Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qalam (2)

16 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam (Kalam)
Surah Makkiyyah; surah ke 68: 52 ayat

Inna rabbaka Huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabiiliHii wa Huwa a’lamu bil muHtadiin (“Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang Paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia lah Yang Paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”) maksudnya Allah Ta’ala mengetahui, kelompok manakah di antara kalian dan juga mereka yang mendapat petunjuk dan juga mengetahui kelompok yang tersesat dari kebenaran.

tulisan arab alquran surat al qalam ayat 8-16“8. Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). 9. Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). 10. dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, 11. yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, 12. yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, 13. yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, 14. karena Dia mempunyai (banyak) harta dan anak. 15. apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kam, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.” 16. kelak akan Kami beri tanda Dia di belalai(nya).” (al-Qalam: 8-16)

Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana Kami telah menganugerahkan nikmat kepadamu dan memberimu syariat yang lurus dan akhlak yang agung, falaa tuthi’il mukadzdzibiina. Wadduulau tudHinu fayudHinuun (“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan. Maka mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Seandainya kamu memberi keringanan kepada mereka, niscaya mereka akan memberi keringanan pula.” Mujahid mengatakan: “Mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak, yakni engkau cenderung kepada tuhan-tuhan mereka dan meninggalkan kebenaran yang ada padamu.

Walaa tuthi’ kulla hallaafim maHiin (“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.”) yang demikian itu karena pendusta dengan kelemahan dan kehinaannya sering berlindung kepada sumpah-sumpah palsu dan berani memakai nama-nama Allah Ta’ala serta menggunakannya setiap saat dan bukan pada tempatnya. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Kata al-maHiin berarti orang yang berdusta.” Sedangkan Mujahid mengemukakan: “Kata itu berarti yang lemah hatinya.” Adapun al-Hasan mengatakan: “Setiap orang yang suka bersumpah adalah orang yang sombong, hina, lagi lemah.”

Hammaazin. Ibnu ‘Abbas dan Qatadah mengatakan: “Yakni, orang yang suka berbuat ghibah.” Masysyaa-im binamiim (“Yang kian kemari menghamburkan fitnah.”) yakni yang berjalan di tengah-tengah umat manusia serta memprofokasi mereka serta menyebarluaskan pembicaraan untuk mengaburkan yang sudah jelas. Dan telah ditegaskan di dalam kitab ash-shahihain, dari hadits Mujahid dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Kedua orang [yang berada dalam kuburan] ini sedang diadzab. Keduanya tidak diadzab karena dosa besar. Adapun salah satunya, karena dia tidak menutup diri saat buang air kecil. Sedangkan yang lainnya karena dia suka mengadu domba.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh sebagian ahli hadits di dalam kitab mereka masing-masing. Imam Ahmad meriwayatkan dari Hamam bahwa Hudzaifah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” Diriwayatkan oleh al-Jama’ah [ahli hadits] kecuali Ibnu Majah.

Mannaa’il lil khairi mu’tadin atsiim (“Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.”) yakni menolak memberikan kebaikan yang dimiliki dan yang ada padanya. Mu’tadin (“Yang melampaui batas.”) dalam mengambil apa yang dihalalkan Allah baginya, dimana dia melanggar batas yang ditetapkan syariat. Atsiim (“Lagi banyak dosa.”) yakni dalam melakukan berbagai hal yang haram.

‘utullim ba’da dzaalika zaniim (“Yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya.”) kata al-‘utull berarti kata-kata kasar. Dan makna yang benar adalah yang suka mengumpulkan lagi sangat kikir. Imam Ahmad meriwayatkan dari Haritsah bin Wahb, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku bertahu tentang penghuni surga. Setiap orang lemah lagi rendah hati. Yang jika bersumpah dengan nama Allah, niscaya dia akan menepatinya. Dan maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka. yaitu setiap orang yang kasar, keras, lagi sombong.”

Waki’ mengatakan, “Setiap orang yang kasar itu pasti tinggi hati lagi sombong.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab ash-Shahihain dan jama’ah lainnya kecuali Abu Dawud.

Pendapat mengenai hal ini cukup banyak, yang semuanya merujuk kepada apa yang telah dikatakan, bahwa az-zaniim adalah yang terkenal dengan kejahatannya yang dengannya dia dapat dikenali di tengah-tengah masyarakat. Dan seringkali dipanggil dengan sebutan anak zina.

An kaana dzaa maaliw wa baniina. Idzaa tut-laa ‘alaiHi aayaatunaa qaala asaathiirul awwaliina (“Karena dia mempunyai [banyak] harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: ‘[Ini adalah] dongeng-dongeng orang-orang dahulu kala.”) Allah Ta’ala berfirman: “Ini sebagai balasan atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya berupa kekayaan dan anak, yaitu kufur terhadap ayat-ayat Allah serta berpaling darinya dan mengklaim bahwa ayat-ayat tersebut hanya dusta belaka, dan diambil dari dongeng orang-orang terdahulu. Dan disini Allah berfirman: sanasimuHuu ‘alal khurthuum (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) Ibnu Jarir mengatakan: “Kelak Kami [Allah] akan menjelaskan secara gamblang sehingga mereka benar-benar mengetahuinya dan tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari mereka, sebagaimana tidak ada yang Kami sembunyikan dari mereka tanda yang ada pada belalai. Demikian pula yang disampaikan oleh Qatadah, sanasimuHuu ‘alal khurthuum (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) keburukan yang tidak bisa ditinggalkan oleh akhir dari apa yang dialaminya. Dan dalam sebuah riwayat darinya, yaitu tanda pada hidungnya. Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: sanasimuHuu ‘alal khurthuum (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) yakni akan diperangi pada peperangan Badar, hingga akhirnya dia pun ditebas pedang dalam peperangan tersebut.

Bersambung ke bagian 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: