Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Haaqqah (3)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Haaqqah (Hari Kiamat)
Surah Makkiyyah; surah ke 69: 52 ayat

‘Abdurrahman bin Zaid mengatakan bahwa makna firman Allah: Haa-umuqra-uu kitaabiyaH; adalah, inilah buku catatanku, bacalah. Kata “umu’ hanya sebagai tambahan. Demikian yang dikatakannnya. Yang benar, kata itu berarti “Haakum” (“Inilah”). Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abu ‘Utsman, dia mengatakan: “Seorang mukmin diberi buku catatannya dengan tangan kanan dalam perlindungan dari Allah, lalu dia akan membaca beberapa keburukannya. Setiap kali dia membaca satu keburukannya, raut mukanya berubah sehigga dia melewati kebaikannya lalu membacanya sehingga raut mukanya kembali seperti semula. Selanjutnya dia melihat, ternyata keburukan-keburukannya itu telah diganti dengan kebaikan. Pada saat itu, dia akan mengatakan: “Inilah buku catatanku, bacalah.” Dan telah disampaikan sebelumnya dalam hadits shahih dari Ibnu Umar, ketika dia ditanya tentang an-najwa (surat al-Mujaadilah, dan diungkapkan dalam surah ini dan surah al-Mujadilah karena faidahnya yang banyak), maka dia menjawab: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah akan mendekatkan seorang hamba pada hari kiamat kelak, lalu Dia menetapkan dosa-dosanya secara keseluruhan sehingga apabila dia telah melihat bahwa dirinya benar-benar telah celaka, maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia dan pada hari ini Aku telah mengampuninya untukmu.’ Sedangkan orang kafir dan munafik, maka para saksi akan mengatakan: ‘Orang-orang ini telah mendustakan Rabb mereka.’ Ketahuilah, laknat Allah itu bagi orang-orang yang berbuat dhalim.”

Firman Allah: innii dhanantu annii mulaaqin hisaabiyaH (“Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.”) maksudnya, aku benar-benar yakin di dunia bahwa hari ini pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak. Sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala: alladziina yadhunnuuna annaHum mulaaquu rabbiHim (“Yaitu orang-orang yang sangat yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Rabb mereka.” (al-Baqarah: 46)

Firman Allah: faHuwa fii ‘iisyatir raadliyatin (“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridlai”) yakni penuh keridlaan. Fii jannatin ‘aaliyatin (“Dalam surga yang tinggi”) yaitu istana yang tinggi, dengan bidadari yang sangat cantik, mutiaranya indah, dan kegembiraan di sana bersifat abadi. Dan telah ditegaskan di dalam hadits shahih: “Sesungguhnya surga itu terdiri dari seratus tingkat, yang mana jarak antara dua tingkat sama dengan jarak antara langit dan bumi.” (muttafaq ‘alaiHi)

quthuufuHaa daaniyatun (“Buah-buahannya dekat.”) al-Barra’ bin ‘Azib mengatakan: “Yakni dekat sehingga salah seorang dari mereka dapat memetiknya ketika dia tidur di tempat tidurnya.”

Kuluu wasyrabuu Hanii-am bimaa aslaftum fil ayyaamil khaaliyati (“Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” Maksudnya, hal itu dikatakan kepada mereka sebagai karunia, pemberian, anugerah dan kebaikan. Jika tidak, maka telahterdapat hadits yang shahih dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda: “Beramallah dan kerjakanlah dengan benar atau mendekatinya, ketahuilah bahwa salah seorang di antara kalian tidak akan masuk ke dalam surga karena amalnya.” (muttafaq ‘alaiHi)

tulisan arab alquran surat al haaqqah ayat 25-37“25. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka Dia berkata: “Wahai Alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). 26. dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. 27. Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. 28. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. 29. telah hilang kekuasaanku daripadaku.” 30. (Allah berfirman): “Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. 31. kemudian masukkanlah Dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. 32. kemudian belitlah Dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. 33. Sesungguhnya Dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar. 34. dan juga Dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi Makan orang miskin. 35. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. 36. dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. 37. tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” (al-Haaqqah: 25-37)

Dan inilah berita tentang keadaan orang-orang yang sengsara, jika salah seorang di antara mereka diberikan buku catatan amalnya dalam persidangan kelak dari sebelah kirinya. Pada saat itu yang ada hanyalah penyesalan tidak terhingga.
Fa yaquulu yaa laitanii lam uuta kitaabiyaH. Wa lam adrimaa hisaabiyaH. Yaa laitaHaa kaanatil qaadliyata (“Wahai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitab ini. Dan akutidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.”) adh-Dhahhak mengatakan: “Yakni kematiannya, yang tidak ada kehidupan setelahnya.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Muhammad bin Ka’ab, ar-Rabi’, dan as-Suddi. Qatadah mengatakan: “Dia mengharapkan kematian, padahal tidak ada yang paling dia benci di dunia dahulu melebihi kematian.”

Maa aghnaa ‘annii maaliyaH. Halaka ‘annii sulthaaniyaH (“Hartaku sekali-sekali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku.”) maksudnya harta dan kekuasaanku tidak bisa menghindarkan diriku dari siksa dan hukuman Allah, bahkan semua urusan diserahkan kepada diriku sendiri tidak ada seorang pun penolong dan penyelamat bagiku. Pada saat itulah Allah berfirman: khudzuuHu faghulluuHu tsummal jahiima shalluuHu (“Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.”) maksudnya, Allah memerintahkan Malaikat Zabaniyah untuk mengambilnya dengan kasar dari alam mahsyar lalu dibelenggu, yakni dengan meletakkan rantai pada lehernya lalu menyeretnya ke neraka jahanam untuk selanjutnya diceburkan dan ditenggelamkan di dalamnya.

Tsumma fii silsilatin dzar-‘uHaa sab’uuna dziraa’an faslukuuHu (“Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij, yaitu dengan hasta malaikat. Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan: “FaslukuuHu; belitlah dia.” yakni masuk melalui duburnya dan keluar dari mulutnya, untuk selanjutnyya diuntai pada rantai itu seperti untaian belalang pada sepotong kayu pada saat dipanggang.

Bersambung ke bagian 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: