Arsip | 15.53

Mengetahui para perawi yang dinasabkan bukan kepada nama bapaknya

24 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Maksud pembahasan
Untuk mengetahui nasab yang populer tetapi bukan kepada bapaknya, baik dekat seperti kepada ibunya atau kakeknya, maupun jauh seperti orang yang memeliharanya atau yang semacamnya; lalu mengetahui nama bapaknya.

2. Manfaatnya
Untuk mencegah adanya persangkaan banyaknya nasab kepada bapak-bapak mereka

3. Pembagian dan contoh
a. Yang dinasabkan kepada ibunya: seperti Mu’adz, Mu’awid dan ‘Audz Bani ‘Afra. Bapak mereka adalah al-Harits; contoh lain Bilal bin Hamamah, bapaknya adalah Rabah; Muhammad bin al-Hanafiyah, bapaknya adalah Ali bin Abi Thalib.
b. Yang dinasabkan kepada neneknya, baik yang bagian atas atau pun bawah: seperti Ya’la binn Maniyah, Maniyah adalah ibu dari bapaknya, bapaknya sendiri adalah Umayah; Basyir bin Khashashiyah, Khashashiyah merupakan ibu ketiga [ibunya nenek] dari kakek-kakeknya, bapaknya sendiri adalah Ma’bad.
c. Yang dinasabkan kepada kakeknya: seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, namanya adalah Amir bin Abdullah bin al-Jarrah; Ahmad bin Hanbal, namanya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
d. Yang dinasabkan kepada orang lain karena penyebab tertentu: seperti Miqdad bin Amru al-Kindi, dinyatakan bahwa dia adalah Miqdad bin al-Aswad, sebelumnya dia berada dalam pengasuhan Aswad bin Abdu Yaghuts, lalu mengadopsinya.

4. Kitab yang populer
Tidak diketahui adanya kitab khusus yang disusun dalam perkara ini. Meski demikian terdapat kitab yang berisi biografi secara umum yang menyebutkan nasab setiap rawi, terutama kitab-kitab biografi yang komprehensif.

&

Mengetahui Perawi Yang Memiliki Nama dan Sifat Yang Berbeda-beda

24 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi: yaitu rawi yang diberi sifat berupa beberapa nama, laqab maupun kunyah yang berbeda-beda, baik ditujukan pada satu orang atau sekelompok orang

2. Contoh: Muhammad bin Sa’id al-Kalbi, sebagian menyebutnya dengan Abu Nadlr, sebagian lagi dengan Hammad bin Saib, lainnya dengan Abu Sa’id

3. Manfaatnya:
a. Menghilangkan kerancuan terhadap nama seseorang, dan menghilangkan dugaan bahwa hal itu terdiri dari beberapa orang.
b. Untuk mengungkapkan adanya tadlis asy-syuyukh

4. Al-Khathib Menggunakannya terhadap Guru-gurunya
Di dalam kitabnya diriwayatkan –misalnya-: dari Abu al-Qasim al-Azhari: dari Ubaidillah binAbi Fath al-Farisi; dari Ubaidillah bin Ahmad bin Utsman as-Sirafi; padahal semuanya itu satu orang.

5. Kitab yang populer
a. Idlahu al-Isykal, karya al-Hafidh Abdul Ghani bin Sa’id
b. Mudlihu Auham al-Jam’i wa at-Tafriq, karya Khathib al-Baghdadi

&

Mengetahui Para Perawi Tsiqah dan Dla’if

24 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: tsiqah itu menurut bahasa berarti terpercaya, sedangkan dlaif itu lawan dari kuat. Dlaif itu memiliki makna empiris, juga memiliki arti maknawi
b. Menurut istilah: tsiqah adalah orang yang adil lagi dlabith; sedangkan dlaif merupakan isim yang berbentuk umum yang di dalamnya tercakup orang yang cacat dalam hal kedlabitan dan keadilan

2. Urgensi dan manfaatnya
Ini termasuk jenis ilmu hadits yang penting, karena melalui cabang ilmu ini dapat diketahui mana hadits yang shahih dan mana yang dlaif.

3. Kitab yang populer dan jenisnya
a. Kitab-kitab yang disusun khusus menyangkut orang-orang yang tsiqah saja; seperti kitab ats-tsiqat, karya Ibnu Hibban; juga kitab ats-Tsiqat, karya al-‘Ijli
b. Kitab-kitab yang disusun khusus menyangkut orang-orang yang dlaif saja: jenis ini amat banyak, seperti adl-Dluafa karya Bukhari, Nasa-i, al-‘Uqaili, dan ad-Daruquthni. Juga kitab al-Kamil fii adl-Dluafa, karya Ibnu ‘Adi; atau kitab al-Mughni fii adl-Dluafa karya adz-Dzahabi.
c. Kitab-kitab yang disusun dan isinya bercampur antara yang tsiqah dan dlaif: yang seperti ini pun sangat banyak. Seperti Tarikh al-Bukhari al-Kabir, atau kitab al-Jarhu wa at-Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim. Ini adalah kitab umum menyangkut para rawi. ada pula kitab-kitab khusus dari sebagian kitab-kitab hadits, seperti al-Kamal fii Asma ar-Rijal, karya Abdul Ghani al-Muqaddisi. Begitu juga banyak kitab-kitab tahdzib yang disusun oleh al-Mizzi, adz-Dzahabi, Ibnu Hajar, maupun al-Khazraji.

&

Sanad yang ‘Ali dan Nazil

24 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Pendahuluan.
Sanad merupakan hal yang spesifik dan keutamaan yang dimiliki umat ini, yang tidak dimiliki umat-umat lain sebelumnya. Dan termasuk sunnat muakaddah. Seorang muslim bersandar pada sanad dalam mentransfer hadits maupun berita. Imam Ibnu al-Mubarak berkata: “Sanad itu merupakan bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, pastilah manusia itu akan berkata sekehendaknya.”
Sementara itu ats-Tsauri berkata: “Sanad itu senjatanya orang mukmin.” Mencari sanad yang tinggi disunnahkan. Ahmad bin Hambal berkata: “Mencari sanad yang tinggi merupakan sunnah dari pada generasi salaf.” Ini dilakukan oleh shahabat-shahbatnya Abdullah bin Mas’ud. Mereka melakukan perjalanan dari Kufah ke Madinah guna belajar dari Umar dan mendengarkan hadits dari beliau. Karena itu melakukan perjalanan untuk mencari hadits amat dianjurkan. Bukan hanya satu orang dari kalangan shahabat yang melakukan perjalanan guna mencari sanad yang tinggi. Di antara mereka adalah Abu Ayyub dan Jabir ra.

2. Definisi
a. Menurut bahasa: al-‘ali merupakan isim fa’il dari kata al’uluw, lawan dari kata an-nuzul. Sedangkan an-nazil adalah isim fa’il dari kata an-nuzul.
b. Menurut istilah: 1) al-isnad al-‘adl yaitu hadits yang jumlah bilangan rawinya lebih sedikit dibandinkan dengan sanad yang lain yang menyangkut hadits tersebut. 2) al-isnad an-nazil yaitu hadits yang jumlah bilangan rawinya lebih banyak dibandingkan dengan sanad lain yang menyangkut hadits tersebutt.

3. Pembagian sanad ‘Ali
Sanad yang ‘ali terbagi menjadi lima macam; satu diantaranya ‘uluw mutlak, sedangkan sisanya ‘uluw nisbi.
a. Dekat dengan Rasulullah saw. dengan sanad yang shahih lagi bersih. Ini yang disebut dengan ‘uluw mutlak, dan paling tinggi kualitasnya.
b. Dekat dengan imam-imam hadits. Meski banyak yang setelahnya sampai kepada Rasulullah saw. Misalnya, dekat dengan al-A’masy atau Ibnu Juraih, atau Malik, dan lainnya. Tentu saja sanadnya harus shahih lagi bersih.
c. Dekat dengan riwayat salah satu dari kitab yang enam atau kitab-kitab rujukan lainnya. Ini yang banyak diperhatikan oleh para ulama kontemporer, berupa muwafaqah, ibdal, musawah dan mushafahah.
– Muwafaqah: sampainya sanad pada syekh salah seorang penyusun kitab hadits, yang bukan melalui jalurnya, yang jumlah bilangan rawinya lebih sedikit dibandingkan melalui jalur yang diriwayatkna [penyusun kitab tersebut]. Contohnya: apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab-Nya an-Nukhbah: Bukhari telah meriwayatkan dair Qutaibah dari Malik sebuah hadits, yang jika kita meriwayatkan melalui jalurnya [yaitu melalui jalur Imam Bukhari] maka terdapat delapan orang [rawi] antara kita dengan Qutaibah. Tetapi, jika kita meriwayatkan hadist itu melalui jalur Abu Abbas as-Siraj [salah seorang guru imam Al-Bukhari] dari Qutaibah, maka antara kita dengan Qutaibah terdapat tujuh orang [rawi]. ini berarti telah tercapai muwafaqah bersama-sama dengan Bukhari pada syekhnya dengan sanad yang ‘uluw atas sanadnya Bukhari.
– Badal: sampainya sanad pada syekh dari gurunya salah seorang penyusun kitab hadits yang bukan melalui jalurnya, yang jumlah bilangan rawinya lebih sedikit dibandingkan melalui jalur yang meriwayatkan [penyusun kitab tersebut]. Contohnya : apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar: “Jika sanad tersebut terjadi pada kita dari jalur lain kepada al-Qa’nabi [syekh dari gurunya imam Bukhari] dari Malik, maka adanya al-Qa’nabi dalam hal ini sebagai pengganti dari Qutaibah.”
– Musawah: samanya jumlah bilangan rawi antara seseorang yang meriwayatkan hingga akhir [sanad] dengan sanad salah seorang penyusun kitab hadits. Contoh: apa yang dikatakan oleh ibnu Hajar: “Sebagai contoh, Nasa-i meriwayatkan suatu hadits, antara dia dengan Nabi saw. terdapat sebelas orang [rawi]. hadits yang sama dengan sanad yang lain, antara kita dengan Nabi saw. juga terdapat sebelas orang [rawi]. hadits yang sama dengan sanad yang lain, antara kita dengan Nabi saw juga terdapat sebelas orang [rawi]. maka berarti sama dengan Nasai dari segi jumlah bilangan perawinya.
– Mushafahah: samanya jumlah bilangan rawi hingga akhir sanad dengan sanad murid salah seorang penyusun kitab hadits. Dinamakan sanad murid salah seorang penyusun kitab hadits. Dinamakan mushafahah karena sudah menjadi kebiasaan jika dua orang berjumpa selalu berjabat tangan.

d. ‘uluw karena si rawi meninggalnya lebih awal. Contohnya apa yangdikatakan Nawawi: “Apa yang diriwayatkan dari tiga orang dari Baihaqi dari al-Hakim itu lebih tinggi dibandingkan yang diriwayatkan dari tiga orang dari Abu Bakar bin Khalaf dari al-Hakim, karena Baihaqi meninggal lebih dulu dari pada Ibnu Khalaf.
e. ‘uluw karena mendengarnya lebih awal. Yaitu mendengar dari syekhnya lebih dulu. Siapa saja yang mendengar dari gurunya lebih awal maka lebih tinggi dibandingkan dengan yang mendengarkan belakangan. Contohnya: dua orang mendengar dari syekhnya. Yang satu telah mendengar dari syeknya itu sejak enam puluh tahun lalu, sedangkan yang lainnya sejak empat puluh tahun lalu, sementara jumlah bilangan rawi keduanya sama, maka yang pertama itu lebih tinggi dibandingkan dengan yang kedua. Ini menjadi penguat bagi yang gurunya bercampur atau pikun.

4. Pembagian sanad nuzul
Sanad nuzul terbagi lima, dan hal itu diketahui dari lawannya. Setiap bagian dari ‘uluw merupakan lawan dari bagian nuzul.

5. Apakah ‘uluw lebih utama dibandingkan nuzul?
a. ‘uluw lebih utama daripada nuzul. Ini merupakan pendapat yang benar menurut jumhur, karena menjauhkan banyaknya kerusakan pada hadits. Sedangkan nuzul itu disukai. Ibnu Madini berkata: “Nuzul itu adalah cela.” Ini terjadi jika sanadnya sama-sama kuat.
b. Nuzul lebih utama, asalkan sanad yang nuzul bisa dibedakan dengan manfaat tertentu [seperti rawi-rawinya lebih tsiqah, atau lebih hafal, atau lebih faqih dibandingkan dengan rawi pada sanad ‘uluw].

6. Kitab yang populer
Tidak ada kitab khusus yang membahas sanad-sanad yang ‘ali atau yang nazil yang berbentuk komprehensif. Meski demikian para ulama telah menyebut pembagian yang dikenal dengan nama ats-tsulatsiyat, yang memfokuskan pada hadits-hadits yang antara penyusun kitab dengan Rasulullah saw terdapat hanya tiga orang [rawi] saja. ini menjadi pertanda bahwa para ulama amat memperhatikan sanad-sanad yang ‘ali. Kitab ats-tsunatsiyat itu antara lain:
– Tsulatsiyat al-Bukhari, karya Ibnu Hajar
– Tsulatsiyat Ahmad bin Hanbal, karya al-Lafarini

&

Adab Penuntut Hadits

24 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Pendahuluan.
Yang dimaksud dengan adab penuntut hadits adalah sifat-sifat yang memang harus dimiliki para penuntut hadits, berupa adab yang tinggi dan akhlak yang mulia, sesuai dengan mulianya ilmu yang tengah dituntut, yaitu hadits Rasulullah saw. Di antara adab-adab tersebut ada yang bersekutu dengan adab bagi muhaddits, ada juga yang khusus bagi penuntut hadits.

2. Adab yang bersekutu dengan adab muhaddits
a. Meluruskan niat dan ikhlas hanya kepada Allah swt. dalam menuntut hadits.
b. Bersikap hati-hati terhadap tujuannya menuntut hadits yang bisa menghantarkannya pada motif-motif keduniawian. Abu Dawud dan Ibnu Majah telah mengeluarkan hadits dari Abu Hurairah, yang berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dianjurkan oleh Allah swt, dan ia tidak mempelajarinya melainkan untuk meraih keduniawian, maka pada hari kiamat tidak akan memperoleh harumnya wangi surga.”
c. Mengamalkan hadits-hadits yang didengarnya.

3. Adab yang berlaku khusus bagi Muhaddits
a. Senantiasa meminta taufik, arahan, kemudahan dan pertolongan Allah swt. dalam hal hafalan hadits dan pemahamannya.
b. Selalu memperhatikan hadits secara komprehesif dan mengerahkan seluruh upaya untuk meraihnya.
c. Memulai dengan mendengar dari guru yang paling utama di negerinya, baik dalam hal sanad, ilmu maupun agamanya.
d. Memuliakan gurunya dan orang-orang yang mendengarnya dan senantiasa menghormatinya. Itu karena tinggi ilmu dan sebab-sebab diraihnya manfaat, berupaya memperoleh keridlaan dan bersabar atas kekurangan, itu pun jika ada.
e. Menunjuki kawan-kawan dan orang-orang terdekat dalam rangka memperoleh sesuatu yang bermanfaat, tidak menyembunyikannya terhadap mereka. Karena menutup-nutupi manfaat ilmu merupakan cacat yang bisa menutupi kebodohan. Apalagi, tujuan menuntut ilmu ini adalah untuk menyebarluaskannya.
f. Sifat malu dan sombong hendaknya tidak menghalanginya untuk terus mendengar dan mendapatkan sesuatu serta memperoleh ilmu, meski berasal dari orang yang lebih muda atau kedudukannya lebih rendah.
g. Tidak berpuas diri hanya dengan mendengar dan mencatat hadits tanpa mengetahui dan memahaminya. Maka ia mesti rela melelahkan dirinya tanpa mengenal waktu.
h. Dalam hal mendengar, menghafal dan memahami, hendaknya mendahulukan kitab shahihain, kemudian Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, lalu Sunan al-Kubranya Baihaqi. Setelah itu bersandar pada kitab-kitab musnad dan jawami’. Seperti Musnad dan jawami’, seperti Musnad Imam Ahmad, al-Muwaththa-nya Imam Malik, termasuk kitab-kitab ‘ilal, seperti ‘ilalnya Daruquthni. Sedangkan dari kitab-kitab yang memuat nama-nama perawi adalah Tarikh al-Kabirnya Imam Bukhari, begitu juga Jarh wa Ta’dilnya Ibnu Abi Hatim; Dlabthu al-Asmanya Ibnu Makula; sedangkan yang menyangkut hadits gharib adalah kitab an-Nihayahahnya Ibnu Atsir.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du (1)

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 1bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“Alif laam miim raa’. Ini adalah ayat-ayat al-Kitab [al-Qur’an]. Dan kitab yang diturunkan kepadamu daripada Rabb-mu itu adalah haq [benar], akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman [kepadanya]”. (ar-Ra’du: 1)

Pembicaraan tentang huruf-huruf [hijaiyyah] yang terputus-putus telah dibahas pada surah al-Baqarah. Dan telah dikemukakan bahwa setiap surah yang dimulai dengan huruf-huruf seperti itu di dalamnya terkandung pembelaan bagi al-Qur’an dan penjelasan bahwa al-Qur’an yang turun dari sisi Allah adalah haq [benar], tidak perlu diragukan sedikitpun. Karena itu Allah berfirman: tilka aayaatul kitaabi (“Ini adalah ayat-ayat al-Kitab [al-Qur’an].”) maksudnya, ini adalah ayat-ayat al-Kitab, yaitu al-Qur’an. Tetapi ada yang mengatkan, bahwa kitab itu adalah Taurat dan Injil, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah. Namun pendapat ini perlu dipertimbangkan [diteliti], bahkan pendapat ini merupakan suatu pengertian yang sangat jauh, kemudian ditambahkan lagi dengan meng’athafkan [menyambungkan] beberapa sifat padanya, dengan firman-Nya: walladziina unzila ilaika (“Dan kitab yang diturunkan kepadamu,”) hai Muhammad, mir rabbikal haqqu (“Dari rabbmu itu adalah haqq [benar].”) khabar yang mubtada’nya di depan yaitu: walladziina unzila ilaika mir rabbika (“dan kitab yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.”) inilah pendapat yang benar sesuai dengan penafsiran Mujahid dan Qatadah, sedang Ibnu Jarir berpendapat bahwa huruf wawu di sini adalah tambahan atau ‘athaf sifat kepada sifat sebagaimana telah dijelaskan.

Walaakinna aktsarannaasi laa yu’minuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman [kepadanya].”) maksudnya bahwa, walaupun sudah jelas, sudah terang, dan sudah gamblang, kebanyakan manusia tidak beriman disebabkan oleh perpecahan, keras kepala dan kemunafikan.

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 2“2. Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (ar-Ra’du: 2)

Allah memberitahukan tentang kesempurnaan dan kebesaran kekuasaan-Nya yang dengan izin dan perintah-Nya meninggikan langit tanpa tiang, bahkan dengan izin, perintah dan kekuasan-Nya mengangkat langit dari bumi sampai jarak yang tidak dapat dicapai dan diketahui bilangan jaraknya. Langit yang terdekat mengelilingi bumi seluruhnya dan semua yang ada di sekitarnya berupa air dan udara di semua arah dan penjuru, tegak di atasnya dari segala sisi secara merata dan dengan jarak yang sama antara langit dan bumi dari semua arah, yakni sejauh perjalanan limaratus tahun, dan tebalnya juga sejauh perjalanan limaratus tahun. Kemudian terdapat langit kedua yang mengelilingi langit pertama [terdekat] dan ada yang ada padanya, dan jarak antara kedua langit itu sejauh perjalan limaratus tahun, dengan ketebalan seperti itu juga.

Demikian juga halnya dengan langit ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh. Sebagaimana firman Allah: AllaaHulladzii khalaqa sab’a samaawaati wa minal ardli mitslaHunna (“Allah yang telah menciptakan tujuh langit, dan dari bumi seperti itu juga.”)(ath-Thalaaq: 12)

Firman Allah: bighairi ‘amadin taraunaHaa (“Tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat.”) diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, al-Hasan, Qatadah dan lain-lain, mereka mengatakan: “Langit itu mempunyai tiang-tiang, tetapi tidak dapat dilihat.” Iyas bin Mu’awiyah berkata: “Langitdi atas bumi bagaikan kubah.” Maksudnya tanpa tiang. Pendapat ini diriwayatkan juga oleh Qatadah, dan pendapat inilah yang sesuai dengan susunan kaliamat dalam ayat ini, dan makna yang jelas dari firman Allah Ta’ala: wayumsikus samaa-a taqa’a ‘alal ardli illaa bi-idzniHi (“Dan Allah menahan langit agar tidak jatuh ke atas bumi, kecuali dengan izin-Nya.”)(al-Hajj: 65). Berdasarkan hal tersebut maka firman Allah Ta’ala: taraunaHaa (“Sebagaimana yang kalian lihat”) adalah penegasan kepada tidak adanya tiang. Maksudnya, langit itu ditinggikan tanpa tiang sebagaimana yang kalian lihat. Dan hal ini adalah kekuasaan yang paling sempurna.

Firman Allah: tsummastawaa ‘alal ‘arsyi (“Kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arsy”) penafsirannya telah dibahas dalam surah al-A’raaf. Dan Dia seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ayat ini diperlakukan [ditetapkan] sesuai apa adanya tanpa takyif [menanyakan bagaimananya], tasybih [menyerupakan dengan makhluk], ta’thil [meniadakan sifat-sifat-Nya] dan tamtsil [menyamakan Allah dengan makhluk]. Allah Mahatinggi dari semua itu.

Firman Allah: wa sakhkharasy syamsa wal qamara yajrii li ajalim musammaa (“Dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.”) ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah, matahari dan bulan itu berjalan terus sampai berhenti karena terjadi [hari] kiamat, seperti firman Allah: wasy syamsu tajrii limustaqarrillaHaa (“Dan Matahari itu berjalan pada tempat peredarannya.”)(Yaasiin: 38). Sebagian mengatakan, bahwa maksud ke tempat peredarannya itu, yaitu berada di bawah ‘Arsy di atas permukaan bumi dari sisi lain, karena matahari dan bulan serta bintang-bintang [planet-planet] lainnya bila telah sampai kesana berarti telah sampai ke tempat yang paling jauh dari ‘Arsy, karena yang benar berdasarkan dalil-dalil, ‘Arsy itu merupakan kubah yang berada di atas [menaungi] seluruh alam menurut pengertian ini, dan tidak mengelilingi seperti falak-falak lainnya, karena ‘Arsy mempunyai penyangga, dan pembawa yang mengangkatnya.

Hal seperti ini tidak dapat dibayangkan terdapat pada falak yang berbentuk bulat dan hal ini tampak jelas bagi orang yang mau merenungkan apa yang disampaikan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, segala puji dan anugerah hanya milik Allah.

Allah Ta’ala hanya menyebutkan matahari dan bulan saja dalam ayat ini karena keduanya merupakan bintang [planet] yang paling nampak jelas dari tujuh planet yang berjalan, yang lebih mulia dan lebih besar daripada bintang [planet] yang tetap diam. Jika Allah mampu menundukkan matahari dan bulan yang berjalan ini, maka Dia tentu lebih kuasa menundukkan dan mengatur bintang-bintang atau planet-planet lainnya, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah yang artinya: “Janganlah kamu bersujud menyembah kepada matahari dan janga pula kepada bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakannya, bila kamu memang beribadah kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Dan Allah pun telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya yang artinya: “Matahari, bulan dan bintang-bintang itu semua tunduk kepada perintah-Nya. ingatlah, menciptakan dan memerintahkan itu hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raaf: 54)

Firman Allah: yufashshilul aayaati la’allakum biliqaa-i rabbikum tuuqinuun (“Menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya], supaya kamu meyakini pertemuan kamu dengan Rabb-mu.”) maksudnya, Allah menerangkan ayat-ayat dan tanda-tanda yang menunjukkan, bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Allah akan mengembalikan seluruah makhluk jika menghendaki sebagaimana Dialah yang pertama kali menciptakannya.

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ibrahim (1)

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim
Surah Makkiyyah; surah ke 14: 52 ayat

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 1-3bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. 2. Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, 3. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (Ibrahim: 1-3)

Huruf-huruf hijaiyyah pada permulaan surah telah dijelaskan dalam surah al-Baqarah. Kitaabun anzalnaaHu ilaika (“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu.”) maksudnya inilah kitab yang Kami turunkan kepadamu, wahai Muhammad, yaitu al-Qur’an yang agung, yang merupakan kitab yang paling mulia yang diturunkan oleh Allah dari langit kepada Rasul yang paling mulia yang diutus Allah di muka bumi kepada semua penduduknya, baik Arab maupun ‘Ajam [non Arab]. Linukhrijan naasa minadh dhulumaati ilan nuur (“Supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang.”) maksudnya, Kami mengutusmu wahai Muhammad dengan Kitab ini untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kesesatan yang mereka alami menuju petunjuk Allah dan kebenaran.

Firman Allah: biidzni rabbiHim (“Dengan izin Rabb mereka.”) maksudnya Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang ditakdirkan-Nya mendapat petunjuk lewat Rasul yang diutus atas perintah-Nya. Ia menunjuki mereka, ilaa shiraathil ‘aziizi (“Menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa.”) yang tidak dapat dihalangi dan tidak dapat dikalahkan, bahkan Allah menundukkan segala sesuatu dari-Nya, alhamiid (“Lagi Mahaterpuji”) terpuji dalam semua perbuatan, perkataan, syariat, perintah dan larangan-Nya, benar dalam semua berita yang disampaikan-Nya.

Firman Allah: AllaaHil ladzii laHuu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi.”) sebagian ulama membaca lafadz “Allah” dengan marfu’ [AllaaHu] karena permulaan kalimat, sedangkan sebagian lain membacanya dengan majrur [AllaaHi] mengikuti sifat Allah sebelumnya.

Firman Allah: wawailul lilkaafiriina min ‘adzaabin syadiid (“Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih.”) maksudnya celakalah mereka pada hari kiamat, karena mereka menyelisihimu dan mendustakanmu, wahai Muhammad. Kemudian Allah mensifati mereka bahwa mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, bekerja untuk dunia dan melupakan akhirat dan meninggalkan urusan akhirat di belakang mereka, wa yashudduuna ‘ang sabiilillaaHi (“dan menghalang-halangi [manusia] dari jalan Allah.” Yaitu dari mengikut para Rasul, wa yabghuunaHaa ‘iwajan (“dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok.”) maksudnya mereka menghendaki agar jalan Allah itu miring, dondong dan berkelok, padahal jalan Allah itu adalah lurus, tidak dapat dipengaruhi atau dinodai oleh seseorang yang menyelisihinya atau orang yang meninggalkannya, mereka dengan keinginan itu berada dalam kebodohan dan kesesatan yang jauh dari kebenaran dan tidak dapat diharapkan dari mereka kebaikan sedikitpun dalam keadaan seperti itu.

tulisan arab alquran surat ibrahim ayat 4“4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Ibrahim: 4)

Hal ini termasuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, bahwa Allah mengutus para Rasul dari kalangan mereka dan dengan bahasa mereka supaya mereka memahami apa yang dikehendaki dari mereka dan apa yang disampaikan kepada mereka, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Dzarr ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan dengan bahasa kaumnya.”

Firman Allah: fayu-dlillullaaHu may yasyaa-u wa yaHdii may yasyaa-u (“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”) maksudnya setelah memberikan keterangan dan bukti-buktinya kepada mereka, Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dari petunjuk itu dan menunjuki siapa yang Dia kehendaki kepada kebenaran. Wa Huwal ‘aziizu (“Dan Dialah Rabb yang Mahakuasa.”) apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi. Al hakiim (“lagi Mahabijaksana.”) dalam perbuatan-Nya, maka Dia menyesatkan siapa yang memang berhak dengan kesesatan dan menunjuki siapa yang memang layak akan hal itu. Memang, hal itu merupakan sunnah atau ketentuan Allah yang berkenaan dengan makhluk-Nya bahwa Allah tidak mengutus seorang Nabi kepada suatu umat melainkan dengan bahasa mereka dan setiap nabi itu diutus untuk menyampaikan risalah kenabian kepada ummat mereka masing-masing, tidak kepada umat lain, kecuali Nabi Muhammad bin Abdillah yang khusus diperintahkan supaya menyampaikan risalah kepada semua manusia.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih yang tertera dalam kitab shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku; aku diberi kemenangan oleh karena rasa takut [dalam hati musuh] selama perjalanan satu bulan dan bumi [tanah] ini dijadikan untukku sebagai tempat shalat [masjid] dan untuk bersuci. Dihalalkan untukku harta rampasan perang yang mana hal tersebut tidak dihalalkan bagi seorang rasul pun sebelumku. Aku diberi syafa’at dan setiap Nabi diutus khusus kepada umatnya masing-masing, sedang akut diutus kepada semua manusia.”

Hadits ini didukung berbagai macam bukti dan Allah juga berfirman yang artinya; “Katakanlah: ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini adalah Rasul [utusan] Allah kepadamu semua.” (al-A’raaf: 158)

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Thalaaq (2)

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Thalaaq (Talak)
Surah Madaniyyah; surah ke 65: 12 ayat

Dan firman-Nya: wa tilka huduudullaaH (“Itulah hukum-hukum Allah”) yakni syariat dan larangan-Nya. wa may yata’adda huduudallaaHi (“Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah.”) yakni keluar dari batas-batas hukum-Nya melanggar dan tidak menerapkannya. Faqad dhalama nafsaHu (“Maka sesungguhnya dia telah berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri.”) yakni dengan mengerjakan hal tersebut.

Laa tadrii la’allallaaHa yuhditsu ba’da dzaalika amran (“Kamu tidak mengetahui barangkali Alah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”) sesungguhnya alasan Kami [Allah] menyuruh istri yang dicerai untuk tinggal di rumah suami yang telah menceraikannya selama ‘iddah itu karena barangkali saja dia menyesali perceraiannya itu dan Allah menumbuhkan semangat dalam hatinya untuk kembali merujuknya. Sehingga dengan demikian, akan lebih mudah dan gampang.

Az-Zuhri menceritakan dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah, dari Fathimah binti Qais mengenai firman-Nya: Laa tadrii la’allallaaHa yuhditsu ba’da dzaalika amran (“Kamu tidak mengetahui barangkali Alah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”) ia berkata: “Yakni rujuk.” Demikian yang dikatakan oleh asy-Sya’bi, ‘Atha’, Qatadah, adh-Dhahhak, Muqatil bin Hayyan, dan ats-Tsauri.

Bertolak dari hal tersebut di atas, beberapa ulama salaf –seperti imam Ahmad bin Hambal- dan para pengikut mereka, berpendapat bahwa wanita yang dijatuhi talak ba’in [nyata] tidak berkewajiban untuk tinggal di rumah suaminya, demikian juga wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya. Dalam hal itu mereka bersandar pada hadits Fathimah binti Qais al-Fahriyyah ketika dia diceraikan oleh suaminya, Abu ‘Amr bin Hafsh pada talak terakhir. Ketika itu Abu ‘Amr tidak berada di sisinya, tetapi ia berada di Yaman. Ia mengirimkan utusan kepada istrinya untuk menyampaikan berita itu. Abu ‘Amr mengirimkan wakilnya kepada istrinya dengan membawa gandum sebagai nafkah. Tetapi istrinya itu marah kepadanya. Maka dia [Abu ‘Amr] pun berkata: “Engkau tidak berhak mendapatan nafkah dari kami.” Setelah itu wanita tersebut mendatangi Rasulullah saw. lalu beliau pun bersabda: “Engkau sudah tidak berhak mendapatkan nafkah darinya.” Dan menurut riwayat Muslim: “Dan tidak juga tempat tinggal.”
Kemudian beliau memerintahkan istrinya itu untuk menjalani ‘iddah di rumah ummu Syuraik. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: “Dia adalah wanita yang banyak didatangi oleh para shahabatku. Jalanilah ‘iddah di rumah ummi Maktum, sesungguhnya dia itu orang buta, engkau dapat melepaskan pakaianmu.” (musnad al-Imam Ahmad dan Sunan Abi Dawud)

Imam Ahmad meriwayatkan melalui jalan lain dan lafadz yang lain pula, dimana dia berkata, Yahya bin Sa’id memberitahu kami dari Mujahid, dari ‘Amir, dia bercerita: Aku sampai di kota Madinah, kemudian aku mendatangi Fathimah binti Qais, lalu dia memberitahuku bahwa suaminya telah menceraikannya di masa Rasulullah saw. Lalu beliau mengirimkan suaminya itu untuk berperang dalam salah satu peperangan. Kemudian saudaranya berkata kepadaku: “Keluarlah dari rumah ini.” Dan kukatakan: “Aku masih berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal sampai masa ‘iddah selesai.” “Tidak bisa.” Sahutnya. Maka, lanjut Fathimah, “Aku langsung mendatangi Rasulullah saw. dan kukatakan: “Sesungguhnya si fulan telah menceraikanku, saudara laki-lakinya pun mengusirku dan menghalangiku tinggal di rumahnya dan mendapatkan nafkah.” Maka beliaupun bersabda kepada laki-laki itu: “Apa yang telah terjadi antara engkau dengan anak perempuan Qais itu?” Dia mengatakan: “Ya Rasulallah, saudaraku telah menceraikannya tiga kali sekaligus.” Rasulullah saw. bersabda: “Perhatikanlah hal itu wahai puteri keluarga Qais, yang berhak menerima nafkah dan tempat tinggal itu hanyalah istri yang dicerai suaminya selama suaminya itu berhak untuk merujuknya kembali. namun jika dia sudah tidak berhak lagi merujuknya, maka istrinya itu tidak berhak lagi mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. Keluarlah engkau dari rumah itu, dan tinggallah di rumah fulanah.” Kemudian beliaupun bersabda: “Ia adalah wanita yang sering dikunjungi shahabatku.” Lalu beliau bersabda: “Tinggallah engkau di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena dia seorang buta yang tidak dapat melihatmu.”” Kemudian dia menyebutkan hadits secara lengkap.

tulisan arab alquran surat ath-thalaq ayat 2-3“2. apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. 3. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (ath-Thalaaq: 2-3)

Allah berfirman, oleh karena itu jika wanita-wanita yang menjalani ‘iddah itu telah mencapai batas waktu ‘iddah, yakni telah sampai di penghujung masa ‘iddah dan sudah mendekatinya, tetapi masa ‘iddah belum habis secara keseluruhan, maka pada saat itu bisa saja suaminya bertekad untuk mempertahankannya, yaitu merujuknya kembali dalam lembaga pernikahan dan melanjutkan kewajibannya ketika bersama-sama dengannya, atau bisa saja suami itu tetap bertekad akan menceraikannya dengan cara yang baik, yaitu dengan tidak dicerca, tidak dicela, dan tidak dikasari, namun harus menceraikannya dengan cara yang baik dan bagus.

Wa asyHiduu dzawai ‘adlim minkum (“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.”) maksudnya untuk merujuknya kembali jika kalian bertekad untuk melakukannya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari ‘Imran bin al-Hushain, bahwasannya dia pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, lalu dia mencampurinya dan tidak ada orang yang menjadi saksi perceraian dan merujuknya, maka dia menjawab: “Dia diceraikan dan dirujuk tidak berdasarkan sunnah. Persaksikanlah perceraian dan rujuknya, dan jangan engkau ulangi.”

Mengenai firman Allah: Wa asyHiduu dzawai ‘adlim minkum (“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.”) Ibnu Jarir menceritakan: “Tidak dibenarkan pernikahan, perceraian, dan rujuk melainkan dihadiri oleh dua orang saksi yang adil, sebagaimana yang difirmankan Allah swt. kecuali karena adanya asalan yang dibenarkan.”
Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Thalaaq (1)

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Thalaaq (Talak)
Surah Madaniyyah; surah ke 65: 12 ayat

tulisan arab alquran surat ath-thalaq ayat 1bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, Maka Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. kamu tidak mengetahui barangkali Allah Mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” (ath-Thalaaq: 1)

Nabi saw.dijadikan lawan bicara, secara langsung sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan. Setelah itu Allah menyapa umat Islam tidak secara langsung.
Yaa ayyuHan nabiyyu idzaa thallaqtumun nisaa-a fathalliquHunna li’iddatiHinn (“Hai Nabi, jika engkau menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah engkau ceraikan mereka pada waktu mereka dapat [menghadapi] ‘iddahnya [yang wajar].”) telah disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah menceraikan Hafshah kemudian merujuknya kembali.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Syihab, Salimm memberitahuku, ‘Abdullah bin ‘Umar pernah memberitahunya, bahwa dia pernah menceraikan istrinya ketika dia dalam keadaan haidh. Kemudian ‘Umar menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. maka beliau marah dan bersabda: “Hendaknya dia merujuknya kembali, lalu menahannya hingga ia bersih dari haidhnya itu, lalu haidh dan bersih lagi. Jika masih ingin menceraikannya, maka ceraikanlah dia dalam keadaan bersih sebelum dia bercampur dengannya. Itulah ‘iddah yang telah diperintahkan oleh Allah swt.”
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari di sini, dan dia juga telah meriwayatkan di beberapa tempat dalam kitabnya.

Dan menurut riwayat Muslim dengan lafadz sebagai berikut: “Itulah ‘iddah yang telah diperintahkan Allah jika seorang laki-laki hendak menceraikan istrinya.” (HR Muslim)

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh para penulis kitab Sunan dan Musnad, melalui jalan yang beragam dan juga dengan lafadz yang banyak. Adapun lafadz yang paling mendekati adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya, melalui jalan Ibnu Juraij; Abuz Zubair memberitahuku, bahwasannya dia pernah mendengar ‘Abdurrahman bin Aiman, maula ‘Uzzah, dia bertanya kepada ‘Umar, sedang Abuz Zubair mendengarnya: “Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang menceraikan istrinya ketika sedang haidh?” Dia menjawab: “Ibnu ‘Umar pernah menceraikan istrinya ketika sedang haidh pada masa Rasulullah saw. maka beliau bersabda: ‘Hendaknya dia merujuknya kembali.’ kemudian diapun merujuknya kembali lalu beliau bersabda lagi: ‘Jika dia sudah bersih, maka ceraikanlah dia atau pertahankanlah.’ Ibnu Umar mengatakan: ‘Pada saat itu, Nabi saw. membacakan ayat: Yaa ayyuHan nabiyyu idzaa thallaqtumun nisaa-a fathalliquHunna li’iddatiHinn (“Hai Nabi, jika engkau menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah engkau ceraikan mereka pada waktu mereka dapat [menghadapi] ‘iddahnya [yang wajar].”)”

Al-A’masy meriwayatkan dari ‘Abdullah mengenai firman Allah Ta’ala: fathalliquHunna li’iddatiHinna (“Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat [menghadapi] ‘iddahnya [yang wajar].”) dia mengatakan: “Yaitu ketika bersih dan belum melakukan hubungan badan.”

Hal ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar, ‘Atha’, Mujahid, al-Hasan, Ibnu Sirin, Qatadah, Maimun bin Mihram, Muqatil bin Hayyan. Dan hal itu merupakan riwayat dari ‘Ikrimah dan adh-Dhahhak.

Mengenai firman-Nya: fathalliquHunna li’iddatiHinna (“Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat [menghadapi] ‘iddahnya [yang wajar].”) ‘Ikrimah mengatakan: “Yang dimaksud dengan ‘iddah adalah bersih, sedangkan al-qur-u berarti haidh. Seorang suami dapat menceraikan istrinya yang sedang hamil ketika diketahui jelas kehamilannya, dia tidak boleh menceraikannya sedang dia telah melakukan hubungan badan dengannya, tetapi dia tidak mengetahui apakah istrinya itu hamil atau tidak.”

Dari sinilah para fuqaha membagi masalah perceraian ini menjadi dua bagian, yaitu cerai Sunnah dan cerai bid’ah. Yang dimaksud dengan cerai sunnah adalah jika seorang suami menceraikan istrinya dalam keadaan bersih dan tidak mencampurinya atau tidak dalam keadaan hamil dan telah diketahui kebenaran hamilnya. Sedangkan cerai bid’ah adalah jika seorang suami menceraikan istrinya dalam keadaan haidh atau dalam keadaan bersih dan telah dicampuri, dan dia tidak mengetahui apakah istrinya itu hamil atau tidak. Sedangkan cara ketiga adalah bukan cerai sunnah dan bukan cerai bid’ah, yaitu menceraikan wanita yang masih kecil [belum pernah menjalani haidh], wanita tua yang sudah mengalami menopouse, dan wanita yang tidak pernah dicampuri. Dan pembahasan masalah tersebut dan hal-hal yang berkenaan dengannya terdapat dalam ktiab-kitab furu’. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: wa ahshul ‘iddah (“Dan hitunglah waktu ‘iddah itu”) maksudnya, hafalkan dan ketahuilah permulaannya agar ‘iddah itu tidak dijalani oleh wanita secara bekepanjangan sehingga dia terhalang untuk menikah lagi. wattaqullaaHa rabbakum (“dan bertakwalah kepada Allah, Rabbmu.”) yakni, dalam melakukan hal tersebut.

Firman Allah: laa tukhrijuHunna mim buyuutiHinna walaa yakhrujna (“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka [diizinkan] keluar.”) yakni, dalam masa ‘iddah itu dia masih berhak tinggal di rumah suaminya yang telah menceraikannya dan suaminya tidak boleh mengusirnya dari rumahnya itu. Di lain pihak, dia tidak boleh keluar dari rumah tersebut karena dia masih terikat dengan hak suami.

Illaa ay ya’tiina bifaahisyatim mubayyinati (“Kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.”) maksudnya para istri itu tidak boleh keluar rumah kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji secara nyata, pada saat itu dia boleh pergi dari rumah. Yang dimaksud dengan perbuatan keji secara nyata itu mencakup perbuatan zina, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin al-Musayyab, asy-Sya’bi, al-Hasan, Ibnu Sirin, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu Qilabah, Abu Shalih, adh-Dhahhak, Zaid bin Aslam, ‘Atha’ al-Khurasani, as-Suddi, Sa’id bin Abi Hilal, dan lain-lain. Dan juga mencakup tindakan nusyuz (penentangan istri terhadap suami) yang mereka lakukan atau mereka menyakiti keluarga suaminya, baik dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ubay bin Ka’ab, Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah dan lain-lain.

Bersambung ke bagian 2