Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (6)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Inna fii dzaalika la aayaatil lil ‘aalimiina wa min aayaatiHii manaamukum bil laili wan naHaari wabtighaa-ukum min fadl-liHi (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.”) yaitu di antara bukti-bukti kekuasaan-Nya adalah, Allah jadikan sifat tidur di waktu malam dan di waktu siang yang dengannya dapat mencapai istirahat dan ketenangan, serta menghilangkan rasa lemah dan lelah. Serta menjadikan untuk kalian upaya bertebaran, mencari nafkah dan melakukan perjalanan di waktu siang. Dan semua ini adalah lawan dari tidur.

Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yasma’uuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”) yaitu yang memperhatikan.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 24-25“24. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. 25. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).” (ar-Ruum: 24-25)

Firman Allah: wa min aayaatiHii (“dan di antara tanda-tanda.”) yang menunjukkan keagungan-Nya; yuriikumul barqa khaufaw wa thama’aw (“Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk [menimbulkan] ketakutan dan harapan.”) yaitu terkadang mereka takut dengan kejadian-kejadian sesudahnya berupa hujan deras dan kilat yang menggelegar. Dan terkadang juga mereka berharap akan sinarnya serta cukupnya hujan yang dibutuhkan yang datang kemudian. Untuk itu Allah berfirman: wa yunazzilu minas samaa-i fa yuhyii biHil ardla ba’da mautiHaa (“Dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya.”) yaitu setelah sebelumnya gersang tanpa tumbuh-tumbuhan dan tanpa sesuatu pun. Maka air itu datang: “Hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj: 5)

Dalam masalah ini terdapat pelajaran dan bukti-bukti yang nyata tentang hari kembali dan terjadinya Kiamat. Untuk itu Dia berfirman: inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy ya’qiluuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya.”
Wa min aayaatiHii an taquumas samaa-u wal ardlu bi amriHi (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya.”) seperti firman-Nya: innallaaHa yumsikus samaawaati wal ardli an tazuulan (“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap.”)(Faathir: 41). Yaitu ketika tegak dan kokoh dengan perintah dan pengaturan-Nya. kemudan ketika hari kiamat tiba, bumi akan digantikan dengan bumi dan langit yang lain. Serta keluarlah orang-orang yang mati dari kubur mereka dalam keadaan hidup dengan perintah Allah swt. serta seruan-Nya kepada mereka. Untuk itu Dia berfirman: tsumma idzaa da’aakum da’watam minal ardli idzaa antum takhrujuuna (“Kemudian apabila Dia memanggilmu sekali panggil dari bumi, seketika itu [juga] kamu keluar [dari kubur].”) yaitu dari [dalam] bumi.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 26-27“26. dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya hanya kepada-Nya tunduk. 27. dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (ar-Ruum: 27)

Allah Ta’ala berfirman: wa laHuu man fis samaawaati wal ardli (“Dan kepunyaan-Nya lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi.”) yaitu, milik dan abdi-Nya. kullu laHuu qaanituun (“Semuanya hanya tunduk kepada-Nya.”) yaitu tunduk dan khusyu’ dalam keadaan suka maupun terpaksa.

Di dalam hadits Diraj, dari Abul Haitsam, dari Abu Sa’id secara marfu’: “Setiap huruf dari al-Qur’an yang menyebutkan qunut di dalamnya, maka artinya adalah taat.”

Firman Allah: wa Huwal ladzii yabda-ul khalqa tsumma yu’iidzuHuu wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu, lebih ringan bagi-Nya.” sedangkan Mujahid berkata: “Mengulanginya lebih mudah bagi Allah daripada memulainya.” “Sedangkan memulainya sendiri begitu mudah bagi-Nya.” demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah dan lain-lain. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mendustakan Aku padahal Aku tidak demikian. Dia mencerca-Ku, padahal Aku tidak demikian. Adapun kedustannya terhadap-Ku, yaitu perkataannya: ‘Allah tidak akan menghidupkanku kembali sebagaimana Dia memulainya.’ Padahal awal penciptaan tidak lebih mudah bagi-Ku daripada mengulanginya. Sedangkan cercaannya kepada-Ku adalah perkataannya: ‘Allah mempunyai anak, padahal Aku Mahaesa tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada seorang pun yang setera dengan-Nya.’”

Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini sendiri dan diriwayatkannya sendiri pula oleh Imam Ahmad. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan keduanya [dalam menciptakan pertama kali dan dalam mengulanginya] dilihat dari sudut kekuasaan Allah swt. adalah sama saja. sedangkan al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas, semuanya amat mudah bagi-Nya, demikian yang dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Khaitsam dan Ibnu Jarir cenderung kepada pendapat itu, serta menyebutkan beberapa pendukung yang banyak sekali. Dia berkata: “Boleh jadi dhamir dalam firman-Nya: wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“Dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) kembali kepada penciptaan. Hal ini berarti menghidupkannya kembali lebih mudah daripada menciptakannya.

Firman Allah: wa laHul matsalul a’laa fis samaawaati wal ardli (“Dan bagi-Nya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas, seperti firman-Nya: laisa kamitsliHii syai-un (“Tidak ada yang serupa dengan-Nya”) Qatadah berkata bahwa tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi secara benar] kecuali Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya. Ibnu Jarir mengatakan seperti itu. Sebagian ahli tafsir ketika menyebut ayat ini menyenandungkan sya’ir kepada sebagian ahli ma’rifah:
“Jika kolam yang jernih tenang airnya,
Dan tidak ada angin yang menggoyangnya,
Niscaya langit di dalamnya dapat terlihat tanpa ragu.
Demikian pula matahari dan bintang-bintang jelas nyata.
Demikianlah hati orang-orang yang sampai pada tajalli,
Dalam kebersihan dapat terlihat Allah Yang Mahaagung.

Bersambung ke bagian 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: