Arsip | 07.28

Realisasi Makna Syahadatain

12 Sep

Realisasi Makna Syahadatain
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Syahadatain akan membangun semangat kerja dan pola hidup yang dinamis. Demikian itu karena ia memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hubungan antara Allah sebagai pencipta dan manusia sebagai yang diciptakan –makhluk harus tunduk kepada Khalik. Ini adalah hubungan cinta dimana Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah. Pada waktu yang sama, ini juga merupakan hubungan kerja dan jual-beli yang keuntungan sepenuhnya diberikan kepadanya (orang yang beriman itu). Sebagai pembeli, Allah yang Mahakaya tidak membutuhkan sedikitpun keuntungan dari transaksi itu. Meskipun Allah adalah pihak yang telah menciptakan dan memiliki atas jiwa, raga dan harta makhluk-Nya, namun Allah swt. memposisikan diri sebagai pembeli dan mukmin sebagai penjual. Allah menghendaki agar surga dan keridlaan-Nya ditebus dengan harta dan jiwa dalam jihad serta pengorbanan di jalan-Nya. dengan demikian , berawal dari syahadatain lah kehidupan dinamis seorang mukmin dimulai. Kehidupan yang sarat dengan amal shalih. Ia adalah orang yang selalu bertaubat, beribadah, memuji Allah, menyebarkan dakwah, ruku’ sujud, memerintahkan yang makruf, mencegah yang munkar, dan selalu disiplin menjaga batas-batas Allah.

Pola hubungan mukmin dengan Tuhannya:
1. Mahabbah (kecintaan)
Cinta Allah kepada makhluk-Nya sudah jelas dan tidak perlu dipertanyakan. Sebaliknya yang harus selalu dipertanyakan adalah kecintaan makhluk kepada-Nya. Di sinilah terjadi perbedaan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman. Orang beriman senantiasa menanggapi cinta Allah dengan semangat cinta, walaupun balasan makhluk itu sangat tidak sebanding. Namun demikian, balasan tersebut semakin menjadikan Allah cinta kepadanya.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. mereka bersikap lemah lembut kepada kaum mukminin dan bersikap keras terhadap kaum kafirin; berjihad di jalan Allah; dan tidak takut celaan orang yang suka mencela.” (al-Maidah: 54)

2. Tijaarah (jual-beli)
Sebagai pencipta, pemilik, dan pemberi rizky semuanya sebenarnya Allah tidak perlu membeli dari makhluk-Nya. lebih dari itu, dagangan kita terlalu kecil dan remeh bila dibayar dengan surga dan keridlaan-Nya. rahasia yang mungkin dapat kita petik dari pola hubungan ini barangkali adalah bahwa Allah hendak menghargai kita sehingga Dia memposisikan diri kita sebagi penjual dan Dia sebagai pembeli. Hal ini dimaksudkan agar kita bekerja, berjuang, berkorban dan menyiapkan bekal atau modal.

Tidak ada kebahagian yang dapat diraih hanya dengan berangan-angan dan berpangku tangan.
“Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (al-Baqarah: 197)
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan balasan surga.” (At-Taubah: 111)

3. Amal atau kerja
Amal kita pun sebenarnya tidak dibutuhkan oleh Allah, karena ketaatan kita tidak akan menambah kebesaran-Nya sebagaimana bahwa kemaksiatan kita juga tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya. karena itu apabila melakukan suatu kebaikan kita harus memuji Allah. Dalam hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya ia adalah amalmu yang aku perhitungkan untukmu. Karena itu barangsiapa melakukan kebaikan hendaklah ia memuji Allah, tetapi barangsiapa yang mendapati bukan itu maka janganlah mencela kecuali dirinya sendiri.”

Semua itu terangkum dalam satu kata: jihad fii sabilillaah dengan segala makna yang terkandung di dalamnya.

“Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu.” (at-Taubah: 105)

&

Ridla (Kerelaan) dalam Syahadat

12 Sep

Ridla (Kerelaan) dalam Syahadat
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Syahadat yang benar akan melahirkan kerelaan hati untuk menerima Allah sebagai Tuhan. Keridlaan hati yang dimaksud meliputi kerelaan hati menerima apa yang Allah perbuat dan Allah kehendaki pada makhluk-Nya –pada diri kita dan pada alam semesta- serta ridla menjalankan kewajiban yang berkenaan dengannya, beribadah semata-mata karena Allah swt.

1. Apa yang terjadi pada kita sudah ditentukan sejak masa azali dan sudah tertulis di Lauhuh Mahfudz. Banyak di antaranya yang masih ghaib bagi kita namun telah tersurat dalam qadla dan qadar-Nya. Qadla dan qadar yang baik maupun yang buruk, semua adalah kehendak-Nya. hal-hal yang menurut pandangan dan perhitungan kita buruk, bisa jadi sebenarnya baik. Sebaliknya, sesuatu yang menurut pandangan kita baik boleh jadi sebenarnya tidak baik.

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal sesuatu itu amat baik bagimu, boleh jadi pula engkau mencintai sesuatu padahal sesuatu itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Apa yang Allah perbuat, tidak sepatutnya dipertanyakan karena Dia Mahamengetahui, Mahaadil, dan Mahabijaksana. Semua yang diperbuatnya adalah untuk suatu hikmah yang sebagiannya dapat kita ketahui namun banyak di antaranya yang tidak kita ketahui. Apabila kita dapat mensikapi secara positif, semua akan jadi kebaikan.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Semua urusannya pasti menjadi baik. Hal seperti itu tidak terdapat pada diri seseorang kecuali pada diri seorang beriman. Kalau mendapat kebaikan ia bersyukur sehingga dengan itu ia mendapat kebaikan. Namun jika mendapat keburukan ia bersabar sehingga dengan itu ia akan mendapat kebaikan.” (HR Muslim)

2. Allah menghendaki pada alam ini agar manusia menjadikannya sebagai media eksperimen dan tempat untuk mendapatkan pengalaman. Karena sesungguhnya segala yang terjadi pada alam ini berjalan dengan hukum [sunnatullah] yang telah ditentukan.

“Allah telah menciptakan segalanya dan Dia telah menentukan kadarnya masing-masing dengan sedemikian rupa.” (al-Furqaan: 2)

“Tiada satu daun pun yang jatuh kecuali diketahui-Nya, tidak jatuh satu biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah maupun yang kering kecuali sudah tertera di dalam kitab yang nyata [Lauh Mahfudz].” (al-An’am: 59)

Dengan memperhatikan sunnatullah yang ada di alam ini, maka manusia dapat melakukan pengembangan melalui penelitian untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kepentingan ibadah dan pemakmuran bumi.

3. Syahadat juga menuntut konsekuensi agar kita rela menerima apa yang Allah kehendaki dari kita secara syar’i. Apa yang harus kita lakukan haruslah sesuai dengan syariat-Nya. berkenaan dengan ketentuan-ketentuan syar’i inilah manusia akan dimintai pertanggung jawaban. Sikap yang diinginkan dari manusia dalam hal ini adalah taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kerelaan hati menerima apa saja yang Allah kehendaki pada diri kita, memahami apa yang Allah kehendaki pada alam semesta dengan pensikapan yang positir; dan melaksanakan apa yang Dia kehendaki dalam syariat-Nya; itulah implementasi iman yang benar.

&

Syarat-syarat diterimanya syahadatain

12 Sep

Syarat-syarat diterimanya syahadatain
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Kalau kita cermati al-Qur’an dan as-Sunnah, akan kita dapati nash-nash yang menyatakan bahwa ada beberapa hal yang membatalkan syahadat yang telah diucapkan. Hal ini karena syahadat menuntut adanya konsekuensi dan komitmen. Syahadat baru benar dan dapat diterima apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Ilmu yang menghilangkan kebodohan
Makna dan konsekuensi syahadatain hendaklah diketahui secara baik karena Islam tidak menerima pengakuan dan pernyataan yang didasarkan pada ketidaktahuan. Persaksian yang tidak didasarkan pada ilmu akan sangat rapuh karena ia tidak mengakar sebagai keyakinan.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah.” (Muhammad: 19)

2. Keyakinan yang menghilangkan keraguan
Syahadatain yang didasarkan atas pengetahuan yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan akan melahirkan keyakinan yang mantap dan menghilangkan keraguan di dalam hati.
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah [Muhammad]: ‘Kalian belum beriman. Tetapi katakanlah, kami telah tunduk.’ Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (al-Hujurat: 15)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Iman itu bukan angan-angan dan hiasan. Ia adalah sesuatu yang bersemayam di dalam hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan.”

3. Keikhlasan dan bebas dari kemusyrikan
Syahadatain harus diucapkan dengan ikhlas karena Allah dan tidak ada niatan lain selain mengharap ridla-Nya. Niat yang tidak ikhlas termasuk syirik, padahal Allah tidak mengampuni dosa kemusyrikan.

4. Jujur, bukan dusta
Syahadat harus diucapkan dengan sejujurnya, bukan dengan dusta. Kemunafikan merupakan perbuatan yang sangat tercela sehingga Allah menyiksa orang-orang munafik di dasar neraka.
“Mereka hendak mengelabuhi Allah dan orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka hanya mengelabuhi diri mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari.” (al-Baqarah: 9)

5. Cinta bukan benci dan terpaksa
Syahadatain harus disertai dengan kecintaan bukan dengan kebencian. Hal ini akan dapat tercapai bila proses syahadatain dilakukan melalui syarat-syarat di atas.

6. Menerima bukan menolak
Tidak ada alasan untuk menolak syahadatain dan konsekuensinya karena ia hanya akan mendatangkan kebaikan di dunia maupun di akhirat.

7. Patuh melaksanakan, tanpa keengganan beramal.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, “….dan dibenarkan dengan amal.” Para ulama menyebut bahwa iman harus meliputi keyakinan di hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan anggota badan.

8. Ridla menerima Allah sebagai Tuhannya, Rasul sebagai uswahnya, dan Islam sebagai jalan hidupnya.
Delapan syarat ini saling terkait dan tidak terpisahkan.

&

Tahapan Interaksi dengan Syahadatain

12 Sep

Tahapan Interaksi dengan Syahadatain
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

1. Cinta
Karena Islam disampaikan dengan menggunakan pendekatan persuasif tanpa tekanan dan paksaan, juga didasarkan pada dalil-dalil yang tidak terbantahkan, bukti-bukti yang nyata, serta argumentasi yang kuat, maka orang yang menerima agama ini dengan penuh kesadaran dan suka cita. Sebelum menyatakan keislamannya, terlebih dahulu seseorang diajak untuk mengenali sistem ini dengan seksama. Hendaknya ia juga mengenal baik siapa yang menyampaikan Islam kepadanya.

Islam disampaikan oleh seorang Rasul yang sebelum kenabiannya telah dikenal sebagai orang yang memiliki kredibilitas yang sangat mulia di masyarakat. Demikian pula pada masa sekarang, para da’i yang menyampaikan agama ini kepada masyarakat adalah orang-orang yang memiliki kredibilitas moral yang baik di lingkungannya. Kredibilitas yang baik yang dipadukan dengan metodologi penyampaian Islam yang didasarkan pada hujjah hasanah, pasti akan menumbuhkan rasa cinta dan kedamaian. Sasaran dakwah akan mencintai Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupannya; mencintai Allah yang telah menurunkan aturan yang menebarkan rahmat dan kedamaian tersebut; serta akan mencintai Rasul saw. yang dengan tulus, amanah, dan penuh pengorbanan telah menyampaikan kepada mereka dengan sepenuh hati.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)

2. Ridla
Cinta tulus suci yang didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran penuh itu menjadikan dirinya ridla untuk menerima Allah sebagai Tuhannya. Ia ridla untuk menghambakan diri kepada Tuhan yang telah menciptakannya, yang memberinya rizky yang tiada putus-putusnya, melindunginya, dan memberi apa saja yang ia minta dalam doanya. Ia ridla menerima Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupannya; ia tinggalkan sistem-sistem lain yang membelenggunya. Ia ridla menerima Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi dan Rasul yang membimbingnya dalam beribadah kepada Allah dan mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan.
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu.” (al-Ahzab: 21)

3. Shibghah (celupan) Allah
Kecintaannya yang mendalam dan keridlaannya terhadap apa yang terkandung dalam syahadatain itu mampu mewarnai dirinya secara keseluruhan bagai celupan yang kuat. Syahadatain akan mencelup hati seseorang sehingga mewarnai keyakinannya dan meluruskan niatnya. Sebagai muslim ia menjadi orang yang memiliki aqidah yang shahih, mentauhidkan Allah dalam niat dan amal perbuatannya, hanya mengharap ridla-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Syahadat juga akan mewarnai akalnya sehingga pikiran dan konsep-konsep yang ditelorkannya merupakan ide, gagasan, pemikiran dan konsep yang Islami berorientasi kepada tauhidullah, bermoral Islam, dan bermanfaat bagi alam semesta.

Disamping itu syahadatain juga mewarnainya secara jasadi sehingga penampilan dan amal perbuatannya merupakan wujud implementasi dari cinta, keridlaan, kepatuhan, dan ketaatannya kepada Allah, agama dan Rasulnya.
“Itulah celupan Allah. Siapakah yang lebih baik celupannya dibanding celupan Allah?” (al-Baqarah: 138)

&

Kalimat Allah lah yang Tertinggi

12 Sep

Kalimat Allah lah yang Tertinggi
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Di dunia ini banyak sekali konsep pemikiran, ideologi, dan sistem hidup buatan manusia yang diperuntukkan demi mengatur kehidupan mereka. Namun belum ada satupun di antaranya yang dapat mengantarkan mereka pada peradaban yang sempurna. Kalaupun ada yang mengatakan berhasil, hanya pada aspek materi dan kebendaan. Hal-hal yang menyangkut aspek transendental, kosong sama sekali. Demikian itu karena kemampuan akal manusia terbatas. Produk manusia tidak lepas dari kekurangan, nafsu dan kepentingan itu apabila dipaksakan untuk diterapkan pada manusia lain, akan lahir kelompok manusia yang menjadi korban kekurangan, nafsu, dan kepentingannya.

Bagaimanapun akan terjadi keberpihakan pada suatu golongan dan diskriminasi terhadap golongan lain, betapapun mereka meneriakkan demokrasi dan menegakkan hak-hak asasi manusia. Standar ganda dalam melihat HAM dan menerapkan demokrasi ala manusia [jahiliyah] itu sangat nyata kita saksikan di pentas politik dunia modern dengan tatanan dunia baru yang mereka paksakan. Misalnya sikap negera-negara Barat terhadap Palestina.

Allah telah menciptakan manusia lebih tahu apa yang baik dan bermanfaat bagi mereka. Ketika manusia dituntut ketaatannya pada hukum dan perundang-undangan Allah, tidak lain kecuali demi kemaslahatan manusia sendiri. Allah bebas dari tendensi apapun, karena ketaatan mereka pada-Nya tidak akan menambah kebesaran-Nya sebagaimana bahwa kemaksiatan mereka juga tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya. demikian pula Allah mengetahui kelemahan dan keterbatasan manusia, maka Allah swt. menurunkan petunjuk berupa wahyu yang disampaikan kepada Nabi dan Rasul. Petunjuk yang Allah turunkan kepada para Nabi dan Rasul sebagai pedoman dan tuntunan hidup bagi umat manusia itu selanjutnya disebut Islam.

Ada banyak perbedaan yang sangat mendasar antara sistem Islam dengan sistem-sistem lainnya. Perbedaan-perbedaan itu antaranya:
1. Dasar: Islam didasarkan pada syahadatain, sedang selain Islam didasarkan pada pemikiran-pemikiran jahiliyah. Aqidah melihat hanya ada dua: hitam atau putih, Islam atau jahiliyah. Setiap yang bukan Islam adalah jahiliyah, apapun namanya.
2. Kualitas; Islam adalah produk Allah Yang Mahasempurna, maka ia adalah sistem yang sempurna pula –kalimatullaaHi Hiyal ‘ulyaa. Sistem-sistem lainnnya adalah sistem yang rendah sebab sistem tersebut hanya hasil kreasi fikir dan olah hawa nafsu orang-orang kafir yang tidak lepas dari kekurangan, keterbatasan, dan kepentingan.
3. Orientasi; Islam mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dalam segala aspek kehidupannya. Selain Islam mengajak manusia menuju kemusyrikan.
4. Semangat; Islam mengajak manusia untuk mencapai ketakwaan, sedangkan selain Islam hanya mengajak pada fanatisme jahiliyah
5. Refleksi dan implementasi dalam kehidupan; Islam selalu mengajak pada kebaikan sedangkan selain Islam hanya mengajak pada keburukan. Karenanya Islam itu kokoh dan kuat sedangkan selain Islam adalah rapuh dan lemah. Allah berfirman: “Katakanlah, telah datang kebenaran [al-haq] dan telah tumbang kebathilan [al-bathil]. Sesungguhnya kebathilan itu pasti lenyap.” (al-Israa’: 81)
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan sistem kebenaran agar Dia memenangkan atas segala sistem yang ada meskipun orang-orang musyrik itu benci.” (ash-Shaff: 9)
Rasulullah saw. bersabda: “Islam itu unggul dan tidak terungguli.”

&

Loyalitas dan Pengingkaran

12 Sep

Loyalitas dan Pengingkaran
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Syahadat tauhid terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdiri atas kalimat nafi [laa] yang berarti tidak dan manfi [ilah] yang dinafikan atau ditolak. Bagian kedua terdiri atas itsbaat [illa] yang berarti kecuali yaitu untuk mengukuhkan an mutsbat [Allah] yang dikecualikan atau dikukuhkan. Dengan demikian laa ilaaHa illallaaH berarti menolak segala ilah berupa apapun dalam wujud apapun dan hanya mengakui satu ilah yaitu Allah.

Bagian pertama syahadat tauhid merupakan penolakan terhadap segala bentuk ilah yang diwujudkan dengan mengkafiri, memusuhi, memisahkan diri, membenci, dan merobohkannya; sedangkan bagian kedua merupakan pengukuhan terhadap loyalitas kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk ketaatan, pembelaan, kedekatan, dan kecintaan kepada-Nya.

Keikhlasan ibadah dan pengabdian seorang hamba kepada Allah hanya akan sempurna bila ia menolak segala bentuk penghambaan kepada tuhan palsu dan hanya memberikan loyalitas penghambaannya kepada Allah.

Dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam termasuk dalam hal wala’ wa bara’ [loyalitas dan penolakan], seorang muslim tidak cukup dengan mengikhlaskan niatnya kepada Allah. Ia haruselakukan semua itu sesuai dengan kehendak Allah yang kemudian dituangkan dalam konsep yang diturunkan kepada Rasul-Nya, sebagai tuntunan dan panduan.

Syahadat Rasul memberikan pengertian kepada muslim untuk mengakui Muhammad bin Abdillah sebagai rasul-Nya. beliau lah yang menyampaikan minhajul wala’ wa bara’ dari Allah, mulai dari dasar-dasar fisiologi hingga teknis pelaksanaannya. Rasulullah saw. memberikan tuntunan, panduan, dan keteladanan. Kewajiban seorang mukmin adalah melaksanakan dan mempraktekkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Syahadat tauhid mengikat seorang muslim untuk mengikhlaskan ibadahnya hanya kepada Allah; syahadar rasul mengikatnya untuk mengikuti tuntunan Rasul-Nya saw. dalam ibadah, baik yang mahdhah maupun ghairu maghdhah (dalam ibadah yang bersifat vertikal berupa ritual-ritual peribadatan maupun ibadah horizontal dalam bermuamalah dengan sesama makhluk).

Tuntunan dan keteladanan semacam ini mutlak diperlukan. Tanpanya, implementasi wala’ dan bara’ yang lahir dari aqidah tauhid yang tidak kenal kompromi terhadap tuhan selain Allah akan menjadikan seorang mukmin melampaui batas. Ia menjadi radikal dan eksklusif dalam berinteraksi dengan orang lain yang tidak satu aqidah dengannya. Padahal wala’da bara’ tidak harus diwujudkan dalam bentuk radikalisme dan eksklusifisme yang kadang justru kontra produktif terhadap dakwah itu sendiri.

Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa cara beragama yang paling dicintai Allah Adalah al-hanifiyatus samhah (kemurnian aqidah dan keluwesan dalam bermuamalah). Betapapun telah terjadi penolakan dan kebencian terhadap kemusyrikan dan permusuhan terhadap kaum musyrik sejak mereka menyatakan syahadatain di Mekah, namun para shahabat baru diizinkan perang pada tahun kedua hijriyah, padahal banyak di antara mereka yang sudah mendesar untuk perang. Abu Dzar al-Ghifari misalnya, dengan sangat radikal memaksa untuk menyatakan syahadatain itu secara lantang di hadapan kaum musyrikin. Rasulullah saw. mencegahnya bahkan akhirnya beliau saw. menyuruhnya pulang kampung dan baru boleh menemui beliau kelak kalau kaum muslimin mendapatkan kemapanan sosial politik. Patung dan berhala-berhala yang disembah oleh kaum musyrikin dan di pasang di Ka’bah yang suci itu baru dihancurkan pada saat penaklukan [fathu Makkah], sepuluh tahun setelah mereka hijrah ke Madinah. Bukan berarti mereka mentorerir keberhalaan, namun untuk wala’ dan bara’ pun harus didasarkan kepada sunnah yang dituntunkan Nabi saw.

&