Arsip | 09.23

Pembagian Khabar Ahad dari Sisi Pengamalannya

20 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

Khabar yang dapat diterima [maqbul] dapat dibagi dua, yaitu: yang dapat diamalkan dan yang tidak dapat diamalkan. Dari sini muncul dua topik dalam kajian ilmu hadits, yaitu: Hadits-hadits muhkam dan mukhtalif, dan nasikh-mansukh.

Sekian.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus (1)

20 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 1-2bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah. 2. Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang Tinggi di sisi Tuhan mereka”. orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata”. (Yunus: 1-2)

Pembicaraan tentang huruf-hurufdi awal surah telah dibicarakan di surah al-Baqarah.
Tilka aayaatul kitaabul hakiim (“Inilah ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung hikmat.”) maksudnya, ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang muhkam dan yang nyata. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Maksudnya yaitu, Taurat dan Zabur.”

Firman Allah: akaana linnaasi ‘ajaban (“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia…”) hingga ayat seterusnya. Allah ta’ala berfirman, mengingkari orang yang keheranan dari kalangan orang-orang kafir terhadap diutusnya para Rasul dari golongan manusia, sebagaimana Allah Ta’ala memberi kabar tentang generasi terdahulu melalui ucapan mereka: abasyaruy yaHduunanaa (“Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?”)(at-Taghaabun: 6)

Adh-Dhahhak berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Ketika Allah Ta’ala mengutus Muhammad sebagai Rasul, orang-orang Arab atau sebagian dari mereka mengingkarinya, maka mereka berkata: ‘Allah akan lebih agung kalau Rasul-Nya bukan dari manusia seperti Muhammad,’ Lalu Allah menurunkan ayat: akaana linnaasi ‘ajaban (“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia…”).

Firman-Nya: wa basy syirilladziina aamanuu anna laHum qadama shidqin (“Dan gembirakanlah orang-orang beriman, bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi.”) maksudnya, kebahagiaan telah mendahului mereka, dalam kitab catatan terdahulu. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.

Mujahid berkata: “Yaitu amal-amal shalih, shalat, puasa, shadaqah dan bacaan tasbih mereka.” Mujahid berkata: “Dan Muhammad memberi syafaat kepada mereka.” Begitu juga Zaid bin Aslam dan Muqatil bin Hayyan.

Ibnu Jarir memilih perkataan Mujahid, bahwa yang dimaksud “qadama shidqin” adalah amal-amal shalih yang mereka amalkan, seperti dikatakan “laHu qadamun fil Islaam.” (“Ia memiliki amal baik dalam Islam”) seperti ucapan Hasan bin Tsabit: “Kami mempunyai amal yang mulia kepadamu. Dan orang-orang setelah kami mengikuti pendahulu kami dalam taat kepada Allah.”

Dan firman Allah: qaalal kaafiruuna inna Haadzaa lasaahirum mubiin (“Orang-orang kafir berkata: ‘Sesungguhnya orang ini [Muhammad] benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.”) maksudnya bersamaan dengan Kami utus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, seorang laki-laki dari jenis mereka, sebagai pemberi kabar gembira dan yang menakut-nakuti [pemberi peringatan]: qaalal kaafiruuna inna Haadzaa lasaahirum mubiin (“Orang-orang kafir berkata: ‘Sesungguhnya orang ini [Muhammad] benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.”) maksudnya yaitu, yang jelas dan mereka [orang-orang kafir itu] berdusta dalam hal itu.

tulisan arab alquran surat yunus ayat 3“3. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (Yunus: 3)

Allah memberi kabar bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb semesta alam dan sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, seperti hari-hari dunia ini. Pendapat lain mengatakan bahwa tiap satu hari sama dengan seribu tahun dari hari-hari dunia, setelah itu Allah bersemayam di atas ‘Arsy yang merupakan makhluk yang paling agung dan merupakan atap seluruh makhluk.

Firman Allah: yudabbirul amra (“Untuk mengatur segala sesuatu.”) maksudnya mengatur semua makhluk. Laa ya’zubu ‘anHu mitsqaalu dzarratin fis samaawaati wa laa fil ardli (“Tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya seberat dzarahpun [baik] yang ada di langit maupun yang ada di bumi.”)(Saba’: 3). Allah tidak disibukkan oleh satu masalah dengan masalah yang lainnya dan tidak pula masalah-masalah itu membuat Allah salah, Allah tidak bosan dengan desakan orang-orang yang meminta. Ketika mengatur yang besar, tidak membuat-Nya lalai untuk mengatur yang kecil, yaitu mengenai gunung, lautan, tempat yang ramai dan juga yang sunyi dari penghuninya.

Wa laa tanfa’u syafaa’atu ‘indaHuu illaa liman adzina laHuu (“Dan tiadalah berguna syafaat di sisi-Nya melainkan bagi orang-orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu.”)(Saba’: 23) dan firman-Nya: dzaalikumullaaHu rabbukum fa’buduuHu afalaa tadzakkaruuna (“Dzat yang demikian itulah Allah, Rabbmu, maka ibadahilah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran.”) maksudnya esakanlah Allah dengan beribadah kepada-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya. afalaa tadzakkaruuna (“Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”) maksudnya hai orang-orang musyrik dalam urusanmu, kamu beribadah kepada Allah beserta ilah-ilah yang lainnya, padahal kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah sendirilah yang membuat ciptaan, sebagaimana firman-Nya: wa la-in sa-altaHum man khalaqaHum layaquulunnallaaHu (“Dan sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’”)(az-Zukhruf: 87)

tulisan arab alquran surat yunus ayat 4“4. hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.” (Yunus: 4)

Allah Ta’ala memberi kabar, bahwa sesungguhnya kepada-Nyalah tempat kembalinya para makhluk pada hari kiamat, Allah tidak meninggalkan satu [seorang] pun dari mereka hingga mengembalikannya, sebagaimana Allah memulainya. Kemudian Allah Ta’ala (Yang Mahatinggi) menyebutkan, bahwa sesungguhnya Allah mengembalikan makhluk sebagaimaan Allah memulainya, “Dan Dia-lah yang menciptakan [manusia] dari permulaan, kemudian mengembalikan [menghidupkan]nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (ar-Ruum: 27).

Liyajziyalladziina aamanuu wa’amilush shaalihaati bilqisthi (“Agar Allah memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dengan adil.”) maksudnya, dengan pembalasan yang adil dan setimpal.
Walladziina kafaruu laHum syaraabum min hamiimiw wa’adzaabun aliimum bimaa kaanuu yakfuruun (“Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.”) maksudnya,disebabkan kekafiran mereka, mereka disiksa pada hari kiamat dengan berbagai macam siksaan, berupa angin panas, air panas dan naungan asap yang hitam.

Bersambung ke bagian 2