Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ra’du (1)

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’du (Guruh)
Surah Madaniyyah; surah ke 13: 43 ayat

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 1bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“Alif laam miim raa’. Ini adalah ayat-ayat al-Kitab [al-Qur’an]. Dan kitab yang diturunkan kepadamu daripada Rabb-mu itu adalah haq [benar], akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman [kepadanya]”. (ar-Ra’du: 1)

Pembicaraan tentang huruf-huruf [hijaiyyah] yang terputus-putus telah dibahas pada surah al-Baqarah. Dan telah dikemukakan bahwa setiap surah yang dimulai dengan huruf-huruf seperti itu di dalamnya terkandung pembelaan bagi al-Qur’an dan penjelasan bahwa al-Qur’an yang turun dari sisi Allah adalah haq [benar], tidak perlu diragukan sedikitpun. Karena itu Allah berfirman: tilka aayaatul kitaabi (“Ini adalah ayat-ayat al-Kitab [al-Qur’an].”) maksudnya, ini adalah ayat-ayat al-Kitab, yaitu al-Qur’an. Tetapi ada yang mengatkan, bahwa kitab itu adalah Taurat dan Injil, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah. Namun pendapat ini perlu dipertimbangkan [diteliti], bahkan pendapat ini merupakan suatu pengertian yang sangat jauh, kemudian ditambahkan lagi dengan meng’athafkan [menyambungkan] beberapa sifat padanya, dengan firman-Nya: walladziina unzila ilaika (“Dan kitab yang diturunkan kepadamu,”) hai Muhammad, mir rabbikal haqqu (“Dari rabbmu itu adalah haqq [benar].”) khabar yang mubtada’nya di depan yaitu: walladziina unzila ilaika mir rabbika (“dan kitab yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.”) inilah pendapat yang benar sesuai dengan penafsiran Mujahid dan Qatadah, sedang Ibnu Jarir berpendapat bahwa huruf wawu di sini adalah tambahan atau ‘athaf sifat kepada sifat sebagaimana telah dijelaskan.

Walaakinna aktsarannaasi laa yu’minuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman [kepadanya].”) maksudnya bahwa, walaupun sudah jelas, sudah terang, dan sudah gamblang, kebanyakan manusia tidak beriman disebabkan oleh perpecahan, keras kepala dan kemunafikan.

tulisan arab alquran surat ar ra'du ayat 2“2. Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (ar-Ra’du: 2)

Allah memberitahukan tentang kesempurnaan dan kebesaran kekuasaan-Nya yang dengan izin dan perintah-Nya meninggikan langit tanpa tiang, bahkan dengan izin, perintah dan kekuasan-Nya mengangkat langit dari bumi sampai jarak yang tidak dapat dicapai dan diketahui bilangan jaraknya. Langit yang terdekat mengelilingi bumi seluruhnya dan semua yang ada di sekitarnya berupa air dan udara di semua arah dan penjuru, tegak di atasnya dari segala sisi secara merata dan dengan jarak yang sama antara langit dan bumi dari semua arah, yakni sejauh perjalanan limaratus tahun, dan tebalnya juga sejauh perjalanan limaratus tahun. Kemudian terdapat langit kedua yang mengelilingi langit pertama [terdekat] dan ada yang ada padanya, dan jarak antara kedua langit itu sejauh perjalan limaratus tahun, dengan ketebalan seperti itu juga.

Demikian juga halnya dengan langit ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh. Sebagaimana firman Allah: AllaaHulladzii khalaqa sab’a samaawaati wa minal ardli mitslaHunna (“Allah yang telah menciptakan tujuh langit, dan dari bumi seperti itu juga.”)(ath-Thalaaq: 12)

Firman Allah: bighairi ‘amadin taraunaHaa (“Tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat.”) diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, al-Hasan, Qatadah dan lain-lain, mereka mengatakan: “Langit itu mempunyai tiang-tiang, tetapi tidak dapat dilihat.” Iyas bin Mu’awiyah berkata: “Langitdi atas bumi bagaikan kubah.” Maksudnya tanpa tiang. Pendapat ini diriwayatkan juga oleh Qatadah, dan pendapat inilah yang sesuai dengan susunan kaliamat dalam ayat ini, dan makna yang jelas dari firman Allah Ta’ala: wayumsikus samaa-a taqa’a ‘alal ardli illaa bi-idzniHi (“Dan Allah menahan langit agar tidak jatuh ke atas bumi, kecuali dengan izin-Nya.”)(al-Hajj: 65). Berdasarkan hal tersebut maka firman Allah Ta’ala: taraunaHaa (“Sebagaimana yang kalian lihat”) adalah penegasan kepada tidak adanya tiang. Maksudnya, langit itu ditinggikan tanpa tiang sebagaimana yang kalian lihat. Dan hal ini adalah kekuasaan yang paling sempurna.

Firman Allah: tsummastawaa ‘alal ‘arsyi (“Kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arsy”) penafsirannya telah dibahas dalam surah al-A’raaf. Dan Dia seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ayat ini diperlakukan [ditetapkan] sesuai apa adanya tanpa takyif [menanyakan bagaimananya], tasybih [menyerupakan dengan makhluk], ta’thil [meniadakan sifat-sifat-Nya] dan tamtsil [menyamakan Allah dengan makhluk]. Allah Mahatinggi dari semua itu.

Firman Allah: wa sakhkharasy syamsa wal qamara yajrii li ajalim musammaa (“Dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.”) ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah, matahari dan bulan itu berjalan terus sampai berhenti karena terjadi [hari] kiamat, seperti firman Allah: wasy syamsu tajrii limustaqarrillaHaa (“Dan Matahari itu berjalan pada tempat peredarannya.”)(Yaasiin: 38). Sebagian mengatakan, bahwa maksud ke tempat peredarannya itu, yaitu berada di bawah ‘Arsy di atas permukaan bumi dari sisi lain, karena matahari dan bulan serta bintang-bintang [planet-planet] lainnya bila telah sampai kesana berarti telah sampai ke tempat yang paling jauh dari ‘Arsy, karena yang benar berdasarkan dalil-dalil, ‘Arsy itu merupakan kubah yang berada di atas [menaungi] seluruh alam menurut pengertian ini, dan tidak mengelilingi seperti falak-falak lainnya, karena ‘Arsy mempunyai penyangga, dan pembawa yang mengangkatnya.

Hal seperti ini tidak dapat dibayangkan terdapat pada falak yang berbentuk bulat dan hal ini tampak jelas bagi orang yang mau merenungkan apa yang disampaikan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, segala puji dan anugerah hanya milik Allah.

Allah Ta’ala hanya menyebutkan matahari dan bulan saja dalam ayat ini karena keduanya merupakan bintang [planet] yang paling nampak jelas dari tujuh planet yang berjalan, yang lebih mulia dan lebih besar daripada bintang [planet] yang tetap diam. Jika Allah mampu menundukkan matahari dan bulan yang berjalan ini, maka Dia tentu lebih kuasa menundukkan dan mengatur bintang-bintang atau planet-planet lainnya, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah yang artinya: “Janganlah kamu bersujud menyembah kepada matahari dan janga pula kepada bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakannya, bila kamu memang beribadah kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Dan Allah pun telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya yang artinya: “Matahari, bulan dan bintang-bintang itu semua tunduk kepada perintah-Nya. ingatlah, menciptakan dan memerintahkan itu hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raaf: 54)

Firman Allah: yufashshilul aayaati la’allakum biliqaa-i rabbikum tuuqinuun (“Menjelaskan tanda-tanda [kebesaran-Nya], supaya kamu meyakini pertemuan kamu dengan Rabb-mu.”) maksudnya, Allah menerangkan ayat-ayat dan tanda-tanda yang menunjukkan, bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Allah akan mengembalikan seluruah makhluk jika menghendaki sebagaimana Dialah yang pertama kali menciptakannya.

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: