Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud (1)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 1-4bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu, 2. agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya, 3. dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. 4. kepada Allah-lah kembalimu, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Huud: 1-4)

Mengenai huruf “alif laam raa” ini telah dijelaskan dalam pembahasan awal surah al-Baqarah, dan tak perlu diulang disini.

Kitaabun uhkimat aayaatuHuu tsumma fushshilat (“Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci,”) maksudnya, lafadz-lafadz kitab tersebut disusun secara rapi dengan disertai makna yang sangat rinci. Dengan demikian, ia memiliki kerangka dan makna yang sempurna. Dan itulah makna apa yang diriwayatkan dari Mujahid, Qatadah, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Firman-Nya: mil ladun hakiimin khabiir (“Yang diturunkan dari sisi Allah yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.”) yakni dari sisi Allah yang Mahabijaksana dalam firman-firman dan hukum-hukum-Nya, serta Mahamengetahui kesudahan dari berbagai macam urusan.

Allaa ta’buduu illallaaHa (“Agar kalian tidak beribadah kepada selain Allah.”) maksudnya, al-Qur’an yang akurat lagi terperinci ini turun untuk menyampaikan perintah agar umat manusia hanya beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Firman-Nya: innanii lakum minHu nadziiruw wabasyiir (“Sesungguhnya aku [Muhammad] adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepada kalian dari-Nya.”)
Artinya, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan adzab jika kalian mendurhakai-Nya, sekaligus sebagai penyampai kabar gembira akan pahala jika kalian mentaati-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, bahwasannya Rasulullah saw. pernah menaiki bukit Shafa. Beliau menyeru keturunan kaum Quraisy yang paling dekat kemudian yang paling dekat lagi, hingga akhirnya mereka berkumpul semua. Selanjutnya beliau bersabda: “Wahai sekalian kaum Quraisy, bagaimana menurut pendapat kalian, bahwa pasukan kuda akan menyerbu kalian pada pagi hari, bukankah kalian mempercayaiku?” mereka menjawab: “Kami tidak pernah menerima kebohongan darimu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian di hadapan adzab yang pedih.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Firman Allah berikutnya: wa anistaghfiruu rabbakum tsumma tuubuu ilaiHi yumatti’kum mataa’an hasanan ilaa ajalim musammaw wa yu’ti kulli dzii fadl-lin fadl-laHu (“Dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Rabb kalian dan bertaubat kepada-Nya. [Jika kalian mengerjakan yang demikian], niscaya Allah akan memberi kenikmatan yang baik [terus-menerus] kepada kalian sampai pada waktu yang telah ditentukan dan Allah akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan [balasan] keutamaannya.”) maksudnya, dan aku memerintah kalian untuk memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah berlalu serta bertaubat darinya serta melakukan hal tersebut secara berkesinambungan.

Yumatti’kum mataa’an hasanan (“Jika kalian mengerjakan yang demikian, niscaya Allah akan memberi kenikmatan yang baik [terus menerus] kepada kalian.”) yakni, di dunia. Ilaa ajalim musammaw wa yu’ti kulli dzii fadl-lin fadl-laHu (“Sampai pada waktu yang telah ditentukan dan Allah akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan [balasan] keutamaannya.”) yakni di alam akhirat. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah.

Di dalam hadits shahih telah disebutkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Sa’ad: “Sesungguhnya kamu tidak akan menginfakkan sesuatu yang kamu maksudkan untuk mencari keridlaan Allah, melainkan kamu akan diberi pahala karenanya, termasukk [apa] yang kamu berikan ke dalam mulut istrimu.”

Firman Allah: wa in tawallau fa innii akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumin kabiir (“Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa hari kiamat.”) yang demikian itu merupakan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang berpaling dari perintah Allah Ta’ala dan mendustakan para Rasul-Nya, karena sesungguhnya mereka pasti akan merasakan adzab yang pedih pada hari kimat kelak. ilallaaHi marji’ukum (“Kepada Allah-lah tempat kembali kalian.”) yakni tempat kembali kalian kelak pada hari kiamat.

Wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) maksudnya Allah Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya, yaitu memberi kebaikan kepada para wali-Nya dan menimpakan siksa kepada musuh-musuh-Nya, serta kuasa untuk mengembalikan semua makhluk-Nya pada hari kiamat kelak. Demikianlah penggalan pertama yang berposisi sebagai targhib [motifator], sedangkan penggalan yang kedua berposisi sebagai tarhib (ancaman).

tulisan arab alquran surat huud ayat 5“5. Ingatlah, Sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk Menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad)[708]. Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.” (Huud: 5)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Mereka tidak suka menghdapkan kemaluannya ke langit ketika mereka berhubungan badan. Maka Allah menurunkan ayat ini.”

Imam al-Bukhari dan imam yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, yastaghsyuuna (“pada waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain.”) yakni mereka menutupi kepala mereka. Dalam riwayat lain, ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu ‘Abbas mengemukakan: “Yang dimaksud dengan hal itu adalah keraguan terhadap Allah dan juga berbuat keburukan.” Hal yang sama juga diriwayatkan dari Mujahid, al-Hasan dan lain-lain. Dengan kata lain, mereka memalingkan dada mereka, jika mengatakan atau mengerjakan sesuatu. Dengan melakukan hal demikian, mereka menduga bahwa mereka dapat menyembunyikan diri dari Allah. Maka Allah memberitahu mereka bahwa ketika mereka menyelimuti diri pada saat tidur dan pada malam hari yang gelap gulita, ya’lamu maa yusirruuna (“Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”) berupa ucapan. Wa maa yu’linuuna innaHuu ‘aliimum bidzaatish shuduur (“dan apa yang merkea tampakkan. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala isi hati.”) maksudnya, Allah mengetahui niat, hati nurani dan berbagai macam rahasia yang mereka sembunyikan dalam dada mereka.

Betapa bagusnya apa yang dikatakan Zuhair bin Abi Salma dalam mu’allaqatnya yang sangat terkenal: “Janganlah sekali-kali engkau menyembunyikan isi hatimu dari Allah, supaya tersembunyi. Dan bagaimanapun disembunyikan, Allah pasti mengetahuinya. Siksa itu ditangguhkan, lalu dicatat di dalam kitab dan disimpan untuk hari perhitungan, atau siksa itu disegerakan, lalu ditimpakan kepada pelakunya.”

Penyair masa Jahiliyyah ini telah mengetahui akan adanya Pencipta dan ilmu-Nya akan hal-hal yang paling kecil sekalipun, hari kebangkitan, pembalasan dan penulisan segala amal perbuatan di dalam buku catatan untuk selanjutnya dibuka pada hari kiamat kelak.

‘Abdullah bin Syaddad mengemukakan: “Salah seorang dari mereka jika berjalan melewati Rasulullah saw., maka ia akan memalingkan dadanya dan menutupi kepalanya, sehingga Allah menurunkan ayat tersebut.”

Pengembalian dlamir [kata ganti] dalam ayat tersebut kepada Allah Ta’ala adalah lebih tepat. Hal itu didasarkan pada firman-Nya: alaa hiina yastaghsyuuna tsiyaabaHum ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Ingatlah, pada waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan.”
Ibnu ‘Abbas membaca ayat tersebut dengan bacaan,”allaa innaHum tasnuunii shuduuruHum [ketahuilah, mereka memalingkan dada mereka dariku.”]

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: