Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (3)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk (Kerajaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 67: 30 ayat

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 12-15“12. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. 13. dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati. 14. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? 15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (al-Mulk: 12-15)

Allah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang orang-orang yang takut akan maqam [kedudukan] Rabb-nya, yang ada antara dirinya dengan-Nya, jika dia tengah menyendiri dari orang-orang lalu dia menahan diri dari perbuatan maksiat dan melaksanakan berbagai ketaatan, di tempat dimana tidak diketahui oleh seorang pun kecuali hanya Allah Ta’ala semata. Maka dia akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar, yakni dosa-dosanya diampuni dan diberi pahala yang banyak. Sebagaimana yang telah ditegaskan di dalam kitab ash-Shahihain: “Ada tujuh golongan yang akan senantiasa dinaungi oleh Allah Yang Mahatinggi di bawah naungan ‘Arsy-Nya, pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.”

Kemudian dari mereka, beliau menyebutkan salah seorang yang diajak [berbuat maksiat] oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia mengatakan: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” Beliau juga menyebutkan seseorang yang menyedekahkan sesuatu secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman seraya mengingatkan bahwa Dia mengetahui yang tersembunyi dan yang dirahasiakan: wa asirruu qaulakum awijHaruu biH. innaHuu ‘aliimum bidzatish shuduur (“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Mahamengetahui Dia Mahamengetahui segala isi hati.”) yakni terhadap apa yang terbersit di dalam hati. Alaa ya’lamu man khalaqa (“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui?”) maksudnya apakah sang Khaliq tidak mengetahui? Ada juga yang mengatakan: “Artinya, apakah Allah tidak mengetahui makhluk-Nya?” tetapi pendapat yang pertama lebih tepat, berdasarkan pada firman-Nya: wa Huwal lathiiful khabiir (“Dan Dia Mahahalus lagi Mahamengetahui.”)

Kemudian Dia menyebutkan nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada makhluk-Nya dengan menyediakan bumi bagi mereka dan membentangkannya untuk mereka, dimana Dia menyebutnya sebagai tempat menetap yang tenang, tidak miring dan tidak juga goyang, karena Dia telah menciptakan gunung-gunung padanya. Dan Dia alirkan air di dalamnya dari mata air. Dia bentangkan jalan-jalan serta menyediakan pula di dalamnya berbagai manfaat, tempat bercocok tanam dan buah-buahan.

Dia berfirman: Huwalladzii ja’alalakumul ardla dzaluulan famsyuu fii manaakibiHaa (“Dia lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya.”) maksudnya lakukanlah perjalanan ke mana saja kalian kehendaki dari seluruh belahannya serta bertebaranlah kalian di segala penjurunya untuk menjalankan berbagai macam usaha dan perdagangan. Dan ketahuilah bahwa usaha kalian tidak akan membawa manfaat bagi kalian sama sekali kecuali jika Allah memudahkannya untuk kalian. Oleh karena itu Allah berfirman: wa kuluu mir rizkiHii (“dan makanlah sebagian dari rizky-Nya”) dengan demikian, usaha yang merupakan sarana sama sekali tidak bertentangan dengan tawakkal. Wa ilaiHin nusyuur (“Dan hanya kepada-Nya lah kamu [kembali setelah] dibangkitkan.”) maksudnya, tempat kembali pada hari kiamat kelak. Ibnu ‘Abbas, Mujahid, as-Suddi, dan Qatadah mengatakan: “Kata manaakibiHaa berarti ujung, belahan, dan penjurunya.” Sedangkan Ibnu ‘Abbas dan Qatadah mengemukakan: “ManaakibiHaa berarti gunung-gunung.”

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 16-19“16. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, 17. atau Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? 18. dan Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku. 19. dan Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu.” (al-Mulk: 16-19)

Yang demikian ini juga merupakan bagian dari kelembutan sekaligus rahmat-Nya bagi semua makhluk-Nya, dimana Dia kuasa untuk mengadzab mereka karena kekufuran sebagian mereka kepada-Nya serta peribadahan mereka kepada selain-Nya. Meskipun demikian, Dia tetap bersabar, memberi maaf, serta memberi tangguh dan tidak menyegerakan siksaan, sebagaimana yang Dia firmankan yang artinya: “Dan kalau Sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45)

Dan disini Dia berfirman: a amintum man fis samaa-i ay yakhsifa bikumul ardla fa idzaa Hiya tamuur (“Adakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersamamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang.”) yakni pergi dan datang serta berguncang.

Am amintum man fis samaa-i ay yursila ‘alaikum haashiban (“Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu.”) yakni, angin yang membawa taburan batu yang akan memecahkan kalian. Demikianlah Dia mengancam mereka disini, melalui firman-Nya: fasata’lamuuna kaifa nadziir (“Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana [akibat kedustaan] peringatan-Ku.”) maksudnya, bagaimana peringatan-Ku itu dan akibat yang akan diterima orang yang melanggar serta mendustakannya.

Bersambung ke bagian 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: