Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah /Bara’ah (1)

19 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 1-2bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka). 2. Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan Sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir.” (at-Taubah: 1-2)

Surah yang mulia ini termasuk di antara surah-surah yang terakhir diturunkan kepada Rasulullah saw. seperti yang dikatakan oleh al-Bukhari dari Abu Ishaq, ia berkata, aku mendengar al-Barra’ berkata: “Ayat yang terakhir diturunkan adalah: yastaftuunaka qulilaaHu yuftiikum fil kalaalati (“Mereka meminta fatwa kepadamu [tentang kalalah], katakanlah: ‘Bahwa Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah.’” (an-Nisaa’: 176). Dan surah yang terakhir diturunkan adalah surah Bara’ah.”

Adapun tidak adanya basmalah di awalnya, karena para shahabat tidak menulis basmalah di awalnya pada Mush-haf besar. Mereka mengikuti apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan, sebagaimana yang dilakukan oleh at-Tirmidzi (dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu ‘Abbas), aku diberitahu oleh Ibnu ‘Abbas, dimana ia berkata, aku berkata kepada ‘Utsman bin ‘Affan: “Apa yang menjadikanmu menyandingkan surah al-Anfaal yang merupakan surah al-Matsani dengan surah Bara’ah yang merupakan surah al-mi-in, dan kamu tidak menulis bismillaaHir rahmaanir rahiim antara keduanya, sementara kamu menerangkannya pada tujuh surah panjang. Apa yang menyebabkan kamu melakukan hal itu?” Utsman berkata: “Ketika itu, pada masa penurunan surah-surah kepada Rasulullah saw., manakala turun kepadanya suatu ayat, beliau memanggil penulis wahyu dan berkata: ‘Letakkanlah ayat ini pada surah yang di dalamnya terdapat ayat ini dan ini!’ Al-Anfaal termasuk di antara surah-surah yang pertama diturunkan di Madinah dan Bara’ah termasuk surah-surah dari al-Qur’an yang terakhir diturunkan.”

Alur cerita surah Bara’ah menyerupai alur cerita surah al-Anfaal. Aku khawatir kalau Bara’ah adalah bagian dari surah al-Anfaal, sementara pada saat Rasulullah meninggal, beliau belum menjelaskan bahwa ia bagian dari al-Anfaal. Oleh karen itu aku meletakkannya secara berdampingan dan tidak menulis bismillaaHir rahmaanir rahiim di antara keduanya, dan aku meletakkannya di deretan tujuh surah panjang. Demikian apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa-i, Ibnu Hibban dalam shahihny, al-Hakim dalam al-Mustadrak dari beberapa jalur lain. Al-Hakim berkata: “Sanad hadits ini shahih, al-bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.”

Permulaan surah yang mulia ini diturunkan kepada Rasulullah saw. pada saat beliau pulang dari perang Tabuk, ketika melaksanakan ibadah haji. Lalu di sebutkan bahwa orang-orang musyrik hadir pada musim haji sebagaimana kebiasaan mereka sebelumny, dimana mereka melakukan thawaf dengan keadaan telanjang. Oleh karena itu, Rasulullah saw. tidak suka berbaur dengan mereka. Lalu beliau mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai pemimpin rombongan haji pada tahun itu, untuk membimbing kaum muslimin dalam melaksanakan ibadah haji, sekaligus memberitahu orang-orang musyrik bahwa mereka tidak diperbolehkan melakukan ibadah haji setelah tahun inii, juga menyeru kepada sekalian manusia dengan seruan: baraa-tum minallaaHi wa rasuuliHi (“Pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya.”) ketika ia kembali, ia mengutusnya dengan disertai ‘Ali bin Abi Thalib, untuk menjadi penyampai dari Rasulullah saw. karena keberadaannya yang satu keluarga dengan beliau, sebagaimana yang akan dijelaskan mendatang.

Jadi firman Allah: baraa-tum minallaaHi wa rasuuliHi (“Pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya.”) bermakna adanya pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya.
Ilalladziina ‘aaHadtum minal musyrikiina. Fasiihuu fil ardli arba’ata asyHurin (“Kepada orang-orang musyrikin yang kamu [kaum muslimin] telah mengadakan perjanjian [dengan mereka]. Maka berjalanlah kamu [kaum musyrikin] di muka bumi ini selama empat bulan.”
Ada perbedaan pendapat yang meluas di kalangan mufassir, sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini diperuntukkan bagi orang-orang musyrikin yang berada dalam perjanjian yang bersifat mutlak dan tidak ditentukan waktunya, atau bagi mereka yang perjanjiannya kurang dari empat bulan maka mereka harus menyempurnakan empat bulan. Adapun mereka yang perjanjiannya telah ditentukan waktunya, maka batasannya adalah waktu yang telah ditentukan, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah: fa atimmuu ilaiHim ‘aHdaHum ilaa muddatiHim (“Maka sempurnakanlah perjanjian dengan mereka hingga waktu yang telah ditentukan.”)(at-Taubah: 4).

Dan sebagaimana yang akan diterangkan dalam hadits mendatang. Barangsiapa yang mempunyai perjanjian dengan Rasulullah saw., maka batasannya adalah waktu yang telah ditentukan. Inilah pendapat yang paling baik dan paling kuat. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, diriwayatkan pula dari al-Kalbi, Muhammad al-Qurazhi bin Ka’ab dan lain-lain.

Abu Ma’syar al-Madani berkata, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan yang lain bercerita kepada kami, bahwasannya Rasulullah saw. mengutus Abu Bakar sebagai pemimpin rombongan haji pada tahun kesembilan, dan mengutus ‘Ali bin Abi Thalib dengan membawa tiga puluh atau empat puluh ayat dari surah al-Bara-ah. Maka ia membacakannya kepada segenap manusia yang berisi pemberian tempo kepada kaum musyrikin selama empat bulan untuk berjalan di muka bumi dengan aman. Ia membacakannya pada hari ‘Arafah, tempo tersebut adalah 20 hari dari bulan Dzulhijjah, Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal dan 10 hari dari bulan Rabi’ul Akhir. Dan membacakannya di tempat-tempat singgah mereka; bahwasannya setelah tahun itu tidak seorang musyrikpun diperbolehkan melakukan haji dan melakukan thawaf dengan telanjang.

Untuk itulah Allah berfirman:
“Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, Maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (at-Taubah: 3)

Bersambung ke bagian 2

2 Tanggapan to “Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah /Bara’ah (1)”

  1. Cayo 16 Mei 2016 pada 20.55 #

    Maaf koreksi kang,ayat yang ditulis dalam bahasa arab paling awal pembahasan,apakah ini surah at taubah atau ada kesalahan cetak yah…

    • untungsugiyarto 17 Mei 2016 pada 08.27 #

      Terimakasih atas koreksinya, kesalahan terjadi saat meng-upload tulisan ayat. Sekarang sudah dibetulkan. Mohon dibantu terus untuk koreksi jika ada kekeliruan lainnya. Terimakaasih. BaarakallaaHu fii kum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: