huwa (“Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.”)(al-A’raaf: 187). Demikian pula turunnya hujan tidak diketahui kecuali Allah. Akan tetapi jika Dia memerintahkan-Nya, Dia mengajarkan hal itu kepada para malaikat yang diberi tugas melaksanakannya dan makhluk-makhluk yang dikehendaki-Nya. begitu juga tidak ada yang mengetahui selain-Nya tentang apa yang terdapat di dalam rahim yang Dia kehendaki untuk menciptakannnya dan orang-orang yang dikehendaki-Nya juga dapat mengetahui. Demikian pula tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya besok di dunia dan di akhiratnya.

Wa maa tadrii nafsum bi ayyi ardlin tamuut (“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.”) di negeri atau bukan di negerinya. Di belahan bumi Allah mana pun dia berada, tentu tidak diketahui oleh seorang pun tentangitu. Ayat ini sama dengan firman Allah: wa ‘indaHuu mafaatihul ghaibi laa ya’lamuHaa illaa Huwa… (“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.”) dan ayat seterusnya (al-An’am: 59)

Telah tercantum di dalam sunnah tentang dinamakannya lima perkara tersebut dengan kunci-kunci keghaiban.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kunci-kunci keghaiban itu ada lima, dimana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. ‘Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.’” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari yang diriwayatkannya dalam kitab Istisqa di kitab shahihnya.

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa suatu hari Rasulullah saw. berada di tengah-tengah manusia. Tiba-tiba seorang laki-laki berjalan mendatanginya. Lalu bertanya: “Ya Rasulallah, apakah iman itu?” Beliau menjawab: “Iman adalah engkau percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan bertemu dengan-Nya serta percaya dengan kebangkitan di hari akhir.” Laki-laki itu bertanya: “Ya Rasulallah, apakah iman itu?” Beliau menjawab: “Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, membayar zakat fardlu dan puasa Ramadlan.” Laki-laki itu bertanya kembali: “Ya Rasulallah, apakah ihsan itu?” Beliau menjawab: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Laki-laki itu bertanya: “Ya Rasulallah, kapankah terjadinya hari kiamat?” Beliau menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya. Akan tetapi aku akan menceritakan kepadamu tanda-tandanya: Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya, itulah salah satu tandanya. Jika orang-orang telanjang kaki dan pakaian menjadi para pemimpin manusia, itulah salah satu tanda pada lima kunci keghaiban yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. innallaaHa ‘indaHuu ‘ilmus saa-‘ati wa yunazzilul ghaitsa wa ya’lamu maa fil arhaam.. (“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.”) dan seterusnya . kemudian laki-laki itu pergi, lalu Rasulullah saw. berkata: “Suruhlah dia kembali kepadaku.” Mereka lalu mencarinya untuk kembali kepada Rasulullah saw. akan tetapi mereka tidak melihatnya lagi. Rasul bersabda: “Itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka.” (diriwayatkan pula oleh al-Bukhari di dalam kitab al-Iman dan Muslim dari beberapa jalan dari Abu Hayyan).

Firman Allah: wa maa tadrii nafsum bi ayyi ardlin tamuut (“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.”) Qatadah berkata: “Itu adalah sesuatu yang hanya dikuasai oleh Allah. Tidak ada satu Malaikat yang dekat dan satu orang Nabi pun yang diutus yang dapat mengetahuinya.
innallaaHa ‘indaHuu ‘ilmus saa’ata (“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat.”) maka tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, tahun berapa, bulan apa, malam atau siang.

Wa yunazzilul ghaitsa (“Dan Dia-lah yang menurunkan hujan.”) maka tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan turunnya hujan, di waktu malam atau di waktu siang. Wa ya’lamu maa fil arhaam (“Dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim.”) maka tidak seorang pun yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim, laki-laki atau perempuan, merah atau hitam dan bagaimana keadaannya.

Wa maa tadrii nafsum maa dzaa taksibu ghadan (“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui [dengan pasti] apa yang akan diusahakannya besok.”) apakah baik atau buruk. Dan engkau hai anak Adam tidak dapat mengetahui kapan engkau mati, mungkin mati besok dan mungkin engkau mendapat musibah besok. wa maa tadrii nafsum bi ayyi ardlin tamuut (“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.”) yaitu tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui dimana tempat pembaringannya di bumi ini, apakah di lautan atau di daratan, di lembah atau di pegunungan. Terdapat di dalam sebuah hadits: “Jika Allah hendak mewafatkan seorang hamba pada suatu tempat di bumi, Dia akan menjadikannya kebutuhan ke arah sana.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay dan Abu ‘Izzat, yaitu Basyar bin ‘Ubaidullah dan disebut Ibnu ‘Abd al-Hadzali. Serta ditakhrij oleh at-Tirmidzi dari hadits Isma’il bin Ibrahim, yaitu Ibnu ‘Aliyyah dan dia berkata: “Shahih.”

Ibnu Abid Dun-ya berkata, Sulaiman bin Abi Masih bercerita kepadaku dengan mengatakan bahwa Muhammad bin al-Hakam bersenandung kepadaku dengan syair A’sya Hamdan:
Tidaklah ia membuat bekal untuk hari perpisahan dari apa yang dia himpun
Selain wangi dupa yang dibakar baginya dan itu adalah bekal yang sangat sedikit untuk bepergian
Selain kapas dan baju kafan
Janganlah engkau bersedih hati atas segala sesuatu. Setiap pemuda
Berjalan
Menuju kematian yang tergantung di lehernya.
Setiap orang mengira bahwa kematian menyalahinya (tidak mengenainya),
Berarti dia beralasan dengan alasan-alasan orang bodoh.
Dimana saja kota yang ditentukan kematiannya,
Pasti ia akan berjalan dengan patuh menuju kepadanya.

Sekian.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (8)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

Untuk itu Allah berfirman: dzaalika bi annallaaHa Huwal haqqu wa anna maa yad’uuna min duuniHi baathilu wa annallaaHa Huwal ‘aliyyul kabiir (“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”) yaitu, Mahatinggi Yang tidak ada lagi yang lebih tinggi dari-Nya. serta Mahabesar yang tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar dari-Nya. seluruhnya rendah dan hina jika dibandingkan kepada-Nya.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 31-32“31. tidakkah kamu memperhatikan bahwa Sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. 32. dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.” (Luqman: 31-32)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia yang telah menundukkan laut agar kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, yaitu dengan kelembutan dan pentaruran-Nya. Sesungguhnya seandainya Dia tidak menjadikan daya dalam air yang dapat membawa kapal, niscaya kapal itu tidak akan dapat berlayar. Untuk itu Dia berfirman: liyuriyakum min aayaatiHi (“Supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda-Nya.”) yaitu dari kekuasaan-Nya.
Inna fii dzaalika la aayaatil likulli shabbaarin syakuur (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sabar lagi banyak bersyukur.”) yaitu orang yang sangat sabar di waktu kesulitan lagi banyak bersyukur di waktu senang.

Kemudian Allah berfirman: wa idzaa ghasyiyaHum maujun kadh-dhalali (“Dan apabila mereka dilanda ombak yang besar seperti gunung.”) yaitu seperti gunung-gunung dan awan. Da-‘awullaaHa mukhlishiina laHud diina (“Mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”) kemudian firman-Nya: falammaa najjaaHum ilal barri faminHum muqtashid (“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.”) Mujahid berkata: “Yaitu yang kafir, seakan-akan dia menafsirkan almuqtashid di sini dengan aljaahid (orang yang membangkang). Sebagaimana firman Allah: falammaa najjaaHum ilal barri idzaa Hum yusrikuuna (“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah].”)(al-Ankabuut: 65)

Sedangkan Ibnu Zaid berkata: “Yaitu, orang yang tengah-tengah dalam beramal.” Pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Zaid inilah yang dimaksud oleh firman Allah: fa minHum dhaalimul linafsiHii wa min Hum muqtashid (“Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang petengahan.”)(Faathir: 32). Almuqtashid di dalam ayat ini adalah orang yang pertengahan dalam beramal. Boleh jadi itu pula yang dimaksud di dalam ayat ini. Dan hal ini merupakan bagian pengingkaran dari orang yang menyaksikan kejadian dahsyat, perkara-perkara besar dan tanda-tanda kekuasaan Allah di lautan, kemudian setelah Allah memberikan kenikmatan kepadanya dengan keselamatan dari bahaya tersebut yang seharusnya dia membalasnya dengan amal yang sempurna, bersungguh-sungguh dalam beribadah dan bersegera melakukan kebaikan. Maka barangsiapa yang menempuh jalan yang pertengahan [membatasi ibadahnya] setelah itu, niscaya hal itupun merupakan suatu kekuarangan. wallaaHu a’lam.

Dan firman-Nya: wamaa yajhadu bi aayaatinaa illaa kullu khattarin kafuur (“Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.”) alkhattaar adalah orang yang melanggar janji, itulah yang dikatakan oleh Mujahid, al-Hasan, Qatadah, Malik, dan Zaid bin Aslam. Yaitu orang yang setiap kali berjanji dia batalkan perjanjiannya. Sedangkan alkhattar adalah yang lebih buruk dari pelanggaran –janji-.

Dan firman-Nya: kafuur (“ingkar”), yaitu orang yang mengingkari nikmat, tidak mensyukurinya, bahkan melupakannya dan tidak mengingatnya.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 33“33. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqman: 33)

Allah Ta’ala berfirman mengancam manusia dengan hari Kiamat serta memerintahkan mereka untuk bertakwa, takut dan khawatir kepada hari kiamat. Dimana, laa yajzii waalidun ‘aw waladiHii (“[pada hari itu] seorang bapak tidak dapat menolong anaknya.”) seandainya dia hendak menebus anaknya dengan dirinya, niscaya tidak akan diterima. Demikian pula sebaliknya. Kemudian Dia kembali memberikan nasehat kepada mereka dengan firman-Nya: falaa taghurrannakumul hayaatud dun-yaa (“Maka janganlah sekali-sekali kehidupan dunia memperdayakanmu.”) yaitu janganlah dunia melalaikan kalian dari negeri akhirat dengan merasa senang di dalam dunia.

Walaa yaghurran nakumullaaHil gharuur (“dan janganlah [pula] penipu [syaitan] mempedayakanmu dalam [mentaati] Allah.”) alghurur yaitu syaita. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak dan Qatadah. Karena syaitan akan menipu manusia, menjanjikan dan memberikan angan-angannya, padahal semua itu bukan apa-apa, bahkan keberadaannya seperti difirmankan oleh Allah: ya-‘iduHum wayumanniiHim wa maa ya-‘iduHumusy syaithaanu illaa ghuruuran (“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (an-Nisaa’: 120)

Bersambung ke bagian 9

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (7)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

tulisan arab alquran surat luqman ayat 27-28“27. dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 28. tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (Luqman: 27-28)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang kebesaran, ketinggian dan keagungan-Nya serta nama-nama-Nya yang indah, sifat-sifat dan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna. Tidak ada seorangpun yang mampu meliputi-Nya dan tidak ditampakkan kepada manusia hakekat dan jumlahnya, sebagaimana yang disabdakan oleh penghulu manusia dan penutup para Rasul [Muhammad saw.]: “Aku tidak mampu menjangkau pujian kepada-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”

Maka Allah berfirman: walau anna maa fil ardli min syajaratin aqlaamuw wal bahru yamudduHuu mim ba’diHii sab’atun abhurim maa nafidat kalimaatullaaHi (“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut [menjadi tinta], ditambahkan kepadanya tujuh laut [lagi] sesudah [kering]nya, niscaya tidak akan habis-habisnya [dituliskan] kalimat Allah.”) yaitu sekalipun seluruh pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta ditambahkan kepadanya tujuh laut bersamanya, lalu dengan itu semua dituliskan kalimat-kalimat Allah yang menunjukkan kebesaran, sifat-sifat dan kagungan-Nya, niscaya pena-pena itu akan hancur dan air laut itu kan kering, sekalipun didatangkan tinta sejumlah bilangan itu pula. Kata tujuh disebutkan untuk menunjukkan maksimalisasi dan bukan untuk membatasi. Yaitu sekalipun pohon-pohon di bumi menjadi pena dan disertai dengan tujuh lautan yang ada, niscaya keajaiban-keajaiban Rabb-ku, kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya tidak akan terjangkau.

Ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Sesungguhnya perumpamaan pengetahuan seluruh manusia di dalam ilmu Allah adalah setetes air lautan dengan lautan tersebut. wallaaHu a’lam.”

Dan firman-Nya: innallaaHa ‘aziizun hakiim (“Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) yaitu, Mahaperkasa yang perkasa, memaksa dan mendominasi segala sesuatu. Tidak ada yang mampu mencegah apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang mampu menyelisihi dan menentang kebijaksanaan-Nya. Dia Mahabijaksana kepada makhluk-Nya dalam penciptaan, perintah, perbuatan-perbuatan, perkataan-perkataan, syariat dan seluruh keadaan-Nya.

Dan firman Allah: maa khalqukum walaa ba’tsukum illaa kanafsiw waahidatin (“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu [dari dalam kubur] itu, melainkan hanyalah seperti [menciptakan dan membangkitkan] satu jiwa saja.”) yaitu [ditinjau dari kekuasaan Allah, dalam menciptakan seluruh manusia dan membangkitkan mereka kembali pada hari kiamat, sama mudahnya dengan menciptakan satu jiwa saja]. seluruhnya amat mudah bagi Allah.

Innamaa am-ruHuu idzaa araada syai-an ay yaquula laHuu kun fayakuun (“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah.’ Maka jadilah ia.”)(Yaasiin: 82). Yaitu, Dia tidak memerintahkan sesuatu kecuali satu kali, lalu sesuatu itu ada tanpa perlu diulang dan diperkuat. Dan firman-Nya: innallaaHa samii’um bashiir (“Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat.”) yaitu sebagaimana Dia Mahamendengar perkataan-perkataan mereka lagi Mahamelihat perbuatan-perbuatan mereka, seperti Dia mendengar dan melihat kepada satu jiwa saja, maka demikian pula kekuasaan-Nya kepada mereka seperti kekuasaan-Nya atas satu jiwa.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 29-30“29. tidakkah kamu memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 30. Demikianlah, karena Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah Itulah yang batil; dan Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Luqman: 29-30)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia, yuulijul laila fin naHaari (“Memasukkan malam ke dalam siang.”) yaitu Dia ambil malam di waktu siang, sehingga siang lebih panjang dan malam lebih pendek. Ini terjadi pada musim panas, dimana siang memanjang hingga lebih. Lalu mulai berkurang, hingga malam lebih lama dan siang lebih pendek dan ini terjadi di musim dingin.
Wa sakh-kharasy syamsa wal qamara kullu yajrii ilaa ajalim musammaa (“Dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai pada waktu yang ditentukan.”) satu pendapat mengatakan: “Yaitu, hingga batas tertentu.” Dan pendapat lain mengatakan: “Hingga hari kiamat.” Dua makna tersebut shahih. Pendapat pertama didukung oleh hadits Abu Dzarr ra. yang terdapat di dalam ash-Shahihain, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hai Abu Dzarr, apakah engkau tahu kemana perginya matahari ini?” Aku [Abu Dzarr] menjawab: “Allah dan Rasul-Nya Mahamengetahui.” Beliau bersabda: “Dia pergi, sujud di bawah ‘Arsy. Kemudian dia minta izin kepada Rabb-nya, hingga dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah ke tempat dari mana engkau datang.’”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, ayahku bercerita kepada kami, bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Matahari [seperti] sebuah putaran air. Di waktu siang ia beredar dalam orbitnya di langit. Jika waktu terbenam, dia beredar dalam orbitnya di waktu malam di bawah bumi, hingga terbit dari timur. Demikian pula dengan bulan.” (isnadnya shahih)

Dan firman-Nya: wa annallaaHa bimaa ta’maluuna khabiir (“Dan sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) maknanya Allah Ta’ala adalah Mahapencipta lagi Mahamengetahui segala sesuatu. Dan firman Allah Ta’ala: dzaalika bi annallaaHa Huwal haqqu wa anna maa yad’uuna min duuniHi baathilu (“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil.”) yaitu, ayat-ayat-Nya begitu jelas bagi kalian, agar kalian mendapat petunjuk bahwa Dia adalah kebenaran, yakni realitas yang haq lagi Ilah yang haq. Dan sesaungguhnya selain-Nya adalah kebathilan. Dia Mahakaya dari selain-Nya dan segala sesuatu amat membutuhkan-Nya. karena seluruh apa yang berada di langit dan di bumi adalah ciptaan dan hamba-Nya. tidak ada seorang pun di antara mereka yang sanggup menggerakkan satu dzarrah pun kecuali dengan izin-Nya. seandainya seluruh penghuni bumi berhimpun untuk menciptakan satu ekor lalat, niscaya mereka tidak mampu melakukannya.

Bersambung ke bagian 8

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (6)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

tulisan arab alquran surat luqman ayat 20-21“20. tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan. 21. dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah.’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tapi Kami (hanya) mengikuti apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya.’ dan Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (Luqman: 20-21)

Allah Ta’ala berfirman mengingatkan kepada makhluk-Nya tentang berbagai nikmat yang diberikan-Nya kepad mereka di dunia dan di akhirat. Yaitu dengan ditundukkannya untuk mereka apa saja yang ada di langit berupa bintang-bintang yang memberikan cahaya di waktu malam dan siang serta apa saja yang diciptakan di dalamnya berupa awan, hujan,salju dan embun serta Dia jadikan bagi mereka atap yang terjaga di dalamnya. Dia menciptakan untuk mereka di dalam bumi berupa tempat tinggal, sungai-sungai, pohon-pohon, tanam-tanaman dan buah-buahan serta Dia liputi mereka dengan berbagai nikmat-Nya yang dhahir dan yang batin seperti diutusnya para Rasul, diturunkannya berbagai kitab, dan dibantahnya berbagai syubhat dan penyakit. Kemudian di samping itu semua, tidak seluruh manusia mengimaninya, bahkan sebagian mereka ada orang-orang yang menentang Allah dalam mengesakan-Nya dan pengutusannya terhadap para Rasul serta penentangannya dalam masalah ini tanpa ilmu dan tanpa bersandar dengan hujjah yang shahih serta kitab ma’tsur yang shahih.

Untuk itu Dia berfirman: wa minannaasi may yujaadilu fillaaHi bighairi ‘ilmiw walaa Hudaw walaa kitaabim muniir (“Dan di antara manusia ada yang membantah tentang [keesaan] Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberikan penerangan.” Yaitu yang menjelaskan dan menerangi.

Wa idzaa qiila laHum (“Dan apabila dikatakan kepada mereka.”) yaitu kepada orang-orang yang membatah keesaan Allah, ittabi-‘uu maa anzalallaaH (“Ikutilah apa yang diturunkan Allah.”) yaitu atas Rasul-Rasul-Nya berupa syariat-syariat yang suci. Qaaluu bal nattabi’u maa wajadnaa ‘alaiHi aabaa-anaa (“Mereka menjawab: ‘[tidak], tetapi kami [hanya] mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’”) yaitu mereka tidak memiliki hujjah kecuali sekedar mengikuti nenek moyang mereka yang terdahulu. Yaitu, apakah dugaan kalian hai orang-orang yang berhujjah dengan perbuatan nenek moyang mereka bahwa mereka berada di dalam kesesatan, sedangkan kalian adalah pelanjut perbuatan yang mereka lakukan.

Untuk itu Allah berfirman: awalau kaanasy syaithaanu yad’uuHum ilaa ‘adzaabis sa’iir (“Dan apakah [akan mengikuti bapak-bapak mereka] walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala [neraka]?”)

tulisan arab alquran surat luqman ayat 22-24“22. dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. 23. dan Barangsiapa kafir Maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati. 24. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.” (Luqman: 22-24)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, yaitu mengikhlaskan amalnya dan tunduk kepada perintah-Nya serta mengikuti syariat-Nya. untuk itu Dia berfirman: wa Huwa muhsinun (“Sedang ia orang yang berbuat kebaikan.”) di dalam amalnya dengan mengikuti apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhkan apa yang dilarang-Nya. faqadistamsaka bil ‘urwatil wutsqaa (“Maka seungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.”) yaitu dia telah mendapatkan janji yang kuat dari Allah bahwa Dia tidak akan menyiksanya.

Wa ilallaaHi ‘aaqibatul umuuri. Wa man kafara falaa yahzunka kufruHum (“dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Dan barangsiapa kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu.”) yaitu, janganlah engkau bersedih terhadap mereka hai Muhammad, karena kekufuran mereka kepada Allah dan risalah yang engkau bawa kepada mereka, ketetapan Allah akan terlaksana pada mereka dan hanya kepada Allah tempat mereka kembali. Lalu Dia memberitahukan berbagai amal yang mereka kerjakan, yaitu dengan membalasnya kepada mereka.
innallaaHa ‘aliimum bidzaatish shuduur (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala isi hati.”) maka tidak ada sesuatu yang tersembunyi sedikitpun dari-Nya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: numatti-‘uHum qaliilan (“Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar.”) di dunia, tsumma nadl-tharruHum (“kemudian Kami paksa mereka.”) yaitu Kami giring mereka, ilaa ‘adzaabin ghaliidh (“[Masuk] ke dalam siksa yang keras.”) yaitu mengerikan, berat dan sulit bagi jiwa.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 25-26“25. dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah’; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. 26. kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman: 25-26)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang orang-orang musyrik, sesungguhnya mereka mengetahui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Di samping itu mereka menyembah sekutu-sekutu bersam-Nya yang mereka akui bahwa Dia-lah yang menciptakan dan memilikinya.
Untuk itu Allah berfirman: wala-in sa-altaHum man khalaqas samaawaati wal ardli layaquulunnallaaH qulil hamdu lillaaHi (“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akanmenjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Segala puji milik Allah.’”) yaitu sekalipun hujjah telah nyata dengan pengakuan kalian;
Bal aktsaruHum laa ya’lamuuna (“Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”) kemudian Allah Ta’ala berfirman: lillaaHi maa fis samaawaati wal ardli (“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi.”) Dia yang menciptakan dan memilikinya. innallaaHa Huwal ghaniyyul hamiid (“sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Mahaterpuji.”) yaitu Mahakaya dari selain-Nya, sedangkan segala sesuatu sangat membutuhkan-Nya, [Yang Mahaterpuji dalam seluruh ciptaan-Nya]. Bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi atas apa yang diciptakan dan disyariatkan-Nya. Dia-lah yang dipuji dalam seluruh urusan.

Bersambung ke bagian 7

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (5)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

Firman-Nya: inna dzaalika min ‘azmil umuur (“Sesungguhnay yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan [oleh Allah].”) yaitu kesabaran atas siksaan manusia merupakan perkara-perkara yang wajib.
Walaa tusha’-‘ir khaddaka linnaas (“dan janganlah memalingkan muka dari manusia [karena sombong].”) dia berkata: “Janganlah engkau palingkan wajahmu dari manusia, jika engkau berkomunikasi dengan mereka atau mereka berkomunikasi denganmu karena merendahkan mereka atau karena kesombongan. Akan tetapi, merendahlah dan manislah wajahmu terhadap mereka.”

Ibnu Jarir berkata: “Asal kata ash-sha’-‘ir adalah penyakit yang menimpa unta pada punuk dan kepalanya, hingga punuknya tertekuk dengan kepalanya. Lalu hal itu dipersamakan dengan laki-laki sombong. Di antaranya ialah perkataan ‘Amr bin Hayy at-Taghlabi: “Dahulu jika orang-orang sombong menekuk mukanya, maka kami akan luruskan kemiringannya, hingga dia tegak.”

Firman-Nya: wa laa tamsyi fil ardli marahan (“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.”) yaitu sombong, takabbur, otoriter dan [menjadi] pembangkang. Janganlah engkau lakukan itu, jika engkau lakukan Allah pasti akan memurkaimu. Untuk itu dia berkata: innallaaHa laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuur (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”) yaitu sombong dan bangga diri serta fakhuur, yaitu sombong kepada orang lain. Dan perkataannya: waqshid fii masy-yika (“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan.”) yaitu berjalanlah secara sederhana, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat, akan tetapi adil dan pertengahan. Perkataannya: wagh-dludl min shautika (“dan lunakkanlah suaramu.”) yaitu janganlah engkau berlebihan dalam berbicara dan jangan mengeraskan suara pada sesuatu yang tidak bermanfaat. Untuk itu, Dia berkata: inna ankaral ash-waati lashautul hamiir (“sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”)

Mujahid dan banyak ulama berkata: “Sesungguhnya seburuk-buruk suara, adalah suara keledai, yaitu keterlaluan mengangkat suaranya disamakan dengan keledai dalam ketinggian dan kekerasannya dan di samping itu suara tersebut merupakan hal yang dimurkai di sisi Allah. Penyerupaan suara ini dengan keledai menjadi konsekuensi logis keharaman dan ketercelaannya yang sangat keras. Karena Rasulullah saw. bersabda: “Bukan golongan kami. Perumpamaan keburukan, orang yang menarik kembali pemberiannya seperti anjing menelan kembali mutahnya itu.” (Muttafaq alaihi)

An-Nasa’i ketika menafsirkan ayat ini meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Jika kalian mendengar suara ayam, maka mintalah kepada Allah dari keutamaan-Nya, karena ia melihat Malaikat. Dian jika kalian mendengar ringkikan keledai, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaitan, karena dia melihat syaitan.” (telah ditakhrij oleh jamaah yang lain selain Ibnu Majah). Dan dalam sebagian lafadz terdapat kata “di waktu malam.” wallaaHu a’lam.

Ini adalah wasiat-wasiat yang bermanfaat dan merupakan kisah-kisah al-Qur’an al-adhiim tentang Luqman al-Hakim. Sungguh telah diriwayatkan banyak hikmah dan nasehat darinya.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Luqman al-Hakim berkata: ‘Sesungguhnya Allah jika dititipi sesuatu, Dia pasti menjaganya.’”

Pasal tentang kerendahan dan tawadlu’.
Ini berkaitan dengan wasiat Luqman kepada puteranya. Masalah ini dihimpun oleh al-Hafidz Abu Bakar bin Abid-Dun-ya dalam kitab tersendiri. Dia berkata: Ishaq bin Ibrahim bercerita kepada kami, bahwa Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya di antara raja-raja surga adalah orang yang rambutnya berdebu dan bajunya kumal [lusuh], tidak ada perhatian pada dirinya, bila mereka meminta izin untuk masuk menuju para penguasa, tidak diizinkan bagi mereka, bila mereka melamar wanita, lamaran mereka ditolak. Bila mereka bicara, tidak ada satupun yang memperhatikan mereka, sehingga kebutuhan-kebutuhan mereka tersendat di dalam kerongkongan dadannya. Namun pada hari kiamat, cahaya mereka jika dibagikan kepada seluruh manusia dapat menutupinya.”

‘Umar bin Syaibah bersenandung yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah, bahwa ‘Abdullah bin al-Mubarak berkata: “Ketahuilah, banyak orang yang berbaju lusuh, besok [hari kiamat] berada dalam kedudukan yang tinggi. Permadaninya terhampar dengan sandaran yang tersusun indah. Cahayanya memancar di sekitar istananya, bersinar dan mengitari taman-tamannya.”

Pasal tentang akhlak mulia:
Dari Anas ra. dalam hadits marfu’: “Sesungguhnya seorang hamba akan mencapai derajat akhirat dan kedudukan mulia dengan akhlak yang baik, sekalipun ibadahnya kurang. Dan dia akan mencapai kerak jahanam dengan akhlak buruk, sekalipun dia ahli ibadah.”

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang sesuatu yang banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam surga. Beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan beliaupun ditanya tentang sesuatu yang banyak menyebabkan manusia masuk neraka. beliau menjawab: “Dua buah lubang, mulut dan kemaluan.”

Pasal tentang celaan terhadap kesombongan:
‘Alqamah berkata dari Ibnu Mas’ud, dalam hadits marfu’: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji dzarrah pun dari kesombongan. Dan tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji dzarrah pun dari keimanan.”

Pasal tentang kesombongan:
Dari Ibnu Abi Laila, dari Ibnu Abi Buraidah, dari ayahnya dalam hadits marfu’: “Barangsiapa yang mengulurkan pakaiannya karena sombong, niscaya Allah tidak akan memandangnya.” (HR al-Bukhari dalam kitab al-Libaas dan Imam Ahmad [5/9])

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (4)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

Firman-Nya: wa fishaaluHuu fii ‘aamaini (“Dan menyapihnya dalam dua tahun.”) yaitu mengasuh dan menyusuinya setelah melahirkannya selama dua tahun, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (al-Baqarah: 233). Dan di sini, Ibnu ‘Abbas dan imam-imam yang lain mengambil istimbath bahwa minimal masa hamil adalah 6 bulan, karena di dalam ayat lain Allah berfirman: wa hamluHuu wa fishaaluHuu tsalaatsuuna syaHran (“Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”)(al-Ahqaaf: 15). Allah menyebutkan pendidikan seorang ibu, kelelahan dan kesulitannya saat begadang siang dan malam, agar seorang anak dapat mengingat kebaikan yang diberikan oleh ibunya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: wa qur rabbirhamHumaa kamaa rabbayaanii shaghiiran (“Dan ucapkanlah: wahai Rabb-ku, kasihanilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidik [memelihra]ku waktu kecil.”)(al-Israa’: 24)

Untuk itu Dia berfirman: anisykurlii waliwaalidaika ilayyal mashiir (“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”) yaitu sesungguhnya Aku akan membalasmu atas semua itu secukup-cukup balasan.
Dan firman-Nya: wa in jaaHadaaka ‘alaa an tusyrikabii maa laisa laka biHii ‘ilmun falaa tuthi’Humaa (“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutuakn dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.”) yaitu jika keduanya antusias untuk memaksakan agamanya, maka janganlah engkau menerimanya dan hal itupun tidak boleh menghalangimu untuk berbuat baik kepada keduanya di dunia secara ma’ruf, yaitu secara baik kepada keduanya.
Wattabi’ sabiila man anaaba ilayya (“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”) yaitu orang-orang yang beriman.
Tsumma ilayya marji’ukum fa unabbi’ukum bimaa kuntum ta’maluuna (“Kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”)

Ath-Thabrani berkata dalam kitab al-‘Asyrah, dari Dawud bin Abi Hind, bahwa Sa’ad bin Malik berkata: “Diturunkan ayat ini: wa in jaaHadaaka ‘alaa an tusyrikabii maa laisa laka biHii ‘ilmun falaa tuthi’Humaa (“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutuakn dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.”) dan ayat seterusnya. Dahulu aku adalah seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku, lalu ketika aku masuk Islam ibuku berkata: ‘Hai Sa’ad, apa yang terjadi padamu apa yang aku lihat ini? Engkau akan tinggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati. Maka karena aku, engkau akan dipanggil: hai pembunuh ibunya.’ Lalu aku berkata: ‘Jangan engkau lakukan hai ibu. Karena aku tidak akan meninggalkan agamaku karena apapun.’ Maka dia melakukannya satu hari satu malam tidak makan, dia telah bersungguh-sungguh untuk melakukan hal itu. Lalu iapun melakukannya pula satu hari satu malam tidak makan, diapun berusaha untuk melakukan itu. Lalu iapun melakukan lagi satu hari satu malam tidak makan, dia sangat bersungguh-sungguh untuk melakukan itu. Setelah aku menyaksikan ibuku seperti itu, aku berkata kepadanya: ‘Wahai ibuku, harap engkau ketahui. Demi Allah, seandainya engkau memiliki seratus jiwa dan jiwa itu satu persatu meninggalkanmu, agar aku meninggalkan agamaku, demi Allah aku tidak akan meninggalkan agamaku, demi Allah aku tidak akan meninggalkan agamaku ini apa pun yang terjadi. Maka makanlah kalau mau engkau makan, kalau tidak mau itu terserah pada ibu.’ Lalu iapun makan.”

tulisan arab alquran surat luqman ayat 16-19“16. (Luqman berkata): ‘Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. 17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). 18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 16-19)

Ini adalah wasiat-wasiat bermanfaat dari Luqman al-Hakim yang diceritakan oleh Allah agar manusia menjunjung tinggi dan menteladaninya. Dia berkata: yaa bunayya innaHaa in taku mitsqaala habbatim min khardalin (“Hai anakku, sesungguhnya jika ada [suatu perbuatan] seberat sawi pun.”) yaitu kedhaliman dan kesalahan, sekalipun seberat biji sawi. Sedangkan sebagian ulama menyatakan bahwa dlamir pada firman-Nya “innaHaa” adalah dlamir sya-n dan kisah [yang tidak mempunyai arti]. Serta atas dasar ini, “mitsqaala” dijadikan “rafa’” dan pendapat pertama lebih utama.

Firman Allah: ya’tibiHallaaH (“Niscaya Allah akan mendatangkannya [balasannya].”) Allah akan menghadirkannya pada hari kiamat ketika Dia mendirikan timbangan keadilan serta membalasnya. Jika kebaikan maka dia akan dibalas dengan timbangan kebaikan. Dan jika keburukan, dia akan dibalas dengan keburukan. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun.” (al-Anbiyaa’: 47). Sekalipun biji sawi itu terlindungi dan terhalang di dalam batu besar hitam atau di tempat terasing jauh di ujung langit dan bumi. Sesungguhnya Allah akan menghadirkannya, karena tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dan tidak ada satu biji dzarrahpun yang ada di langit dan di bumi yang terluput dari-Nya.

Untuk itu Allah berfirman: innallaaHa lathiifun khabiir (“Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahamengetahui.”) yaitu Mahaluas ilmu-Nya, hingga tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya, sekalipun kecil, halus dan lembut. Khabiir (“Mahamengetahui.”) tentang langkah semut di kegelapan malam yang gelap gulita. Kemudian dia berkata: yaa bunayya aqimish shalaata (“Hai anakku, dirikanlah shalat.”) yaitu dengan menegakkan batas-batasnya, melakukan fardlu-fardlunya dan menepatkan waktu-waktunya. Wa’mur bil ma’ruufi wanHa ‘anil munkari (“Dan suruhlah [manusia] mengerjakan yang baik dan cegahlah [mereka] dari perbuatan yang munkar.”) sesuai dengan kemampuan dan kesungguhanmu. Washbir ‘alaa maa ashaabaka (“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”) dia mengetahui bahwa orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar pasti akan mendapatkan gangguan dari manusia, maka dia memerintahkannya untuk bersabar.

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (3)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

‘Abdullah bin Wahb berkata: ‘Abdullah bin ‘Iyasy al-Quthbani mengabarkan kepadaku dari ‘Umar maula Ghifrah, bahwa dia berkata: “Seorang laki-laki berdiri di hadapan Luqman al-Hakim, lalu dia berkata: “Engkau Luqman, budak Bani al-Has-has?” Luqman menjawab: “Ya.” Dia bertanya: “Engkau penggembala kambing?” Luqman menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Hitam [seperti ini]!” Luqman berkata: “Kehitamanku cukup jelas, lalu apa yang membuatmu takjub?” Laki-laki itu berkata: “Manusia menggelar hamparannya untukmu, membuka lebar-lebar pintu untukmu dan amat senang dengan perkataanmu, hai anak saudaraku. Jika engkau mau mengungkapkan apa yang aku katakan kepadamu yang membuatmu dapat seperti ini.” Luqman berkata: “Aku tahan pandanganku, aku jaga lisanku, aku pelihara makananku, aku jaga kemaluanku, aku berkata jujur, aku tunaikan janjiku, aku hormati tamuku, aku perhatikan tetanggaku, dan aku tinggalkan apa yang tidak penting bagiku. Itulah semua yang menyebabkan aku menjadi apa yang engkau lihat.”

Ibnu Abi Hatim berkata: Suatu hari Abud Darda’ berkata dan menceritakan Luqman al-Hakim: “Dia tidak pernah diberikan sesuatu seperti keluarga, harta, kehormatan dan sesuatu hal. Akan tetapi dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir dan berpandangan mendalam. Dia tidak pernah tidur siang, buang air kecil dan air besar seenaknya dan mandi, menganggur serta tertawa sembarangan. Dia tidak pernah mengulang kata-katanya kecuali dia mengatakan hikmah yang diminta dan seseorang untuk mengulanginya. WallaaHu a’lam.”

Cerita yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah tentang firman Allah: wa laqad aatainaa luqmaanal hikmaH (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah.”) yaitu pemahaman tentang Islam, padahal ia bukan seorang Nabi dan tidak diberikan wahyu. Dan firman-Nya: wa laqad aatainaa luqmaanal hikmaH (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah.”) yaitu pemahaman, pengetahuan dan ta’bir mimpi. nisykurlillaaHi (“yaitu bersyukurlah kepada Allah.”) Kami memerintahkan kepadanya untuk bersyukur kepada Allah atas apa yang diberikan, dianugerahkan dan dihadiahkan oleh-Nya berupa keutamaan yang hanya dikhususkan kepadanya, tidak kepada orang lain yang sejenis di masanya.

Wa may yasykur fa innamaa yasykuru linafsiHi (“dan barangsiapa yang bersyukur [kepada Allah] maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.”) yaitu manfaat dan pahalanya hanya akan kembali kepada orang-orang yang bersyukur itu sendiri, berdasarkan firman Allah: “Dan barangsiapa yang beramal shalih, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan [tempat yang menyenangkan].”)(ar-Ruum: 44) dan firman-Nya: wa man kafara fa innallaaHa ghaniyyun hamiid (“dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.”) yaitu Mahakaya dari hamba-hamba-Nya, dimana hal itu [ketidakbersyukurannya] tidak dapat membahayakan-Nya, sekalipun seluruh penghuni bumi mengkufuri-Nya. karena sesungguhnya Allah Mahakaya dari selain-Nya. tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 13-15“13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’ 14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 13-15)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang wasiat Luqman kepada puteranya, yaitu Luqman bin ‘Anqa’ bin Sadun. Sedangkan nama puteranya adalah Tsaran, menurut suatu pendapat yang diceritakan oleh as-Suhaily. Allah telah menyebutnya dengan sebaik-baik sebutan dan diberikannya dia hikmah. Dia memberikan wasiat kepada puteranya yang merupakan orang yang paling dikasihi dan dicintainya, dan ini hakekat dianugerahkannya ia dengan sesuatu yang paling utama. Untuk itu pertama-tama dia memberikan wasiat untuk beribadah kepada Allah Yang Mahaesa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Kemudian Dia mengingatkan, inna syirka ladhulmun ‘adhiim (“Sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kedhaliman yang besar.”) yakni syirik adalah kedhaliman terbesar.

