Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Thalaaq (1)

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Thalaaq (Talak)
Surah Madaniyyah; surah ke 65: 12 ayat

tulisan arab alquran surat ath-thalaq ayat 1bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, Maka Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. kamu tidak mengetahui barangkali Allah Mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” (ath-Thalaaq: 1)

Nabi saw.dijadikan lawan bicara, secara langsung sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan. Setelah itu Allah menyapa umat Islam tidak secara langsung.
Yaa ayyuHan nabiyyu idzaa thallaqtumun nisaa-a fathalliquHunna li’iddatiHinn (“Hai Nabi, jika engkau menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah engkau ceraikan mereka pada waktu mereka dapat [menghadapi] ‘iddahnya [yang wajar].”) telah disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah menceraikan Hafshah kemudian merujuknya kembali.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Syihab, Salimm memberitahuku, ‘Abdullah bin ‘Umar pernah memberitahunya, bahwa dia pernah menceraikan istrinya ketika dia dalam keadaan haidh. Kemudian ‘Umar menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. maka beliau marah dan bersabda: “Hendaknya dia merujuknya kembali, lalu menahannya hingga ia bersih dari haidhnya itu, lalu haidh dan bersih lagi. Jika masih ingin menceraikannya, maka ceraikanlah dia dalam keadaan bersih sebelum dia bercampur dengannya. Itulah ‘iddah yang telah diperintahkan oleh Allah swt.”
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari di sini, dan dia juga telah meriwayatkan di beberapa tempat dalam kitabnya.

Dan menurut riwayat Muslim dengan lafadz sebagai berikut: “Itulah ‘iddah yang telah diperintahkan Allah jika seorang laki-laki hendak menceraikan istrinya.” (HR Muslim)

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh para penulis kitab Sunan dan Musnad, melalui jalan yang beragam dan juga dengan lafadz yang banyak. Adapun lafadz yang paling mendekati adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya, melalui jalan Ibnu Juraij; Abuz Zubair memberitahuku, bahwasannya dia pernah mendengar ‘Abdurrahman bin Aiman, maula ‘Uzzah, dia bertanya kepada ‘Umar, sedang Abuz Zubair mendengarnya: “Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang menceraikan istrinya ketika sedang haidh?” Dia menjawab: “Ibnu ‘Umar pernah menceraikan istrinya ketika sedang haidh pada masa Rasulullah saw. maka beliau bersabda: ‘Hendaknya dia merujuknya kembali.’ kemudian diapun merujuknya kembali lalu beliau bersabda lagi: ‘Jika dia sudah bersih, maka ceraikanlah dia atau pertahankanlah.’ Ibnu Umar mengatakan: ‘Pada saat itu, Nabi saw. membacakan ayat: Yaa ayyuHan nabiyyu idzaa thallaqtumun nisaa-a fathalliquHunna li’iddatiHinn (“Hai Nabi, jika engkau menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah engkau ceraikan mereka pada waktu mereka dapat [menghadapi] ‘iddahnya [yang wajar].”)”

Al-A’masy meriwayatkan dari ‘Abdullah mengenai firman Allah Ta’ala: fathalliquHunna li’iddatiHinna (“Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat [menghadapi] ‘iddahnya [yang wajar].”) dia mengatakan: “Yaitu ketika bersih dan belum melakukan hubungan badan.”

Hal ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar, ‘Atha’, Mujahid, al-Hasan, Ibnu Sirin, Qatadah, Maimun bin Mihram, Muqatil bin Hayyan. Dan hal itu merupakan riwayat dari ‘Ikrimah dan adh-Dhahhak.

Mengenai firman-Nya: fathalliquHunna li’iddatiHinna (“Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat [menghadapi] ‘iddahnya [yang wajar].”) ‘Ikrimah mengatakan: “Yang dimaksud dengan ‘iddah adalah bersih, sedangkan al-qur-u berarti haidh. Seorang suami dapat menceraikan istrinya yang sedang hamil ketika diketahui jelas kehamilannya, dia tidak boleh menceraikannya sedang dia telah melakukan hubungan badan dengannya, tetapi dia tidak mengetahui apakah istrinya itu hamil atau tidak.”

Dari sinilah para fuqaha membagi masalah perceraian ini menjadi dua bagian, yaitu cerai Sunnah dan cerai bid’ah. Yang dimaksud dengan cerai sunnah adalah jika seorang suami menceraikan istrinya dalam keadaan bersih dan tidak mencampurinya atau tidak dalam keadaan hamil dan telah diketahui kebenaran hamilnya. Sedangkan cerai bid’ah adalah jika seorang suami menceraikan istrinya dalam keadaan haidh atau dalam keadaan bersih dan telah dicampuri, dan dia tidak mengetahui apakah istrinya itu hamil atau tidak. Sedangkan cara ketiga adalah bukan cerai sunnah dan bukan cerai bid’ah, yaitu menceraikan wanita yang masih kecil [belum pernah menjalani haidh], wanita tua yang sudah mengalami menopouse, dan wanita yang tidak pernah dicampuri. Dan pembahasan masalah tersebut dan hal-hal yang berkenaan dengannya terdapat dalam ktiab-kitab furu’. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: wa ahshul ‘iddah (“Dan hitunglah waktu ‘iddah itu”) maksudnya, hafalkan dan ketahuilah permulaannya agar ‘iddah itu tidak dijalani oleh wanita secara bekepanjangan sehingga dia terhalang untuk menikah lagi. wattaqullaaHa rabbakum (“dan bertakwalah kepada Allah, Rabbmu.”) yakni, dalam melakukan hal tersebut.

Firman Allah: laa tukhrijuHunna mim buyuutiHinna walaa yakhrujna (“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka [diizinkan] keluar.”) yakni, dalam masa ‘iddah itu dia masih berhak tinggal di rumah suaminya yang telah menceraikannya dan suaminya tidak boleh mengusirnya dari rumahnya itu. Di lain pihak, dia tidak boleh keluar dari rumah tersebut karena dia masih terikat dengan hak suami.

Illaa ay ya’tiina bifaahisyatim mubayyinati (“Kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.”) maksudnya para istri itu tidak boleh keluar rumah kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji secara nyata, pada saat itu dia boleh pergi dari rumah. Yang dimaksud dengan perbuatan keji secara nyata itu mencakup perbuatan zina, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin al-Musayyab, asy-Sya’bi, al-Hasan, Ibnu Sirin, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu Qilabah, Abu Shalih, adh-Dhahhak, Zaid bin Aslam, ‘Atha’ al-Khurasani, as-Suddi, Sa’id bin Abi Hilal, dan lain-lain. Dan juga mencakup tindakan nusyuz (penentangan istri terhadap suami) yang mereka lakukan atau mereka menyakiti keluarga suaminya, baik dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ubay bin Ka’ab, Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah dan lain-lain.

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: