Arsip | 06.01

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Muddatstsir (4)

2 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al- Muddatstsir (Orang yang Berkemul)
Surah Makkiyyah; surah ke 74: 56 ayat

Firman Allah: wa maa Hiya illaa dzikraa lil basyar (“Dan neraka saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.”) Mujahid dan lain-lainnya mengatakan: wa maa Hiya; yaitu neraka yang disifati, illaa dzikraa lil basyar (“tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.”) kemudian Allah Ta’ala berfirman: kallaa walqamara. Wallaili idz adbara (“Sekali-sekali tidak, demi bulan. Dan malam ketika telah berlalu.”) yakni telah lewat. Wash shubhi idzaa asfara (“Dan shubuh apabila mulai terang.”) yakni telah muncul. innaHaa la ihdal kubari (“Sesungguhnya neraka saqar itu adalah salah satu benacana yang amat besar.”) yakni sangat besar, yaitu neraka. demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan banyak ulama salaf.
Nadziiral lil basyari, liman syaa-a minkum ay yataqaddama wa akhkhara (“Sebagai ancaman bagi manusia. Yaitu bagi siapa di antara kamu yang berkehendak akan maju atau mundur.”) yakni bagi siapa saja yang hendak mundur, berpaling, dan menolaknya.

tulisan arab alquran surat al muddatstsir ayat 38-56“38. tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, 39. kecuali golongan kanan, 40. berada di dalam syurga, mereka tanya menanya, 41. tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 42. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” 43. mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, 44. dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin, 45. dan adalah Kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, 46. dan adalah Kami mendustakan hari pembalasan, 47. hingga datang kepada Kami kematian”. 48. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at. 49. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?, 50. seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, 51. lari daripada singa. 52. bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka. 53. sekali-kali tidak. sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. 54. sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Quran itu adalah peringatan. 55. Maka Barangsiapa menghendaki, niscaya Dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Quran). 56. dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.” (al-Muddatstsir: 38-56)

Allah berfirman seraya memberitahukan bahwa: kullu nafsim bimaa kasabat raHiinatun (“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”) yakni tergantung pada amalnya pada hari kiamat kelak. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas dan lain-lain. Illaa ash-haabal yamiin (“Kecuali golongan kanan.”) karena sesungguhnya mereka:
Fii jannaatiy yatasaa-aluuna ‘anil mujrimiin (“Berada di dalam surga, mereka saling bertanya tentang [keadaan] orang-orang yang berdosa.”) maksudnya, mereka menanyakan keadaan orang-orang yang berbuat dosa, saat itu mereka berada di dalam bilik-bilik di surga, sedang orang-orang berdosa itu berada di tingkatan paling bawah.

Mereka bertanya kepada orang-orang itu: maa salakakum fii saqar. Qaaluu lam naku minal mushalliina. Walam naku nuth-‘imul miskiina (“Apakah yang memasukkanmu ke dalam [neraka] saqar? Mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan kepada orang miskin.”) maksudnya kami tidak mengabdi kepada Rabb kami tidak juga berbuat baik kepada sesama makhluk-Nya yang satu jenis dengan kami. Wa kunnaa nakhuu-dlu ma’al khaa-i-dliin (“Dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.”) maksudnya kami memperbincangkan hal-hal yang tidak kami ketahui. Qatadah mengatakan: “Setiap kali ada orang yang menyimpang, maka kami pun ikut menyimpang bersamanya. Wa kunnaa nukadzdzibu biyaumiddiin. hattaa ataanal yaqiin (“Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami sesuatu yang pasti.”) yakni kematian.

Firman Allah: famaa tanfa-‘uHum syafaa-‘atusy syaafi’iin (“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.”) yakni orang-orang yang mensifati diri dengan sifat-sifat ini, maka sesungguhnya pada hari kiamat kelak, syafaat seseorang tidak akan pernah memberikan manfaat kepada mereka. Sebab syafaat itu hanya berlaku jika orang yang dituju itu memang mau menerimanya. Sedangkan bagi orang yang dicap oleh Allah sebagai orang kafir pada hari kiamat, maka sudah pasti baginya neraka jahanam, dia akan kekal di dalamnya.

Firman Allah: famaa laHum ‘anit tadzkirati mu’ridliin (“Maka mengapa mereka berpaling dari peringatan [Allah]?”) maksudnya mengapa orang-orang kafir itu berpaling dari apa yang engkau serukan dan peringatkan kepada mereka.
Ka annaHum humurum mustanfiratun farrat ming qaswaratin (“Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.”) maksudnya seakan-akan pelarian mereka dari kebenaran dan penolakannya terhadapnya seperti keledai liar ketika melarikan diri dari singa yang memburunya. Demikian yang dikatakan oleh Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas dalam sebuah riwayat darinya, juga Zaid bin Aslam dan puteranya, ‘Abdurrahman. Dan ia merupakan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, sekaligus menjadi pendapat jumhur.

Firman Allah: bal yuriidu kullum ri-im minHum ay yu’taa shuhufam munasysyaratan (“Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka.”) maksudnya masing-masing dari orang-orang musyrik ingin agar al-Kitab diturunkan kepada mereka, seperti yang diturunkan kepada Nabi saw. Demikian itu yang disampaikan oleh Mujahid dan lain-lain.
Ayat tersebut sebagaimana firman Allah yang artinya: “Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata: ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.’ Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (al-An’am: 124)

Dan dalam sebuah riwayat dari Qatadah: “Mereka ingin agar diberi kebebasan tanpa beramal.” Dengan demikian firman Allah Ta’ala: kallaa ballaa yakhaafuunal aakhiratan (“Sekali-sekali tidak, sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.”) maksudnya mereka dihancurkan karena mereka tidak beriman kepada alam akhirat dan juga pendustaan mereka terhadap kejadiannya.

Firman Allah: kallaa innaHuu tadzkiratun (“Sekali-sekali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah peringatan.”) maksudnya, sungguh al-Qur’an itu sebagai peringatan.
Faman syaa-a dzakaraHu. Wamaa yadzkuruuna illaa ay yasyaa allaaHu (“Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya. Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali [jika] Allah menghendakinya.”)

Dan firman Allah: Huwa aHlut taqwaa wa aHlul maghfirati (“Dia adalah Rabb yang patut [kita] bertakwa kepada-Nya dan berhak memberikan ampunan.”) maksudnya Dia-lah Rabb yang memang berhak untuk ditakuti sekaligus Rabb yang berwenang untuk mengampuni dosa orang yagn bertaubat dan kembali kepada-Nya. demikian yang dikemukakan oleh Qatadah.

Sekian.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Muddatstsir (3)

2 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al- Muddatstsir (Orang yang Berkemul)
Surah Makkiyyah; surah ke 74: 56 ayat

Faqaala in Haadzaa illaa sihruy yu’tsar (“seraya berkata: ‘[Al-Qur’an] ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari.’”) yakni sihir yang dinukil oleh Muhammad dari orang-orang sebelumnya dan dia menceritakannya dari mereka. Oleh karena itu dia berkata: in Haadzaa illaa qaulul basyar (“Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.”) yakni bukan firman Allah. Dan orang yang disebutkan dalam redaksi ayat-ayat di atas adalah al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi, salah seorang pemimpin Quraisy semoga Allah melaknatnya.

Firman Allah: wa maa adraaka maa saqar (“Tahukah kamu apa neraka saqar itu?”) hal itu untuk menggambarkan kengerian dan kedahsyatannya. Kemudian Dia menafsirkan hal tersebut melalui firman-Nya: laa tubqii walaa tadzaru (“Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.”) yakni yang memakan daging, keringat, urat-urat dan kulit-kulit mereka. Setelah itu akan diganti dengan yang lainnya. Pada saat itu mereka tidak mati dan tidak juga hidup. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Buraidah dan Abu Sinan serta yang lainnya.

Firman Allah: lawwaahatul lil basyar “[Neraka saqar] adalah pembakar kulit manusia.”) Mujahid mengatakan: “Yakni yang membakar kulit.” Abu Razin mengemukakan: “Membakar kulit sehingga menjadi hitam legam, lebih legam dari malam hari.”
Firman-Nya: ‘alaiHaa tis’ata ‘asyara (“Di atasnya ada sembilanbelas.”) yakni dari para malaikat Zabaniyah terdepan, postur mereka tampak besar lagi kasar.

tulisan arab alquran surat al muddatstsir ayat 31-37“31. dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. 32. sekali-kali tidak, demi bulan, 33. dan malam ketika telah berlalu, 34. dan subuh apabila mulai terang. 35. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang Amat besar, 36. sebagai ancaman bagi manusia. 37. (yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur.” (al-Muddatstsir: 31-37)

Firman Allah: wa maa ja’alnaa ash-haaban naari (“Dan tidaklah Kami jadikan penjaga neraka itu.”) yakni penjaganya, illaa malaa-ikatan (“melainkan dari malaikat.”) yakni malaikat Zabaniyah yang tampak bengis lagi kasar. Hal tersebut sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrik Quraisy ketika mereka menyebutkan jumlah penjaga neraka tersebut, dimana Abu Jahal mengatakan: “Wahai sekalian kaum Quraisy, tidak mampukah setiap sepuluh orang di antara kalian melawan satu malaikat dan mengalahkannya?” maka Allah berfirman: wa maa ja’alnaa ash-haaban naari illaa malaa-ikatan (“Dan tidaklah Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat.”) yakni berpenampilan sangar , tidak ada yang berani melawan dan mengalahkannya.

Ada yang mengatakan bahwa Abul Asydain, namanya adalah Kildah bin Usaid bin Khalaf, ia berkata: “Wahai sekalian kaum Quraisy kalian lawan dua dari mereka untuk menjagaku, dan aku akan melawan tujuh belas dari mereka untuk menjaga kalian.” Hal itu sebagai bentuk ke’ujubannya [kesombongannya] atas dirinya sendiri. Menurut mereka orang ini mempunyai kekuatan yang luar biasa, dimana dia berdiri di atas kulit sapi, lalu kulit tersebut ditarik oleh sepuluh orang untuk melepaskannya dari bawah kakinya, dan ternyata kulit sapi itu robek sedang dia tidak bergeming dari tempatnya.

As-Suhaili mengatakan bahwa orang itulah yang pernah mengajak Rasulullah saw. bertarung dengannya seraya berkata: “Jika kamu bisa mengalahkanku maka aku akan beriman kepadamu.” Maka Nabi pun berhasil mengalahkannya namun dia tetap tidak beriman. Dia mengatakan, Ibnu Ishaq telah menisbatkan kabar itu kepada Rakanah bin ‘Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib. Dapat dikatakan bahwa tidak ada pertentangan antara apa yang disebutkan oleh keduanya. wallaaHu a’lam.

Firman Allah Ta’ala: wa maa ja’alnaa ‘iddataHum illaa fitnatal lilladziina kafaruu (“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka ituj melainkan agar menjadi cobaan bagi orang-orang kafir.”) maksudnya Kami menyebutkan jumlah mereka, yakni sembilan belas orang, sebagai ujian dari Kami untuk manusia.

Liyastaiqinal ladziina uutul kitaaba (“Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin.”) yakni mengetahui bahwa Rasul itu benar, dan bahwasannya ia berbicara sesuai dengan kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada Nabi-Nabi sebelumnya, yang ada di tangan mereka.

Firman Allah: wa yazdaadal ladziina aamanuu iimaanan (“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.”) yakni disamping keimanan mereka atas apa yang mereka saksikan, berupa kebenaran berita nabi mereka, Muhammad saw.
Wa laa yartaaballadziina uutul kitaaba wal mu’minuuna wa liyaquulal ladziina fii quluubiHim maradlun (“Dan agar orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang yang di dalam hatinya ada penyakit.”) yakni dari kalangan orang-orang munafik. Wal kaafiruuna maa dzaa araadallaaHu biHaadzaa matsalan (“Dan orang-orang kafir [mengatakan]: ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?’”) yakni mereka mengatakan: “Apa hikmah dari penyebutan ini?”

Firman Allah: kadzaalika yudlil lullaaHu may yasyaa-u wa yaHdii may yasyaa-u (“Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”) yakni perumpamaan seperti ini dan juga yang semisalnya akan mempertebal keimanan dalam hati sebagian orang dan menurunkan keimanan sebagian yang lainnya. Dan dalam hal ini, Dia memiliki hikmah yang besar dan hujjah yang pasti.

Firman Allah: wa maa ya’lamu junuuda rabbika illaa Huwa (“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri.”) maksudnya, tidak ada yang mengetahui jumlah dan banyaknya kecuali hanya Dia Yang Mahatinggi. Yang demikian itu dimaksudkan agar tidak ada orang yang mengira bahwa jumlah mereka hanya sembilan belas, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh kelompok orang-orang sesat lagi bodoh. Dan telah ditetapkan pula di dalam hadist isra’ yang diriwayatkan dalam kitab ash-Shahihain dan juga yang lainnya, dari Rasulullah saw., bahwa beliau pernahbersabda berkenaan dengan sifat Baitul Ma’mur di langit tingkat ketujuh: “Ternyata setiap harinya ia dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat dan mereka tidak kembali [keluar] lagi.”

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Muddatstsir (2)

2 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al- Muddatstsir (Orang yang Berkemul)
Surah Makkiyyah; surah ke 74: 56 ayat

Firman Allah Ta’ala: war rujza faHjur (“Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah.”) ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Az-zajr berarti patung-patung, tingggalkanlah.”
Ibrahim dan Adh-Dhahhak mengatakan: “Ar rujza faHjur yaitu tinggalkanlah kemaksiatan. Bagaimanapun maknanya, tidak berarti Nabi telah melakukan kemaksiatan sebelumnya. Yang demikian itu seperti firman Allah: yaa ayyuHan nabiyyut taqillaaHa wa laa tuthi’il kaafiriina wal munaafiqiina (“Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah mentaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik.”)(al-Ahzab: 1)

Firman Allah: wa laa tamnun tastaktsir (“Dan janganlah kamu memberi [dengan maksud] memperoleh [balasan] yang lebih banyak.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Janganlah engkau memberi sesuatu untuk mendapatkan yang lebih banyak.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, dan lain-lain. Ibnu Zaid mengatakan: “Janganlah engkau memberi manusia atas nama kenabian dengan tujuan mendapatkan balasan yang lebih banyak dan mengambil pengganti dari hal-hal yang bersifat duniawi.” Dan yang paling jelas adalah pendapat pertama, wallaaHu a’lam.

Firman Allah: walirabbika fashbir (“Dan untuk [memenuhi perintah] Rabbmu bersabarlah.”) maksudnya jadikanlah kesabaranmu atas tindakan mereka yang menyakitkan untuk mendapatkan keridhaan Rabb-mu. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid.

Dan firman Allah: fa idzaa nuqira finnaaquur. Fadzaalika yauma-idziy yaumun ‘asiir, ‘alal kaafiriina ghairu yasiir (“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu [datangnya] hari yang suli bagi orang-orang kafir yang tidak mudah.”) Ibnu ‘Abbas mengatkan, annaaqiir; bersarti sangkakala, Mujahid mengatakan: “Sangkakala itu menyerupai tanduk.”

Firman-Nya: fa dzaalika yauma-idziy yaumun ‘asiir (“Maka waktu itu adalah waktu [datangnya]hari yang sulit.”) yakni yang keras. ‘alal kaafiriina ghairu yasiir (“Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.”) yakni tidak mudah bagi mereka.

tulisan arab alquran surat al muddatstsir ayat 11-30“11. biarkanlah aku bertindak terhadap orang yang aku telah menciptakannya sendirian. 12. dan aku jadikan baginya harta benda yang banyak, 13. dan anak-anak yang selalu bersama Dia, 14. dan Ku lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, 15. kemudian Dia ingin sekali supaya aku menambahnya. 16. sekali-kali tidak (akan aku tambah), karena Sesungguhnya Dia menentang ayat-ayat Kami (Al Quran). 17. aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. 18. Sesungguhnya Dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), 19. Maka celakalah dia! bagaimana Dia menetapkan?, 20. kemudian celakalah dia! Bagaimanakah Dia menetapkan?, 21. kemudian Dia memikirkan, 22. sesudah itu Dia bermasam muka dan merengut, 23. kemudian Dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, 24. lalu Dia berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), 25. ini tidak lain hanyalah Perkataan manusia”. 26. aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. 27. tahukah kamu Apakah (neraka) Saqar itu? 28. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. 29. (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. 30. dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga).” (Al-Muddatstsir: 11-30)

Allah Ta’ala berfirman seraya mengancam orang jahat yang telah dikaruniai berbagai nikmat dunia, lalu dia ingkar terhadap nikmat-nikmat tersebut dan bahkan menggantinya dengan kekufuran serta membalasnya dengan keingkaran terhadap ayat-ayat Allah serta mengada-ada terhadapnya dan menganggap ayat-ayat tersebut hanya ungkapan manusia. Dan Allah telah menghitung berbagai nikmat yang Dia berikan kepadanya, dimana dia berfirman: dzarnii waman khalaqtu wahiidan (“Biarkanlah aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendiri.”) maksudnya dia lahir dari perut ibunya seorang diri tanpa membawa harta dan juga anak. kemudian setelah itu Allah memberinya rizky, maalam mamduudan (“harta benda yang banyak.”) yakni yang luas lagi banyak. Selain itu Dia juga mengaruniakan kepadanya: wa baniina syuHuudan (“dan anak-anak yang selalu bersamanya.”) Mujahid mengatakan: “Maksudnya, anak-anak itu selalu hadir bersamanya, tidak bepergian untuk berdagang, tetapi ururan tersebut ditangani oleh budak-budak dan orang-orang bayaran mereka, sedang mereka sendiri duduk-duduk di dekat ayah mereka untuk bersenang-senang bersamanya.”
Yang disebut oleh as-Suddi Abu Malik, Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, mereka ini berjumlah tiga belas orang. Ibnu ‘Abbas dan Mujahid mengatakan: “Mereka berjumlah sepuluh orang.” Dan itu merupakan nikmat yang sangat besar dan luar biasa menyenangkan, yaitu kebersamaan mereka di dekatnya.

Wa maHHat tu laHuu tamHiidan (“Dan Ku-lapangkan baginya [rizky dan kekuasaan] dengan selapang-lapangnya.”) maksudnya Aku telah berikan kepadanya berbagai macam harta, perkakas rumah tangga, dan lain-lain.
Tsumma yathma’u an aziida kallaa innaHuu kaana li aayaatinaa ‘aniidan (“Kemudian dia ingin sekalia agar Aku menambahnya. Sekali-sekali tidak [tidak Aku tambah], karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami.”) yaitu orang yang ingkar, yaitu kufur atas nikmat-nikmat-Nya setelah dia mengetahuinya.
Sa urHiquHuu sha’uudan (“Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.”) Mujahid mengatakan: “Yakni penderitaan yang diakibatkan oleh adzab.” Qatadah mengatakan: “Yakni adzab yang tiada henti-hentinya.” Demikian itu yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

innaHuu fakkara wa qaddara (“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan.”) yakni Kami bebani dia dengan pendakian. Dengan kata lain, Kami dekatkan dia dengan adzab yang sangat berat karena jaraknya yang sangat jauh dari keimanan, karena dia telah memikirkan dan menetapkannya. Yakni dia merenungkan apa yang akan dia katakan mengenai al-Qur’an ketika ditanyakan kepadanya, maka diapun berfikir, ungkapan apa yang bisa dia buat. Wa qaddara (“dan menetapkan.”) merenung.
Faqutila kaifa qaddara. Tsumma qutila kaifa qaddara (“Maka celakalah dia. bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia, bagaimana dia menetapkan?”) doa keburukan untuknya. Tsumma nadhar (“Kemudian dia memikirkan”) yakni melakukan pandangan ulang dan perenungan. Tsumma ‘abasa (“Sesudah itu dia bermasam muka”) yakni menarik kedua matanya dan mengerutkan dahi, wa basara (“dan merengut.”) yakni sinis, dan tampak benci. Dari kata itu pula muncul ungkapan Taubah bin Humair:
“Dan aku dibuat ragu oleh beberapa rintangan yang aku temukan, dan penghalang serta kesinisannya terhadap kepentinganku.”

Firman Allah Ta’ala: tsumma adbara wastakbara (“Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri.”) yakni berpaling dari kebenaran dan kembali dengan sikap sombong lagi enggan untuk tunduk kepada al-Qur’an.

Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Muddatstsir (1)

2 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al- Muddatstsir (Orang yang Berkemul)
Surah Makkiyyah; surah ke 74: 56 ayat

tulisan arab alquran surat al muddatstsir ayat 1-10bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. dan Tuhanmu agungkanlah! 4. dan pakaianmu bersihkanlah, 5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. 8. apabila ditiup sangkakala, 9. Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, 10. bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.” (al-Muddatstsir- 1-10)

Di dalam kitab shahih al-Bukhari telah ditetapkan dari hadits Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Jabir bahwasannya dia pernah mengatakan bahwa yang pertama kali diturunkan dari al-Qur’an adalah: yaa ayyuHal muddatstsir (“Hai orang yang berselimut.”) lalu pendapat tersebut ditentang oleh Jumhur ulama, dimana mereka berpendapat bahwa ayat al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah firman Allah: iqra’ bismirabbikalladzii khalaq (“Bacalah dengan [menyebut] Nama Rabb-mu yang menciptakan.”)(al-‘Alaq: 1)

Imam al-Bukhari meriwayatkan, telah mengabarkan kepada kami Yahya, Waki’ memberitahu kami, dari ‘Ali bin al-Mubarak dari Yahnya bin Abi Katsir, dia berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Salamah bin ‘Abdirrahman mengenai ayat al-Qur’an yang pertama kali turun, maka dia menjawab: “Yaa ayyuHal muddatsir.” Aku katakan, “Mereka berkata: iqra’ bismirabbikal ladzii khalaqa.’” Kemudian Abu Salamah mengatakan: “Aku pernah bertanya kepada Jabir bin ‘Abdillah mengenai hal tersebut, dan engkau mengatakan kepadanya seperti yang engkau katakan kepadaku.” Maka Jabir berkata: “Aku tidak memberitahumu kecuali apa yang diberitahukan Rasulullah saw. kepada kami, dimana beliau bersabda:
“Aku pernah menyendiri di gua Hira. Setelah selesai menyendiri akupun turun, tiba-tiba ada suara yang berseru kepadaku, maka aku menoleh ke kanan tetapi aku tidak melihat sesuatu, lalu akumenengok ke kiri dan aku tidak mendapati sesuatu pun. Selanjutnya aku melihat ke belakang, tetapi aku tidak menemukan siapa-siapa. Kemudian aku mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat sesuatu. Kemudian aku mendatangi Khadijah dan kukatakan: “Selimutilah aku dan siramkanlah air dingin ke tubuhku.” –ia berkata- maka dia pun menyelimutiku dan menyiramkan air dingin ke tubuhku.” –dia berkata- maka turunlah ayat: ‘Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Rabb-mu agungkanlah.’”

Demikianlah hadits tersebut disitir dari sisi ini. Dan telah diriwayatkan pula oleh Muslim melalui jalan ‘Uqail dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah dia berkata: Jabir bin ‘Abdillah memberitahuku bahwasannya dia mendengar Rasulullah saw. pernah memberitahu tentang masa penurunan wahyu, di dalam haditsnya itu, beliau bersabda: “Ketika aku berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, lalu aku mengarahkan pandangan ke langit, ternyata ada malaikat yang mendatangiku di gua Hira dengan duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Maka aku menjadi takut/panik karenanya sehingga aku tersungkur ke tanah. Kemudian aku mendatangi keluargaku dan kukatakan: ‘Selimuti aku, selimuti aku, selimuti aku.’ Lalu turunlah ayat: ‘Yaa ayyuHal muddatstsir, qum fa andzir sampai kata faHjur.”

Abu Salamah mengatakan: “Ar-Ruzja berarti berhala. Setelah itu, wahyu datang silih berganti.” Itulah lafadz al-Bukhari. Dan siyaq [redaksi] itulah yang terpelihara. Hadits ini menunjukkan bahwasanya wahyu pernah turun sebelum ini, sebagaimana disabdakan: “Ternyata malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira.” Yaitu Jibril ketika mendatangi beliau dengan mengucapkan: iqra’ bismirabbikalladzii khalaqa, khalaqal insaana min ‘alaq, iqra’ wa rabbukal akram, alladzii ‘allama bil qalam, allamal insaana maalam ya’lam (“Bacalah [dengan] menyebut Nama Rabbmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajarkan [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”)( Al-‘Alaq: 1-5). Kemudian surat ini turun beberapa waktu berlalu, lalu malaikat Jibril turun. Dan sisi penyatuan pendapat bahwa yang pertama kali turun setelah masa wahyu adalah surat ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Jabir bin ‘Abdillah memberitahu bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian wahyu sempat terhenti turun kepadaku beberapa waktu. Dan ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, lalu aku mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata malaikat yang dulu pernah mendatangiku tengah duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Maka aku pun dibuat sangat takut/ panik karenanya sehingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Selanjutnya aku mendatangi keluargaku dan kukatakan kepada mereka: ‘Selimuti aku, selimuti aku, selimuti aku.’ Lalu Allah menurunkan ayat: ‘Hai orang yang berkemul [berselimut], bangung lalu berikanlah peringatan. Dan Rabb-mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa [menyembah berhala] tingggalokanlah.’ Kemudian wahyu terpelihara dan turun berturut-turut.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits az-Zuhri.

Firman Allah: qum fa andzir (“Bangun lalu berilah peringatan.”) maksudnya bersiaplah untuk menyatukan tekad dan berikanlah peringatan kepada umat manusia sehingga dengan semua itu akan tercapai misi kerasulan sebagaimana dengan ayat pertama yang telah tercapai misi kenabian. Wa rabbaka fakabbir (“Dan Rabb-mu besarkanlah.”) yakni agungkanlah.

wa tsiyaabaka fathaHHir (“Dan pakaianmu bersihkanlah.”) al-Ajlah al-Kindi mengatakan dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, bahwasannya dia pernah didatangi seseorang dan menanyakan tentang ayat ini: wa tsiyaabaka fathaHHir (“Dan pakaianmu bersihkanlah”) dia menjawab: “Janganlah engkau mengenakannya untuk berbuat maksiat dan juga melakukan penipuan.” Ibnu Zaid mengatakan: “Orang-orang musyrik tidak biasa membersihkan diri sehingga Allah menyuruh beliau membersihkan diri dan pakaian beliau.” Pendapat ini menjadi pilihan Ibnu Jarir. Ayat ini juga mencakup pembersihan hati, sebab masyarakat Arab menyebut hati dengan istilah tsiyah [pakaian]. Sebagaimana yang diungkapkan Umru-ul Qais:
wahai Fatimah tinggalkanlah sikap menentangmu ini,
jika engkau ingin aku pergi, bersikap baiklah.
Dan jika engkau mendapat perlakuan kurang berkenan dariku,
Maka bertanyalah kepada hatiku dari hatimu, niscaya engkau terhibur.

Bersambung ke bagian 2