Al-Bukhari meriwayatkan bahwa ‘Abdullah berkata: Ketika turun: alladziina aamanuu wa lam yalbasuu iimaanaHum bi dhulmin (“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedhaliman [syirik], mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” )(al-An’am: 82). Hal tersebut membuat keresahan terhadap para shahabat Rasulullah saw. dan mereka bertanya: “Siapakah diantara kami yang tidak mencampuradukkan keimanan dengan kedhaliman?” Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bukan demikian yang dimaksud. Apakah engkau tidak mendengar perkataan Luqman: yaa bunayya laa tusyrik billaaH, inna syirka ladhulmun ‘adhiim (“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kedhaliman yang besar.”) (HR Muslim dari hadits al-A’masy)

Kemudian dia mengiringi wasiat beribadah kepada Allah Yang Esa dengan berbakti kepada kedua orang tua, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: wa qadlaa rabbuka allaa ta’buduu illaa iyyaaHu wa bil waalidaini ihsaanan (“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”)(al-Israa’: 23). Dan banyak sekali Allah mengiringi di antara kedua hal tersebut di dalam al-Qur’an.

Di dalam ayat ini Allah berfirman: wa wash shainal insaana biwaalidaini hamalatHu ummuHuu waHnin ‘alaa waHnin (“Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”) Mujahid berkata: “Beratnya mengandung anak.” Qatadah berkata: “Keberatan demi keberatan.” Sedangkan ‘Atha’ al-Khurasani: “Kelemahan demi kelemahan.”

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (2)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

Fabasy-syirHu bi’adzaabin aliim (“Maka berilah kabar gembira dia dengan adzab yang pedih.”) yaitu pada hari Kiamat dia akan disakiti, sebagaimana dia merasa sakit dengan mendengarkan Kitabullah dan ayat-ayat-Nya.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 8-9“8. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh kenikmatan, 9. kekal mereka di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Luqman: 8-9)

Ayat ini menyebutkan tentang tempat kembali orang-orang yang berbakti dari golongan orang-orang yang berbahagia di negeri akhirat, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul serta melakukan amal-amal dengan mengikuti syariat Allah.
laHum jannaatun na’iim (“Bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan.”) yaitu mereka mendapatkan kenikmatan di dalamnya dengan berbagai macam kelezatan dan kesenangan dari berbagai jensi makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, wanita, keindahan serta mendengarkan sesuatu yang belum pernah terlintas dalam hati sedikitpun.Sedangkan mereka tinggal di dalamnya kekal selama-lamanya, tidak akan berpindah dan tidak ingin berpindah darinya.

Firman Allah: wa’dallaaHi haqqan (“Sebagai janji Allah yang benar.”) semua ini kejadian yang bukan mustahil, karena hal itu adalah janji Allah. Sedangkan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, karena Dia Mahamulia, Mahapemberi nikmat, Maha melakukan apa yang Dia kehendaki dan Mahakuasa atas segala sesuatu.
Wa Huwal ‘aziizu (“Dan Dia-lah yang Mahaperkasa.”) yang mendominasi segala sesuatu tunduk kepada-Nya. alhakiim (“lagi Mahabijaksana”) dalam perkataan dan perbuatan-Nya yang telah menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 10-11“10. Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. 11. Inilah ciptaan Allah, Maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (Luqman: 10-11)

Dengan ayat ini Allah menjelaskan tentang kekuasaan-Nya yang agung dan menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Allah Ta’ala berfirman: khalaqas samaawaati bighairi ‘amadin (“Dia menciptakan langit tanpa tiang.”) al-Hasan dan Qatadah berkata: “Dia tidak memiliki tiang, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.” Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah dan Muhahid berkata: “Dia memiliki tiang yang tidak terlihat.” Penetapan masalah ini telah dijelaskan di dalam surah ar-Ra’d yang tidak perlu diulang lagi.

Wa alqaa fil ardli rawaasiya (“Dia meletakkan gunung-gunung [di permukaan bumi].”) yaitu gunung-gunung menancap ke dalam bumi dan memberatkannya agar bumi tidak menggoncangkan penghuninya di atas permukaan air. Untuk itu Dia berfirman: an tamiida bikum (“Supaya bumi itu tidak menggoyangkanmu.”) dan firman-Nya: wa bats-tsa fiiHaa min kulli daabbaH (“Segala macam jenis binatang.”) yaitu Dia menciptakan di atas bumi berbagai jenis hewan yang tidak diketahui jumlah, bentuk dan warnanya kecuali Yang menciptakannya. Ketika Allah swt. telah menetapkan bahwa Dia adalah Mahapencipta, maka Dia pun mengingatkan bahwa Dia adalah Mahapemberi rizky dengan firman-Nya: wa anzalnaa minas samaa-i maa-an fa anbatnaa fiiHaa min kulli zaujin kariim (“Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”) yaitu segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik, yaitu indah dipandang.

Asy-Sya’bi berkata: “Manusiapun merupakan bagian dari tumbuh-tumbuhan bumi. Barangsiapa yang masuk surga, maka dialah yang baik dan baangsiapa yang masuk neraka, maka dialah yang buruk.

Dan firman Allah: Haadzaa khalqullaaH (“Inilah ciptaan Allah.”) penciptaan langit dan bumi serta seluruh isinya yang diceritakan oleh Allah yang muncul dari perbuatan, penciptaan dan takdir Allah yang Esa Yang tidak akan sekutu bagi-Nya.
Fa aruunii maa dzaa khalaqal ladziina min duuniHi (“Maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan[mu] selain Allah.”) yaitu berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang kalian sembah dan kalian seru. Balidh-dhaalimuuna (“Sebenarnya orang-orang yang dhalim itu.”) yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah dan menyembah selain-Nya, fii dlalaalin (“Berada dalam kesesatan.”) yaitu kebodohan dan kebutaan, mubiin (“Yang nyata.”) yaitu tegas dan jelas, tidak ada yang tersembunyi.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 12“12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.’” (Luqman: 12)

Para ulama salaf berbeda pendapat tentang Luqman, apakah dia seorang Nabi atau seorang hamba yang shalih yang bukan Nabi. Dalam hal ini terdapat dua pendapat dua pendapat dan mayoritas berpendapat dengan pendapat kedua. Ibnu Jarir berkata bahwa Khalid ar-Rib’i berkata: “Luqman adalah hamba Habsyi [Ethiopia] dan tukang kayu. Tuannya berkata kepadanya: “Sembelihlah kambing ini untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Tuannya berkata: “Keluarkanlah dua daging yang paling baik.” Lalu dia mengeluarkan lisan dan jantung. Kemudian dia diam sejenak lalu berkata: “Sembelihlah kambing ini untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Tuannya berkata: “Keluarkanlah dua daging yang lebih buruk.” Lalu dia mengeluarkan lisan dan jantung. Tuannya berkata: “Aku perintahkan engkau mengeluarkan dua daging yang paling baik, lalu engkau mengeluarkannya dan aku perintahkan engkau untuk mengeluarkan dua daging yang paling buruk, lalu engkau mengeluarkan keduanya juga.” Maka Luqman menjawab: “Karena tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada keduanya jika keduanya baik, dan tidak ada sesuatu yang lebih buruk jika keduanya buruk.” wallaaHu a’lam.”
Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (1)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

tulisan arab alquran surat luqman ayat 1-5bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)

“1. Alif laam Miim[*]. 2. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmat, 3. menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, 4. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. 5. mereka Itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (Luqman: 1-5)

[*] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Allah telah menjadikan al-Qur’an ini sebagai petunjuk, obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik. Yaitu orang-orang yang memperbaiki amalnya dengan mengikuti syariat, lalu mereka mendirikan shalat yang wajib dengan batas-batasnya, waktu-waktunya serta shalat-shalat yang mengiringinya, baik tambahan yang bersifat rawatib maupun yang tidak rawatib. Merekapun menunaikan zakat yang wajib bagi orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka menyambung tali silaturahim dan kerabat-kerabat mereka serta meyakini balasan pahala di negeri akhirat. Sehingga mereka amat berharap agar Allah memberikan pahala-Nya, tidak berbuat riya’, serta tidak menghendaki balasan dan ucapan terimakasih dari manusia manapun. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka orang itu termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Allah: ulaa-ika ‘alaa Hudam mir rabbiHim (“Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya.”) berdasarkan ilmu dan bukti serta manhaj yang tegas dan jelas. Wa ulaa-ika Humul muflihuun (“Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”) di dunia dan di akhirat.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 6-7“6. dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. 7. dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami Dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah Dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; Maka beri kabar gembiralah Dia dengan azab yang pedih.” (Luqman: 6-7)

Di saat Allah menyebutkan kondisi orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang mengambil petunjuk dari Kitabullah serta mengambil manfaat dari mendengarkannya, maka Dia mengirininya dengan menyebutkan kondisi orang-orang yang celaka, yaitu orang-orang yang berpaling dari mengambil manfaat dan mendengarkan Kalamullah serta antusias mendengarkan alat-alat musik dan lagu dalam senandung dan alat-alat musik. Sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud tentang firman-Nya: wa minan naasi may yasytarii laHwal hadiitsi liyu-dlillu ‘an sabiilillaaHi (“Dan di antara manusia [ada] orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan [manusia dari jalan Allah.”) demi Allah, itu adalah lagu. Demi Allah yang tidak ada Ilah [yang haq] kecuali Dia. beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Jabir, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Mak-hul, ‘Amr bin Syu’aib dan ‘Ali bin Badzimah.

Al-Hasan al-Bashri berkata, diturunkannya ayat ini: wa minan naasi may yasytarii laHwal hadiitsi liyu-dlillu ‘an sabiilillaaHi bighairi ‘ilmi (“Dan di antara manusia [ada] orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan [manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan.”) pada lagu dan alat-alat musik.

Sedangkan Qatadah berkata tentang firman-Nya itu: “Demi Allah, mungkin maksudnya, seseorang tidak mengeluarkan hartanya, tetapi dikeluarkannya untuk membeli sesuatu yang dia senangi dari sesuatu yang menyesatkan, dimana ia lebih memilih untuk membeli suatu pembicaraan yang bathil daripada pembicaraan yang haq, dan membeli sesuatu yang membahayakan daripada sesuatu yang bermanfaat. Satu pendapat mengatakan: “Yang dimaksud dengan firman-Nya: yasytarii laHwal hadiitsi (“[ada] orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna,”) yaitu membeli hamba sahaya yang pandai bernyanyi, wallaaHu a’lam. Ibnu Jarir memilih pendapat bahwa ayat itu adalah semua perkataan yang menghalangi dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.

Firman-Nya: liyu-dlilla ‘an sabiilillaaH (“Untuk menyesatkan [manusia] dari jalan Allah.”) hal tersebut dilakukan untuk membedakan Islam dan kaum Muslimin. Atas dasar bacaan fathah “ya”, maka laam-nya adalah laam ‘aaqibah atau akibat tersebut adalah alasan dari sebuah perkara takdir, yaitu mereka memperjualbelikan semua itu agar mereka [kaum muslimin] juga menjadi seperti itu.

Firman Allah: wa yattakhidzaHaa Hujuwan; Mujahid berkata: “Dan menjadikan jalan Allah bahan olok-olok.” Qatadah berkata: “Yaitu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan olok-olok.” Pendapat Mujahid lebih utama.

Firman-Nya: ulaa-ika laHum ‘adzaabum MuHiin (“Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.”) sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya [agama-Nya], mereka pun akan dihinakan pada hari kiamat dalam siksaan yang pedih dan terus menerus. kemudian Allah berfirman: wa idzaa tutlaa ‘alaiHi aayaatunaa wallaa mustakbiran ka-allam yasma’Haa ka-anna fii udzunaiHi waqran (“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarkannya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya.”) yaitu orang yang antusias dengan kelalaian, permainan dan alat musik jika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an, dia berpaling, membangkang, mundur, pura-pura tuli seakan-akan tidak mendengarkannya, karena dia merasa sakit dengan pendengarannya. Karena sama sekali tidak ada manfaat baginya dan tidak ada keinginan terhadapnya.

Bersambung ke bagian 2