Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ma’aarij (1)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ma’aarij (Tempat-tempat Naik)
Surah Makkiyyah; surah ke 70: 44 ayat

tulisan arab alquran surat al ma'aarij ayat 1-7bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa, 2. orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, 3. (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. 4. malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. 5. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. 6. Sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu jauh (mustahil).” (al-Ma’aarij: 1-6)

Sa-ala saa-ilum bi’adzaabiw waaqi’ (“Seorang peminta telah meminta kedatangan adzab yang bakal terjadi”) di dalam ayat ini terkandung pengertian yang ditujukan oleh huruf ba’, seakan-akan memiliki pengertian: ada seseorang yang meminta disegerakan adzab yang sudah bakal terjadi. Dan itu sama seperti firman Allah yang artinya: “Dan mereka meminta kepadamu agar adzab itu disegerakan kedatangannya, sedang Allah itu tidak akan mengingkari janji-Nya.” (al-Hajj: 47). Maksudnya adzab-Nya itu pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid mengenai firman Allah Ta’ala: sa-ala saa-ilun (“ada seseorang yang memohon didatangkan adzab yang bakal ditimpakan di akhirat kelak.”) dia mengatakan: “Dan itulah ungkapan mereka: allaaHumma in kaana Haadzaa Huwal haqqa min ‘indika fa amthir ‘alainaa hijaaratam minas samaa-i awi’tinaa bi’adzaabin aliim (“Ya Allah, jika benar [al-Qur’an] ini, dialah yang datang dari sisi-Mu, maka hujanilah kami batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.” (al-Anfaal: 32)

Dan firman Allah: waaqi’. Lil kaafiriina (“Yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir”) yang sudah disediakan dan disiapkan bagi orang-orang kafir. Ibnu ‘Abbas mengatakan: laisa laHuu daafi’ (“Yang tidak seorang pun dapat menolaknya.”) yakni tidak ada seorang pun yang dapat menolak jika Allah sudah menghendaki kejadiannya.”
Oleh karena itu Allah berfirman: minallaaHi dzil ma’aarij (“[yang datang] dari Allah yang mempunyai tempat-tempat naik.”) ats-Tsauri menceritakan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah minallaaHi dzil ma’aarij; dia mengatakan: “Yang memiliki beberapa derajat.” Ali bin Abi Thalhah mengemukakan dari Ibnu ‘Abbas: “Dzil ma’aarij berarti tinggi lagi utama.” Mujahid mengatakan: “Dzil ma’aarij berarti tingkatan langit.”

Firman Allah: ta’rujul malaa-ikatu warruuhu ilaiHi (“Malaikat-malaikat dan Jibril naik [menghadap] kepada Rabb.”) ‘Abdurrazzaq menceritakan dari Ma’mar, dari Qatadah: “Ta’ruju berarti naik.” Sedangkan ar-ruuh, Abu Shalih mengatakan: “Mereka adalah segolongan makhluk dari makhluk-makhluk Allah yang menyerupai manusia, tetapi mereka bukanlah manusia.” Ibnu Katsir mengatakan: “Ada pula kemungkinan bahwa yang dimaksud itu adalah Jibril, dan itu termasuk ke dalam ‘athaf khusus atas yang umum. Dan mungkin juga ia merupakan isim jenis bagi arwah anak cucu Adam, dimana jika arwah tersebut dicabut, maka akan dibawa naik ke langit.”

Firman Allah: fii yauming kaana miqdaaruHuu khamsiina alfa sanatan (“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”) yang dimaksud dengan hal ini adalah hari kiamat. Ibnu Abi Hatim menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: fii yauming kaana miqdaaruHuu khamsiina alfa sanatan (“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”) dia mengatakan: “Yaitu pada hari kiamat.” Sanadnya shahih. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu ‘Umar al-‘Adani, dia berkata: “Aku pernah bersama Abu Hurairah ra. lalu lewatlah seseorang dari bani ‘Amir bin Sha’Sha’ah, lalu dikatakan kepadanya: ‘Ini adalah orang dari bani ‘Amir yang kekayaannya paling banyak.’ Maka Abu Hurairah berkata: ‘Hadirkan dia padaku.’ Kemudian mereka menghadirkan orang tersebut. Lalu Abu Hurairah berkata: ‘Aku dengar engkau memiliki banyak kekayaan.’ Lalu al-‘Amiri berkata: ‘Benar. Sesungguhnya aku memiliki seratus ekor keledai dan seratus kulit samakan.’ Sampai dia menyebutkan macam-macam unta, berbagai budak, dan tali penambat kuda. Kemudian Abu Hurairah berkata: ‘Hindarilah olehmu tapak kaki unta dan kuku binatang.’ Hal itu diullanginya berkali-kali sehingga membuat raut wajah al-‘Amiri berubah seraya berkata: ‘Apa yang engkau maksudkan dengan hal itu, wahai Abu Hurairah?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa memiliki seekor unta lalu dia tidak memberikan haknya pada saat najdah dan rislahnya.” Lalu kami bertanya: “Apa yang dimaksud dengan najlah dan risahnya itu wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Yakni pada masa sulit dan mudahnya, maka unta itu akan datang pada hari kiamat kelak sebagai unta yang paling cepat jalannya, paling banyak, paling gemuk, dan paling lincah sehingga ketika disediakan untuknya sebidang tanah lapang untuk menderum, maka ia pun akan menginjaknya dengan telapak kakinya. Dan jika telah melewati tempat tersebut maka ia akan kembali ke tempat permulaan dalam satu hari yang kadarnya 50.000 tahun sampai diberikan keputusan kepada umat manusia sehingga dia melihat jalannya. Dan jika dia memiliki seekor sapi lalu dia tidak memberikan haknya ketika dalam keadaan susah maupun mudah, maka sapi itu akan datang pada hari kiamat kelak sebagai sapi yang paling cepat jalannya, paling banyak, paling gemuk, dan paling lincah sehingga ketika disediakan untuknya sebidang tanah lapang untuk menderum maka setiap makhluk yang mempunyai kuku akan menginjaknya dengan kukunya, dan setiap binatang bertanduk akan menyeruduk dengan tanduknya yang di dalamnya tidak terdapat satu pun binatang yang tanduk dan telinganya cacat. Jika binatang itu melintasinya, maka dia akan mengulanginya dari tempat permulaan dalam satu hari yang kadarnya 50.000 tahun sampai diberikan putusan kepada umat manusia sehingga dia melihat jalannya. Dan jika dia memiliki seekor kambing lalu dia tidak memberikan haknya ketika dalam keadaan susah dan lapang, maka dia akan datang pada hari kiamat kelak sebagai kambing yang paling cepat jalannya, paling banyak, paling gemuk, dan paling lincah sehingga ketika disediakan untuknya sebidang tanah lapang untuk menderum maka ia pun akan menginjaknya dengan telapak kakinya. Maka setiap makhluk yang mempunyai kuku akan menginjaknya dengan kukunya dan setiap binatang bertanduk akan menyeruduk dengan tanduknya yang di dalamnya tidak terdapat satu binatang yang tanduk dan telinganya cacat. Jika binatang lain melintasinya, maka dia akan mengulanginya dari tempat permulaan dalam satu hari yang kadarnya 50.000 tahun sampai diberikan putusan pada umat manusia sehingga ia melihat jalannya.” Lalu al-‘Amiri mengatakan: ‘Lalu apakah hak binatang-binatang itu, wahai Abu Hurairah?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Hendaklah engkau memberi yang pemurah, memperkenankan yang melimpah, dan memberi minum unta, serta mengawinkannya dengan unta jantan.’” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i.

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: