Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Thalaaq (2)

24 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Thalaaq (Talak)
Surah Madaniyyah; surah ke 65: 12 ayat

Dan firman-Nya: wa tilka huduudullaaH (“Itulah hukum-hukum Allah”) yakni syariat dan larangan-Nya. wa may yata’adda huduudallaaHi (“Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah.”) yakni keluar dari batas-batas hukum-Nya melanggar dan tidak menerapkannya. Faqad dhalama nafsaHu (“Maka sesungguhnya dia telah berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri.”) yakni dengan mengerjakan hal tersebut.

Laa tadrii la’allallaaHa yuhditsu ba’da dzaalika amran (“Kamu tidak mengetahui barangkali Alah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”) sesungguhnya alasan Kami [Allah] menyuruh istri yang dicerai untuk tinggal di rumah suami yang telah menceraikannya selama ‘iddah itu karena barangkali saja dia menyesali perceraiannya itu dan Allah menumbuhkan semangat dalam hatinya untuk kembali merujuknya. Sehingga dengan demikian, akan lebih mudah dan gampang.

Az-Zuhri menceritakan dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah, dari Fathimah binti Qais mengenai firman-Nya: Laa tadrii la’allallaaHa yuhditsu ba’da dzaalika amran (“Kamu tidak mengetahui barangkali Alah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”) ia berkata: “Yakni rujuk.” Demikian yang dikatakan oleh asy-Sya’bi, ‘Atha’, Qatadah, adh-Dhahhak, Muqatil bin Hayyan, dan ats-Tsauri.

Bertolak dari hal tersebut di atas, beberapa ulama salaf –seperti imam Ahmad bin Hambal- dan para pengikut mereka, berpendapat bahwa wanita yang dijatuhi talak ba’in [nyata] tidak berkewajiban untuk tinggal di rumah suaminya, demikian juga wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya. Dalam hal itu mereka bersandar pada hadits Fathimah binti Qais al-Fahriyyah ketika dia diceraikan oleh suaminya, Abu ‘Amr bin Hafsh pada talak terakhir. Ketika itu Abu ‘Amr tidak berada di sisinya, tetapi ia berada di Yaman. Ia mengirimkan utusan kepada istrinya untuk menyampaikan berita itu. Abu ‘Amr mengirimkan wakilnya kepada istrinya dengan membawa gandum sebagai nafkah. Tetapi istrinya itu marah kepadanya. Maka dia [Abu ‘Amr] pun berkata: “Engkau tidak berhak mendapatan nafkah dari kami.” Setelah itu wanita tersebut mendatangi Rasulullah saw. lalu beliau pun bersabda: “Engkau sudah tidak berhak mendapatkan nafkah darinya.” Dan menurut riwayat Muslim: “Dan tidak juga tempat tinggal.”
Kemudian beliau memerintahkan istrinya itu untuk menjalani ‘iddah di rumah ummu Syuraik. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: “Dia adalah wanita yang banyak didatangi oleh para shahabatku. Jalanilah ‘iddah di rumah ummi Maktum, sesungguhnya dia itu orang buta, engkau dapat melepaskan pakaianmu.” (musnad al-Imam Ahmad dan Sunan Abi Dawud)

Imam Ahmad meriwayatkan melalui jalan lain dan lafadz yang lain pula, dimana dia berkata, Yahya bin Sa’id memberitahu kami dari Mujahid, dari ‘Amir, dia bercerita: Aku sampai di kota Madinah, kemudian aku mendatangi Fathimah binti Qais, lalu dia memberitahuku bahwa suaminya telah menceraikannya di masa Rasulullah saw. Lalu beliau mengirimkan suaminya itu untuk berperang dalam salah satu peperangan. Kemudian saudaranya berkata kepadaku: “Keluarlah dari rumah ini.” Dan kukatakan: “Aku masih berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal sampai masa ‘iddah selesai.” “Tidak bisa.” Sahutnya. Maka, lanjut Fathimah, “Aku langsung mendatangi Rasulullah saw. dan kukatakan: “Sesungguhnya si fulan telah menceraikanku, saudara laki-lakinya pun mengusirku dan menghalangiku tinggal di rumahnya dan mendapatkan nafkah.” Maka beliaupun bersabda kepada laki-laki itu: “Apa yang telah terjadi antara engkau dengan anak perempuan Qais itu?” Dia mengatakan: “Ya Rasulallah, saudaraku telah menceraikannya tiga kali sekaligus.” Rasulullah saw. bersabda: “Perhatikanlah hal itu wahai puteri keluarga Qais, yang berhak menerima nafkah dan tempat tinggal itu hanyalah istri yang dicerai suaminya selama suaminya itu berhak untuk merujuknya kembali. namun jika dia sudah tidak berhak lagi merujuknya, maka istrinya itu tidak berhak lagi mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. Keluarlah engkau dari rumah itu, dan tinggallah di rumah fulanah.” Kemudian beliaupun bersabda: “Ia adalah wanita yang sering dikunjungi shahabatku.” Lalu beliau bersabda: “Tinggallah engkau di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena dia seorang buta yang tidak dapat melihatmu.”” Kemudian dia menyebutkan hadits secara lengkap.

tulisan arab alquran surat ath-thalaq ayat 2-3“2. apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. 3. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (ath-Thalaaq: 2-3)

Allah berfirman, oleh karena itu jika wanita-wanita yang menjalani ‘iddah itu telah mencapai batas waktu ‘iddah, yakni telah sampai di penghujung masa ‘iddah dan sudah mendekatinya, tetapi masa ‘iddah belum habis secara keseluruhan, maka pada saat itu bisa saja suaminya bertekad untuk mempertahankannya, yaitu merujuknya kembali dalam lembaga pernikahan dan melanjutkan kewajibannya ketika bersama-sama dengannya, atau bisa saja suami itu tetap bertekad akan menceraikannya dengan cara yang baik, yaitu dengan tidak dicerca, tidak dicela, dan tidak dikasari, namun harus menceraikannya dengan cara yang baik dan bagus.

Wa asyHiduu dzawai ‘adlim minkum (“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.”) maksudnya untuk merujuknya kembali jika kalian bertekad untuk melakukannya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari ‘Imran bin al-Hushain, bahwasannya dia pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, lalu dia mencampurinya dan tidak ada orang yang menjadi saksi perceraian dan merujuknya, maka dia menjawab: “Dia diceraikan dan dirujuk tidak berdasarkan sunnah. Persaksikanlah perceraian dan rujuknya, dan jangan engkau ulangi.”

Mengenai firman Allah: Wa asyHiduu dzawai ‘adlim minkum (“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.”) Ibnu Jarir menceritakan: “Tidak dibenarkan pernikahan, perceraian, dan rujuk melainkan dihadiri oleh dua orang saksi yang adil, sebagaimana yang difirmankan Allah swt. kecuali karena adanya asalan yang dibenarkan.”
Bersambung ke bagian 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: