Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (4)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk (Kerajaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 67: 30 ayat

Wa laqad kadzdzaballadziina min qabliHim (“dan sesungguhnya orang-orang sebelum mereka telah mendustakan [Rasul-rasul-Nya].”) yakni umat-umat terdahulu. Fakaifa kaana nakiir (“Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.”) yakni bagaimana pengingkaran-Ku terhadap mereka serta hukuman-Ku terhadap mereka, yaitu sangat dahsyat, sakit, lagi sangat pedih.

A walam yarau ilath thairi fauqaHum shaaffaatiw wa yaqbidl-n (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka?”) maksudnya terkadang burung-burung itu mengepakkan sayapnya di udara dan pada kesempatan lain ia mengatupkan dan mengembangkan sayapnya. Maa yumsikuHunna (“tidak ada yang menahannya.”) yakni di udara, ilarrahmaanu (“Selain [Rabb] Yang Mahapemurah.”) yakni dengan rahmat dan kelembutan-Nya yang telah Dia limpahkan kepada burung-burung tersebut. innaHuu bikulli syai-im bashiir (“Sesungguhnya Dia Mahamelihat segala sesuatu.”) yakni yang memberikan kemashlahatan bagi semua makhluk-Nya.

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 20-27“20. atau siapakah Dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah yang Maha Pemurah? orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. 21. atau siapakah Dia yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? 22. Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? 23. Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur. 24. Katakanlah: “Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan”. 25. dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?” 26. Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. dan Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”. (al-Mulk: 20-26)

Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang musyrik yang menyembah sembahan lain bersama-Nya, dengan tujuan mencari pertolongan dan rizky dari sembahan-sembahan mereka itu, seraya mengingkari apa yang mereka yakini sekaligus memberitahu mereka bahwa apa yang mereka angankan itu tidak akan tercapai. Oleh karena itu Allah berfirman: amman Haadzalladzii Huwa jundul lakum yanshurukum min duunir rahmaani (“Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain Allah Yang Mahapemurah?”) maksudnya, kalian tidak mempunyai pelindung dan penolong selain Dia. oleh karena itu, Dia berfirman: inil kaafiruuna illaa fii ghuruur (“Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam [keadaan] tertipu.”)

Amman Haadzaalladzii yarzuqukum in amsaka rizqaHu (“Atau siapakah dia yang memberimu rizky jika Allah menahan rizky-Nya?”) maksudnya, siapakah dia yang akan memberi rizky kepada kalian jika Allah telah memutuskan rizky bagi kalian? Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang dapat memberi atau menolak, mencipta, memberi rizky, dan menolong kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Artinya mereka mengetahui hal itu, namun demikian mereka tetap menyembah selain-Nya. oleh karena itu Dia berfirman: bal lajjuu (“Tetapi, mereka terus menerus”) yakni terus menerus dalam kesewenangan, kesombongan, dan kesesatan mereka, fii ‘utuwwiw wa nufuur (“Dalam kesombongan dan menjauhkan diri.”) yakni, dalam penentangan dan kesombongan serta pelarian dengan membelakangi kebenaran, tidak mau mendengar dan mengikutinya.

Afa may yamsyii mukibban ‘alaa wajHiHii aHdaa am may yamsyii ‘alaa shiraathim mustaqiim (“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?”) yang demikian itu merupakan perumpamaan yang diberikan Allah antara orang mukmin dan orang kafir. Dimana orang kafir dengan apa yang digelutinya seperti orang yang berjalan di atas wajahnya, yakni berjalan miring dan tidak normal. Dengan kata lain, dia tidak mengetahui kemana dia berjalan dan tidak juga mengetahui bagaimana dia harus pergi, bahkan mereka linglung, bingung dan tersesat. Apakah orang seperti itu lebih mendapat petunjuk?

Ammay yamsyii sawiyyan (“Ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus.”) yakni tegak lurus, ‘alaa shiraatim mustaqiim (“Di atas jalan yang lurus”) yakni di atas jalan yang jelas lagi terang. Dia sendiri dalam keadaan tegak lurus, sedang jalannya pun lurus. Demikianlah perumpamaan mereka di dunia. Demikian pula kelak di akhirat, dimana orang Mukmin akan digiring dengan berjalan normal di atas jalan yang lurus menuju surga yang luas. Sedangkan orang kafir, maka sesungguhnya dia akan digiring dengan berjalan di atas wajahnya menuju neraka jahanam.
Uhsyurulladziina dhalamuu wa azwaajaHum wa maa kaanuu ya’buduuna min duunillaaHi faHduuHum ilaa shiraathil jahiim (“Kumpulkanlah orang-orang dhalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.”) (ash-Shaaffaat: 22-23)

Kata azwaajuHum berarti yang serupa dengan mereka. Imam Ahmad meriwayatkan dari Nafi’, dia berkata: “Aku pernah mendengar Anas bin Malik berkata bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah saw.: ‘Bagaimana orang-orang itu digiring dengan berjalan di atas wajah mereka?’ Maka beliau menjawab: ‘Bukankah Rabb yang telah menjadikan mereka berjalan dengan kaki-kaki mereka mampu untuk menjadikan mereka berjalan di atas wajah mereka?’” hadits ini diriwayatkan di dalam kitab ash-Shahihain.

Firman Allah: qul Huwalladzii ansya-akum (“Katakanlah, ‘Dia lah yang menciptakanmu.’”) maksudnya Dia telah mengawali penciptaan kalian setelah sebelumnya kalian sama sekali bukan sesuatu yang disebut.
Wa ja’ala lakumus sam’a wal abshaara wal af-idata (“Dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati.”) yakni akal dan fikiran. Qaliilam maa tasykuruun (“Tetapi, sedikit sekali kamu bersyukur.”) yakni hanya sedikit sekali dari kalian yang menggunakan kekuatan tersebut yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kalian untuk berbuat ketaatan dan menjalankan perintah-perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Bersambung ke bagian 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: