Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi (1)

26 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

Di bawah ini sedikit keterangan tentang keutamaan surah al-Kahfi dan sepuluh ayat pertama dan terakhir, yang juga merupakan pelindung dari fitnah dajjal.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Ishaq, ia menceritakan, aku pernah mendengar al-Barra’ bercerita, ada seseorang yang membaca surah al-Kahfi, sedang di dalam rumah terdapat binatang, tiba-tiba binatang itu pergi melarikan diri, lalu ia melihat dan ternyata awan atau mendung telah meliputi dirinya. Kemudian ia menceritakan hal itu kepada Nabi saw. maka beliau bersabda: “Bacalah surah al-Kahfi, karena sesungguhnya ia merupakan ketenangan yang turun bersama dengan al-Qur’an, atau turun untuk al-Qur’an.”
Demikian hadits yang diriwayatkan oleh al-bukhari dan Muslim dalam ash-Shahihain. Dan orang laki-laki yang membaca ayat tersebut adalah Usaid bin al-hudhair.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abud Darda’, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat pertama surah al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari [fitnah] Danjjal.” Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, an-Nasa-i, dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abud Darda’, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surah al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari fitnah Dajjal.” (HR Muslim dan an-Nasa-i)

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 1-5bismillaaHir rahmaanir rahiim
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”
“1. segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya; 2. sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, 3. mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. 4. dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak.” 5. mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (al-Kahfi: 1-5)

Pada awal penafsiran telah disebutkan bahwa Allah swt. memuji diri-Nya sendiri yang suci pada pembukaan dan penutupan berbagai urusan. Sesungguhnya Dia memang Mahaterpuji dalam setiap keadaan. Segala puji hanya bagi-Nya dari awal dan akhir segala sesuatu. Oleh karena itu, Dia memuji diri-Nya sendiri atas diturunkan-Nya kitab-Nya yang mulia kepada Rasul-Nya yang mulia, Muhammad saw. Yang demikian itu merupakan nikmat yang sangat besar yang diturunkan Allah Ta’ala kepada penduduk bumi, karena dengannya mereka dikeluarkan dari kegelapan menuju sinar terang benderang, dimana dia menjadikannya sebagai kitab yang lurus tiada kebengkokan di dalamnya serta tidak terdapat penyimpangan, tetapi justru memberi petunjuk ke jalan yang lurus lagi sangat jelas, terang dan nyata, yang memberikan peringatan kepada orang-orang kafir sekaligus memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. Oleh karena itu Allah berfirman: wa lam yaj’allaHuu ‘iwajan (“dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.”) maksudnya Allah swt. tidak membuat kebengkokan, penyimpangan, dan kemiringan, tetapi Dia justru membuatnya tegak lurus.

Oleh karena itu Dia berfirman: qayyimal liyundhira ba’san syadiidam mil ladunHu (“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi Allah.”) yakni bagi orang-orang yang menyalahi al-Qur’an, mendustakan serta tidak beriman kepadanya. Dia menjadikannya sebagai pemberi peringatan akan siksa yang pedih, hukuman langsung di dunia dan hukuman di akhirat kelak. Mil ladunHu (“Dari sisi-Nya”) yakni dari sisi Allah yang tidak seorang pun yang dapat memberikan siksaan seperti siksaan-Nya. Dan tidak ada pula seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.

Firman-Nya: wa yubasy-syiral mu’miniin (“Dan membawa berita gembira kepada orang-orangyang beriman.”) yakni dengan al-Qur’an, yaitu mereka yang benar keimanannya dengan mewujudkan amal shalih. Anna laHum ajran hasanan (“Bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik.”) maksudnya mereka akan diberikan balasan di sisi Allah dengan pahala yang baik. Maa kitsiina fiiHi (“Mereka kekal di dalamnya.”) bersama pahala mereka di sisi Allah, yaitu surga, yang mereka akan kekal di dalamnya; abadan (“untuk selama-lamanya”) yakni terus menerus, tidak akan lenyap dan tidak pula berakhir.

Firman Allah: wa yundziralladziina qaalut takhadzallaaHu waladan (“Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: ‘Allah mengambil seorang anak.’”) Ibnu Ishaq mengatakan: “Mereka adalah orang-orang musyrik Arab yang mengatakan: ‘Kami menyembah malaikat karena mereka adalah anak perempuan Allah.” Maa laHum biHii min ‘ilmin (“Mereka sekali-sekali tidak mempunyai pengetahuan.”) tentang ucapan itu yang sengaja mereka buat-buat dan ada-adakan. Walaa li aabaa-iHim (“begitu pula nenek moyang mereka.”) yakni, para pendahulu mereka.

Kaburat kalimatan takhruju min afwaaHiHim (“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka.”) maksudnya mereka tidak mempunyai sandaran, kecuali ucapan mereka dan tidak pula mereka mempunyai dalil yang melandasinya, melainkan hanya kedustaan dan tindakan mereka yang mengada-ada. Oleh karen itu Allah berfirman: iy yaquuluuna illaa kadziban (“Mereka tidak mengatakan [sesuatu] kecuali dusta.”)

Muhammad bin Ishaq menyebutkan sebab turunnya surah mulia ini. Dimana dia mengemukakan dari Ibnu ‘Abbas, ia bercerita: “Kaum Quraisy pernah mengutus an-Nadhar bin al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith kepada para pendeta Yahudi di Madinah, maka mereka berkata kepada kedua utusan itu: ‘Tanyakan kepada para pendeta itu tentang diri Muhammad, terangkan kepada mereka sifatnya, dan beritahukan mereka tentang ucapannya, karena sesungguhnya mereka adalah ahlul kitab pertama, mereka mempunyai apa yang tidak kita miliki, yakni ilmu pengetahuan tentang para Nabi.’ Lalu kedua utusan itupun pergi hingga akhirnya sampai di Madinah. Selanjutnya mereka bertanya kepada para pendeta Yahudi tersebut mengenai Rasulullah saw. Lalu keduanya menyampaikan masalahnya kepada mereka dan juga sebagian ucapan beliau itu. Kedua utusan itu berkata: ‘Sesungguhnya kalian adalah ahlut Taurat, kami datang kepada kalian dengan harapan kalian mau memberitahu kami tentang shahabat kami ini.’”

Lebih lanjut, Ibnu ‘Abbas menceritakan: “Maka mereka berkata kepada para utusan itu: ‘Tanyakan kepadanya [Muhammad] tentang tiga perkara yang kami memerintahkan kalian bertanya kepadanya tentang ketiganya. Jika ia memberitahukan ketiganya kepada kalian, maka ia memang seorang Nabi yang diutus. Dan jika tidak dapat menjawab ketiganya, maka ia hanyalah seorang yang banyak bicara, sehingga dengan demikian, kalian dapat melihat pendapat kalian tentang dirinya itu.
Tanyakan kepada dirinya tentang beberapa pemuda yang pergi pada masa-masa pertama, apa yang terjadi pada mereka, sesungguhnya mereka mempunyai peristiwa yang sangat aneh.
Tanyakan kepadanya tentang seorang yang berkeliling hingga sampai di belahan timur dan barat bumi ini, apa beritanya dan jawabannya tentang ruh? Jika ia memberitahukan hal itu kepada kalian, maka ia memang seorang Nabi, dan ikutilah dia. Dan jika dia tidak memberikan jawaban kepada kalian, maka sesungguhnya ia seorang yang banyak bicara. Maka berbuatlah kalian terhadap sesuatu yang tampak baik oleh kalian dari urusannya.’

Maka an-Nadhar dan ‘Uqbah berangkat sehingga menghadap kaum Quraisy seraya berkata: ‘Wahai kaum Quraisy, kami telah mendatangi kalian untu menjelaskan apa yang ada di antara kalian dengan Muhammad. Para pendeta Yahudi itu menyuruh kami menanyakan kepada Muhammad tentang beberapa hal.’

Lalu mereka memberitahukan hal itu, kemudian mereka mendatangi Rasulullah saw. Mereka bertanya: ‘Hai Muhammad, beritahukan kepada kami.’ Mereka menanyakan kepada beliau tentang apa yang diperintahkan oleh para pendeta Yahudi itu, maka Rasulullah saw. berkata kepada mereka: ‘Aku akan beritahukan apa yang kalian tanyakan itu besok hari. Dan beliau tidak mengecualikan untuk hari lainnya.’

Belum lama berselang, mereka pun bertolak meninggalkan beliau. Sedang Rasulullah saw. sendiri selama lima belas hari tinggal diam, tidak diturunkan satupun wahyu oleh Allah mengenai hal tersebut, dan tidak juga Jibril mendatangi beliau sehingga penduduk Makkah menyebarluaskan berita jahat. Mereka mengatakan: “Muhammad telah berjanji kepada kami esok hari, dan sekarang sudah lima belas hari berlalu, tetapi tidak juga memberitahu kami tentang apa yang kami tanyakan kepadanya.’

Rasulullah saw. sendiri merasa sedih karena berhentinya pengiriman wahyu kepada beliau, dan beliau juga sangat terpukul dengan ucapan penduduk Makkah. Kemudian Jibril datang kepada beliau dari Allah swt. dengan membawa surah al-Kahfi yang di dalamnya terdapat celaan kepada beliau atas kesedihannya terhadap mereka, juga memuat jawaban terhadap apa yang mereka pertanyakan mengenai para pemuda dan seorang yang berkeliling, serta firman-Nya: wa yas-aluunaka ‘anir ruuhi qulir ruuhu min amri rabbii wa maa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilan (“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan [tentangnya] melainkan hanya sedikit.’”)(Al-Israa’: 85)

Bersambung ke bagian 2

7 Tanggapan to “Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi (1)”

  1. ganif aswoko 14 April 2015 pada 16.54 #

    Sambungan tafsir surah al kahfi cari dimana?

    • untungsugiyarto 14 April 2015 pada 17.00 #

      Belum terbit, naskah lagi diedit dan belum diposting. Terimakasih atas apresiasinya…

      • oni 28 Mei 2015 pada 22.19 #

        ditunggu ya bagian 2 nya, semoga ALLAH memtakdikan segara bissa posting

  2. untungsugiyarto 17 Juli 2015 pada 15.21 #

    Aamiin…. Terimakasih atas doa baiknya. Mhn sabar menunggu.

  3. Suherman 21 November 2018 pada 18.30 #

    Subhanalloh …terima kasih artikelnya dan kami tunggu bagian berikutnya syukron

  4. T yo 16 Januari 2019 pada 07.25 #

    bismillah..izin copy buat pembelajaran in syaa ALLOH,..jazaakallohu khair..

Tinggalkan Balasan ke untungsugiyarto Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: