Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (1)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk (Kerajaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 67: 30 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnnya ada sebuah surah di dalam al-Qur’an terdiri dari tiga puluh ayat yang memberi syafaat kepada pembacanya sehingga diberikan ampunan kepadanya: Tabaarakal ladzii biyadiHil mulku.”
Diriwayatkan oleh empat penulis kitab as-Sunan dari hadits Syu’bah. At-Tirmidzi mengatakan: “Ini adalah hadits hasan.” Dan diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi melalui jalan Laits bin Abi Sulaiman dari Abuz zubair, dari Jabir bahwa Rasulullah saw. tidak tidur sampai membaca: alif laam mim tanziil; dan tabaarakalladzii biyadiHil mulku.”

Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dan aku benar-benar ingin agar surah itu ada di hati setiap orang dari umatku.” Yaitu surah Tabaarakal ladzii biyadiHil mulku. Ini adalah hadits gharib, dan Ibrahim sendiri adalah seorang yang dlaif [lemah]. Hal yang serupa juga telah disampaikan sebelumnya di dalam surah Yaasiin. Hadits ini juga diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid di dalam kitab Musnadnya dari Ibnu ‘Abbas, dimana dia berkata kepada seseorang: “Maukah engkau aku beritahu sebuah hadits yang dengannya engkau akan bergembira?” “Mau,” jawab orang itu. Dia berkata: “Bacalah: Tabaarakal ladzii biyadiHil mulku. Dan ajarkanlah kepada keluargamu serta seluruh anak-anakmu, juga anak-anak muda disekitar rumahmu dan juga tetangga-tetanggamu, karena ia bisa menyelamatkan dan menjadikan pembela yang akan memberikan pembelaan pada hari kiamat di hadapan Rabbnya bagi pembacanya dan engkau meminta kepada-Nya agar pembacanya itu diselamatkan dari adzab neraka. dan dengannya pula pembacanya akan selamat dari adzab kubur.” Rasulullah saw. telah bersabda: “Dan aku benar-benar ingin agar surah itu ada dihati setiap orang dari umatku.”

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 1-5bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, 2. yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, 3. yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? 4. kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah. 5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (al-Mulk: 1-5)

Allah Ta’ala memuji diri-Nya yang mulia dan memberitahukan bahwa kekuasaan itu hanya berada di tangan-Nya. Artinya, Dia-lah Pengendali satu-satunya terhadap semua makhluk sesuai dengan kehendak-Nya. tidak ada yang bisa melawan kehendak-Nya dan hukum-Nya. Dan Dia tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang Dia kerjakan, karena keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya. oleh karena itu, Allah berfirman: wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir (“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Firman Allah: alladzii khalaqal mauta wal hayaata (“Yang menjadikan mati dan hidup.”) ayat ini dijadikan dalil bagi orang-orang yang berpendapat bahwa kematian adalah sesuatu yang wujud karena ia diciptakan [makhluk]. Sedangkan makna ayat itu sendiri bahwa Allah telah mengadakan makhluk ini dan ketiadaan untuk menguji mereka, yakni untuk menguji siapakah di antara mereka yang baik amalnya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah yang artinya: “Mengapa engkau kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkanmu.” (al-Baqarah: 28) dengan demikian, keadaan pertama, yaitu ketiadaan sebagai matu [kematian]. Sedangkan penciptaan disebut sebagai hayaat [kehidupan]. Oleh karena itu Allah berfirman yang artinya: “Kemudian Dia mematikanmu dan setelah itu menghidupkanmu kembali.” (al-Baqarah: 28).

Firman Allah: liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan (“supaya dia mengujimu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.”) yakni yang paling baik amalnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Ajlan. Dan Allah tidak mengatakan: “Yang paling banyak amalnya.”

Wa Huwal ‘aziizul ghafuur (“Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahapengampun.”) yakni Dia Mahaperkasa lagi Mahaagung, Mahamenolak, lagi Mahamenghindari. Meskipun demikian, Dia Mahapengampun bagi orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya setelah sebelumnya bermaksiat dan mendurhakai perintah-Nya. Meskipun Dia Mahatinggi lagi Mahamulia, namun demikian Dia tetap mau memberikan ampunan, kasih sayang serta memberikan maaf.

Alladzii khalaqa sab’a samaawaatin thibaaqan (“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.”) yakni tingkat demi tingkat. Apakah lapisan-lapisan itu bersambungan, dengan pengertian, apakah sebagian lapisan langit berada di atas sebagian yang lainnya atau masing-masing terpisah yang di antara lapisan-lapisannya ada di ruang hampa udara? Mengenai hal ini terdapat dua pendapat, dan yang paling benar di antara keduanya adalah pendapat kedua, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh hadits Isra’ dan lain-lain.

Maa taraa fii khalqir rahmaani min tafaawut (“Kamu sekali-sekali tidak melihat pada ciptaan Rabb yang Mahapemurah sesuatu yang tidak seimbang.”) maksudnya, bahkan semuanya saling bersesuaian dan seimbang. Tidak ada pertentangan, benturan, ketidakcocokan, kekurangan, aib, dan kerusakan.

Oleh karena itu, Dia berfirman: farji’il bashara Hal taraa min futhuur (“Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”) yakni lihatlah ke langit dan telitilah, apakah terdapat cacat, kekurangan, kerusakan, atau ketidakseimbangan padanya? Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak, ats-Tsauri, dan lain-lain mengenai firman Allah: farji’il bashara Hal taraa min futhuur (“Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”) yakni pecah. As-Suddi mengatakan: Hal taraa min futhuur (“Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.”) yakni kerusakan.” Ibnu ‘Abbas mengatakan dalam sebuah riwayat: “Min futhuur, yakni kelemahan.”

Bersambung ke bagian 2

Iklan

7 Tanggapan to “Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (1)”

  1. idris bgr 3 September 2014 pada 07.15 #

    pada ujung ayat ke 2…….ada kekeliruan sebagai mana yg dikatakan oleh muhammad bin ajlan bahwa allah tidak mengatakan….yg paling baik amalnya…..tetapi yg benar adalah yg paling banyak amalnya..jadi allah tidak memandang banyaknyanya amal seseorang tetapi yg di pandang allah yg paling baik amalnya……..wassalm

    • untungsugiyarto 3 September 2014 pada 13.27 #

      Terimakasih atas koreksinya. Dan kekeliruan tersebut telah kami betulkan. Semoga Allah merahmati anda. Aamiin….

  2. mulyadi 9 Juni 2015 pada 22.43 #

    YANG PALING BAIKBAMALNYA YAITU;AMAL YANG SESUAI DENGAN CONTOH ROSUL

  3. MA 9 Januari 2016 pada 11.06 #

    Semoga Allah melindungi kita pada hari akhir kelak..amiin..

  4. tajeri 31 Maret 2016 pada 02.16 #

    tentunya amal yang baik itu dari niat yang ikhlas, banyak amal banyak ikhlas itulah yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: