Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’laa

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’laa (Yang Paling Tinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 87: 19 ayat

Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari al-Barra’ bin ‘Azib, dimana dia berkata: “Shahabat Nabi saw. yang pertama kali datang kepada kami adalah Mush’ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Lalu keduanya membacakan al-Qur’an kepada kami. Kemudian ‘Ammar, Bilal, dan Sa’ad datang, setelah itu datang pula ‘Umar bin al-Khaththab pada [urusan] yang ke duapuluh. Selanjutnya Nabi saw. datang. Dan aku tidak pernah menyaksikan penduduk Madinah sebahagia ini, sampai-sampai aku menyaksikan anak-anak mengatakan: ‘Inilah Rasulullah saw. telah datang.’ Dan beliau tidak datang sehingga aku membaca: sabbihisma rabbikal a’laa (“Sucikanlah Nama Rabb-mu Yang Paling Tinggi.”) di beberapa surah yang semisalnya.”
Dan di dalam shahihain juga disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Mu’adz: “Mengapa engkau tidak mengerjakan shalat dengan membaca: Sabbihisma rabbikal a’laa atau wasy-syamsi wa dluhaaHaa atau wal-laili idzaa yaghsyaa.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir bahwasannya Rasulullah saw. dalam shalat dua hari raya ‘Ied membaca: sabbihisma rabbikal a’laa dan hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah. Dan jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka beliau membaca kedua-duanya.

Demikianlah hadits yang terdapat di dalam kitab Musnad al-Imam Ahmad. Dan telah diriwayatkan pula oleh Muslim di dalam kitab Shahihnya, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i.
Dan Imam Ahmad telah meriwayatkan di dalam Musnadnya, dari hadits Ubay bin Ka’ab, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdurrahman bin Abza, dan ‘Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah saw. dalam shalat Witir pernah membaca surah Sabbihisma rabbikal a’laa, Qul yaa ayyuHal kaafiruun, dan Qul HuwallaaHu ahad. ‘Aisyah menambahkan dan juga surah al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Naas).

tulisan arab surat al-a'laa ayat 1-13bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, 2. yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), 3. dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, 4. dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, 5. lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman. 6. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa, 7. kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. 8. dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah, 9. oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, 10. orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, 11. dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. 12. (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). 13. kemudian Dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (al-A’laa: 1-13)

Imam Ahmad berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Abu ‘Abdirrahman, beliau berkata, telah mengabarkan kepada kami Musa, yakni Ibnu Ayyub al-Ghafiqi, pamanku, Iyas bin ‘Amir memberitahu kami, aku pernah mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhari berkata, ketika ayat: “fasabbih bismirabbikal ‘adhiim” turun, maka Rasulullah saw. bersabda kepada kami: “Bacalah bacaan itu di dalam ruku’ kamu.”

Dan ketika turun ayat, sabbihisma rabbikal a’laa, maka beliau bersabda: “Bacalah bacaan itu di dalam sujud kalian.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Firman Allah: alladzii khalaqa fasawwaa (“Yang menciptakan, dan menyempurnakan [penciptaan-Nya].”) yakni yang menciptakan makhluk dan menyempurnakannya dengan bentuk yang sebaik-baiknya.

Walladzii qaddara faHadaa (“Dan yang menentukan kadar [masing-masing] dan memberi petunjuk.”) Mujahid mengatakan: “Memberi petunjuk kepada manusia jalan menuju kesengsaraan dan menuju kebahagiaan, serta memberikan petunjuk kepada binatang ternaknya untuk pergi ke tempat penggembalaannya.”

Firman Allah: walladzii akhrajal mar’aa (“Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan.”) yakni terdiri dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman.
Faja’alaHuu ghutsaa-an ahwaa (“Lalu dijadikan-Nya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni kering dan mengalami perubahan.”

Sanuq-ri-uka (“Kami akan membacakan [al-Qur’an] kepadamu hai Muhammad, falaa tansaa (“Oleh karena itu, kamu tidak akan lupa.”) yang demikian itu merupakan pemberitahuan dari Allah Ta’ala sekaligus janji dari-Nya untuk beliau, bahwa Dia akan membacakan suatu bacaan kepada beliau yang beliau tidak akan lupa terhadapnya.
Illaa maasyaa allaaHu (“Keculai jika Allah menghendaki.”) dan itulah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dan Qatadah mengatakan: “Rasulullah saw. tidak pernah melupakan sesuatu kecuali apa yang dikehendaki Allah.” Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: falaa tansaa (“Oleh karena itu kamu tidak akan lupa.”) merupakan tuntutan. Dan mereka yang berpendapat demikian menjadikan makna pengecualian ini termasuk ke dalam nasakh. Dengan pengertian lain, engkau tidak akan lupa terhadap apa yang telah Kami bacakan kepadamu, kecuali apa yang dikehendaki Allah untuk menghilangkannya, sehingga tidak ada dosa bagimu jika engkau meninggalkannya.

Firman Allah: innaHuu ya’lamul jaHra wa maa yakhfaa (“Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”) yakni, mengetahui yang ditampakkan dan yang disembunyikan oleh hamba-hamba-Nya, baik itu dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Tidak ada sesuatu dari semua itu yang tersembunyi dari-Nya.

Firman-Nya: wa nusayyiruka lil yusraa (“Dan Kami akan memberimu taufiq ke jalan yang mudah.”) Kami akan memberikan kemudahan kepadamu untuk berbagai perbuatan dan ucapan yang baik, serta membuatkan untukmu jalan yang penuh kemudahan dan toleransi lagi lurus dan seimbang, tanpa adanya kebengkokan, rintangan dan kesulitan padanya.

