Arsip | 13.25

Celupan dan perubahan

16 Sep

Celupan dan perubahan
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Syahadat tauhid yang menanamkan keikhlasan ibadah hanya kepada Allah dan syahadat rasul yang menuntut konsekuensi untuk menjadikan Muhammad saw. sebagai panutan, harus diyakini dan diucapkan dengan kecintaan hati, keridlaan, dan keyakinan. Syahadat tauhid ini pada gilirannya akan mencelup kepribadian mukmin dengan karakteristik yang khas sehingga terjadi perubahan yang sangat mendasar pada dirinya. Perubahan yang dimaksud meliputi aspek ideologis dan keyakinan, dan perilaku. Totalitas perubahan ini akan membentuk pribadi muslim yang memiliki integritas keislaman tinggi dan bernilai.

1. Shibghatullah (celupan Allah)
Iman sebagaimana dikatakan para ulama mencakup keyakinan di dalam hati, pernyataan dengan lisan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Dengan demikian, iman mewarnai seluruh diri mukmin secara lahir dan batin. Kalimat tauhid telah mendarah daging dan berurat berakar dalam dirinya sehingga apa yang ia yakini adalah apa yang ada dalam fikirannya. Apa yang ada dalam fikirannya adalah apa yang ia katakan, dan apa yang ia katakan itulah yang ia lakukan. Seutuhnya amal perbuatan seorang mukmin adalah merupakan wujud nyata dari kalimat tauhid itu.
“Itulah celupan Allah. Siapakah yang lebih baik celupannya dibanding Allah?” (al-Baqarah: 138)

2. Al-Inqilab (Perubahan)
Celupan yang menyeluruh itu menjadikan seorang mukmin sebagai orang yang memiliki kepribadian yang khas dan berbeda dengan orang lain. Bahkan berbeda dengan dirinya sendiri ketika belum bersyahadat. Ia telah hijrah dalam arti yang sebenarnya, dari kehidupan jahiliyah yang gelap gulita menuju kehidupan Islam yang terang benderang. Perubahan secara total inilah yang dikehendaki Allah agar ia dapat merasakan kedamaian seutuhnya.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam kedamaian [Islam] secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan.” (al-Baqarah: 208)

Para ahli tafsir memaknai kata kaaffah [keseluruhan] pada ayat di atas dengan dua interpretasi yang saling melengkapi. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah seluruh kaum muslimin. Pendapat kedua mengatakan bahwa maksudnya adalah keseluruhan Islam sebagai sistem yang terdiri atas aqidah, akhlaq, ibadah dan muamalah.

Atas dasar itu, perubahan ini meliputi:
a. Perubahan pada aspek ideologis dan keyakinan
b. Perubahan pada aspek pemikiran dan intelektual
c. Perubahan pada aspek emosi dan perasaan
d. Perubahan pada aspek perilaku.
Perubahan yang demikianlah yang melahirkan generasi umat yang baru dengan identitas dan kepribadian yang khas, berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman. Karena yang mewarnainya adalah kalimatullah yang tertinggi maka ia adalah kepribadian yang bernilai tinggi.
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11)

&

Realisasi Syahadatain

16 Sep

Realisasi Syahadatain
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Kesaksian akan tauhidullah yang dinyatakan seorang mukmin menentukan Allah sebagai tujuan dan orientasi hidupnya; Islam sebagai jalan hidupnya; dan Rasul saw. sebagai teladan dalam menapaki kehidupan. Gaya hidup yang demikian akan melahirkan hati yang bersih dan akal yang cerdas. Hati yang bersih ditandai dengan mengharap rahmat Allah; takut akan hukuman-Nya; dan cinta kepada-Nya. ketiganya merupakan wujud dari aqidah yang sehat yang mempengaruhi ketulusan niatnya. Disamping mempengaruhi hati, syahadat juga mewarnai kecerdasan akalnya yang digunakan untuk tadabur al-Qur’an, tafakur alam, dan dzikir maut. Itulah pemikiran islami yang menghasilkan konsep yang benar. Niat yang tulus dan konsep yang benar inilah yang harus selalu menyertai setiap langkah orang beriman dalam melakukan harakah, jihad, dakwah, dan tarbiyah.

1. Hati yang sehat
Hati yang sehat adalah hati yang bebas dari segala penyakit seperti ujub, riya’ takabur, hasad dan sejenisnya. Hati yang bersih hanya akan diraih apabila orientasi hidup seseorang benar yaitu orientasi hidup yang ditujukan kepada Allah swt. hal ini ditandai dengan:
a. Selalu mengharap rahmat Allah [raja]
Konsep ini akan mendorongnya untuk hanya melakukan yang positif dan tidak mengharapkan balasan kecuali dari Allah. Rahmat Allah lebih luas baginya dibanding dunia dan seisinya sehingga ia tidak mengusahakan kekayaan dunia dengan mengesampingkan rahmat-Nya.
b. Takut hukuman Allah [khauf]
Hal ini mendorongnya untuk selalu menghindari hal-hal negatif yang mengundang kemurkaan-Nya, termasuk perkara-perkara syubhat sekalipun. Derita di dunia betapapun beratnya, tidak seberapa bila dibanding dengan siksaan akhirat.
c. Ketika harapan dan takutnya berpadu pada Allah, pada saat itulah cintanya kepada Allah menjadi subur. Inilah aqidah yang benar yang mempengaruhi keikhlasan niatnya.

2. Akal yang cerdas
Akal yang cerdas dalam pandangan Islam adalah akal yang dapat menjalankan fungsinya untuk:
a. Mentaddabaru ayat-ayat qauliyah yang terdapat di dalam al-Qur’an. Ayat-ayat ini harus dipahami secara baik sebagaimana ditunjukkan oleh sunnah Rasulullah saw.
b. Mentafakkuri ayat-ayat kauniyah yang tersebar di alam semesta. Pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah akan membantu memahami ayat-ayat qauliyah. Sebaliknya ayat-ayat qauliyah mendorong untuk mentafakkuri ayat-ayat kauniyah. Sehingga pemahaman akan semakin mantap, hujjah semakin jelas, hati semakin yakin, dan aqidah semakin kokoh.
c. Dzikrul maut. Taddabur al-Qur’an dan tafakkur alam akan memberikan kesadaran bahwa hidup di dunia ini tidak abadi. Kesadaran bahwa hidup ini akan bersakhir dengan kematian dan setelah kematian ada kehidupan baru yang abadi, semakin mengkristal dalam amaliyah harian.

Perpaduan yang serasi antara ketiga hal tersebut akan menghasilkan permikiran Islami dan konsep yang benar.
Seluruh aktifitas hidup mukmin termasuk harakah, jihad, dakwah, dan tarbiyah harus selalu disertai dengan niat yang tulus ikhlas illaaHi ta’alaa dan konsep yang benar. Niat ikhlas saja tidak cukup kalau konsepnya tidak benar. Konsep saja betapapun bagusnya juga tidak cukup kalau tidak didasari dengan niat yang ikhlas.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qalam (4)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam (Kalam)
Surah Makkiyyah; surah ke 68: 52 ayat

Qaaluu subhaana rabbinaa innaa kunnaa dhaalimiin (“Mereka mengucapkan: ‘Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim.’”) mereka datang dengan membawa ketaatan pada saat dimana ketaatan itu sudah tidak bermanfaat lagi, mereka juga menyesal serta mengakui kesesatan mereka, saat semua itu tidak berguna lagi.

Oleh karena itu mereka mengatakan: innaa kunnaa dhaalimiina. Fa aqbala ba’dluHum ‘alaa ba’dliy yatalaawamuun (“Sesungguhnya kami adalah orang –orang yang dhalim. Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya saling mencela.”) maksudnya sebagian mereka mencaci sebagian yang lainnya atas apa yang mereka lakukan terus-menerus, yaitu berupa penghalangan terhadap orang-orang miskin dari hak memetik. Jawaban sebagian mereka tidak lain hanyalah pengakuan atas dosa dan kesalahan yang mereka lakukan.

Qaaluu yaa wailanaa innaa kunnaa thaaghiin (“Mereka berkata: ‘Aduhai celaka ktia. Sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.’”) maksudnya, kami telah melakukan pelanggaran, berlebih-lebihan, membangkang dan melampaui batas, sehingga kami ditimpa musibah ini.

‘asaa rabbinaa ay yubdilanaa khairam minHaa innaa ilaa rabbinaa raaghibuun (“Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan [kebun] yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.”) ada yang berpendapat: “Mereka mengharapkan ganti bagi mereka di dunia.”ada juga yang mengatakan: “Mereka mengharapkan pahalanya di akhirat.” wallaaHu a’lam.

Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa orang-orang itu berasal dari penduduk Yaman. Sa’id bin Jubair mengatakan: “Mereka itu berasal dari satu desa bernama Dharwan, yang berjarak enam mil dari Shan’a.” Dan ada juga yang berpendapat bahwa mereka itu berasal dari penduduk Habasyah, dimana orang tua mereka mewariskan kebun tersebut, dan mereka ini berasal dari kalangan Ahlul Kitab. Ayah mereka memiliki sejarah hidup yang cukup baik. Apa yang diperoleh dari hasil kebun itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Dan dia menyiapkan makanan bagi keluarganya untuk kebutuhan satu tahun dan menyedekahkan sisanya. Setelah meninggal dunia, ayah mereka meninggalkan warisan untuk anak-anaknya. Mereka berkata: “Ayah kami seorang yang bodoh, dimana dia menyerahkan sebagian dari kekayaannya itu kepada orang-orang miskin. Seandainya saja kita melarang mereka, niscaya hal itu akan melimpah ruah menjadi milik kita.” Dan ketika mereka bermaksud melakukan hal tersebut mereka dihukum dengan pembatalan tujuan mereka, dimana Allah melenyapkan semua yang ada pada mereka, yaitu harta pokok, keuntungan, dan sedekah. Dan tidak ada sedikitpun yang tersisa bagi mereka.

Firman Allah: kadzaalikal ‘adzaab (“Seperti itulah adzab.”) maksudnya demikian itulah adzab yang ditimpakan kepada orang yang menentang perintah Allah dan kikir terhadap apa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya serta menghalangi hak orang miskin, fakir, dan orang-orang yang membutuhkan, juga membalas nikmat Allah dengan kekufuran.

Wa la’adzaabul aakhirati akbaru lau kaanuu ya’lamuun (“Dan sesungguhnya adzab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.”) maksudnya demikianlah hukuman dunia seperti yang kalian dengar, dan adzab akhirat itu lebih besar.

tulisan arab alquran surat al qalam ayat 34-41“34. Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. 35. Maka Apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? 36. atau Adakah kamu (berbuat demikian): Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? 37. atau Adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?, 38. bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu. 39. atau Apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap Berlaku sampai hari Kiamat; Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? 40. Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” 41. atau Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar.” (al-Qalam: 34-41)

Setelah Allah menceritakan tentang keadaan pemilik kebun duniawi dan kesengsaraan yang menimpa mereka ketika mereka mendurhakai Allah swt. serta melanggar perintah-Nya, maka Dia menjelaskan bahwa bagi orang yang bertakwa dan mentaati-Nya akan mendapatkan surga-surga kenikmatan di alam akhirat kelak, yang tidak dapat dilenyapkan, dianggurkan, serta tidak akan habis.

Firman Allah: afa naj’alul muslimiina kal mujrimiin (“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa?”) maksudnya apakah Kami harus memberikan pahala yang sama antara orang-orang itu dengan orang-orang lainnya? Sekali-sekali tidak, demi Rabb langit dan bumi. Oleh karena itu, Dia berfirman: maa lakum kaifa tahkumuun (“Mengapa kamu [berbuat demikian]; bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”) maksudnya, apakah kalian mengira yang demikian itu?

Am lakum kitaabun fiiHi tadrusuun. Inna lakum fiiHi lamaa takhayyaruun (“Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.”) maksudnya Allah Ta’ala berfirman: “Sedang di tangan kalian terdapat sebuah kitab yang diturunkan dari langit yang bisa kalian pelajari dan kalian hafalkan. Dan dengannya, kaum Khalaf menukil dari kaum Salaf, yang memuat hukum yang mempertegas, seperti yang kalian akui sendiri?

Inna lakum fiiHi lamaa takhayyaruun. Am lakum aimaanun ‘alainaa baalighatun ilaa yaumil qiyaamati inna lakum lamaa tahkumuun (“Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu. Atau apakah kamu memperoleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku hingga hari kiamat. Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan.”) yakni, apakah pada diri kalian terdapat janji-janji dari Kami dan sumpah-sumpah yang diperkuat? Inna lakum lamaa tahkumuun (“Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan.”) maksudnya sesungguhnya apa yang kalian ingin dan harapkan akan tercapai.

salHum ayyuHum bidzaalika za’iim (“Tanyakanlah kepada mereka: ‘Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?’”) maksudnya, katakan kepada mereka: “Siapakah yang bertanggung jawab dan memberikan jaminan?” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab atas hal tersebut?
Am laHum syurakaa-u (“Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu?”) yaitu berupa patung-patung dan tandingan-tandingan. Fal ya’tuu bisyurakaa-iHim in kaanuu shaadiqiin (“Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar.”)

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qalam (3)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam (Kalam)
Surah Makkiyyah; surah ke 68: 52 ayat

tulisan arab alquran surat al qalam ayat 17-33“17. Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari, 18. dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), 19. lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, 20. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. 21. lalu mereka panggil memanggil di pagi hari: 22. “Pergilah diwaktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya”. 23. Maka Pergilah mereka saling berbisik-bisik. 24. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu”. 25. dan Berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) Padahal mereka (menolongnya). 26. tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), 27. bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)”. 28. berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?” 29. mereka mengucapkan: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim”. 30. lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela. 31. mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; Sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”. 32. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; Sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dati Tuhan kita. 33. seperti Itulah azab (dunia). dan Sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.” (al-Qalam: 17-33)

Demikianlah perumpamaan yang diberikan oleh Allah kepada kaum kafir Quraisy mengenai rahmat besar yang telah dikaruniakan kepada mereka. Di samping mereka juga telah diberi berbagai nikmat yang bersifat fisik, yaitu pengutusan Muhammad saw. kepada mereka. Tetapi mereka justru menyambutnya dengan pendustaan, penolakan dan penyerangan.

Oleh karena itu Allah berfirman: innaa balaunaaHum (“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka.”) yakni Kami coba mereka, kamaa balaunaa ash-haabal jannati (“Sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun.”) yakni kebun yang mencakup berbagai macam buah-buahan. Idz aqsamuu layashrimunnaHaa mushbihiina (“Ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik [hasil]nya pada pagi hari.”) maksudnya mereka melakukan sumpah di antara mereka sendiri bahwa mereka akan mengambil buahnya pada malam hari agar tidak diketahui oleh orang miskin dan peminta-minta sehingga buahnya bisa mereka peroleh sebanyak-banyaknya dengan tidak menyedekahkannya sedikit pun juga. Walaa yastatsnuun (“Dan mereka tidak mengucapkan, ‘Insya Allah.’”) yakni atas apa yang mereka sumpahkan itu. Oleh karen itu, Allah membuat mereka melanggar sumpah mereka tersebut.

Fathaafa ‘alaiHaa thaa-ifum mir rabbika waHum naa-imuun (“Lalu kebun itu diliputi malapetaka [yang datang] dari Rabb-mu ketika mereka sedang tidur.”) yakni kebun itu ditimpa bencana dari langit:
Fa ashbahat kashshariim (“Sehingga jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni, seperti malam yang gelap gulita.” Ats-Tsauri dan as-Suddi mengatakan: “Seperti tanaman saat dipanen, yakni menjadi kering.” Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Hindarilah perbuatan maksiat, karena sesungguhnya seorang hamba akan melakukan perbuatan dosa sehingga rizkynya terhalang karenanya, padahal rizky itu tersedia untuknya.’ Selanjutnya Rasulullah saw. membaca ayat: Fathaafa ‘alaiHaa thaa-ifum mir rabbika waHum naa-imuun Fa ashbahat kashshariim (“Lalu kebun itu diliputi malapetaka [yang datang] dari Rabb-mu ketika mereka sedang tidur. Sehingga jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.”) mereka diharamkan dari kebun-kebun mereka itu karena perbuatan dosa mereka.

Fatanaadau mushbihiin (“Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari.”) yakni ketika waktu pagi tiba, sebagian berseru kepada sebagian yang lainnya agar mereka pergi memetik buah-buahan. Anighduu ‘alaa hartsikum ing kuntum shaarimiin (“Pergilah di waktu pagi [ini] ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.”) yakni jika kalian ingin memetik buah. Mujahid mengatakan: “Tanaman yang mereka tanam adalah anggur.” Fanthalaquu waHum yatakhaafatuun (“Maka pergilah mereka dengan saling berbisik-bisikan.”) yakni berkata-kata dengan suara pelan sesama mereka, dimana perkataan mereka itu tidak didengar oleh seorang pun.

Kemudian Allah menafsirkan alam kerahasiaan yang mereka bisikkan, dimana Dia berfirman: Fanthalaquu waHum yatakhaafatuun. Allaa yadkhulannaHal yauma ‘alaikum miskiin (“Maka pergilah mereka dengan saling berbisik-bisikan: ‘Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.’”) maksudnya sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lainnya, janganlah kalian izinkan seorang miskin pun memasuki kebun kalian.

Wa ghadau ‘alaa hardin (“Dan berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi.”) yakni dengan kekuatan dan kekasaran. Mujahid mengatakan: Wa ghadau ‘alaa hardin (“Dan berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi.”) yakni dengan sungguh-sungguh. ‘Ikrimah mengatakan: “Yakni dengan kemarahan.” Asy-Sya’bi mengatakan: “’Alaa hardin; yakni terhadap orang-orang miskin.” Qaadiriin; yakni menguasainya seperti yang mereka akui.

Falammaa ra-auHaa qaaluu innaa la-dlaalluun (“Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat.’”) maksudnya, ketika mereka sampai di kebun-kebun itu dan melihatnya, sedang kebun-kebun itu sudah dalam keadaan seperti yang difirmankan oleh Allah swt, dimana sebelumnya kebun-kebun itu tampak hijau, penuh bunga dan buah-buahan, dan sekarang telah menjadi hitam kelam, tanpa bisa diambil manfaatnya sedikitpun, akhirnya mereka berkeyakinan bahwa mereka telah salah jalan. Oleh karena itu, mereka berkata: innaa la-dlaalluun (“Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat.”) maksudnya, kita sudah berjalan menuju kebun-kebun itu tetapi melalui jalan yang salah sehingga kita tidak bisa sampai padanya. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan lain-lain.

Setelah itu mereka pun kembali dari apa yang mereka alami dan meyakini bahwa kebun-kebun itu adalah milik mereka, seraya mengatakan: bal nahnu mahruumuun (“Bahkan kita dihalangi.”) yakni, ia memang kebun-kebun kita, hanya saja kita tidak mendapat bagian darinya. Qaala au sathuHum (“Berkatalah salah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka,”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Muhammad bin Ka’ab, ar-Rabi’ bin Anas, adh-Dhahhak, dan Qatadah mengatakan: “Yakni, orang yang paling adil dan baik di antara mereka.”
Alam aqul lakum lau laa tusabbihuun (“Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih?”) Mujahid, as-Suddi, dan Ibnu Juraij mengatakan: “Lau laa tusabbihuun; berarti seandainya kalian mengatakan “insya Allah”.” Sedangkan Ibnu Jarir mengatakan: “Yaitu ucapan orang, ‘insya Allah.’” Ada juga yang berpendapat bahwa arti kalimat: Qaala au sathuHum Alam aqul lakum lau laa tusabbihuun; adalah hendaklah kalian bertasbih dan bersyukur kepada Allah atas apa yang Dia berikan kepada kalian serta nikmat dan yang telah Dia karuniakan kepada kalian.

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qalam (2)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam (Kalam)
Surah Makkiyyah; surah ke 68: 52 ayat

Inna rabbaka Huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabiiliHii wa Huwa a’lamu bil muHtadiin (“Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang Paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia lah Yang Paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”) maksudnya Allah Ta’ala mengetahui, kelompok manakah di antara kalian dan juga mereka yang mendapat petunjuk dan juga mengetahui kelompok yang tersesat dari kebenaran.

tulisan arab alquran surat al qalam ayat 8-16“8. Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). 9. Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). 10. dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, 11. yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, 12. yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, 13. yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, 14. karena Dia mempunyai (banyak) harta dan anak. 15. apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kam, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.” 16. kelak akan Kami beri tanda Dia di belalai(nya).” (al-Qalam: 8-16)

Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana Kami telah menganugerahkan nikmat kepadamu dan memberimu syariat yang lurus dan akhlak yang agung, falaa tuthi’il mukadzdzibiina. Wadduulau tudHinu fayudHinuun (“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan. Maka mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Seandainya kamu memberi keringanan kepada mereka, niscaya mereka akan memberi keringanan pula.” Mujahid mengatakan: “Mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak, yakni engkau cenderung kepada tuhan-tuhan mereka dan meninggalkan kebenaran yang ada padamu.

Walaa tuthi’ kulla hallaafim maHiin (“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.”) yang demikian itu karena pendusta dengan kelemahan dan kehinaannya sering berlindung kepada sumpah-sumpah palsu dan berani memakai nama-nama Allah Ta’ala serta menggunakannya setiap saat dan bukan pada tempatnya. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Kata al-maHiin berarti orang yang berdusta.” Sedangkan Mujahid mengemukakan: “Kata itu berarti yang lemah hatinya.” Adapun al-Hasan mengatakan: “Setiap orang yang suka bersumpah adalah orang yang sombong, hina, lagi lemah.”

Hammaazin. Ibnu ‘Abbas dan Qatadah mengatakan: “Yakni, orang yang suka berbuat ghibah.” Masysyaa-im binamiim (“Yang kian kemari menghamburkan fitnah.”) yakni yang berjalan di tengah-tengah umat manusia serta memprofokasi mereka serta menyebarluaskan pembicaraan untuk mengaburkan yang sudah jelas. Dan telah ditegaskan di dalam kitab ash-shahihain, dari hadits Mujahid dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Kedua orang [yang berada dalam kuburan] ini sedang diadzab. Keduanya tidak diadzab karena dosa besar. Adapun salah satunya, karena dia tidak menutup diri saat buang air kecil. Sedangkan yang lainnya karena dia suka mengadu domba.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh sebagian ahli hadits di dalam kitab mereka masing-masing. Imam Ahmad meriwayatkan dari Hamam bahwa Hudzaifah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” Diriwayatkan oleh al-Jama’ah [ahli hadits] kecuali Ibnu Majah.

Mannaa’il lil khairi mu’tadin atsiim (“Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.”) yakni menolak memberikan kebaikan yang dimiliki dan yang ada padanya. Mu’tadin (“Yang melampaui batas.”) dalam mengambil apa yang dihalalkan Allah baginya, dimana dia melanggar batas yang ditetapkan syariat. Atsiim (“Lagi banyak dosa.”) yakni dalam melakukan berbagai hal yang haram.

‘utullim ba’da dzaalika zaniim (“Yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya.”) kata al-‘utull berarti kata-kata kasar. Dan makna yang benar adalah yang suka mengumpulkan lagi sangat kikir. Imam Ahmad meriwayatkan dari Haritsah bin Wahb, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku bertahu tentang penghuni surga. Setiap orang lemah lagi rendah hati. Yang jika bersumpah dengan nama Allah, niscaya dia akan menepatinya. Dan maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka. yaitu setiap orang yang kasar, keras, lagi sombong.”

Waki’ mengatakan, “Setiap orang yang kasar itu pasti tinggi hati lagi sombong.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab ash-Shahihain dan jama’ah lainnya kecuali Abu Dawud.

Pendapat mengenai hal ini cukup banyak, yang semuanya merujuk kepada apa yang telah dikatakan, bahwa az-zaniim adalah yang terkenal dengan kejahatannya yang dengannya dia dapat dikenali di tengah-tengah masyarakat. Dan seringkali dipanggil dengan sebutan anak zina.

An kaana dzaa maaliw wa baniina. Idzaa tut-laa ‘alaiHi aayaatunaa qaala asaathiirul awwaliina (“Karena dia mempunyai [banyak] harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: ‘[Ini adalah] dongeng-dongeng orang-orang dahulu kala.”) Allah Ta’ala berfirman: “Ini sebagai balasan atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya berupa kekayaan dan anak, yaitu kufur terhadap ayat-ayat Allah serta berpaling darinya dan mengklaim bahwa ayat-ayat tersebut hanya dusta belaka, dan diambil dari dongeng orang-orang terdahulu. Dan disini Allah berfirman: sanasimuHuu ‘alal khurthuum (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) Ibnu Jarir mengatakan: “Kelak Kami [Allah] akan menjelaskan secara gamblang sehingga mereka benar-benar mengetahuinya dan tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari mereka, sebagaimana tidak ada yang Kami sembunyikan dari mereka tanda yang ada pada belalai. Demikian pula yang disampaikan oleh Qatadah, sanasimuHuu ‘alal khurthuum (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) keburukan yang tidak bisa ditinggalkan oleh akhir dari apa yang dialaminya. Dan dalam sebuah riwayat darinya, yaitu tanda pada hidungnya. Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: sanasimuHuu ‘alal khurthuum (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) yakni akan diperangi pada peperangan Badar, hingga akhirnya dia pun ditebas pedang dalam peperangan tersebut.

Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qalam (1)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam (Kalam)
Surah Makkiyyah; surah ke 68: 52 ayat

tulisan arab alquran surat al qalam ayat 1-7bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, 2. berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. 3. dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. 4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. 5. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat, 6. siapa di antara kamu yang gila. 7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Qalam: 1-7)

Mengenai huruf hijaiyah telah dijelaskan di dalam surah al-Baqarah.
Firman Allah: wal qalami (“Demi kalam”) secara lahiriyah, tampak bahwa ia sejenis dengan pena yang dipergunakan untuk menulis. Seperti pada firman Allah yang artinya: “Bacalah, dan Rabb-mu lah yang Paling Pemurah yang mengajarkan [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 3-5). Yang demikian itu merupakan sumpah dari Allah Ta’ala sekaligus peringatan bagi makhluk-Nya atas apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka, berupa pengajaran tulis-menulis yang dengannya ilmu pengetahuan diperoleh. Oleh karena itu Dia berfirman: wa maa yasthuruuna (“dan apa yang mereka tulis.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan: “Yakni, apa yang mereka tulis.” Abudh dhuha menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Wamaa yasthuruuna; berarti dan apa yang mereka kerjakan.”

Firman Allah: maa anta bini’mati rabbika bimajnuuni (“Berkat rahmat Rabbmu, kamu [Muhammad] sekali sekali bukan orang gila.”) maksudnya alhamdulillah engkau bukanlah seorang yang tidak waras seperti yang dikatakan oleh orang bodoh dari kaummu yang mendustakan apa yang engkau bawa kepada mereka, berupa petunjuk dan kebenaran yang nyata, sehingga mereka menyebut dirimu gila karenanya.

Wa innalaka la ajran ghaira mamnuun (“Dan sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang besar yang tiada putus-putusnya.”) yakni bahkan kamu akan mendapatkan pahala yang sangat besar dan balasan yang banyak, yang tidak akan pernah putus dan tidak juga lenyap atas penyampaian risalah yang kamu lakukan kepada manusia dan kesabaranmu atas gangguan yang mereka timpakan kepadamu. Kata ghairu mamnuuni; berarti tidak akan pernah putus. Mujahid mengatakan: “Ghairu mamnuuni berarti tidak terhingga.”

Firman Allah: wa innaka la ‘alaa khuluqin ‘adhiim (“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Sesungguhnya engkau benar-benar berada dalam agama yang agung, yakni Islam.” Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, Abu Malik, as-Suddi, dan ar-Rabi’ bin Anas. Demikian halnya yang dikatakan oleh adh-Dhahhak dan Ibnu Zaid. ‘Athiyah mengatakan: “Engkau benar-benar berada di dalam etika yang agung.” Ma’mar menceritakan dari Qatadah, ‘Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. maka ia menjawab: “Akhlak beliau adalah al-Qur’an.” Demikianlah hadits ringkas dari hadits yang cukup panjang. Dan itu berarti bahwa Nabi saw. menjadi percontohan al-Qur’an, baik dalam hal perintah, larangan, sebagai karakter sekaligus perangai beliau. Beliau berperangaikan al-Qur’an dan meninggalkan perangai yang beliau bawa sejak lahir. Apa pun yang diperintahkan al-Qur’an, maka beliau pasti akan mengerjakannya, dan apapun yang dilarangnya beliau pun pasti menghindarinya. Dan itu disertai pula dengan apa yang diberikan Allah kepada beliau berupa akhlak yang sangat agung, yaitu rasa malu, pemurah, pemberani, pemberi maaf lagi sabar, serta semua akhlak mulia, sebagaimana yang ditegaskan di dalam kitab ash-shahihain dari Anas, dia berkata: “Aku pernah melayani Rasulullah saw. selama sepuluh tahun, selama itu pula beliau tidak pernah mengatakan: ‘Ah’, sama sekali kepadaku. Dan tidak juga beliau mengomentari sesuatu yang aku kerjakan dengan mengatakan: ‘Mengapa engkau mengerjakan itu?’ dan juga tentang sesuatu yang belum aku kerjakan, dengan mengatakan: ‘Mengapa engkau tidak mengerjakannya?’ Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik akhlaknya. Beliau tidak pernah memakai kain bulu yang ditenun dan sutera. Tidak ada yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw. Dan aku tidak pernah mencium bau harum dan wangi-wangian yang lebih wangi dari keringat Rasulullah saw.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Ishaq, dia berkata: “Aku pernah mendengar al-Barra’ berkata: ‘Rasulullah saw. adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling baik akhlaknya. Beliau tidak terlalu pendek dan tidak juga terlalu tinggi.’”
Dan hadits yang membahas tentang masalah ini cukup banyak. Dalam masalah ini, Abu ‘Isa at-Tirmidzi memiliki pembahasan khusus dalam kitab asy-Syama-il.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia bercerita: “Rasulullah saw. sama sekali tidak pernah memukul pembantunya dengan tangannya dan tidak juga memukul seorang wanita serta tidak juga beliau memukul sesuatu dengan tangannya kecuali jika beliau berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau memilih di antara dua hal kecuali beliau akan memilih yang lebih beliau sukai yaitu yang lebih mudah baginya, kecuali dosa. Beliau adalah orang yang paling jauh dari perbuatan dosa. Dan beliau tidak pernah membalas dendam demi diri sendiri karena suatu hal yang ditimpakan kepada beliau melainkan jika hal itu ditujukan untuk merusak kemuliaan-kemuliaan Allah sehingga beliau akan membalas dendam karena Allah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” Dia meriwayatkan hadits itu seorang diri.

Dan firman Allah: fasatubshiru wa yubshiruuna. Bi ayyikumul maftuunu (“Maka kelak kamu akan melihat dan merekapun akan melihat, siapa diantara kamu yang gila.”) maksudnya engkau kelak akan mengetahui hai Muhammad, dan orang-orang yang menentang dan mendustakanmu pun akan mengetahui, siapakah yang gila lagi menyesatkan, engkau ataukah mereka. Yang demikian itu seperti firman Allah: saya’lamuuna ghadam manil kadzdzaabul asyiru (“Dan esok hari mereka akan mengetahui, siapakah yang dusta lagi sombong.”)(al-Qamar: 26) dan juga seperti firman-Nya yang lain: wa innaa au iyyaakum la-‘alaa Hudan au fii dlalaalim mubiiin (“Dan sesungguhnya kami atau kamu, pasti berada di atas petunjuk atau di atas kesesatan yang nyata.”)(Saba’: 24). Ibnu Juraij menceritakan, Ibnu ‘Abbas berkata mengenai ayat ini: “Yakni engkau dan juga mereka pada hari kiamat kelak akan mengetahui.” Sedangkan al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Siapakah di antara kalian yang gila.” Demikian juga yang dikemukakan oleh Mujahid dan lain-lain. Qatadah dan yang lainnya mengemukakan: “Siapakah di antara kalian yang gila, yakni disesatkan oleh syaitan. Kata “maftuun” secara lahiriyah berarti orang yang dihalangi dari kebenaran dan tersesat darinya. Maksudnya huruf “ba” pada firman Allah, bi ayyikum adalah untuk menunjukkan kandungan perbuatan dalam firman Allah: fasatubshiru fa yubshiruuna. Dan pengertiannya adalah, kelak engkau dan mereka akan mengetahui, atau engkau dan juga mereka kelak akan diberitahu, siapakah di antara kalian yang gila. wallaaHu a’lam.

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Haaqqah (4)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Haaqqah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; surah ke 69: 52 ayat

innaHuu kaana laa yu’minu billaaHil ‘adhiimi. Walaa yahudl-dlu ‘alaa tha’aamil miskiini (“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak mendorong [orang lain] untuk memberi makan orang miskin.”) yakni tidak memenuhi hak Allah yang ada padanya, berupa ketaatan dan ibadah kepada-Nya, juga tidak memberi manfaat kepada semua makhluk, serta tidak juga menunaikan hak-hak mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai hak atas hamba-hamba-Nya, yaitu hendaklah ia mengesakan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan bagi sebagian hamba juga mempunyai hak atas sebagian lainnya, yaitu hak berbuat baik dan memberi bantuan dan pertolongan dalam kebaikan dan ketakwaan. Oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

Falaisa laHul yauma Haa Hunaa hamiim. Walaa tha’aamun illaa min ghisliin. Yaa ya’kuluHuu illal khaathi-uun (“Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada pula makanan sedikitpun [baginya] kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.”) maksudnya pada hari itu tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dirinya dari adzab Allah Ta’ala. Tidak ada teman setia, kerabat, dan tidak ada pula pemberi syafaat yang ditaati. Serta tidak ada juga makanan disini untuknya kecuali hanya nanah bercampur darah. Qatadah mengatakan: “Ya, ia merupakan makanan paling buruk bagi para penghuni neraka.” sedangkan ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan: “Kata ghislin berarti nanah para penghuni neraka.”

tulisan arab alquran surat al haaqqah ayat 38-43“38. Maka aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. 39. dan dengan apa yang tidak kamu lihat. 40. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, 41. dan Al Quran itu bukanlah Perkataan seorang penyair. sedikit sekali kamu beriman kepadanya. 42. dan bukan pula Perkataan tukang tenung. sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. 43. ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.” (al-Haaqqah: 38-43)

Allah Ta’ala berfirman seraya bersumpah kepada hamba-hamba-Nya dengan tanda-tandan kekuasaan-Nya yang selalu mereka saksikan dalam ciptaan-ciptaan-Nya yang menunjukkan kesempurnaan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, serta dengan hal-hal ghaib yang tidak mereka saksikan, yaitu hal-hal ghaib yang menunjukkan bahwa al-Qur’an itu merupakan firman sekaligus wahyu-Nya dan diturunkan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya yang Dia pilih sendiri untuk menyampaikan risalah dan menunaikan amanah, dimana Allah Ta’ala berfirman: falaa uqsimu bimaa tubshiruuna. Wamaa laa tubshiruuna. innaHuu laqaulu rasuulin kariim (“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu [Allah yang diturunkan kepada] Rasul yang mulia.”) yakni, Muhammad saw. dinisbatkan kepada beliau bermakna tabligh [penyampaian], karena Rasulullah saw. bertugas menyampaikan dari Rabb yang mengutus. Oleh karena itu, Dia menyandarkannya dalam surah at-Takwiir kepada Rasul dari kalangan malaikat.

innaHuu laqaulun rasuulin kariim (“Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu [Allah yang diturunkan kepada] Rasul yang mulia.”) dan ini adalah Jibril as. Demikian juga Dia berfirman: wamaa Huwa biqauli syaa’irin qaliilam maa tu’minuuna. Walaa biqauli kaaHinin qaliilam maatadzakkaruuna (“Dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sekidit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.”)
dengan demikian, terkadang Allah menyandarkannya pada ucapan Rasul dari kalangan malaikat, terkadang Allah menyandarkannya pada ucapan Rasul dari kalangan manusia, karena masing-masing dari keduanya merupakan penyampai pesan dari Allah yang telah Dia amanahkan, berupa wahyu dan firman-Nya.

oleh karena itu Allah berfirman: tanziilum mir rabbil ‘aalamiina (“Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam.”) Imam Ahmad meriwayatkan ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Aku pernah keluar untuk menghalangi Rasulullah saw. sebelum aku masuk Islam, lalu aku mendapatkan nya telah lebih mendahuluiku datang ke masjid. Kemudian aku berdiri di belakang beliau, lalu beliau membuka dengan membaca surah al-Haaqqah sehingga aku benar-benar kagum dengan susunan kalimat al-Qur’an.” Ia berkata: “Kemudian aku mengatkan, ‘Demi Allah, dia benar-benar seorang penyair, sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Quraisy.” Lebih lanjut, beliau membaca ayat: innaHuu laqaulu rasuulin kariim. Wa maa Huwa biqauli sya’irin qaliilam maa tu’minuun (“Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu [Allah yang diturunkan kepada] Rasul yang mulia. Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan penyair. Sedikit sekali kamui beriman kepadanya.”) dia berkata: “Aku katakan: ‘Seorang dukun.’” Lebih lanjut dia berkata: “Kemudian beliau membaca: walaa biqauli kaaHinin qaliilam maa tadzakkaruuna. Tanziilum mir rabbil ‘aalamiina. Wa lau taqawwala ‘alainaa ba’dlal aqaawili la akhadznaa minHu bil yamiini. Tsumma laqatha’naa minHul watiin. Famaa minkum min ahadin ‘anHu haajiziin (“Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam. Seandainya dia [Muhammad] mengadakan sebagian perkataan atas [nama] Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-sekali tidak ada seorang pun darimu yang dapat menghalangi [Kami] dari pemotongan urat nadi itu.”) sampai akhir surah. Selanjutnya ‘Umar berkata: “Maka tertanamlah Islam secara mantap di dalam kalbuku.” Dan ini sebagian dari beberapa sebab yang Allah Ta’ala jadikan sebagai pengaruh dalam memberikan petunjuk hidayah ‘Umar bin al-Khaththab, sebagaimana kami telah menceritakan proses masuknya ‘Umar ke dalam Islam di dalam sirahnya secara khusus. Segala puji dan sanjungan hanya milik Allah.

tulisan arab alquran surat al haaqqah ayat 44-52“44. seandainya Dia (Muhammad) Mengadakan sebagian Perkataan atas (nama) Kami, 45. niscaya benar-benar Kami pegang Dia pada tangan kanannya. 46. kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. 47. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. 48. dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. 49. dan Sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). 50. dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). 51. dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini. 52. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha besar.” (al-Haaqqah: 44-52)

Allah Ta’ala berfirman: walau taqawwala ‘alainaa (“Seandainya dia mengadakan sebagian perkataan atas [nama] Kami,”) yakni Muhammad saw. Jika saja dia seperti yang mereka tuduhkan, yakni mengadakan kedustaan atas nama Kami sehingga dia memberikan tambahan atau pengurangan pada risalah tersebut, atau dia mengatakan sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri, lalu menisbatkannya kepada Kami, sedang Kami tidak pernah mengatakannya, pasti Kami menyegerakan siksaan untuknya.

Oleh karena itu Allah berfirman: la akhadznaa minHu bil yamiini (“Niscaya Kami benar-benar akan siksa dia tangan kanan.”) ada yang berpendapat bahwa artinya adalah Kami akan membalanya dengan tangan kanan, karena tangan kanan itu mempunyai kekuatan lebih dahsyat. Dan ada juga yang berpendapat, yakni niscaya Kami akan pegang tangan kanannya, tsumma laqatha’naa minHul watiin (“Kamudian Kami benar-benar potong urat tali jantungnya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yaitu urat jantung, yakni satu urat dimana jantung bergantung padanya.”

Firman Allah Ta’ala: famaa minkum min ahadin ‘anHu haajiziin (“Maka sekali-sekali tidak ada seorang pun darimu yang dapat menghalangi [Kami] dari pemotongan urat nadi itu.”) maksudnya tidak ada seorangpun dari kalian yang mampu memberikan halangan antara Kami dengannya jika Kami sudah menghendaki sesuatu padanya. Artinya, bahkan Muhammad itu adalah seorang yang jujur, senantiasa berbuat kebajikan dan berada dalam bimbingan, karena Allah menetapkan semua yang disampaikan oleh beliau dari-Nya sekaligus memberi dukungan sepenuhnya melalui berbagai macam mu’jizat yang sangat menakjubkan dan berbagai bukti yang sangat pasti.

Wa innaHuu latadzkiratul lil muttaqiin (“Dan sesungguhnya ia benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”) yakni, al-Qur’an. Selanjutnya Dia berfirman: wa innaa lana’lamu anna minkum mukadzdzibiin (“Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakannya.”) yakni dengan kejelasan dan kegamblangan ini akan ada di antara kalian orang yang mendustakan al-Qur’an.

Wa innaHuu lahasratan ‘alal kaafiriina (“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir [di akhirat].”) Ibnu Jarir mengatakan: “Sesungguhnya pendustaan itu benar-benar akan menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir pada hari kiamat kelak.” Dan bisa juga dlamir [kata ganti] itu kembali kepada al-Qur’an. Dengan pengertian lain, pada kesempatan yang sama al-Qur’an dan keimanan kepadanya menjadi penyesalan yang teramat berat bagi orang-orang kafir. Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: “Demikianlah Kami masukkan al-Qur’an ke dalam hati orang-orang yang durhaka. Mereka tidak beriman kepada-Nya.”) (asy-Syu’araa’: 200-201).

Oleh karena itu di sini Allah berfiman: wa innaHuu lahaqqul yaqiin (“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar kebenaran yang diyakini.”) yakni berita benar dan sesuai kenyataan, yang tidak mengandung keraguan sama sekali di dalamnya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: fasabbih bismirabbikal ‘adhiim (“Maka bertasbihlah dengan [menyebut] Nama Rabb-mu Yang Mahabesar.”) yakni yang telah menurunkan al-Qur’an yang agung ini.

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Haaqqah (3)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Haaqqah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; surah ke 69: 52 ayat

‘Abdurrahman bin Zaid mengatakan bahwa makna firman Allah: Haa-umuqra-uu kitaabiyaH; adalah, inilah buku catatanku, bacalah. Kata “umu’ hanya sebagai tambahan. Demikian yang dikatakannnya. Yang benar, kata itu berarti “Haakum” (“Inilah”). Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abu ‘Utsman, dia mengatakan: “Seorang mukmin diberi buku catatannya dengan tangan kanan dalam perlindungan dari Allah, lalu dia akan membaca beberapa keburukannya. Setiap kali dia membaca satu keburukannya, raut mukanya berubah sehigga dia melewati kebaikannya lalu membacanya sehingga raut mukanya kembali seperti semula. Selanjutnya dia melihat, ternyata keburukan-keburukannya itu telah diganti dengan kebaikan. Pada saat itu, dia akan mengatakan: “Inilah buku catatanku, bacalah.” Dan telah disampaikan sebelumnya dalam hadits shahih dari Ibnu Umar, ketika dia ditanya tentang an-najwa (surat al-Mujaadilah, dan diungkapkan dalam surah ini dan surah al-Mujadilah karena faidahnya yang banyak), maka dia menjawab: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah akan mendekatkan seorang hamba pada hari kiamat kelak, lalu Dia menetapkan dosa-dosanya secara keseluruhan sehingga apabila dia telah melihat bahwa dirinya benar-benar telah celaka, maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia dan pada hari ini Aku telah mengampuninya untukmu.’ Sedangkan orang kafir dan munafik, maka para saksi akan mengatakan: ‘Orang-orang ini telah mendustakan Rabb mereka.’ Ketahuilah, laknat Allah itu bagi orang-orang yang berbuat dhalim.”

Firman Allah: innii dhanantu annii mulaaqin hisaabiyaH (“Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.”) maksudnya, aku benar-benar yakin di dunia bahwa hari ini pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak. Sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala: alladziina yadhunnuuna annaHum mulaaquu rabbiHim (“Yaitu orang-orang yang sangat yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Rabb mereka.” (al-Baqarah: 46)

Firman Allah: faHuwa fii ‘iisyatir raadliyatin (“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridlai”) yakni penuh keridlaan. Fii jannatin ‘aaliyatin (“Dalam surga yang tinggi”) yaitu istana yang tinggi, dengan bidadari yang sangat cantik, mutiaranya indah, dan kegembiraan di sana bersifat abadi. Dan telah ditegaskan di dalam hadits shahih: “Sesungguhnya surga itu terdiri dari seratus tingkat, yang mana jarak antara dua tingkat sama dengan jarak antara langit dan bumi.” (muttafaq ‘alaiHi)

quthuufuHaa daaniyatun (“Buah-buahannya dekat.”) al-Barra’ bin ‘Azib mengatakan: “Yakni dekat sehingga salah seorang dari mereka dapat memetiknya ketika dia tidur di tempat tidurnya.”

Kuluu wasyrabuu Hanii-am bimaa aslaftum fil ayyaamil khaaliyati (“Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” Maksudnya, hal itu dikatakan kepada mereka sebagai karunia, pemberian, anugerah dan kebaikan. Jika tidak, maka telahterdapat hadits yang shahih dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda: “Beramallah dan kerjakanlah dengan benar atau mendekatinya, ketahuilah bahwa salah seorang di antara kalian tidak akan masuk ke dalam surga karena amalnya.” (muttafaq ‘alaiHi)

tulisan arab alquran surat al haaqqah ayat 25-37“25. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka Dia berkata: “Wahai Alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). 26. dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. 27. Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. 28. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. 29. telah hilang kekuasaanku daripadaku.” 30. (Allah berfirman): “Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. 31. kemudian masukkanlah Dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. 32. kemudian belitlah Dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. 33. Sesungguhnya Dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar. 34. dan juga Dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi Makan orang miskin. 35. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. 36. dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. 37. tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” (al-Haaqqah: 25-37)

Dan inilah berita tentang keadaan orang-orang yang sengsara, jika salah seorang di antara mereka diberikan buku catatan amalnya dalam persidangan kelak dari sebelah kirinya. Pada saat itu yang ada hanyalah penyesalan tidak terhingga.
Fa yaquulu yaa laitanii lam uuta kitaabiyaH. Wa lam adrimaa hisaabiyaH. Yaa laitaHaa kaanatil qaadliyata (“Wahai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitab ini. Dan akutidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.”) adh-Dhahhak mengatakan: “Yakni kematiannya, yang tidak ada kehidupan setelahnya.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Muhammad bin Ka’ab, ar-Rabi’, dan as-Suddi. Qatadah mengatakan: “Dia mengharapkan kematian, padahal tidak ada yang paling dia benci di dunia dahulu melebihi kematian.”

Maa aghnaa ‘annii maaliyaH. Halaka ‘annii sulthaaniyaH (“Hartaku sekali-sekali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.”) maksudnya harta dan kekuasaanku tidak bisa menghindarkan diriku dari siksa dan hukuman Allah, bahkan semua urusan diserahkan kepada diriku sendiri tidak ada seorang pun penolong dan penyelamat bagiku. Pada saat itulah Allah berfirman: khudzuuHu faghulluuHu tsummal jahiima shalluuHu (“Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.”) maksudnya, Allah memerintahkan Malaikat Zabaniyah untuk mengambilnya dengan kasar dari alam mahsyar lalu dibelenggu, yakni dengan meletakkan rantai pada lehernya lalu menyeretnya ke neraka jahanam untuk selanjutnya diceburkan dan ditenggelamkan di dalamnya.

Tsumma fii silsilatin dzar-‘uHaa sab’uuna dziraa’an faslukuuHu (“Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij, yaitu dengan hasta malaikat. Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan: “FaslukuuHu; belitlah dia.” yakni masuk melalui duburnya dan keluar dari mulutnya, untuk selanjutnyya diuntai pada rantai itu seperti untaian belalang pada sepotong kayu pada saat dipanggang.

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Haaqqah (2)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Haaqqah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; surah ke 69: 52 ayat

tulisan arab alquran surat al haaqqah ayat 13-18“13. Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. 14. dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. 15. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, 16. dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. 17. dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang Malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. 18. pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (al-Haaqqah: 13-18)

Allah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang berbagai kejadian besar pada hari kiamat. Diawali dengan tiupan yang mengagetkan, disusul oleh tiupan mematikan saat semua yang ada di langit dan di bumi mati kecuali yang dikehendaki oleh Allah. Setelah itu tiupan pembangkitan untuk menghadap Rabb semesta alam. Kebangkitan dan pengumpulan makhluk itu berada pada tiupan ini. Hal itu telah ditegaskan di sini, bahwa ia hanya berlangsung satu kali saja karena Allah tidak akan melakukan kesalahan, tidak juga dapat ditolak dan tidak pula membutuhkan pengulangan dan penekanan. Ar-Rabi’ mengatakan: “Dan itulah tiupan yang terakhir.” Dan yang benar adalah yang dikatakan Ibnu Katsir.

Oleh karena itu disini Allah berfirman: wa humilatil ardlu wal jibaalu fa dukkatan dakkataw waahidatan (“Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.”) yaitu dibenturkan seperti benturan yang menghancurkan sehingga tanah yang ada diganti dengan tanah yang baru.
Fayauma-idziw waqa’atil waaqi’atu (“Maka pada hari itu terjadilah kiamat.”) yakni terjadinya hari kiamat. Wan syaqqatis samaa-u faHiya yauma-idziw waaHiyatun (“Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.”) Ibnu Juraij mengatakan, ayat tersebut sama dengan firman-Nya: wa futihatis samaa-u fa kaanat abwaaban (“Maka dibukakanlah langit sehingga menjadi berpintu-pintu.”)(an-Naba’: 19). Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni hancur berantakan, sedangkan ‘Arsy tetap bertengger.”

Wal malaku ‘alaa arjaa-iHaa (“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.”) kata al-Malak merupakan isim jenis, yaitu para malaikat berada di penjuru langit. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Pada bagian-bagian yang belum runtuh, yaitu disekelilingnya.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Sa’id bin Jubair dan al-Auza’i. Sedangkan adh-Dhahhak mengatakan: “Yakni di ujung-ujungnya.” Adapun al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yakni pintu-pintunya.”

Firman Allah: wa yahmilu ‘arsya rabbika fauqaHum yauma-idzin tsamaaniyatun (“Dan pada hari itu delapan Malaikat menjunjung ‘Arsy Rabb-mu di atas [kepala] mereka.”) yakni pada hari kiamat, dimana ada delapan malaikat yang menjunjung ‘Arsy. Mungkin juga yang dimaksudkan dengan ‘Arsy ini adalah ‘Arsy yang agung atau ‘Arsy yang diletakkan di bumi pada hari kiamat kelak untuk memberi keputusan. Hanya Allah yang lebih mengetahui yang benar. Dan dalam hadits Jabir disebutkan bahwa dia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: “Aku diizinkan untuk memberitahu kalian tentang malaikat pengangkat ‘Arsy, yaitu bahwa jarak antara daun telinga dan lehernya sejauh jarak tempuh 700 tahun kepakan sayap burung.”
Sanad hadits ini jayyid, para rijalnya secara keseluruhan adalah tsiqah [terpercaya]. Dan telah pula diriwayatkan oleh Abu Dawud di kitab as-Sunnah dari kitab sunannya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, mengenai firman Allah: wa yahmilu ‘arsya rabbika fauqaHum yauma-idzin tsamaaniyatun (“Dan pada hari itu delapan Malaikat menjunjung ‘Arsy Rabb-mu di atas [kepala] mereka.”) dia mengatakan: “Yaitu delapan baris malaikat.”

Firman Allah: yauma-idzin tu’radluuna laa takhfaa minkum khaafiyatun (“Pada hari itu kamu dihadapkan [kepada Rabb-mu], tiada suatupun dari keadaanmu yang tersembunyi [bagi Allah].”) yaitu kalian akan dihadapkan kepada Rabb Yang Mahamengetahui rahasia dan yang tersembunyi, tidak ada suatu urusanpun dari kalian yang tersembunyi dari-Nya, bahkan Dia mengetahui yang tampak jelas, sembunyi-sembunyi dan yang berada di dalam hati. Oleh karena itu Dia berfirman: laa takhfaa minkum khaafiyatun (“Tiada suatu pun dari keadaaanmu yang tersembunyi.”) Ibnu Abid Dun-ya menceritakan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab mengatakan: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya kalian menghisab diri kalian di hari ini akan meringankan bagi kalian hisab di hari esok dan berhiaslah untuk menyambut perhelatan besar. yauma-idzin tu’radluuna laa takhfaa minkum khaafiyatun (“Pada hari itu kamu dihadapkan [kepada Rabb-mu], tiada suatupun dari keadaanmu yang tersembunyi [bagi Allah].”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat kelak, umat manusia akan dihadapkan [dengan] tiga kali persidangan. Dua persidangan mencakup perdebatan dan penyampaian alasan. Sedangkan persidangan ketiga, pada saat itu lembaran-lembaran catatan berterbangan ke tangan umat manusia, sehingga ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada pula yang mengambilnya dengan tangan kiri.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan juga at-Tirmidzi.

tulisan arab alquran surat al haaqqah ayat 19-24“19. Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, Maka Dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”. 20. Sesungguhnya aku yakin, bahwa Sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. 21. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, 22. dalam syurga yang tinggi, 23. buah-buahannya dekat, 24. (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. (al-Haaqqah: 19-24)

Allah Ta’ala menceritakan tentang kebahagiaan dan kegembiraan orang-orang yang menerima buku catatannya pada hari kiamat kelak dengan tangan kanannya. Karena begitu bahagianya, dia berkata kepada setiap orang yang ditemuinya, “Ambillah, bacalah kitabku ini.” Maksudnya, ambillah bukuku ini dan bacalah, karena dia mengetahui bahwa semua isinya adalah kebaikan murni, dimana dia termasuk orang yang berbagai keburukannya diganti oleh Allah dengan kebaikan.

Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Haaqqah (1)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Haaqqah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; surah ke 69: 52 ayat

tulisan arab alquran surat al haaqqah ayat 1-12bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. hari kiamat, 2. Apakah hari kiamat itu? 3. dan tahukah kamu Apakah hari kiamat itu? 4. kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat. 5. Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. 6. Adapun kaum ‘Aad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi Amat kencang, 7. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu Lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). 8. Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. 9. dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan karena kesalahan yang besar. 10. Maka (masing-masing) mereka mendurhakai Rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras. 11. Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera, 12. agar Kami jadikan Peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.” (al-Haaqqah: 1-12)

Al-Haqqah adalah salah satu dari nama hari kiamat, karena di dalamnya terbukti janji dan ancaman. Oleh karena itu Allah mengagungkan kejadian-kejadiannya, dimana Dia berfirman: wa maa adraaka mal haaqqaH (“Apakah hari kiamat itu?”) kemudian Allah menceritakan kebinasaan umat-umat yang telah mendustakannya, dimana Dia berfirman: fa ammaa tsamuudu fa uHlikuu bith thaaghiyah (“Adapun kaum Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa.”) yaitu suara keras yang membuat mereka tidak bergerak. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah: “Ath-thaaghiyah berarti suara keras.” Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Wa ammaa ‘aadun fa uHlikuu biriihin sharsharin (“Adapun kaum ‘Aad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin.”) yakni dingin.

Qatadah, as-Suddi, ar-Rabbi’ bin Anas dan ats-Tsauri mengatakan, ‘aatiyah (“Amat kencang”) yakni hembusan yang sangat kencang. Qatadah mengungkapkan: “Angin itu menerpa mereka sehingga mencerai beraikan hati mereka. sakhkharaHaa ‘alaiHim (“Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka.”) yakni angin itu menguasai mereka. Sab’a layaaliw wa tsamaaniyatan ayyaamin husuuman (“selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus.”) secara penuh dan terus menerus serta berkesinambungan yang menjadikan mereka berputus asa. Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, ats-Tsauri, dan lain-lain mengatakan: “Kata husuuman berarti secara berturut-turut.” Dan juga dari ‘Ikrimah, ar-Rabi’ bin Khutsaim: “Secara berturut-turut yang menyebabkan mereka berputus asa.” Yang demikian itu seperti firman Allah: fii ayyaamin nahisaatin (“Pada hari-hari yang naas.”) (fushshilat: 16)

Ar-Rabi’ mengatakan: “Angin tersebut mulai berhembus pada hari Jum’at.” Dan ulama lain mengatakan: “Pada hari Rabu.” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “khaawiyatin; berarti rusak.” Dan yang lain mengatakan: “Yakni hancur.”
faHal taraa laHum mim baaqiyatin (“Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.”) maksudnya, apakah kamu mendapati salah seorang dari mereka atau orang-orang yang menisbatkan diri kepada mereka yang masih tersisa, bahkan mereka semua musnah secara keseluruhan. Dan Allah tidak mengadakan penerus bagi mereka.

Selanjutnya firman-Nya: wa jaa-a fir’aunu wa mang qablaHuu (“Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya.”) ada yang membaca dengan harakat kasrah pada huruf qaaf [yang membaca dengan memberi harakat kasrah adalah al-Kisra dan Abu ‘Amar. Sedangkan lima ulama qiraat lainnya membaca dengan fathah]. Artinya, juga dari sisinya dari orang-orang yang hidup pada zamannnya di kalangan pengikutnya yang terdiri dari orang-orang kafir Qibthi. Dan yang lainnya membacanya dengan memberi harakat fathah pada huruf tersebut, yakni dari orang-orang sebelumnya dari umat-umat yang serupa dengannya.

Firman Allah: wal mu’tafikaatu (“Dan [penduduk] negeri yang dijungkir balikkan.”) yakni umat-umat yang mendustakan para Rasul. Bil khaathi-ah (“Karena kesalahan yang besar”) yakni pendustaan terhadap apa yang diturunkan oleh Allah. Ar-Rabi’ mengatakan: “Bil khaathi-ah, yakni karena kemaksiatan.”
Sedangkan Mujahid mengatakan: “Yakni karena dosa-dosa.”
Oleh karena itu Allah berfirman: fa-‘ashau rasuula rabbiHim fa akhadzaHum akhdzatar raabiyatan (“Maka mereka mendurhakai Rasul Rabb mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.”) yakni sangat dahsyat, keras lagi pedih. Mujahid mengatkan: “Raabiyah berarti sangat keras.” As-Suddi mengatakan: “Yakni, membinasakan.”

Firman Allah: innaa lammaa thaghal maa-u (“Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik.”) yakni telah melampaui batas dengan seizin Allah dan telah menggenangi semua yang ada. Dan demikian itu disebabkan oleh doa Nuh atas kaumnya saat mereka mendustakannya.
Hamalnaakum filjaariyaH (“Kami bawa kamu ke dalam bahtera.”) yakni kapal yang berlayar di permukaan air. Linaj’alaHaa lakum tadzkiratan (“Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagimu.”) kata ganti [dlamir] kembali pada jenis, karena penunjukkan makna padanya. Artinya, dan Kami sisakan jenisnya bagi kalian yang kalian naiki di atas aliran air di laut. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: wa ta’iyaHaa udzunuw waa’iyatun (“Dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.”) yakni yang memahami nikmat ini sekaligus mengingatkannya adalah telinga yang senantiasa mendengar. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni yang selalu menghafal lagi mendengar.” Qatadah mengatakan: “Udzunuw waa’iyatin; artinya telinga yang mengerti tentang Allah sehingga dia mengambil manfaat dari apa yang dia dengar dari Kitabullah.”

Bersambung ke bagian 2