Arsip | 13.28

Adab Muhaddits

23 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Pendahuluan
Karena menyibukkan diri dengan hadits merupakan bagian dari taqarrub kepada Allah swt. yang sangat utama, dan termasuk perbuatan yang mulia, maka hendaknya orang yang menyibukkan dirinya dengan hadits serta menyebarluaskannya ke tengah-tengah masyarakat menampakkan akhlak yang mulia dan perilaku yang baik. Ia serharusnya menjadi contoh [teladan], bersifat jujur terhadap apa yang disampaikan kepada masyarakat, mengamalkannya pada diri sendiri sebelum memerintahkannya kepada orang lain.

2. Hal menonjol yang menjadi perilaku Muhaddits
a. Meluruskan niat dan ikhlas; membersihkan hati dari motif-motif keduniaan, seperti mencari kedudukn dan popularisat.
b. Memberi perhatian yang sangat besar terhadap penyebarluasan hadits dan penyampaian apa yang berasal dari Rasulullah saw. dalam rangka meraih pahala yang berlimpah.
c. Tidak berbicara [menyampaikan hadits] di depan orang yang lebih utama dari dirinya, baik dari sisi usia maupun ilmunya
d. Menunjuki orang yang bertanya kepadanya mengenai hadits, sementara dia mengetahui bahwa hal itu ada pada orang lain.
e. Tidak menghalangi penyampaian hadits kepada seseorang yang niatnya tidak lurus, karena berharap hal itu bisa meluruskan niat orang tersebut
f. Hendaknya membentuk majelis untuk mengkaji hadits dan mengajarkannya. Jika memang memiliki kelayakan. Dan ini termasuk tingkatan yang paling tinggi dalam hal periwayatan.

3. Anjuran-anjuran jika hendak menghadiri majelis
a. Bersuci dan merapikan diri, serta menata jenggot
b. Duduk dengan tenang dan penuh perhatian, sebagai penghormatan terhadap hadits Rasulullah saw.
c. Menghadap kepada seluruh yang hadir, tidak menaruh perhatian hanya pada orang tertentu saja dan melalaikan yang lain.
d. Membuka dan menutup majelis dengan pujian kepada Allah swt. serta shalawat kepada Nabi saw. dan doa sesuai dengan kondisi.
e. Menjauhkan perkara-perkara dari hadits yang tidak sanggup dinalar oleh akal orang-orang yang hadir, atau yang tidak bisa dipahami mereka.
f. Menutup kajian dengan menyampaikan cerita-cerita yang unik untuk memompa hati dan membuang perilaku yang buruk..

4. Usia berapa bagi Muhaddits yang layak untuk menyampaikan hadits
Dalam hal ini terdapa perbedaan:
a. Ada yang berpendapat usia lima puluh tahun; ada juga yang mengatakan usia empat puluh tahun; malahan ada yang berpendapat selain dari dua pendapat tadi
b. Pendapat yang benar adalah tatkala memiliki kapabilitas dan sanggup membentuk majelis hadits, berapapun usianya.

5. Kitab yang populer
a. Al-Jami’ li Akhlaqi ar-Rawi wa adabi as-sami’, karya Khathib al-Baghdadi
b. Jami’ul Bayani al-‘Ilmi wa Fadhlihi wa maa Yanbaghi fii RiwayatiHi wa hamliHi, karya Ibnu Abdil Bar.

&

Sifat Periwayatan Hadits

23 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Maksud dari penamaan topik
Yang dimaksud dengan topik ini adalah penjelasan tentant tata cara diriwyatkannya hadits dan adab [etika] yang mesti dilakukan, serta hal-hal yang terkait dengan itu. Beberapa sudah pernah disinggung dalam pemahasan sebelumnya, berikut ini sisanya.

2. Apakah Rawi dibolehkan meriwayatkan hadits dari kitabnya jika dia tidak hafal?
Dalam kasus ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang bersikap keras sehingga berlebih-lebihan; ada yang menggampangkannya sehingga melampaui batas; tetapi ada juga yang bersikap seimbang sehingga mengambil jalan tengah.
a. Kelompok yang bersikap keras: Mereka mengatakan: ‘Tidak bisa dijadikan hujjah kecuali rawi yang meriwayatkan hadits dari hafalannya.’ Pendapat ini diriwayatkan dari Malik, Abu Hanifah, dan Abu Bakar as-Shaidalani as-Syafi’i.
b. Kelompok yang bersikap longgar: keberadaan suatu kaum yang meriwayatkan hadits dari catatan [naskash] tanpa dicocokkan dengan kitab asalnya. Di antaranya adalah Ibnu Lahi’ah.
c. Kelompok yang bersikap pertengahan, dan ini merupakan jumhur: mereka berkata: “Jika si rawi dalam menerima hadits mencocokkannya dengan berbagai persyaratan –sebagaimana disinggung sebelumnya- maka boleh baginya meriwayatkan dari catatannya, meskipun kitabnya itu tidak ada [hilang]. Yang penting prinsipnya adalah selamat dari adanya perubahan dan penggantian, terutama jika tidak dikhawatirkan adanya perubahan.

3. Hukum riwayat orang buta yang tidak hafal apa yang didengarnya
Jika orang buta tidak hafal apa yang didengarnya, tetapi dibantu oleh orang yang tsiqah dalam penulisan hadits yang didengarnya, memelihara dan menjaga catatannya, berhati-hati tatkala membacanya, dan umumnya selamat dari adanya perubahan, maka menurut kebanyakan ulama riwayatnya sah, sama seperti riwayat orang yang bisa melihat tetapi buta huruf dan tidak hafal.

4. Periwayatan hadits dengan makna dan persyaratannya
Para ulama salaf berbeda pendapat mengenai periwayatan hadits dengan makna. Ada yang melarangnya, ada pula yang membolehkannya.
a. Yang melarangnya adalah sekelompok ahli hadits, fiqih dan ushul, seperti Ibnu Sirin dan Abu Bakar ar-Razi.
b. Yang membolehkannya adalah jumhur ulama salaf maupun kontemporer dari kalangan ahli hadits, fiqih dan ushul. Di antara imam yang empat, meskipun disyaratkan si rawi telah memutuskan untuk menyampaikan secara makna.
Yang membolehkan periwayatan hadits secara makna diharuskan memenuhi dua syarat, yaitu:
a. Rawi mengetahui lafadz-lafadz dan maksud-maksud hadits
b. Rawi berhati-hati terhadap penyimpangan makna.
Kebolehan itu hanya untuk hadits-hadits yang tidak terdapat dan dibaca dari kitab mushannaf. Jika dari kitab mushanaf, tidak boleh meriwayatkan apapun secara makna, terlebih lagi dengan merubah lafadz-lafadz yang ada di dalamnya meskipun maknanya sama. Kebolehan periwayatan secara makna karena kondisi darurat [terpaksa] jika si rawi terdapat kata-kata yang hilang. Tetapisetelah dipastikan hadits-hadits tersebut ada di dalam berbagai kitab, maka tidak ada lagi kondisi darurat untuk meriwayatkannya secara makna.

Rawi yang meriwayatkan secara makna hendaknya mengatakan –setelah meriwayatkan hadits- : au kamaa qaala (atau seperti yang dituturkan), atau au nahwaHu (atau yang semacamnya), atau au syubhuHu (atau yang serupa)

5. Kesalahan dalam i’rab tatkala membaca hadits dan penyebabnya.
Penyebab utama kesalahan dalam i’rab tatkala membaca hadits adalah:
a. Tidak mempelajari ilmu hahwu dan bahasa Arab. Hendaknya pencari hadits mempelajari ilmu hahwu dan bahasa, yang bisa menyelamatkannya dari kesalahan membaca dan pencatatan. Diriwayatkan oleh al-Khatib dari Hammad bin Salamah, yang berkata: “Perumpamaan orang yang mencari hadits tetapi tidak mempunyi ilmu nahwu, seperti keranjang [makanan] yang dibawa seekor keledai tetapi di dalamnya tidak ada gandum.”
b. Mengambil hadits dari berbagai kitab dan catatan tanpa bertemu dengan syeknya.

Kita telah membahas bahwa untuk menerima dan memperoleh hadits dari syekh berlangsung melalui beberapa cara, yang sebagian lebih kuat dari sebagian lainnya. Cara yang terkuat adalah melalui as-Sima’ [mendengar langsung] dari perkataan gurunya, atau membacakan hadits di hadapannya. Bagi para penggiat hadits Rasulullah saw. harus menerimanya dari mulut orang-orang yang ahli ma’rifat dan peneliti, sehingga selamat dari kekeliruan. Bagi pencari hadits, tidak layak hanya bertumpu pada kitab-kitab dan berbagai catatan hadits, mengambilnya , meriwayatkannya, menjadikan kitab-kitab serta catatan itu sebagai guruny, karena hal itu hanya memunculkan banyak kekeliruan. Karena itu para ulama terdahulu berkata: “Jangan mengambil al-Qur’an dari mush-hafi, dan jangan mengambil hadits [berita] dari shahafi.
(Mush-hafi: orang yang mengambil al-Qur’an dari mushafnya, bukan dari para pembaca al-Qur’an dan gurunya. Shahafi: orang yang mengambil hadits dari catatan hadits tidak melalui gurunya.)

&

Penulisan Hadits, Pemeliharaannya dan Pembukuaannya

23 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Hukum penulisan hadits
Para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in berbeda pendapat tentang penulisan hadits.
a. Sebagian mereka tidak menyukainya, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit
b. Sebagian mereka membolehkannya, diantaranya Abdullah bin Amru, Anas, Umar bin Abdul Aziz, dan banyak lagi shahabat.
c. Setelah itu mereka sepakat membolehkannya, sehingga perbedaan pendapat pun sirna. Seandainya hadits-hadits itu tidak dibukukan dalam berbagai kitab, maka akan hilang pada masa akhir, terutama di masa sekarang.

2. Penyebab perbedaan pendapat mengenai hukum penulisannya
a. Hadits yang melarang: diriwayatkan Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian menulis apapun dariku kecuali al-Qur’an. Barangsiapa yang menulis apapun selain al-Qur’an, maka hapuslah [catatan tersebut].
b. Hadits yang membolehkan: dikeluarkan oleh Syaikhan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tulislah oleh kalian untuk Abi Syah.”
Terdapat juga hadits-hadits lain yang membolehkan penulisan hadits. Di antaranya ijin [yang diberikan] kepada Abdullah bin Amru.

3. Kompromi antara hadits yang membolehkan dengan yang melarang
Para ulama telah melakukan kompromi [jama’] antara hadits-hadits yang melarang dan membolehkan penulisan hadits dengan berbagai tinjuauan:
a. Sebagian mereka berkata: Ijin dibolehkannya hadits diberikan kepada orang yang dikhawatirkan melupakan hadits. Sedangkan larangan ditujukan bagi orang yang dipastikan lupa, dan dikhawatirkan keliru jika menuliskannya.
b. Sebagian lainnya berpendapat: adanya larangan muncul tatkala dikhawatirkan tercampurnya hadits dengan al-Qur’an. Kemudian datang izin untuk menuliskannya tatkala kondisinya terjamin, dengan demikian, larangan tersebut telah dihapus.

4. Apa yang harus dilakukan penulis hadits
Para penulis hadits hendaknya mencurahkan perhatiannya terhadap pemeliharaan tulisan haditsnya, memastikan penulisan syakal dan titiknya, dan menjaga keduanya dari percampuran; tidak membuat kesulitan terutama mengenai nama-nama perawi, karena hal itu tidak akan dipahami baik sebelum atau sesudahnya. Tulisan hendaknya jelas bersandar kepada kaidah-kaidah yang populer. Tidak membuat istilah khusus tersendiri dengan formulasi yang tidak dikenal oleh orang lain. Dalam penulisan hendaknya diperhatikan penulisan doa dan salam terhadap Nabi saw. setiap kali namanya disebut, dan tidak jemu-jemunya hal itu diulang-ulang. Tidak boleh terlalu terikat dengan perkara asal jika memang terdapat kekurangan. Begitu juga pujian ditujukan kepada Allah swt. seperti [penulisan] azza wa jalla, termasuk ridla dan rahmat terhadap para shahabat dan ulama. Tidak disukai meringkas doa saja atau salam saja; sama tidak disukainya penggunaan singkatan keduanya, seperti huruf shad atau saw. hendaknya keduanya ditulis secara lengkap.

5. Mencocokkan dan tata cara penulisan
Setelah selesai menuliskian haditsnya, penulis hadits harus mencocokkannya dengan kitab asal gurunya, meskipun dia mengambil dari gurunya melalui jalan ijazah.
Tata cara mencocokkannya adalah, keduanya memegang kitab masing-masing tatkala dibacakan. Cukup dengan kehadiran seorang tsiqah lain yang memperhatikan pencocokan tersebut kapanpun, baik tatkala dibaca atau pun setelahnya. Begitu pula cukup dengan memperhatikan cabang dengan mencocokkannya pada kitab asal gurunya.

6. Istilah dalam penulisan Lafadz-Lafadz Penyampaian, dan yang lainya.
Banyaknya para penulis hadits membuat singkatan dalam lafadz-lafadz penyampaian. Mereka menuliskan, misalnya:
a. Haddatsana dengan tsana atau na
b. Akhbarana dengan ana dan arana
c. Memindahkan sanad yang satu terhadap sanad yang lain, dengan singkatan ha. Yang membacanya mengucapkan haa.
d. Sudah menjadi kebiasaan membuang kata qaala dan semacamnya yang terdapat di antara para perawi sanad. Hal ini dimaksudkan hanya untuk meringkas. Meski demikian, hendaknya si pembaca memperhatikannya. Contohnya: haddatsana Abdullah bin Yusuf akhbarana Malik, maka hendaknya si pembaca mengucapkan: qaala akhbaranaa Malik. Juga menjadi kebiasaan membuang kata annahu pada akhir sanad hanya untuk meringkas. Contohnya: ‘an Abi Hurairah qaala, maka hendaknya si pembaca mengucapkan annahu dengan: annahu qaala. Itu dilakukan untuk memperbaiki ucapan dari sisi i’rab.

7. Perjalanan mencari hadits
Para ulama terdahulu telah memberi perhatian terhadap hadits dengan bentuk perhatian yang tidak ada duanya. Mereka menghabiskan hidupnya untuk mengumpulkan hadits, memeliharanya dengan kepedulian dan usaha yang sungguh-sungguh serta waktu yang hampir-hampir tidak masuk akal. Setelah seorang pencari hadits berhasil mengumpulkan sebuah hadits dari seorang syekh di suatu negeri, maka ia segera melakukan perjalanan lagi ke ngeri atau tempat lain, baik dekat maupun jauh untuk mencari hadits dari para guru yang ada di tempat itu. Mereka menempuh perjalanan yang sulit dan melelahkan dengan jiwa yang penuh keridlaan.

Khatib al-Baghdadi telah menyusun sebuah kitab berjudul ar-Rihlah fii Thalabi al-Hadits, yang berisi kumpulan hadits-hadits dari para shahabat dan tabi’in, dan orang-orang setelah mereka, yang melakukan perjalanan untuk mencari hadits, yang akan membuat takjub orang yang mendengarnya. Siapa saja yang suka mendengarkan berbagai berita yang menyulitkan hendaknya membaca kitab tersebut, karena dapat memberi semangat bagi para penuntut ilmu, melecut perhatian mereka dan memperkuat upaya untuk meraih kemuliaan.

8. Jenis-jenis penyusunan kitab hadits
Bagi orang yang mendapati pada dirinya kemampuan untuk menyusun kitab hadits- atau yang lainnya- hendaknya ia menyusun kitab haditsnya dengan mengumpulkan hadits-hadits secara terpisah, menyederhanakan yang rumit, menertibkan yang tidak tertib, membuat daftar isi [atau indeks] untuk memudahkan mencari hadits sehingga lebih bermanfaat, dengan jalan yang lebih mudah dan waktu yang efisien. Hendaknya berhati-hati menerbitkan kitabnya, sebelumnya harus diperiksa, diteliti dan disempurnakan, agar penyusunnya itu bermanfaat luas dan banyak faedahnya.

Para ulama telah menyusun kitab-kitab hadits yang bentuknya bermacam-macam. Yang populer penyusunannya antara lain:

a. Al-jawami atau al-Jami’: kitab yang penyusunnya mengumpulkan berbagai topik [bab] dari perkara aqidah, ibadah, mu’amalah, sirah, manaqib [biografi], perbudakan, fitnah, berita mengenai hari kimata. Contohnya adalah kitab al-Jami’ ash-Shahil al-Bukhari.
b. Al-Masanid atau al-Musnad: kitab yang di dalamnya dikumpulkan riwayat setiap shahabat dalam batas tertentu tanpa terikat oleh topik yang berkaitan dengan hadits. Contohnya adalah kitab Musnad Imam Ahmad bin Hambal.
c. As-Sunan: kitab yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih, agar bisa menjadi sumber rujukan bagi para fuqaha untuk melakukan istinbath hukum. Ini berbeda dengan kitab-kitab al-Jawami’, karena di dalam kitab-kitab Sunan tidak dijumpai hal-hal yang berkaitan dengan akidah, sirah, manaqib dan lain-lain. Malahan dalam sunan bertabas hanya topik fiqih dan hadits-hadits hukum. Contohnya kitab sunan Abu Dawud.
d. Al-Ma’ajim atau Mu’jam: yaitu kitab yang penyusunannya mengumpulkan hadits berdasarkan nama-nama gurunya secara sistematis, umumnya berdasarkan huruf hijaiyah. Contohnya adalah kitab al-Ma’ajim ats-Tsalatsah karya Imam Thabrani, yang terdiri dari al-Mu’jam al-Kabit, al-Mu’jam al-Ausath, dan al-Mu’jam as-Shaghir.
e. Al-‘Ilal: kitab yang mengumpulkan hadits-hadits yang cacat disertai penjelasan mengenai cacatnya. Contohnya kitab al-‘Ilat karya Ibnu Abi Hatim, atau al-‘Ilal karya ad-Daruquthni.
f. Al-Ajza: kitab kecil yang di dalamnya terkumpul hadits-hadits yang diriwayatkan seorang rawi; atau di dalamnya terkumpul hanya satu topik secara tuntas. Contohnya kitab Juz’u Raf’u al-Yadain fi as-Shalat karya Bukhari.
g. Al-Athraf: kitab yang penyusunnya menyebutkan ujung [permulaan] setiap [matan] hadits yang menunjukkan pada sisanya. Kemudian disebutkan sanad-sanad setiap matannya, baik secara keseluruhan atau pun sebagian kitab. Contohnya kitab Tuhfatu al-Asyraf bin Ma’rifati al-Athraf karya al-Mizzi.
h. Al-Mustadrakat atau al-Mustadrak: kitab yang penyusunnya mengumpulkan berbagai hadits yang dapat digunakan untuk mencari hadits pada kitab lain yang tidak memenuhi persyaratannya. Contohnya adalah kitab al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain karya Abu Abdullah al-Hakim
i. Al-Mustakhrajat atau al-Mustakhraj: kitab yang penyusunnya mengeluarkan berbagai hadits yang ada pada kitab penyusun lainnya, dengan sanad berasal dari dirinya tanpa melalui jalur sanad penyusun yang pertama. kemudian sanad-sanadnya bertemu pada syekh penyusun kitab tersebut atau pada rawi yang lebih tinggi lagi. Contohnya kitab al-Mustakhraj ‘alaa as-Shahihain karya Abu Nu’aim al-Asbahani.

Sekian.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Muzzammil (4)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil (Orang yang Berselimut)
Surah Makkiyyah; surah ke 73: 20 ayat

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: inna rabaka ya’lamu annaka taquumu adnaa min tsulutsayil laili wa nishfaHuu wa tsulutsaHuu wa thaa-ifum minal ladziina ma’aka (“Sesungguhnya Rabb-mu mengetahui bahwasannya kamu berdiri [shalat] kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan segolongan dari orang-orang yang bersamamu.”) yaitu terkadang seperti ini dan terkadang seperti itu. Semua itu terjadi tanpa kesengajaan dari kalian, bahkan kalian tidak akan mampu secara rutin dan terus menerus melakukan qiyamul lail, karena ia terlalu berat bagi kalian.

Oleh karena itu Dia berfirman: wallaaHu yuqaddirul laila wan naHaar (“Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang.”) terkadang keduanya memiliki waktu yang sama, dan terkadang yang satu lebih panjang dari yang lainnya, dan yang lainnya lebih pendek.
‘alima allan tuhshuuHu (“Allah mengetahui bahwa kamu sekali-sekali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu.”) yaitu kewajiban yang telah ditugaskan kepada kalian. Faqra-uu maa tayassara minal qur-aan (“Karena itu bacalah apa yang mudah [bagimu] dari al-Qur’an.”) yakni tanpa adanya batasan waktu tertentu. Dengan kata lain, tetapi bangunlah pada malam hari, waktu yang mudah untuk kalian bangun. Di sini Allah mengungkapkan shalat dengan kata al-Qiraa’aH, sebagaimana yang Dia firmankan di dalam surah al-Israa’: “Dan janganlah kamu mengeraskan suara shalatmu.” (al-Israa’: 110). Para shahabat Imam Abu Hanifah telah menggunakan ayat ini sebagai dalil, yaitu firman-Nya: faqra-uu maa tayassara minal qur-aan (“Karena itu bacalah apa yang mudah [bagimu] dari al-Qur’an.”) yang menunjukkan bahwa tidak ada kewajiban menentukan al-Fatihah dalam shalat, tetapi jika seseorang sudah membaca surah al-Qur’an lainnya meski hanya satu ayat, maka yang demikian itu sudah cukup dan boleh. Mereka juga memperkuat pendapat ini dengan hadits tentang orang yang tidak baik dalam mengerjakan shalatnya, yang disebutkan di dalam ash-Shahihain: “Kemudian bacalah ayat al-Qur’an [hafalan] yang mudah yang ada padamu.”

Dan pendapat mereka telah dijawab oleh jumhur ulama dengan satu hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit yang juga terdapat di dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (surah al-Faatihah).”

Dan dalam kitab shahih Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Setiap shalat yang di dalamnya tidak dibacakan Ummul Qur’an [al-Faatihah], maka shalat itu kurang [tidak sempurna], maka shalat itu kurang [tidak sempurna], maka shalat itu kurang [tidak sempurna].”

Dan di dalam kitab shahih Ibni Khuzaimah, dari Abu Hurairah secara marfu’: “Tidak sempurna shalat seseorang yang tidak membaca Ummul Qur’an.”

Dan firman Allah: ‘alima an sayakuunu minkum mardlaa wa aakharuuna yadl-ribuuna fil ardli yabtaghuuna min fadl-dlillaaHi wa aakharuuna yuqaatiluuna fii sabiilillaaH (“Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah.”) artinya Allah mengetahui bahwa akan ada dari umat ini orang-orang yang mempunyai udzur [halangan] untuk meninggalkan qiyamul lail, baik karena sakit yang membuat mereka tidak mampu mengerjakannya atau sedang melakukan perjalanan [musafir] di muka bumi untuk mencari karunia Allah melalui usaha dan perdagangan, sedang yang lain sibuk dengan sesuatu yang lebih penting dalam pandangan mereka, yaitu berperang di jalan Allah.

Ayat ini dan bahkan surah ini secara keseluruhan termasuk Makkiyah [diturunkan di Makkah], sedangkan perang belum disyariatkan. Dan itu merupakan dalil kenabian yang paling kongrit, sebab ia termasuk dalam bab pemberian kabar mengenai hal-hal yang ghaib, yang terjadi di masa mendatang. Oleh karena itu, Allah berfirman: faq-ra-uu maa tayassara minHu (“Karena itu bacalah apa yang mudah [bagimu] dari al-Qur’an.”) maksudnya, shalatlah dengan membaca ayat al-Qur’an yang mudah bagi kalian.

Firman Allah: wa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata (“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.”) maksudnya kerjakanlah shalat dan bayarlah zakat yang diwajibkan. Dan itu merupakan dalil bagi orang yang menyatakan bahwa kewajiban zakat itu diturunkan di Makkah, tetapi ukuran nishabnya belum dijelaskan kecuali di Madinah. wallaaHu a’lam.

Ibnu ‘Abbas, Mujahid, al-Hasan, Qatadah, dan selain mereka dari ulama salaf mengatakan bahwa ayat ini menaskh [menghapus] qiyamul lail yang sebelumnya telah diwajibkan oleh Allah kepada kaum muslimin. Dan mereka berbeda pendapat mengenai waktu antara keduanya. dalam hal ini terdapat beberapa pendapat, seperti telah disampaikan sebelumnya. Dan telah ditegaskan pula di dalam ash-Shahihain bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda kepada seseorang: “Lima kali shalat dalam satu hari satu malam.” Orang itu bertanya: “Apakah aku mempunyai kewajiban shalat lainnya?” beliau menjawab: “Tidak ada, kecuali engkau hendak mengerjakan shalat sunnah.”

Firman Allah: wa aqri-dlullaaHa qardlan hasanan (“Dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik.”) yakni berupa shadaqah, karena Allah akan memberikan balasan yang paling baik dan paling banyak atas hal tersebut, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik [menafkahkan hartanya di jalan Allah], maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (al-Baqarah: 245)

Dan firman Allah Ta’ala: wa maa tuqaddimuu li anfusikum min khairin tajiduuHu ‘indallaaHi Huwa khairaw wa a’dhama ajran (“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh [balasannya] di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya.”) yakni apa yang pernah kalian kerjakan sendiri, maka semua itu akan membawa hasil untuk kalian, dan itu jelas lebih baik daripada apa yang kalian sisakan untuk diri kalian di dunia.

Al-Hafidzh Abu Ya’la al-Mushili mengabarkan, Abu Khaitsamah memberitahu kami, dari al-A’masy dari Ibrahim, dari al-Harits bin Suwaid, dia berkata, ‘Abdullah mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Siapakah di antara kalian yang hartanya lebih ia sukai daripada harta warisnya?” para shahabat berkata: “Wahai Rasulallah, di antara kami tidak ada seorangpun melainkan hartanya lebih ia sukai daripada harta warisnya.”
Beliau bersabda: “Hendaklah kalian mengetahui apa yang kalian katakan itu.” Mereka berkata: “Kami tidak mengetahui kecuali hanya itu saja, wahai Rasulallah.” Beliau bersabda: “Sesunggunya harta salah seorang di antara kalian adalah yang dia dahulukan [dinafkahkan], sedang harta ahli warisnya adalah yang diakhirkan [tidak dinafkahkan].” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadits Hafsh bin Ghayats dan an-Nasa-i dari jalan Abu Mu’awiyah, keduanya dari al-A’masy.

WastaghfirullaaHa innallaaHa innallaaHa ghafuurur rahiim (“Dan mohon ampunlah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) maksudnya perbanyaklah berdzikir kepada-Nya serta mohonlah ampunan dalam semua urusan kalian, karena sesungguhnya Dia Mahapengampun lagi Mahapenyayang kepada orang yang memohon ampunan kepada-Nya.

Sekian.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Muzzammil (3)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil (Orang yang Berselimut)
Surah Makkiyyah; surah ke 73: 20 ayat

tulisan arab alquran surat al muzzammil ayat 10-18“10. dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. 11. dan biarkanlah aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. 12. karena Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. 13. dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. 14. pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan. 15. Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun. 16. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa Dia dengan siksaan yang berat. 17. Maka Bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. 18. Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu. adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.” (al-Muzzammil: 10-18)

Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya untuk senantiasa bersabar atas apa yang dikatakan oleh orang-orang bodoh dari kaumnya yang mendustakannya. Dan hendaklah beliau menjauhkan diri mereka dengan cara yang baik, yaitu upaya penjauhan diri yang tidak disertai dengan cacian.

Wa dzarnii wal mukadzdzibiina ulin na’mati (“dan biarkanlah Aku [saja] bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan.”) maksudnya, biarkan Aku mengambil tindakan terhadap orang-orang yang berdusta dan orang-orang yang melampaui batas dari kalangan orang-orang yang memiliki harta, karena mereka lebih mampu membuat ketaatan daripada yang lainnya. Mereka dituntut untuk memberikan hak-hak yang tidak dimiliki orang lain.

Wa maHHilHum qaliilan (“Dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.”) yaitu barang sejenak. Inna ladainaa ankaalan (“Karena sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat.”) yaitu tali kekang. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas dan selainnya. Wa jahiiman (“dan Neraka yang menyala-nyala.”) yaitu yang menyala dengan berkobar-kobar. Wa tha-‘aaman dzaa ghushshatin (“Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yang menyumbat di kerongkongan sehingga tidak ada yang bisa masuk atau keluar.”

Wa ‘adzaaban aliiman. Yauma tarjuful ardlu wal jibaalu wa kaanatil jibaalu katsiibam maHiilan (“Dan adzab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncang, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan.”) yakni menjadi seperti gundukan pasir setelah sebelumnya adalah batu yang keras. Kemudian tumpukan pasir itu diterbangkan sehingga tidak ada sedikitpun yang tersisa. Dan akhirnya bumi menjadi tempat yang datar, dimana engkau tidak dapat melihat lagi lembah dan bukit. Artinya, tidak ada yanag menjorok dan tidak ada pula yang menjulang.

Selanjutnya, firman-Nya: innaa arsalnaa ilaikum rasuulan syaaHidan ‘alaikum (“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu [hai orang kafir Makkah] seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu,”) yaitu terhadap amal perbuatan kalian.
Kamaa arsalnaa ilaa fir’auna rasuulan. Fa’ashaa fir’aunar rasuula fa akhadznaaHu akhdzaw wabiilan (“Sebagaimana Kami telah mengutus [dahulu] seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Firaun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, as-Suddi, dan ats-Tsauri berkata: akhdzaw wabiilan’ yakni sangat berat.” Dengan kata lain, janganlah sekali-sekali mendustakan Rasul ini jika kalian tidak ingin ditimpa dengan apa yang menimpa Fir’aun, dimana Allah telah menimpakan siksaan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, sebagaimana Dia telah berfirman: fa akhadzaHullaaHu nakaalal aakhirati wal uulaa (“Maka Allah mengadzabnya dengan adzab di akhirat dan adzab di dunia.”) (an-Naazi’aat: 25). Dan kalian lebih pantas untuk hancur binasa jika kalian mendustakan Rasul kalian, karena Rasul kalian lebih mulia dan lebih agung daripada Musa bin ‘Imran. Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Mujahid.

Firman Allah: fa kaifa tattaquuna ing kafartum yaumay yaj’alul wildaani syiiban (“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.”) bisa jadi, kata yauman itu dipakai untuk kata tattaquun, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Jarir mengenai bacaan Ibnu Mas’ud: “Bagaimanakah kalian ini –hai sekalian manusia- takut pada suatu hari yang anak-anak menjadi beruban, jika kalian kafir kepada Allah dan tidak mempercayai-Nya?” dan mungkin juga kata itu dipakai bagi kata kafartum. Untuk pengertian pertama, bagaimana akan tercapai rasa aman bagi kalian di hari yang menakutkan ini jika kalian kafir? Dan pengertian kedua, bagaimana akan tercapai ketakwaan pada kalian jika kalian kufur dan mengingkari hari kiamat? Keduanya adalah pengertian yang baik, tetapi yang pertama adalah lebih baik. wallaaHu a’lam.

Dan makna firman Allah: yauma yaj’alul wildaana syiiban (“Pada hari yang menjadikan anak-anak beruban.”) yaitu karena guncangannya yang sangat yang sangat hebat, kemusnahan dan kedahsyatannya, dan itu berlangsung saat Allah Ta’ala berkata kepada Adam: “Bangkitlah seperti bangkitnya api.” Lalu Adam bertanya: “Dari berapa?” dia menjawab: “Dari setiap seribu, sembilanratus sembilanpuluh sembilan ke neraka dan satu ke surga.”

Dan firman Allah: assamaa-u munfathirum biHii (“Langitpun menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah.”) al-Hasan dan Qatadah mengatakan: “Yaitu disebabkan oleh keras dan kedahsyatannya.” Dan firman-Nya: kaana wa’duHuu maf’uulan (“Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.”) yakni janji hari ini pasti akan terlaksana dan terjadi, tidak mungkin tidak.

tulisan arab alquran surat al muzzammil ayat 19-20“19. Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka Barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya. 20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Muzzammil: 19-20)

Inna HaadziHii (“Sesungguhnya ini”) yaitu surah ini, tadzkiratun (“Merupakan suatu peringatan.”) yaitu menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal. Oleh karena itu, Dia berfirman: faman syaa-at takhadza ilaa rabbiHii sabiilan (“Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan [yang menyampaikannya] kepada Rabbnya.”) yaitu barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk diberi petunjuk, seperti yang Dia berikan batasan dalam surah yang lain, wa maa tasyaa-uuna illaa ay yasyaa allaaHu innallaaHa kaana ‘aliimman hakiiman (“Dan tidaklah kamu berkehendak melainkan jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Muzzammil (2)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil (Orang yang Berselimut)
Surah Makkiyyah; surah ke 73: 20 ayat

Dan yang menjadi dalil baginya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya, dari Sa’id bin Hisyam bahwa dia pernah menceraikan istrinya, kemudian dia bertolak menuju Madinah untuk menjual barang berharga miliknya, lalu dia belikan kuda dan senjata kemudian berjihad memerangi Romawi [sampai akhirnya ajal menjemputnya]. Selanjutnya dia menjumpai serombongan orang dari kaumnya, lalu mereka memberitahunya bahwa serombongan orang dari kaumnya berjumlah enam orang hendak melakukan hal tersebut pada masa Rasulullah saw. maka beliau bersabda: “Bukankah kalian sudah mendapatkan suri tauladan yang ada pada diriku?” kemudian beliau melarang mereka melakukan hal tersebut, lalu beliau mengambil kesaksian mereka untuk mengembalikannya. Selanjutnya beliau pun kembali kepada kami. Maka dia pun memberitahu kepada kami bahwa dia pernah mendatangi Ibnu ‘Abbas dan bertanya kepadanya tentang witir lalu dia berkata: “Maukah engkau diberitahu oleh seorang penghuni bumi mengenai witir Rasulullah saw.?” Dia menjawab: “Mau.” Lalu dia berujar: “Datanglah kepada ‘Aisyah dan tanyakan kepadanya tentang witir. Setelah itu kembalilah kepadaku untuk memberitahuku jawaban yang dia berikan kepadamu.” Lebih lanjut dia berkata: “Maka akupun mendatangi Hakim bin Aflah. Kemudian aku mengajaknya menemui ‘Aisyah.” Dia berkata: “Aku bukan kerabatnya. Sesungguhnya aku melarangnya mengatakan sesuatu perihal dua golongan ini.” Maka dia menolak berbicara dengan keduanya dan membiarkannya berlalu. Kemudian aku bersumpah kepadanya hingga akhirnya dia mau datang bersamaku. Lalu kami masuk menemui ‘Aisyah.” “Hakimkah itu?” tanya ‘Aisyah yang memang sudah mengenalnya. Hakim menjawab: “Benar.” “Siapakah orang yang bersamamu itu?” tanyanya lebih lanjut. Dia menjawab: “Sa’id bin Hisyam.” “Siapakah Hisyam itu?” tanya ‘Aisyah lagi. Hakim menjawab: “Putera Amir.” Kemudian ‘Aisyah mendoakan ‘Amir agar diberi limpahan rahmat kepadanya. Lalu ‘Aisyah berkata: “Sebaik-baik orang adalah ‘Amir.” Aku bertanya kepada beliau (‘Aisyah): “Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah.” Ia menjawab: “Tidakkah engkau membaca al-Qur’an?” Aku menjawab: “Ya, aku membaca al-Qur’an.” Lalu beliau pun berucap: “Sesungguhnya akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an.”
Maka setelah itu aku berkeinginan untuk berdiri, akan tetapi muncul pertanyaan dalam diriku tentang bagaimanakah ibadah [shalat] Rasulullah. Lalu kukatakan: “Wahai Ummul Mukminin, beritahukan kepadaku tentang qiyam [shalat] Rasulullah saw.” ‘Aisyah berkata: “Bukankah engkau sudah membaca surah ini: yaa ayyuHal muzzammil…?” “Ya, aku sudah membacanya,” jawabku. ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan qiyamul lail di awal surah ini hingga Rasulullah saw. daan para shahabatnya bangun untuk mengerjakan shalat malam selama satu tahun, sehingga kaki-kaki mereka membengkak. Dan allah menahan penutup ayat ini di langit selama dua belas bulan untuk kemudian Dia menurunkan keringanan di akhir surah tersebut, sehingga qiyamul lail menjadi sunnah setelah sebelumnya wajib.”
Kemudian aku ingin sekali berdiri, lalu teringat olehku witir Rasulullah saw. maka kukatakan: “Wahai Ummul Mukminin, beritahukan kepadaku tentang witir Rasulullah saw.” ‘Aisyah pun menjawab: “Kami biasa menyediakan siwak beliau dan air bersuci untuk beliau. Kemudian Allah akan membangunkan beliau sesuai kehendak-Nya pada malam hari. Selanjutnya beliau bersiwak lalu berwudlu untuk selanjutnya beliau mengerjakan shalat delapan rakaat, dimana beliau tidak duduk pada kedelapan rakaat tersebut kecuali pada rakaat kedelapan [terakhir]. Lalu beliaupun duduk dan berdzikir kepada Rabb-nya Yang Mahatinggi seraya berdoa kemudian beliau bangkit dengan tidak mengucapkan salam dan berdiri untuk mengerjakan rakaat yang ke sembilan. Setelah itu beliau duduk kembali seraya berdzikir kepada Allah, dilanjutkan dengan doa kemudian mengucapkan salam yang terdengar oleh kami.
Selanjutnya beliau mengerjakan shalat dua rakaat lagi sedang beliau dalam keadaan duduk setelah mengucapkan salam. Dan demikianlah sebelas rakaat, wahai anakku. Dan setelah Rasulullah saw. bertambah tua dan tubuhnya bertambah gemuk, maka beliau hanya mengerjakan shalat witir tujuh rakaat kemudian mengerjakan shalat dua rakaat sedang beliau dalam keadaan duduk setelah mengucapkan salam. Demikianlah sembilan rakaat wahai anakku. Dan jika Rasulullah mengerjakan satu shalat, maka beliau lebih suka mengerjakannya secara rutin [terus menerus]. dan jika beliau tidak sempat bangun malam karena tertidur atau karena rasa sakit atau penyakit, maka beliau mengerjakan shalat pada siang hari sebanyak dua belas rakaat. Dan aku tidak mengetahui Nabi Allah membaca Al-Qur’an secara keseluruhan pada satu malam sampai pagi hari dan tidak juga beliau berpuasa satu bulan penuh selain di bulan Ramadlan.”

Selanjutnya aku mendatangi Ibnu ‘Abbas, lalu memberitahukan kepadanya mengenai hadits ‘Aisyah itu, maka Ibnu ‘Abbas berkata: “Dia benar, sehingga dia mau berbicara langsung kepadaku.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ahmad Ahmad secara lengkap. Dan hadits senada juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahihnya dari hadits Qatadah yang semisalnya.

Firman Allah: wadzkurisma rabbika wa tabattal ilaiHi tabtiilan (“Sebutlah Nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”) maksudnya perbanyaklah dzikir kepada-Nya, berkonsentrasilah, serta bersungguh-sungguhlah dan memenuhi kebutuhan duniamu, sebagaimana Dia berfirman: “Maka apabila kamu telah selesai [dari suatu urusan], kerjakanlah dengan sungguh-sungguh [urusan] yang lain.” (Alam Nasyrah: 7).
Maksudnya jika engkau telah selesai dari berbagai kesibukanmu, maka berkonsentrasilah untuk mentaati dan beribadah kepada-Nya agar hatimu benar-benar konsentrasi. Demikian yang disampaikan oleh Ibnu Zaid dengan pengertiannya atau yang dekat dengannya. Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Abu Shalih, ‘Athiyyah, adh-Dhahhak, dan as-Suddi mengatakan: tabattal ilaiHi tabtiilan, yakni ikhlaskanlah ibadah hanya untuk-Nya semata.

Dan firman Allah Ta’ala: rabbul masyriqi wal maghribi laa ilaaHa illaa Huwa fattakhidHu wakiilan (“[Dia-lah] Rabb masyriq dan maghrib, tidak ada ilah [yang berhak diibadahi dengan benar] melainkan hanya Dia, maka ambillah Dia sebagai Pelindung.”) maksudnya Dia adalah Raja yang memegang kendali di belahan timur maupun barat, yang tiada ilah yang patut diibadahi dengan benar selain Dia. sebagaimana engkau telah mengesakan diri-Nya dalam ibadah, maka esakan pula Dia dalam bertawakal, lalu jadikanlah Dia sebagai pelindung.

Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud (1)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 1-4bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu, 2. agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya, 3. dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. 4. kepada Allah-lah kembalimu, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Huud: 1-4)

Mengenai huruf “alif laam raa” ini telah dijelaskan dalam pembahasan awal surah al-Baqarah, dan tak perlu diulang disini.

Kitaabun uhkimat aayaatuHuu tsumma fushshilat (“Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci,”) maksudnya, lafadz-lafadz kitab tersebut disusun secara rapi dengan disertai makna yang sangat rinci. Dengan demikian, ia memiliki kerangka dan makna yang sempurna. Dan itulah makna apa yang diriwayatkan dari Mujahid, Qatadah, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Firman-Nya: mil ladun hakiimin khabiir (“Yang diturunkan dari sisi Allah yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.”) yakni dari sisi Allah yang Mahabijaksana dalam firman-firman dan hukum-hukum-Nya, serta Mahamengetahui kesudahan dari berbagai macam urusan.

Allaa ta’buduu illallaaHa (“Agar kalian tidak beribadah kepada selain Allah.”) maksudnya, al-Qur’an yang akurat lagi terperinci ini turun untuk menyampaikan perintah agar umat manusia hanya beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Firman-Nya: innanii lakum minHu nadziiruw wabasyiir (“Sesungguhnya aku [Muhammad] adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepada kalian dari-Nya.”)
Artinya, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan adzab jika kalian mendurhakai-Nya, sekaligus sebagai penyampai kabar gembira akan pahala jika kalian mentaati-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, bahwasannya Rasulullah saw. pernah menaiki bukit Shafa. Beliau menyeru keturunan kaum Quraisy yang paling dekat kemudian yang paling dekat lagi, hingga akhirnya mereka berkumpul semua. Selanjutnya beliau bersabda: “Wahai sekalian kaum Quraisy, bagaimana menurut pendapat kalian, bahwa pasukan kuda akan menyerbu kalian pada pagi hari, bukankah kalian mempercayaiku?” mereka menjawab: “Kami tidak pernah menerima kebohongan darimu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian di hadapan adzab yang pedih.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Firman Allah berikutnya: wa anistaghfiruu rabbakum tsumma tuubuu ilaiHi yumatti’kum mataa’an hasanan ilaa ajalim musammaw wa yu’ti kulli dzii fadl-lin fadl-laHu (“Dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Rabb kalian dan bertaubat kepada-Nya. [Jika kalian mengerjakan yang demikian], niscaya Allah akan memberi kenikmatan yang baik [terus-menerus] kepada kalian sampai pada waktu yang telah ditentukan dan Allah akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan [balasan] keutamaannya.”) maksudnya, dan aku memerintah kalian untuk memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah berlalu serta bertaubat darinya serta melakukan hal tersebut secara berkesinambungan.

Yumatti’kum mataa’an hasanan (“Jika kalian mengerjakan yang demikian, niscaya Allah akan memberi kenikmatan yang baik [terus menerus] kepada kalian.”) yakni, di dunia. Ilaa ajalim musammaw wa yu’ti kulli dzii fadl-lin fadl-laHu (“Sampai pada waktu yang telah ditentukan dan Allah akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan [balasan] keutamaannya.”) yakni di alam akhirat. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah.

Di dalam hadits shahih telah disebutkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Sa’ad: “Sesungguhnya kamu tidak akan menginfakkan sesuatu yang kamu maksudkan untuk mencari keridlaan Allah, melainkan kamu akan diberi pahala karenanya, termasukk [apa] yang kamu berikan ke dalam mulut istrimu.”

Firman Allah: wa in tawallau fa innii akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumin kabiir (“Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa hari kiamat.”) yang demikian itu merupakan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang berpaling dari perintah Allah Ta’ala dan mendustakan para Rasul-Nya, karena sesungguhnya mereka pasti akan merasakan adzab yang pedih pada hari kimat kelak. ilallaaHi marji’ukum (“Kepada Allah-lah tempat kembali kalian.”) yakni tempat kembali kalian kelak pada hari kiamat.

Wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) maksudnya Allah Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya, yaitu memberi kebaikan kepada para wali-Nya dan menimpakan siksa kepada musuh-musuh-Nya, serta kuasa untuk mengembalikan semua makhluk-Nya pada hari kiamat kelak. Demikianlah penggalan pertama yang berposisi sebagai targhib [motifator], sedangkan penggalan yang kedua berposisi sebagai tarhib (ancaman).

tulisan arab alquran surat huud ayat 5“5. Ingatlah, Sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk Menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad)[708]. Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.” (Huud: 5)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Mereka tidak suka menghdapkan kemaluannya ke langit ketika mereka berhubungan badan. Maka Allah menurunkan ayat ini.”

Imam al-Bukhari dan imam yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, yastaghsyuuna (“pada waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain.”) yakni mereka menutupi kepala mereka. Dalam riwayat lain, ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu ‘Abbas mengemukakan: “Yang dimaksud dengan hal itu adalah keraguan terhadap Allah dan juga berbuat keburukan.” Hal yang sama juga diriwayatkan dari Mujahid, al-Hasan dan lain-lain. Dengan kata lain, mereka memalingkan dada mereka, jika mengatakan atau mengerjakan sesuatu. Dengan melakukan hal demikian, mereka menduga bahwa mereka dapat menyembunyikan diri dari Allah. Maka Allah memberitahu mereka bahwa ketika mereka menyelimuti diri pada saat tidur dan pada malam hari yang gelap gulita, ya’lamu maa yusirruuna (“Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”) berupa ucapan. Wa maa yu’linuuna innaHuu ‘aliimum bidzaatish shuduur (“dan apa yang merkea tampakkan. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala isi hati.”) maksudnya, Allah mengetahui niat, hati nurani dan berbagai macam rahasia yang mereka sembunyikan dalam dada mereka.

Betapa bagusnya apa yang dikatakan Zuhair bin Abi Salma dalam mu’allaqatnya yang sangat terkenal: “Janganlah sekali-kali engkau menyembunyikan isi hatimu dari Allah, supaya tersembunyi. Dan bagaimanapun disembunyikan, Allah pasti mengetahuinya. Siksa itu ditangguhkan, lalu dicatat di dalam kitab dan disimpan untuk hari perhitungan, atau siksa itu disegerakan, lalu ditimpakan kepada pelakunya.”

Penyair masa Jahiliyyah ini telah mengetahui akan adanya Pencipta dan ilmu-Nya akan hal-hal yang paling kecil sekalipun, hari kebangkitan, pembalasan dan penulisan segala amal perbuatan di dalam buku catatan untuk selanjutnya dibuka pada hari kiamat kelak.

‘Abdullah bin Syaddad mengemukakan: “Salah seorang dari mereka jika berjalan melewati Rasulullah saw., maka ia akan memalingkan dadanya dan menutupi kepalanya, sehingga Allah menurunkan ayat tersebut.”

Pengembalian dlamir [kata ganti] dalam ayat tersebut kepada Allah Ta’ala adalah lebih tepat. Hal itu didasarkan pada firman-Nya: alaa hiina yastaghsyuuna tsiyaabaHum ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Ingatlah, pada waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan.”
Ibnu ‘Abbas membaca ayat tersebut dengan bacaan,”allaa innaHum tasnuunii shuduuruHum [ketahuilah, mereka memalingkan dada mereka dariku.”]

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf (1)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 1-3bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Alif, laam, raa. ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah). 2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. 3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Yusuf: 1-3)

Pembahasan tentang huruf-huruf yang sering mengawali surah-surah al-Qur’an telah dibicarakan pada awal surah al-Baqarah.
Tilka aayaatul kitaabi (“Itu adalah ayat-ayat al-Kitab.”) yaitu ini adalah ayat-ayat al-Kitab, ia adalah al-Qur’an yang menjelaskan yaitu yang memberikan penjelasan yang jelas, yang menerangkan segala yang samar, menafsirkan dan menjelaskannya.

Innaa anzalnaaHu qur-aanan ‘arabiyyal la’allakum ta’qiluun (“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa al-Qur’an dengan bahasa Arab, agar kamu memahaminya.”) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas dan paling tepat untuk dapat menyampaikan makna [maksud] yang ada di dalam jiwa. Oleh karena itu, Kitab yang paling mulia ini diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, kepada Rasul yang paling mulia, dengan utusan Malaikat yang paling mulia,di bumi yang mulia, diturunkan pada bulan yang paling mulia yaitu bulan Ramadlan.

Dengan demikian al-Qur’an itu sempurna dari segala seginya. Maka Allah berfirman: nahnu naqush-shu ‘alaika ahsanal qashashi bimaa auhainaa ilaika Haadzal qur-aana (“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur-an ini kepadamu.”) artinya dengan cara Kami mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu.

Disebutkan bahwa sebab turunnya [asbabun nuzul] ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, mereka [para shahabat] berkata kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah Kami mohon engkau bercerita kepada kami.” Maka turunlah ayat: nahnu naqush-shu ‘alaika ahsanal qashashi (“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik.”) Dia juga meriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad, dari ayahnya dia berkata: “Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. maka dibacakan kepada mereka beberapa waktu lamanya. Kemudian mereka berkata kepada beliau: ‘Ya Rasulallah, sekiranya engkau bercerita kepada kami?’ Maka Allah menurunkan ayat pertama dan kedua yang terdapat dalam surah Yusuf ini, maka dibacakanlah oleh beliau kepada mereka beberapa waktu lamanya. Kemudian Allah menurunkan ayat: AllaaHu nazzala ahsanal hadiits (“Allah [telah] menurunkan sebaik-baik perkataan.”) (az-Zumar: 23) dan ayat seterusnya.

Al-Hakim meriwayatkan hadits serupa. Dari Ishaq bin Rahwaih dari ‘Amr bin Muhammad al-Qurasyi al-Manqari. Ibnu Jarir juga meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Mas’udi dari ‘Aun bin ‘Abdullah ia berkata: “Setelah para shahabat Rasulullah saw. merasa bosan, maka mereka berkata: ‘Wahai Rasulallah, tuturkanlah kepada kami sebuah hadits.’ Kemudian Allah menurunkan: AllaaHu nazzala ahsanal hadiitsa (“Allah [telah] menurunkan sebaik-baik perkataan.” (az-Zumar: 23)

Kemudian mereka kembali merasa bosan dan memohon agar Rasulullah saw. menuturkan apa yang lebih tinggi daripada hadits tetapi di bawah al-Qur’an, yang mereka maksudkan adalah kisah-kisah. Maka Allah menurunkan: alif laam raa. Tilka aayaatul kitaabil mubiin. Innaa anzalnaaHu qur-aanan ‘arabiyyal la’allakum ta’qiluun. nahnu naqush-shu ‘alaika ahsanal qashashi (“Itu adalah ayat-ayat al-Kitab. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa al-Qur’an dengan bahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik.”)

Ketika mereka menginginkan hadits, maka Allah menunjukkan mereka kepada sebaik-baik hadits. Dan ketika mereka menginginkan cerita maka Allah menunjukkan kepada mereka tentang sebaik-baik cerita.

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 4“4. (ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf: 4)

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Muhammad, sebutkan kepada umatmu dalam ceritamu kepada mereka tentang kisah Yusuf as. ketika ia berkata kepada ayahnya, yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim as.” sebagaimana dikatakan Imam Ahmad dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang mulia, putra yang mulia, putra orang yang mulia; Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.” Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Mimpi para Nabi itu merupakan wahyu.” Para ulama tafsir telah membicarakan ta’bir [penafsiran] mimpi Yusuf itu, bahwa sebelas bintang menunjukkan saudara-saudaranya yang berjumlah tepat sebelas orang laki-laki, sedang matahari dan bulan menunjukkan kepada ibu dan bapaknya, sebagaimana hal ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, adh-Dhahhak, Qatadah, Sufyan ats-Tsauri dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Tafsir dari mimpi Yusuf tersebut menjadi kenyataan empat puluh tahun kemudian. Ada pula yang mengatakan, delapan puluh tahun kemudian. Yaitu ketika dia menaikkan kedua orang tuanya di atas ‘Arsy, yaitu singgasananya, sementara saudara-saudaranya berada di depannya, sedang mereka semua sujud kepadanya, dan Yusuf berkata: “Yaa abati Haadzaa ta’wiilu ru’yaaya ming qablu qad ja’alaHaa rabbii haqqan (“Wahai ayah, inilah ta’wil mimpiku dahulu yang dijadikan Rabbku menjadi kenyataan.” (Yusuf: 100)

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 5“5. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Yusuf: 5)

Allah berfirman, mengabarkan apa yang dikatakan oleh Ya’qub kepada putranya Yusuf, ketika ia menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi yang ta’birnya tentang tunduknya saudara-saudara Yusuf, dan pengagungan mereka kepadanya secara berlebihan, dimana mereka bersujud untuk mengagungkan, menghormati dan memuliakannya. Maka Ya’qub as. khawatir kalau mimpi itu diceritakannya kepada salah seorang saudaranya yang akan membuat mereka merasa dengki kepadanya, serta berusaha mencelakakannya karena kedengkian tersebut. Oleh karena itu, ia mengatakan: laa taqshush ru’yaaka ‘alaa ikhwatika fayakiiduu laka kaidan (“Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar terhadapmu.”) yaitu dengan memperdayaimu.

Karena itu dinyatakan di dalam hadits, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian melihat sesuatu hal yang menyenangkan dalam mimpi, maka ceritakanlah hal itu. Dan bila melihat apa yang dibencinya dalam mimpi, maka berbaliklah ke sisi yang lain dan meludahlah ke sebelah kiri tiga kali, lalu memohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatannya dan janganlah menceritakannya kepada orang lain, karena mimpi itu tidak akan membahayakannya.”

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qalam (6)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam (Kalam)
Surah Makkiyyah; surah ke 68: 52 ayat

Firman Allah: wa iy yakaadulladziina kafaruu layuzliquunaka bi abshaariHim (“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mereka.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan lain-lain mengatakan: “Layuzliquunaka; berarti mereka hendak menggelincirkan.” Bi abshaariHim (“dengan mata mereka.”) artinya mereka dengki kepadamu karena kebencian mereka terhadapmu. Seandainya bukan karena perlindungan dan pemeliharaan Allah pada dirimu dari mereka [niscaya kamu tidak selamat]. Di dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sasaran dan pengaruh “mata” benar-benar nyata adanya atas perintah Allah swt. Sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits yang diriwayatkan dari jalan yang banyak lagi beragam. Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi saw. beliau bersabda: “[Pengaruh] mata [jahat] itu adalah benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, niscaya ‘ain akan mendahuluinya. Apabila kamu diminta untuk mandi, maka mandilah.”

Diriwayatkan sendiri oleh Muslim tanpa Imam al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah melindungi Hasan dan Husain dengan ucapan: “Aku melindungkan kalian dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap syaitan, binatang berbisa dan dari setiap mata yang jahat.”
Beliau juga bersabda: “Demikianlah Ibrahim dulu melindungi Ishaq dan Isma’il.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan juga para penulis kitab as-sunan.

Hadits Abu Umamah As’ad Ibnu Shahl bin Hunaif
Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Umamah As’ad bin Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melewati Shahl Ibnu Hunaif, ketika itu dia sedang mandi, maka dia berkata: “Aku tidak pernah melihat seperti hari ini dan tidak juga kulit yang tersembunyi.” Belum sempat melangkahkan kakinya, dia sudah dibawa menghadap Rasulullah saw. Selanjutnya dikatakan kepada beliau: “Dia melihat Sahl menderita epilepsi.” Beliau bertanya: “Siapakah yang kalian tuduh melakukan itu?” Mereka menjawab: “Amir bin Rabi’ah.” Beliau bertanya: “Atas dasar apa salah seorang di antara kalian membunuh saudaranya? Jika salah seorang di antara kalian melihat dari saudaranya sesuatu yang menakjubkan dirinya maka hendaklah dia berdoa memohonkan berkah untuknya.” Kemudian beliau meminta dibawakan air. Selanjutnya beliau memerintahkan ‘Amir untuk berwudlu dan membasuh wajah, kedua tangan sampai siku, lutut, serta bagian dalam kainnya. Dan beliau juga menyuruhnya untuk menyiramkan air pada dirinya.” Sufyan bercerita, Ma’mar menceritakan dari az-Zuhri: “Dan beliau menyuruhnya untuk membalikkan bejana dari belakangnya.” Dan diriwayatkan juga oleh an-Nasa-i dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah dan Malik bin Anas, yang keduanya dari az-Zuhri, serta dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah. Juga dari Ma’mar dari az-Zuhri dari Abu Umamah: “Dan membalikkan bejana dari belakangnya.” Serta dari hadits Abi Dz-ib, dari az-Zuhri, dari Abu Umamah As’ad bin Sahl bin Hunaif, dari ayahnya. Dan juga hadits Malik dari Muhammad bin Abi Umamah bin Sahl dari ayahnya.

Hadits Abu Sa’id al-Khudri:
Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: “Rasulullah saw. biasa berlindung dari mata-mata jin dan mata-mata manusia. Setelah turun surah al-Mu’awwidzatain [surah al-Falaq dan an-Naas), beliau berpegang pada keduanya dan meninggalkan yang lainnya.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dari hadits Sa’id bin Abi Iyas Abu Mas’ud al-Jariri. Dan at-Tirmidzi mengatakan: “Hasan.”

Hadits lain:
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id bahwasannya Jibril pernah mendatangi Nabi saw. lalu ia berkata: “Apakah engkau merasa sakit, wahai Muhammad?” Beliau menjawab: “Ya.” Jibril berkata: “BismillaaHi arqiika, min kulli syai-in yu’dziika min syarri kulli nafsin wa ‘ainin tasyniika wallaaHu yasyfiika bismillaaHi arqiika.” (Dengan menyebut Nama Allah aku akan meruqyahmu, dari segala yang mengganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan mata yang mengincarmu. Mudah-mudahan Allah akan menyembuhkanmu. Dengan menyebut Nama Allah aku merugyahmu). Diriwayatkan oleh Muslim dan para penulis kitab as-Sunan, kecuali Abu Dawud.

Hadits Abu Hurairah:
Imam Ahmad meriwayatkan, ‘Abdurrazzaq memberitahu kami, Ma’mar memberitahu kami dari Hamman bin Munabih, dia berkata: “Berikut inilah yang diberitahukan Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah saw., dimana beliau bersabda: ‘Sesungguhnya ‘ain itu haq.’” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Hadits ‘Aisyah:
Ibnu Majah meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah saw. pernah menyuruhnya untuk meruqyah diri dari ‘ain. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan juga Muslim.

Dan firman Allah: wa yaquuluuna innaHuu lamajnuun (“Dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya ia [Muhammad] benar-benar orang yang gila.”) yakni dia berusaha melancarkan serangan melalui mata-mata mereka serta menyakiti beliau melalui lidah mereka seraya mengatakan bahwa beliau itu tidak waras, yaitu disebabkan kedatangannya dengan membawa al-Qur’an.

Firman Allah: wa maa Huwa illaa dzikrul lil ‘aalamiin (“Dan al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.”)

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qalam (5)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam (Kalam)
Surah Makkiyyah; surah ke 68: 52 ayat

tulisan arab alquran surat al qalam ayat 42-47“42. pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; Maka mereka tidak kuasa, 43. (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. dan Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam Keadaan sejahtera 44. Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan Perkataan ini (Al Quran). nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, 45. dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat tangguh. 46. Apakah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? 47. ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)?” (al-Qalam: 42-47)

Setelah menceritakan bahwa orang-orang yang bertakwa itu akan mendapatkan surga-surga kenikmatan di sisi Rabb mereka, Allah Ta’ala menjelaskan kapan hal itu akan terjadi, karenanya Dia berfirman: yauma yuksyafu ‘an saaqiw wa yud’auna ilas sujuudi falaa yastathii’uun (“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.”) yakni pada hari kiamat, dengan berbagai peristiwa yang terjadi di sana, berupa hal-hal menakutkan, goncangan, cobaan, ujian, dan berbagai macam peristiwa besar lainnya. Al-Bukhari meriwayatkan disini, dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Rabb kita akan menyingkapkan betis-Nya sehingga setiap orang mukmin, laki-laki maupun perempuan bersujud kepada-Nya. dan orang-orang yang bersujud di dunia karena riya’ dan sum’ah akan tetap diam [tidak bersujud]. Kemudian mereka beranjak untuk bersujud tetapi punggungnya kembali jadi satu.” Demikian hadits yang diriwayatkan di dalam kitab ash-shahihain.

‘Abdullah bin Al-Mubarak menceritakan dari Usamah bin Zaid dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, tentang ayat: yauma yuksyafu ‘an saaqin (“Pada hari betis disingkapkan”) dia mengatakan: “Yaitu hari kiamat, hari kesusahan dan kesengsaraan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Kemudian dia bercerita, dari Ibnu Mas’ud atau Ibnu ‘Abbas -Ibnu Jarir merasa ragu- yauma yuksyafu ‘an saaqin (“Pada hari betis disingkapkan”) dia mengatakan: “Mengenai suatu perkara yang sangat besar.” Yang demikian itu seperti ungkapan seorang penyair: syaalatil harbu ‘an saaqin (“Peperangan menyingkap betis.”)

Dan firman Allah: khaasyi’atan abshaaruHum tarHaquHum dzillaH (“Pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi diliputi kehinaan.”) yakni di alam akhirat. Hal itu disebabkan oleh perbuatan dosa dan kesombongan mereka di dunia, sehingga mereka diberi hukuman dari sebaliknya apa yang mereka alami. Dan setelah diseru untuk bersujud di dunia, mereka menolak melakukannya meski mereka dalam keadaan sehat lagi normal. Maka demikian pula mereka diberi siksaan, berupa ketidakmampuan untuk melakukannya [sujud] di akhirat. Jika Rabb swt. tampak, orang-orang Mukmin sujud kepada-Nya dan tidak ada seorangpun dari orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang mampu bersujud, sebagaimana dulu mereka berbuat di dunia, berbeda dengan apa yang dialami oleh orang-orang mukmin.

Firman Allah: fadzarnii wa may yukadzdzibu biHaadzal hadiits (“Maka serahkanlah [hai Muhammad] kepada-Ku [urusan] orang-orang yang mendustakan perkataan ini.”) yakni al-Qur’an. Yang demikian itu merupakan ancaman yang sangat keras. Artinya biarkanlah aku berdua dengannya, Aku yang lebih tahu tentang dirinya, bagaimana Aku menarik dan mengulurnya dalam kesesatannya serta memberi tangguh kepadanya. Setelah itu Aku akan menjatuhkan siksaan kepadanya dengan siksaan Rabb. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: sanastadrijuHum min haitsu laa ya’lamuun (“Nanti Kami akan menarik mereka [ke arah kebinasaan] dari arah yang mereka tidak ketahui.”) artinya, sedang mereka tidak menyadari, bahkan mereka meyakini bahwa hal itu merupakan kemuliaan dari Allah, bahkan sebenarnya hal tersebut merupakan penghinaan. Karenanya disini Allah berfirman: wa umlii laHum inna kaidii matiin (“Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.”) maksudnya, dan Aku akan mengakhirkan dan memberi tangguh kepada mereka. Yang demikian itu merupakan bagian dari tipu daya-Ku terhadap mereka. Oleh karena itu Dia berfirman: inna kaidii matiin (“Sesungguhnya rencana-Ku sangat tangguh.”) yakni sangat besar bagi orang yang menentang perintah-Ku, mendustakan para Rasul-Ku, serta berani berbuat maksiat kepada-Ku.

Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah akan memberi tangguh kepada orang dhalim sehingga jika Dia telah menjatuhkan siksaan, maka tidak akan ada yang luput dari-Nya.” kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan begitulah adzab Rabbmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (Huud: 102)

Dan firman-Nya: am tas-aluHum ajran faHum mim maghramim mutsqaluun. Am ‘indaHumul ghaibu faHum yaktubuun (“Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib, lalu mereka menulis.”) penafsirannya telah lebih dulu diberikan pada pembahasan surah ath-Thuur. Artinya hai Muhammad, engkau menyeru mereka kepada Allah tanpa upah yang kamu ambil dari mereka, tetapi kamu mengharapkan pahala semuanya itu hanya kepada Allah Ta’ala semata. Sedang mereka mendustakan apa yang kamu bawa kepada mereka, hanya karena kebodohan, keingkaran dan keangkuhan.

tulisan arab alquran surat al qalam ayat 48-52“48. Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam Keadaan marah (kepada kaumnya). 49. kalau Sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam Keadaan tercela. 50. lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya Termasuk orang-orang yang saleh. 51. dan Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”.52. dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.” (al-Qalam: 48-52)

Allah Ta’ala berfirman: fashbir (“bersabarlah”) hai Muhammad, atas tindakan menyakitkan yang dilakukan oleh kaummu terhadap dirimu serta kedustaan mereka, karena sesungguhnya Allah akan memberikan keputusan kepadamu atas mereka dan memberikan kemenangan bagimu dan para pengikutmu di dunia dan di akhirat.

Walaa takun kashaahibi huuti (“dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam [perut] ikan.”) yakni Dzun Nuun, atau Yunus bin Matta as. ketika dia pergi dalam keadaan marah dari kaumnya. Apa yang dialami oleh Yunus ketika mengadakan pelayaran di tengah lautan, yaitu ditelah oleh ikan besar, lalu ia dibawa lari ke tengah lautan dan dasar lautan yang gelap gulita. Dan dia juga mendengar suara tasbih yang dipanjatkan oleh lautan beserta isinya kepada Rabb Yang Mahatinggi lagi Mahakuasa, yang tidak menolak takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya. pada saat itulah Yunus berseru dalam kegelapan: al laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin (“Bahwa tidak ada ilah [yang berhak disembah] selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dhalim.”)(al-Anbiyaa’: 87)
Firman Allah: fastajabnaa laHuu wa najjainaaHu minal ghammi wa kadzaalika nunjil mu’miniin (“Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”)(al-Anbiyaa’: 88)

Disini Allah berfirman: idz naadaa wa Huwa makdzuub (“Ketika ia berdoa sedang ia dalam keaaan marah.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan as-Suddi mengatakan: “Yakni, sedang ia dalam keadaan gundah gulana.”
fajtabaaHu rabbuHuu faja’alaHuu minash shaalihiin (“Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih.”) Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak sepatutnya seseorang mengatakan: ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.’” Hadits tersebut terdapat dalam ash-shahihain, berasal dari hadits Abu Hurairah.

Bersambung ke bagian 6