Firman-Nya: fadzakkir innafa-‘atidz-dzikraa (“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.”) maksudnya, sampaikanlah peringatan pada saat peringatan itu mendatangkan manfaat. Dari hal tersebut dapat kita ambil tata krama dalam menyebarkan ilmu, yaitu tidak boleh meletakkannya tidak pada tempatnya. Sebagaimana yang dikatakan Amirul Mukminin ‘Ali ra.: “Tidaklah engkau menyampaikan suatu hadits kepada suatu kaum yang tidak dapat dicerna oleh akalnya melainkan hanya akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” Dan dia juga mengatakan: “Ajaklah orang-orang berbicara mengenai apa yang mereka ketahui, apakah kalian suka mereka akan mendustakan Allah dan Rasul-Nya?”

Firman Allah: sayadzdzakkaru may yakhsyaa (“Orang yang takut [kepada Allah] akan mendapatkan pelajaran.”) maksudnya orang yang hatinya merasa takut kepada Allah dan mengetahui bahwa dia akan bertemu dengan-Nya, hai Muhammad, akan mengambil pelajaran dari apa yang engkau sampaikan.

Wa yatajannabuHal asyqaa. Alladzii yashlan naaral qubraa. Tsumma laa yamuutu fiiHaa walaa yahyaa (“Orang-orang yang celaka [kafir] akan menjauhinya. [Yaitu] orang yang akan memasuki api yang besar [nereka]. Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak [pula] hidup.”) maksudnya tidak mati sehingga bisa istirahat dan tidak juga menjalani kehidupan yang memberikan manfaat kepadanya, bahkan kehidupan itu malah mencelakakannya, karena dengan kehidupan itu dia merasakan apa yang menimpanya, berupa adzab yang pedih dan berbagai macam siksaan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudi, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Adapun para penghuni neraka, yang mereka itu benar-benar penghuninya, maka sesungguhnya mereka tidak akan mati di dalamnya dan tidak juga hidup, akan tetapi ada sekelompok manusia –atau seperti beliau sabdakan—yang mereka itu mendapat siksa api neraka karena dosa-dosa mereka –atau beliau mengatakan: karena kesalahan-kesalahan mereka—maka mereka dimatikan sehingga ketika mereka menjadi arang, mereka diizinkan untuk mendapat syafaat. Kemudian mereka dibawa kelompok demi kelompok, lalu diceburkan ke sungai-sungai surga. Dan dikatakan: ‘Wahai para penghuni surga, alirkanlah/siramkanlah air kepada mereka.’ Sehingga tumbuhlah mereka seperti tumbuhnya biji-bijian yang berada di bawah aliran air.”
Dia mengatakan: “Lalu ada seseorang dari suatu kaum yang ada pada saat itu mengatakan: ‘Seakan-akan Rasulullah saw. berada di pedalaman.’” Demikian yang diriwayatkan oleh Muslim.

tulisan arab surat al-a'laa ayat 14-19“14. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), 15. dan Dia ingat nama Tuhannya, lalu Dia sembahyang. 16. tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. 17. sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. 18. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-Kitab yang dahulu, 19. (yaitu) Kitab-Kitab Ibrahim dan Musa.” (al-A’laa: 14-19)

Allah Ta’ala berfirman: qad aflaha mantazakkaa (“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri.”) maksudnya membersihkan diri dari akhlak tercela dan mengikuti apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Wadzakarasma rabbiHii fashallaa (“Dan Dia mengingat Nama Rabb-nya, lalu dia shalat.”) yakni mengerjakan shalat pada waktunya dengan tujuan mencari keridlaan Allah dan dalam rangka mentaati perintah-Nya serta menjalankan syariat-Nya.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa kami telah meriwayatkan dari Amirul Mukminin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, dimana dia telah memerintahkan orang-orang untuk mengeluarkan zakat fitrah dan membacakan ayat ini: qad aflaha mantazakkaa Wadzakarasma rabbiHii fashallaa (“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri. Dan Dia mengingat Nama Rabb-nya, lalu dia shalat.”)

Firman-Nya: bal tu’tsiruunal hayaatad dun-yaa (“Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi.”) artinya kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat.
Wal aakhiratu khairuw wa abqaa (“Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”) maksudnya pahala Allah di alam akhirat itu lebih baik dan lebih kekal, karena dunia itu sangat hina dan fana sedangkan akhirat itu mulia lagi kekal abadi. Bagaimana mungkin seseorang yang berakal akan mengutamakan suatu hal yang fana atas yang abadi serta hanya memperhatikan hal-hal yang akan hilang dengan cepat dan tidak memperhatikan hal-hal yang ada di alam kekal abadi.

Firman Allah: inna Haadzaa lafish shuhufil uulaa. Shuhufi ibraaHiima wa muusaa (“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-Kitab terdahulu, [yaitu] Kitab-Kitab Ibrahim dan Musa.”) Ibnu Jarir memilih bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya itu bahwa yang demikia itu merupakan isyarat kepada firman-Nya:
qad aflaha mantazakkaa Wadzakarasma rabbiHii fashallaa bal tu’tsiruunal hayaatad dun-yaa Wal aakhiratu khairuw wa abqaa (“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri. Dan Dia mengingat Nama Rabb-nya, lalu dia shalat. Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”)
kemudian firman-Nya: inna Haadzaa (“Sesungguhnya ini.”) yakni kandungan firman ini, lafish shuhufil uulaa. Shuhufi ibraaHiima wa muusaa (“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-Kitab terdahulu, [yaitu] Kitab-Kitab Ibrahim dan Musa.”)
Dan apa yang menjadi pilihannya ini adalah hasan lagi kuat. Hal yang sama juga diriwayatkan dari Qatadah dari Ibnu Zaid semisalnya. wallaaHu a’lam.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: