Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (3)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

‘Abdullah bin Wahb berkata: ‘Abdullah bin ‘Iyasy al-Quthbani mengabarkan kepadaku dari ‘Umar maula Ghifrah, bahwa dia berkata: “Seorang laki-laki berdiri di hadapan Luqman al-Hakim, lalu dia berkata: “Engkau Luqman, budak Bani al-Has-has?” Luqman menjawab: “Ya.” Dia bertanya: “Engkau penggembala kambing?” Luqman menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Hitam [seperti ini]!” Luqman berkata: “Kehitamanku cukup jelas, lalu apa yang membuatmu takjub?” Laki-laki itu berkata: “Manusia menggelar hamparannya untukmu, membuka lebar-lebar pintu untukmu dan amat senang dengan perkataanmu, hai anak saudaraku. Jika engkau mau mengungkapkan apa yang aku katakan kepadamu yang membuatmu dapat seperti ini.” Luqman berkata: “Aku tahan pandanganku, aku jaga lisanku, aku pelihara makananku, aku jaga kemaluanku, aku berkata jujur, aku tunaikan janjiku, aku hormati tamuku, aku perhatikan tetanggaku, dan aku tinggalkan apa yang tidak penting bagiku. Itulah semua yang menyebabkan aku menjadi apa yang engkau lihat.”

Ibnu Abi Hatim berkata: Suatu hari Abud Darda’ berkata dan menceritakan Luqman al-Hakim: “Dia tidak pernah diberikan sesuatu seperti keluarga, harta, kehormatan dan sesuatu hal. Akan tetapi dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir dan berpandangan mendalam. Dia tidak pernah tidur siang, buang air kecil dan air besar seenaknya dan mandi, menganggur serta tertawa sembarangan. Dia tidak pernah mengulang kata-katanya kecuali dia mengatakan hikmah yang diminta dan seseorang untuk mengulanginya. WallaaHu a’lam.”

Cerita yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah tentang firman Allah: wa laqad aatainaa luqmaanal hikmaH (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah.”) yaitu pemahaman tentang Islam, padahal ia bukan seorang Nabi dan tidak diberikan wahyu. Dan firman-Nya: wa laqad aatainaa luqmaanal hikmaH (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah.”) yaitu pemahaman, pengetahuan dan ta’bir mimpi. nisykurlillaaHi (“yaitu bersyukurlah kepada Allah.”) Kami memerintahkan kepadanya untuk bersyukur kepada Allah atas apa yang diberikan, dianugerahkan dan dihadiahkan oleh-Nya berupa keutamaan yang hanya dikhususkan kepadanya, tidak kepada orang lain yang sejenis di masanya.

Wa may yasykur fa innamaa yasykuru linafsiHi (“dan barangsiapa yang bersyukur [kepada Allah] maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.”) yaitu manfaat dan pahalanya hanya akan kembali kepada orang-orang yang bersyukur itu sendiri, berdasarkan firman Allah: “Dan barangsiapa yang beramal shalih, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan [tempat yang menyenangkan].”)(ar-Ruum: 44) dan firman-Nya: wa man kafara fa innallaaHa ghaniyyun hamiid (“dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.”) yaitu Mahakaya dari hamba-hamba-Nya, dimana hal itu [ketidakbersyukurannya] tidak dapat membahayakan-Nya, sekalipun seluruh penghuni bumi mengkufuri-Nya. karena sesungguhnya Allah Mahakaya dari selain-Nya. tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya.

tulisan arab alquran surat luqman ayat 13-15“13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’ 14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 13-15)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang wasiat Luqman kepada puteranya, yaitu Luqman bin ‘Anqa’ bin Sadun. Sedangkan nama puteranya adalah Tsaran, menurut suatu pendapat yang diceritakan oleh as-Suhaily. Allah telah menyebutnya dengan sebaik-baik sebutan dan diberikannya dia hikmah. Dia memberikan wasiat kepada puteranya yang merupakan orang yang paling dikasihi dan dicintainya, dan ini hakekat dianugerahkannya ia dengan sesuatu yang paling utama. Untuk itu pertama-tama dia memberikan wasiat untuk beribadah kepada Allah Yang Mahaesa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Kemudian Dia mengingatkan, inna syirka ladhulmun ‘adhiim (“Sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kedhaliman yang besar.”) yakni syirik adalah kedhaliman terbesar.

Al-Bukhari meriwayatkan bahwa ‘Abdullah berkata: Ketika turun: alladziina aamanuu wa lam yalbasuu iimaanaHum bi dhulmin (“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedhaliman [syirik], mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” )(al-An’am: 82). Hal tersebut membuat keresahan terhadap para shahabat Rasulullah saw. dan mereka bertanya: “Siapakah diantara kami yang tidak mencampuradukkan keimanan dengan kedhaliman?” Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bukan demikian yang dimaksud. Apakah engkau tidak mendengar perkataan Luqman: yaa bunayya laa tusyrik billaaH, inna syirka ladhulmun ‘adhiim (“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kedhaliman yang besar.”) (HR Muslim dari hadits al-A’masy)

Kemudian dia mengiringi wasiat beribadah kepada Allah Yang Esa dengan berbakti kepada kedua orang tua, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: wa qadlaa rabbuka allaa ta’buduu illaa iyyaaHu wa bil waalidaini ihsaanan (“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”)(al-Israa’: 23). Dan banyak sekali Allah mengiringi di antara kedua hal tersebut di dalam al-Qur’an.

Di dalam ayat ini Allah berfirman: wa wash shainal insaana biwaalidaini hamalatHu ummuHuu waHnin ‘alaa waHnin (“Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”) Mujahid berkata: “Beratnya mengandung anak.” Qatadah berkata: “Keberatan demi keberatan.” Sedangkan ‘Atha’ al-Khurasani: “Kelemahan demi kelemahan.”

Bersambung ke bagian 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: