Arsip | 15.06

Penghalang Ma’rifatullah

18 Sep

Penghalang Ma’rifatullah
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Apabila seorang hamba telah bertekad untuk mengenal Allah, mendekat kepada-Nya dan mengikuti kehendak-Nya, pasti ia akan dihadang oleh berbagai godaan dan tipu daya. Sudah menjadi sunatullah, di awal perjalanan seorang hamba ia akan menghadapi berbagai tipuan kesenangan, kelezatan, kepemimpinan, kedudukan, pakaian, perkawinan, keluarga, dan sejenisnya.

Dilihat dari sumber dan penyebabnya, penghalang-penghalang itu ada d, kedua macam yaitu penyakit syahwat (berkaitan dengan hati; berupa nafsu dan kesenangan) dan penyakit syubhat (berbagai hal yang menimbulkan keraguan, lebih banyak berkaitan dengan masalah akal dan logika)

Yang termasuk penyakit syahwah di antaranya:

1. Al-fisqu (kefasikan)
Lawan dari alfisqu adalah al-adalatu, keduanya berkaitan dengan kredibilitas moral. Orang yang adil adalah orang yang tidak tercela, sedang orang fasik adalah orang yang ternoda kehormatan dan kredibilitasnya akibat kesalahan yangt ia lakukan.

2. Al-kibru (kesombongan)
Suatu ketika, seorang sahabat yang suka pakaian dan sandal bagus menanyakan tentang drinya apakah termasuk sombong atau tidak, Rasulullah saw. menjawab bahwa sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

3. Adh-dhulmu (kedhaliman)
Adh-dhulmu adalah sikap melampaui batas atau menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Al-Qur’an menyebut kemusyrikan sebagai suatu kedhaliman yang besar karena orang yang musyrik menempatkan makhluk sejajar dengan Allah, sebagaimana disebutkan dalam surah Luqman: 13.

4. Al-kadzibu (dusta)
Dikatakan oleh Rasulullah saw. bahwa dusta mengantarkan seseorang pada dosa, sedangkan dosa akan mengantarkannya ke neraka.

5. Al-ma’ashi (kemaksiatan)
Lawan kemaksiatan adalah ketaatan. Kefasikan, kesombongan, kedhaliman, dan dosa termasuk bentuk kemaksiatan.

Penyakit-penyakit ini akan mengundang kemurkaan Allah. Namun bagaimanapun juga Allah akan mengampuni dosanya selama matahari belum terbit dari barat. Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Efektifitas terapi terhadap penyakit-penyakit hati ini lebih banyak ditentukan oleh pelakunya sendiri. Ia harus bersungguh-sungguh memerangi nafsunya.
“Orang pandai adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan beramal untuk hari sesudah kematiannya.” (HR Turmudzi)

Yang termasuk penyakit Syubhat adalah:

1. Al-jahlu (kebodohan)
Islam menjunjung tinggi ilmu dan orang yang berilmu (ulama) bahkan wahyu yang pertama kali turun adalah perintah untuk mencari ilmu (membaca)
2. Al-irtiyah (keragu-raguan)
Penyakit ini terindikasi dengan identitas dan kepribadian yang tidak jelas. Rasulullah saw. berpesan agar kita meninggalkan yang ragu-ragu dan beralih pada yang tidak meragukan.
3. Al-inshiraf (penyimpangan)
Penyimpangan dapat berawal dari kesengajaan atau ketidaksengajaan. Akibat tidak tahu orang akan menyimpang dari jalan yang benar, hal ini dapat berlanjut pada kesengajaan untuk menyimpang.
4. Al-ghaflah (lalai)
Kenikmatan sering membuat seseorang lalai. Akibatnya tidak tahu arah, akhirnya ia akan mengalami kebimbangan dalam hidupnya.

Penyakit-penyakit intelektual bermula dari ketidaktahuan (kebodohan). Akibatnya penyakit akan menjalar pada seluruh sendi kehidupan. Karena itu penyembuhannya adalah dengan menghilangkan penyakit utama yaitu menghilangkan kebodohan dengan ilmu.

&

Cara Mengenal Allah

18 Sep

Cara Mengenal Allah
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Apabila dampak positif ma’rifatullah diketahui, pastilah orang-orang akan berlomba mengenal Allah lebih jauh. Demikian pula bagi orang yang beriman, semangatnya untuk meningkatkan ma’rifat akan semakin menyala. Akan tetapi karena Allah itu bersifat ghaib dan tidak terjangkau oleh indra kita, upaya untuk lebih jauh mengenal-Nya tidak dapat dilakukan hanya mengandalkan pengamatan iderawi. Karena keghaiban, kesempurnaan, dan keagungan-Nya itulah, kita hanya dapat mengenali melalui ayat-ayat-Nya. ayat-ayat [tanda-tanda kekuasaan] Allah secara global dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu ayatul qauliyah [ucapan] berupa firman-firman-Nya dalam kitab suci yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul, serta ayatul kauniyah [alam] berupa tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tersebar di alam semesta. Metode Islam. Islam memadukan ayatul quliyah dan ayatul kauniyah dalam mengenal Allah. Demikian itu karena tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali Allah. Jangankan tentang Allah, hal-hal ghaib yang ada pada dirinya sendiri saja manusia tidak dapat mengenali dengan baiik. Kerendahan hati mengakui keterbatasannya itulah yang mengantarkan seseorang untuk berislam sehingga ia merujuk kepada dalil-dalil naqli (al-Qur’an dan as-Sunnah) dalam mengenal Allah. Dalil-dalil naqli memberikan informasi lebih lengkap dan akurat tentang hal-hal yang hanya diketahui oleh yang Mahaghaib, sedang dalil-dalil aqli digunakannya untuk memperkuat penemuan dan pemahaman. Dalil-dalil naqli memberikan bimbingan kepadanya bagaimana mempergunakan kemampuan akal secara baik, efisien, dan efektif sehingga tidak menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang tak terjangkau oleh akal. Rasulullah saw. bersabda: “Berfikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berfirkir tentang Dzat Allah karena akal kalian tidak akan dapat menjangkau-Nya.” Sinergis harmonis ayat naqli dan ayat aqli mengantarkan seorang muslim untuk membenarkan dan mempercayai Allah serta memantapkan keimanan kepada-Nya. Metode Jahiliyah Berbeda dengan metode Islam, metode jahiliyah berangkat dari dhon atau prasangka yang seringkali berujung pada nafsu [kepentingan]. Metode jahiliyah mensikapi ayat-ayat qauliyah dengan kesimpulan yang sesat, mereka beranggapan bahwa ayat-ayat qauliyah hanya akan membelenggu kebebasan berfikirnya. Namun perlu dipertanyakan sekali lagi, benarkah mereka memberikan kebebasan penuh kepada akal ataukah justru sebenarnya mereka membelenggunya dengan nafsu dan kepentingan, sebab sebenarnya tidak ada kontradiksi antara akal dan naqli. Kepentingan apa yang mendorong mereka untuk memberikan kebebasan mutlak kepada akal? Disinilah kaum nasionalis tersesat. Mereka enggan mempertuhankan sesembahan yang menurut anggapannya hanya membelenggu kebebasan akal. Namun pada waktu yang bersamaan mereka telah terperosok mempertuhankan akal itu sendiri, disadari atau tidak disadari. Sebagian mereka bangga disebut telah mempertuhankan [mendewakan] akal, sebagian yang lain tidak rela dikatakan telah mempertuhankan akal. Kalau tidak mau dikatakan telah mendewakan akal –sementara ia tidak menerima dalil naqli yang tidak dapat dicerna akalnya, kepentingan apa lagi yang menghalanginya untuk menerima dalil naqli tersebut. Metode jahiliyah yang berangkat dari prasangka dan kepentingan hawa nafsu ini hanya akan menimbulkan keraguan yang didapat. Akhirnya, ia kufur kepada Allah dan menolak aturan-Nya. &

Urgensi Mengenal Allah

18 Sep

Urgensi Mengenal Allah
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Allah sudah kita sebut berkali-kali dalam pembahasan tentang syahadatain. Bahkan kata ini sudah sedemikian akrab dalam telinga dan lidah kita. Akan tetapi pernahkah kita mengukur sejauh mana pengenalan kita kepada-Nya? cukupkah mengenal-Nya hanya dengan mengetahui dan menghafal nama-nama dan sifat-sifat-Nya di luar kepadala? Mengetahui dan menghafalnya merupakan sebagian dari pengenalan kita kepada Allah akan tetapi ada yang lebih penting yaitu bagaimana sikap kita selanjutnya. Pengenalan yang sesungguhnya adalah apabila pengetahuan kita tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah itu kemudian dibarengi dengan pensikapan yang benar dan proporsiaonal.

Ma’rifat yang benar sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim ra. dalam al-Fawaid, adalah pengenalan yang dapat menimbulkan perasaan malu, kecintaan, keterikatan hati, kerinduan, taubat, kedekatan, dan hanya berharap kepada Allah. Ketika ada orang bergegas menyambut saat mendengar panggilan-Nya ia dapat berdialog dengan-Nya, mengadukan persoalan-persoalan yang dihadapi , lalu memohon pertolongan-Nya hingga setelah itu mendapat pencerahan.

Para salafus shalih dulu selalu berupaya mengenal Allah secara lebih dalam dan meningkatkan pengenalan mereka kepada-Nya dengan berbagai cara. Hal ini mereka lakukan karena mereka merasa bahwa semakin dikaji dan dikenali, semakin banyak keagungan Allah yang tersingkap, semakin besar cinta yang dirasakan , semakin besar harapan kepada-Nya, semakin besar rasa takut kepada-Nya, serta semakin meningkat upaya-upaya pendekatan diri kepada-Nya. seseorang yang merasa cukup dengan makrifat yang dicapainya maka sebatas itulah yang ia gapai, padahal problematika hidup seringkali menurunkan makrifat tersebut.

Mengenal Allah menjadi sangat urgen sebagai seorang hamba karena berbagai alasan:

1. Karena yang akan kenal adalah Pencipta alam semesta yang telah menguasai manusia dan menyiapkan untuknya segala kebutuhan di langit dan di bumi; menciptakan malaikat –diantaranya adalah malaikat penjaga yang selalu setia menjalankan tugas melindungi manusia; menciptakan hewan, tumbuhan dan makhluk-makhluk lain yang kesemuanya ditundukkan untuk manusia; serta yang mendengar pengaduan hamba-Nya saat dia menghadapi kesulitan lalu menyelesaikan persoalannya dengan arif dan bijaksana. Dzat seperti itulah yang menjadi tema sentral dalam permbahasan ini.

2. Berbagai dalil (baik dalil fitri, naqli, maupun aqli) telah membuktikan keberadaan, sifat-sifat dan nama-nama-Nya, secara jelas dan tak terbantahkan.

3. Manfaat dan pengaruhnya yang sangat besar yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Pengaruh ini akan terasakan dalam diri insan beriman di dunia:
a. Kemerdekaan yang sebenarnya. Jiwanya senantiasa hanya berharap dan takut kepada Allah sehingga tidak ada yang dapat menguasainya.
b. Ketentraman yang sejati. Seorang mukmin akan selalu yakin bahwa Allah telah menjamin kehidupannya dan melindungi keselamatannya.
c. Keberkahan dari Allah. Setiap amalnya senantiasa diridlai, didekatkan, dan dicintai Allah
d. Kehidupan yang baik. Allah selalu membimbing langkah-langkahnya dalam mencapai kebaikan
e. [di akhirat] ia akan mendapatkan surga dan syafaat dan keridlaan Allah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan (1)

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

Ayat pertama sampai ayat 83 dari surat ini diturunkan berkenaan dengan urusan Najran yang datang pada tahun kesembilan Hijrah. Mengenai masalah ini, insya Allah akan dijelaskan pada penafsiran mubahalah [doa saling melaknat]. Sedang keutamaan surat ini telah diuraikan pada pembahasan awal penafsiran surah al-Baqarah.

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 1-4bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. Alif laam miim. 2. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. 3. Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, 4. sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai Balasan (siksa).” (Ali ‘Imraan: 1-4)

Penjelasaan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nama Allah yang paling agung [yaitu alhayyul qayyuum] terdapat dalam kedua ayat berikut ini: allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tiada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”) dan ayat: alif laam miim, allaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tiada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”) telah dikemukakan sebelumnya ketika menafsirkan ayat Kursi.
Dan juga penjelasan mengenai firman-Nya: “Alif laam miim.” Telah dijelaskan di awal surah al-Baqarah sehingga tidak perlu diulang lagi.

Firman Allah: nazzala ‘alaikal kitaaba bilhaqqi (“Dia menurunkan al-Kitab [al-Qur’an] kepadamu dengan sebenarnya.”) dengan pengertian, telah diturunkan kepadamu, wahai Muhammad, al-Qur’an dengan sebenarnya. Kitab yang tidak ada keraguan dan kebimbangan di dalamnya. Bahkan, kitab itu diturunkan dari sisi Allah dengan ilmu-Nya, para malaikat pun menyaksikan dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Firman-Nya: mushaddiqal limaa baina yadaiHi (“membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya.”) yakni kitab-kitab yang diturunkan dari langit sebelum al-Qur’an, kepada hamba-hamba Allah dan para Nabi-Nya, bahwa kitab-kitab tersebut membenarkan al-Qur’an, dengan apa yang dikhabarkan dan berita gembira yang telah disampaikan sejak zaman dahulu kala. Sedang al-Qur’an itu sendiri pun membenarkan kitab-kitab tersebut, karena al-Qur’an sesuai dengan apa yang dikhabarkan dan berita gembira yang disampaikan oleh kitab-kitab itu mengenai janji Allah dengan pengutusan Nabi Muhammad saw. dan penurunan al-Qur’anul ‘Adhim kepadanya.

Firman Allah selanjutnya: wa anzalat tauraata (“dan menurunkan Taurat”) kepada Musa binn ‘Imraan. Wal injiila (“dan Injil”) kepada ‘Isa bin Maryam, ming qablu (“Sebelumnya.”) yakni sebelum al-Qur’an ini. Hudal linnaasi (“Sebagai petunjuk bagi manusia”) yaitu orang-orang yang hidup pada masa Musa dan ‘Isa. Wa anzalal furqaan (“Dan Dia menurunkan al-Furqaan”) sebuah kitab yang menjadi pembeda antara penyimpangan dan petunjuk yang lurus , melalui berbagai hujjah, penjelasan, dalil yang jelas, dan bukti nyata yang telah Allah sebutkan, terangkan, jelaskan, tafsirkan dan tetapkan.

Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Yang dimaksud al-Furqan disini adalah al-Qur’an.” Sedang Ibnu Jarir berpendapat bahwa disebutkannya al-Furqaan di sini karena telah disebutkan kata al-Qur’an sebelumnya, yaitu firman-Nya: nazzala ‘alaikal kitaabal bilhaqqi (“Dia menurunkan al-Kitab kepadamu dengan sebenarnya.”) yaitu al-Qur’an.

Firman Allah: innalladziina kafaruu bi aayaatillaaHi (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah.”) yaitu mengingkari dan menolaknya dengan cara yang bathil, laHum ‘adzaabun syadiid (“Akan memperoleh siksa yang berat.”) pada hari kiamat kelak. wallaaHu ‘aziizun (“dan Allah Mahaperkasa.”) yaitu yang menolak segala bentuk pengingkaran lagi mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Dzun tiqaam (“Serta mempunyai balasan [siksa].” Yakni bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya serta menyelisihi para Rasul-Nya yang mulia dan para Nabi-Nya yang agung.

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 5-6“5. Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. 6. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali ‘Imraan: 5-6)

Allah mengabarkan bahwa Dia mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan bumi. Tidak ada sesuatupun yang ada di antara keduanya yang tersembunyi dari-Nya.
Huwalladzii yusharwwirukum fil arhaami kaifa yasyaa-u (“Dialah yang membentukmu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya.”) yakni menciptakan kalian dalam rahim seperti yang Dia kehendaki, baik laki-laki maupun perempuan, bagus maupun jelek, celaka [sengsara] maupun bahagia.
Laa ilaaHa illaa Huwal ‘aziizul hakiim (“Tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia. yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) artinya, Dia lah yang menciptakan dan hanya Dia lah yang berhak untuk diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Dia yang mempunyai keperkasaan yang tidak terjangkau dan memiliki hikmah serta hukum.

Di dalam ayat ini [telah] tersirat bahwa jelas sekali menunjukkan bahwa ‘Isa bin Maryam as. adalah hamba yang diciptakan, sebagaimana Allah telah menciptakan seluruh umat manusia, karena Dia telah membentuknya dalam rahim dan menciptakannya sesuai dengan yang dikehendak-Nya, maka bagaimana mungkin dia menjadi ilah [sesembahan] sebagaimana anggapan orang Nasrani –laknat Allah atas mereka–. Sesungguhnya ia telah mengalami proses pertumbuhan dalam rahim ibunya dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain, sebagaimana firman Allah: yakhluqukum fii buthuuni ummaHaatikum khalqam mim ba’di khalqin fii dhulumaatin tsalaats (“Dia telah menciptakanmu di dalam perut ibumu, ciptaan demi ciptaan dalam tiga kegelapan.”) (az-Zumar: 6)

Bersambung ke bagian 2