Tafsir Ibnu Katsir Surah Yusuf (1)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Yusuf
Surah Makkiyyah; surah ke 12: 111 ayat

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 1-3bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Alif, laam, raa. ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah). 2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. 3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Yusuf: 1-3)

Pembahasan tentang huruf-huruf yang sering mengawali surah-surah al-Qur’an telah dibicarakan pada awal surah al-Baqarah.
Tilka aayaatul kitaabi (“Itu adalah ayat-ayat al-Kitab.”) yaitu ini adalah ayat-ayat al-Kitab, ia adalah al-Qur’an yang menjelaskan yaitu yang memberikan penjelasan yang jelas, yang menerangkan segala yang samar, menafsirkan dan menjelaskannya.

Innaa anzalnaaHu qur-aanan ‘arabiyyal la’allakum ta’qiluun (“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa al-Qur’an dengan bahasa Arab, agar kamu memahaminya.”) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas dan paling tepat untuk dapat menyampaikan makna [maksud] yang ada di dalam jiwa. Oleh karena itu, Kitab yang paling mulia ini diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, kepada Rasul yang paling mulia, dengan utusan Malaikat yang paling mulia,di bumi yang mulia, diturunkan pada bulan yang paling mulia yaitu bulan Ramadlan.

Dengan demikian al-Qur’an itu sempurna dari segala seginya. Maka Allah berfirman: nahnu naqush-shu ‘alaika ahsanal qashashi bimaa auhainaa ilaika Haadzal qur-aana (“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur-an ini kepadamu.”) artinya dengan cara Kami mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu.

Disebutkan bahwa sebab turunnya [asbabun nuzul] ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, mereka [para shahabat] berkata kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah Kami mohon engkau bercerita kepada kami.” Maka turunlah ayat: nahnu naqush-shu ‘alaika ahsanal qashashi (“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik.”) Dia juga meriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad, dari ayahnya dia berkata: “Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. maka dibacakan kepada mereka beberapa waktu lamanya. Kemudian mereka berkata kepada beliau: ‘Ya Rasulallah, sekiranya engkau bercerita kepada kami?’ Maka Allah menurunkan ayat pertama dan kedua yang terdapat dalam surah Yusuf ini, maka dibacakanlah oleh beliau kepada mereka beberapa waktu lamanya. Kemudian Allah menurunkan ayat: AllaaHu nazzala ahsanal hadiits (“Allah [telah] menurunkan sebaik-baik perkataan.”) (az-Zumar: 23) dan ayat seterusnya.

Al-Hakim meriwayatkan hadits serupa. Dari Ishaq bin Rahwaih dari ‘Amr bin Muhammad al-Qurasyi al-Manqari. Ibnu Jarir juga meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Mas’udi dari ‘Aun bin ‘Abdullah ia berkata: “Setelah para shahabat Rasulullah saw. merasa bosan, maka mereka berkata: ‘Wahai Rasulallah, tuturkanlah kepada kami sebuah hadits.’ Kemudian Allah menurunkan: AllaaHu nazzala ahsanal hadiitsa (“Allah [telah] menurunkan sebaik-baik perkataan.” (az-Zumar: 23)

Kemudian mereka kembali merasa bosan dan memohon agar Rasulullah saw. menuturkan apa yang lebih tinggi daripada hadits tetapi di bawah al-Qur’an, yang mereka maksudkan adalah kisah-kisah. Maka Allah menurunkan: alif laam raa. Tilka aayaatul kitaabil mubiin. Innaa anzalnaaHu qur-aanan ‘arabiyyal la’allakum ta’qiluun. nahnu naqush-shu ‘alaika ahsanal qashashi (“Itu adalah ayat-ayat al-Kitab. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa al-Qur’an dengan bahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik.”)

Ketika mereka menginginkan hadits, maka Allah menunjukkan mereka kepada sebaik-baik hadits. Dan ketika mereka menginginkan cerita maka Allah menunjukkan kepada mereka tentang sebaik-baik cerita.

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 4“4. (ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf: 4)

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Muhammad, sebutkan kepada umatmu dalam ceritamu kepada mereka tentang kisah Yusuf as. ketika ia berkata kepada ayahnya, yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim as.” sebagaimana dikatakan Imam Ahmad dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang mulia, putra yang mulia, putra orang yang mulia; Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.” Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Mimpi para Nabi itu merupakan wahyu.” Para ulama tafsir telah membicarakan ta’bir [penafsiran] mimpi Yusuf itu, bahwa sebelas bintang menunjukkan saudara-saudaranya yang berjumlah tepat sebelas orang laki-laki, sedang matahari dan bulan menunjukkan kepada ibu dan bapaknya, sebagaimana hal ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, adh-Dhahhak, Qatadah, Sufyan ats-Tsauri dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Tafsir dari mimpi Yusuf tersebut menjadi kenyataan empat puluh tahun kemudian. Ada pula yang mengatakan, delapan puluh tahun kemudian. Yaitu ketika dia menaikkan kedua orang tuanya di atas ‘Arsy, yaitu singgasananya, sementara saudara-saudaranya berada di depannya, sedang mereka semua sujud kepadanya, dan Yusuf berkata: “Yaa abati Haadzaa ta’wiilu ru’yaaya ming qablu qad ja’alaHaa rabbii haqqan (“Wahai ayah, inilah ta’wil mimpiku dahulu yang dijadikan Rabbku menjadi kenyataan.” (Yusuf: 100)

tulisan arab alquran surat yusuf ayat 5“5. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Yusuf: 5)

Allah berfirman, mengabarkan apa yang dikatakan oleh Ya’qub kepada putranya Yusuf, ketika ia menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi yang ta’birnya tentang tunduknya saudara-saudara Yusuf, dan pengagungan mereka kepadanya secara berlebihan, dimana mereka bersujud untuk mengagungkan, menghormati dan memuliakannya. Maka Ya’qub as. khawatir kalau mimpi itu diceritakannya kepada salah seorang saudaranya yang akan membuat mereka merasa dengki kepadanya, serta berusaha mencelakakannya karena kedengkian tersebut. Oleh karena itu, ia mengatakan: laa taqshush ru’yaaka ‘alaa ikhwatika fayakiiduu laka kaidan (“Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar terhadapmu.”) yaitu dengan memperdayaimu.

Karena itu dinyatakan di dalam hadits, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian melihat sesuatu hal yang menyenangkan dalam mimpi, maka ceritakanlah hal itu. Dan bila melihat apa yang dibencinya dalam mimpi, maka berbaliklah ke sisi yang lain dan meludahlah ke sebelah kiri tiga kali, lalu memohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatannya dan janganlah menceritakannya kepada orang lain, karena mimpi itu tidak akan membahayakannya.”

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: