Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (7)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Dia-lah Mahaperkasa yang tidak dapat dikalahkan dan ditandingi. Sesungguhnya Dia mengalahkan dan memaksa segala sesuatu dengan kekuasaan dan kerajaan-Nya Yang Mahabijaksana dalam perkataan dan perbuatan-Nya, baik secara syar’i maupun secara qadari.

Dari Malik dalam tafsirnya yang diriwayatkan dari Muhammad bin al-Munkadir tentang firman Allah Ta’ala: wa laHul matsalul a’laa (“Dan bagi-Nya lah sifat yang Mahatinggi.”) ia berkata bahwa tidak ada Ilah [yang haq] kecuali Allah.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 28-29“28. Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; Maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. 29. tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? dan Tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.” (ar-Ruum: 28-29)

Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah swt. untuk orang-orang musyrik yang menyembah selain Dia bersama-Nya serta menjadikan untuk-Nya berbagai sekutu. Padahal mereka sendiri mengakui bahwa sekutu-sekutu Allah yang berupa berhala-berhala dan patung-patung itu adalah hamba dan milik-Nya. sebagaimana mereka berkata: “Aku penuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu untuk-Mu, Engkau memilikinya dan apayang ia miliki.” Maka Allah berfirman: dlaraba lakum matsalam min anfusikum (“Dia membuat perumpamaan untukmu dari dirimu sendiri.”) yaitu, kalian menyaksikan dan memahami-Nya dari diri kalian sendiri.

Hal lakum mim maa malakat aimaanukum min syurakaa-a fii maa razaqnaakum fa antum fiiHi sawaa-un (“Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam [memiliki] rizky yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam [hak menggunakan] adalah sama dengan dia [yang menjadikan budaknya sebagai sekutu dalam hartanya).

takhaafuunaHum kakhiifatikum anfusakum (“Kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?”) yaitu kamu takut mereka mendapatkan bagian harta dari kalian. Abu Mijlaz berkata: “Sesungguhnya hamba sahaya kalian tidak takut membagi-bagi harta kalian, padahal itu bukan miliknya. Demikian pula Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Makna hal itu bahwa salah seorang kalian mengecilkan terhadap hal demikian. Bagaimana kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah di antara makhluk-makhuk-Nya. Demikian pula mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dari kalangan hamba-hamba dan makhluk-Nya, padahal salah seorang mereka sangat menolak dan amat benci seandainya budak yang dimilikinya menjadi sekutu dalam hartanya secara sama yang dapat dibagi-baginya. Mahatinggi Allah dari segala sifat seperti itu setinggi-tinggi-Nya. Dan dikarenakan, memberi peringatan dengan contoh-contoh tersebut menunjukkan bebas dan sucinya Allah swt dari semua itu dengan cara yang lebih utama dan lebih tinggi.

Firman Allah: kadzaalika nufashshilul aayaati liqaumiy ya’qiluuna (“Demikianlah kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.”) kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menyembah selain Dia hanya karena kepandiran dan kebodohan diri mereka sendiri.
Balittabi’alladziina dhalamuu (“Tetapi orang-orang yang dhalim mengikuti.”) yaitu orang-orang musyrik, aHwaa-aHum (“Hawa nafsu mereka.”) yaitu dalam penyembahan mereka terhadap tandingan-tandingan-Nya tanpa ilmu pengetahuan, famay yaHdii man adlallallaaH (“Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan oleh Allah?”) yaitu tidak ada seorang pun yang dapat menunjuki mereka jika Allah telah menetapkan kesesatan bagi mereka.

Wa maa laHum min naashiriin (“Dan tidaklah bagi mereka seorang penolong pun.”) yaitu tidak ada satu pun penyelamat, penjaga dan penolong bagi mereka dari kekuasaan Allah terhadapnya. Karena, apa saja yang dikehendaki-Nya, pasti terjadi dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terjadi.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 30-32“30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, 31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, 32. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”(ar-Ruum: 30-32)

Allah berfirman, maka perkokohlah pandanganmu dan istiqamahlah di atas agama yang disyariatkan Allah kepadamu, berupa kesucian millah Ibrahim yang Allah bimbing kamu kepadanya dan disempurnakan Allah agama itu untukmu dengan sangat sempurna. Disamping itu hendaknya kamu konsekuen terhadap fitrah lurusmu yang difitrahkan Allah atsa makhluk-Nya. karena Allah telah memfitrahkan makhluk-Nya untuk mengenal dan mengesakan-Nya yang tidak ada Ilah [yang haq] selain-Nya, sebagaimana penjelasan yang lalu dalam firman-Nya: wa ash-HadaHum ‘alaa anfusiHim lalastu birabbikum qaaluu balaa syaHidnaa (“Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul [Engkau Rabb kami], kami menjadi saksi.’”)(al-A’raaf: 172)

Firman-Nya: laa tabdiila likhalqillaaH (“Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”) sebagian mereka berkata: “Maknanya adalah, janganlah kalian merubah ciptaan Allah, lalu kalian rubah pula manusia dari fitrah yang diciptakan oleh Allah bagi mereka.” Kaliamat ini menjadi kabar dengan makna thalab [tuntutan], seperti firman Allah: wa man dakhalaHuu kaana aaminan (“Barangsiapa memasukinya [Baitullah itu] menjadi amanlah dia.”) (Ali ‘Imraan: 97). Dan itulah makna yang baik dan tepat. Sedangkan ulama lain berkata: “Kalimat ini menjadi kabar pada kalimat sebenarnya. Maknanya bahwa Allah menyamakan seluruh makhluk-Nya dengan fitrah dengan tabiat yang lurus, dimana tidak ada satu anakpun yang lahir kecuali dalam kondisi demikian serta tidak ada tingkat perbedaan manusia dalam masalah tersebut.

Bersambung ke bagian 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: