Arsip | 15.31

Riwayat Akabir dari Ashaghir

27 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: kata al-akabir merupakan bentuk jamak dari akbar, dan ashghir merupakan bentuk jamak dari ashghar. Yang berarti riwayat orang-orang besar dari orang-orang kecil.
b. Menurut istilah: riwayat seseorang [rawi] dari orang [rawi] lain yang lebih rendah dalam hal usia, thabaqat, ilmu atau pun hafalannya.

2. Penjelasan
Yaitu seorang rawi menjelaskan dari rawi lain yang usianya lebih muda, dan thabaqatnya lebih rendah. Contoh lebih rendah dalam hal periwayatan adalah, seperti riwayat sahabat dari tabi’in dan yang sejenisnya.
Bisa juga riwayat dari orang yang lebih rendah ilmu atau hafalannya; seperti riwayatnya seseorang yang alim lagi hafidh dari seorang syekh, walaupun syekh tersebut usianya lebih muda. Inilah yang perlu mendapat penjelasan. Jadi, orang yang usianya lebih tua atau thabaqatnya lebih dahulu tanpa ada kesamaan dalam hal ilmu daripada orang yang diberi riwayat, hal ini tidak cukup dimasukkan dalam kategori riwayat akabir dari ashaghir. Contoh-contoh berikut ini akan menjelaskannya.

3. Pembagian dan contoh-contohnya
Kita mungkin dapat membagi akabari dari ashaghir menjadi tiga bagian:
a. Jiwa rawi yang meriwayatkan itu lebih tua usianya dan lebih dahulu thabaqatnya dari pada orang yang diberi riwayat [tentu saja termasuk ilmu dan hafalannya juga].
b. Jika rawi yang meriwayatkan itu kemampuannya lebih tinggi –bukan usianya yang lebih tua- daripada orang yang diberi riwayat; seperti riwayat orang yang hafidh lagi alim, dari syekhnya yang lebih tua tetapi tidak hafidh. Contohnya, riwayat Malik dari Abdullah bin Dinar. (Malik itu imam dan hafidh; sedangkan Abdullah bin Dinar itu hanya syekh dan rawi saja, meski usianya lebih tua dari Malik)
c. Jika rawi yang meriwayatkan itu usia dan kemampuannya lebih tinggi dari pada orang yang diberi riwayat, yaitu lebih tua dan lebih berilmu. Contohnya, riwayat al-Barqani dari al-Khathib (al-Barqani itu lebih tua daripada al-Khathib, dan juga lebih tinggi ilmunya karena dia guru dan pengajarnya al-Khathib, dan lebih alim daripada al-Khathib)

4. Contoh Lain riwayat kabir dari ashaghir
a. Riwayat shahabat dari tabi’in: seperti riwayatnya Abadilah dan lainnya dari Ka’ab al-Ahbar
b. Riwayat tabiin dari tabi’i at-tabi’in: seperti riwayatnya Yahnya bin Sa’id al-Anshari dari Malik.

5. Manfaatnya
a. Supaya tidak ada persangkaan bahwa orang yang diberi riwayat itu lebih utama dan lebih tinggi dari orang [rawi] yang meriwayatkan.
b. Supaya tidak ada dugaan bahwa dalam sanad terjadi penukaran, karena memang biasanya riwayat ashaghir itu dari akabir.

6. Kitab yang populer
Yaitu kitab Ma Rawahu al-Kibar ‘ani as-Sighar al-Aba min al-Abnam, karya al-Hafidh Abu Ya’qub Ishak bin Ibrahim al-Warraq, yang wafat pada tahun 403 H.

&

Konsekuensi Cinta

27 Sep

Konsekuensi Cinta
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Cinta kita pada sesuatu menuntut kita untuk mencintai apa yang dincintainya dan membenci apa yang dibencinya. Kebencian kita pada sesuatu yang dicintainya akan menjadikan kebenciannya kepada kita. Cinta kita pada sesuatu yang dibencinya juga akan menjadikan kebenciannya pada kita. Adalah lazim dalam tradisi cinta mencintai bahwa kekasih senantiasa berusaha menyatu dengan kekasihnya. Ia merasakan apa yang dirasakan oleh kekasihnya. Ia sedih dengan kesedihannya, ia bahagia dengan kebahagiaannya, menderita dengan penderitaannya, ia gembira dengan kegembiraannya.
Konsekuensi cinta lebih lanjut akan diuraikan berikut ini:

1. Mencintai siapa yang dicintai sang kekasih
Mencintai siapa saja yang dicintai kekasih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cinta kepada kekasihnya itu. Lafadz man [siapa] biasanya digunakan untuk yang berakal meskipun kada ada juga sebagian orang yang menggunakannya untuk yang tidak berakal. Penggunaan lafadz man untuk orang yang tidak berakal biasanya terjadi dalam personifikasi pada karya-karya sastra baik prosa maupun puisi. Al-Qur’an sendiri kadang menggunakan lafadz ini untuk yang tidak berakal. Mereka yang dicintai Allah adalah para malaikat-Nya, para nabi dan rasul, para shiddiqiin, syuhada, dan shalihin (an-Nisaa’: 69)

2. Mencintai apa yang dicintai oleh kekasih
Ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari cintanya kepada kekasihnya itu. Lafadz maa [apa] biasanya digunakan untuk yang tidak berakal meskipun kadang ada juga sebagian orang yang menggunakannya untuk yang berakal. Penggunaan lafadz maa untuk yang berakal biasanya terjadi dalam karya-karya sastra baik prosa maupun puisi bahkan al-Qur’an sendiri kadang menggunakan lafadz ini untuk yang berakal.

Mencintai apa dan siapa pun yang dicintai dalam konteks cinta kepada Allah, tidak terlepas dari kalimat tauhid bagian kedua. Kata wala’, mempunyai pengertian bahwa orang yang mencintai Allah sudah barang tentu mencintai apa dan siapa saja yang memiliki hubungan wala’ tersebut [cinta, loyalitas, solidaritas, kepemimpinan, perlindungan, keberpihakan, pembelaan, ketaatan dan sejenisnya]

3. Membenci siapa saja yang dibenci sang kekasih
Sebagaimana cinta, kebencian kekasih juga ditujukan kepada pihak-pihak yang dibenci kekasihnya. Dalam konteks cinta kepada Allah, kebencian mukmin ditujukan kepada siapa saja yang tidak berpihak kepada Allah yaitu iblis dan syaitan [baik dari kalangan jin maupun manusia]. Bahkan Allah secara eksplisit menyuruhnya untuk menjadikan syaitan sebagai musuh.

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, karena itu jadikanlah ia sebagai musuhmu. Sesungguhnay setan-setan itu hanya menyeru kelompoknya agar mereka menjadi bagian dari penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

4. Membenci apa yang dibenci oleh kekasih
Dalam konteks cinta kepada Allah, seorang mukmin harus membenci apa yang dibenci oleh Allah berupa kemungkaran, kemaksiatan, kedhaliman, kefasikan, kemunafikan, dusta, kebodohan, kesesatan, kemusyrikan, dan kerusakan-kerusakan lainnya. Barangkali kata fasad [kerusakan] ini merupakan istilah yang dapat merepresentasikan segala hal yang dibenci Allah.
“Padahal Allah tidak menyukai kerusakan.” (al-Baqarah: 205)
Termasuk implementasi dari kalimat tauhid bagian pertama adalah bara’ [berlepas diri dan tidak berpihak kepada siapa dan apa saja yang dibenci Allah].

&

Tingkatan Cinta

27 Sep

Tingkatan Cinta
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Tidak dipungkiri, cinta akan membawa dampak terjadinya penghambaan dari yang mencintai kepada yang dicintainya. Secara fitri manusia sebagai makhluk mencintai al-Khaliq, Allah. Namun tidak dipungkiri pula bahwa ada sekadar hubungan cinta manusia kepada selain Allah. Melihat dampaknya yang demikian besar maka manusia [apabila ia adalah muslim] harus menata cintanya dengan baik. Jangan sampai cinta kepada sesuatu menyebabkan terjadinya keburukan pada dirinya maupun pihak lain.

Setiap yang dikenalnya akan mendapatkan sentuhan cinta darinya. Allah sebagai Tuhannya, Rasulullah saw. sebagai Nabinya, Islam sebagai agamanya, mukmin sebagai saudara seiman, muslim yang merupakan saudara seagama, manusia yang merupakan saudaranya sesama manusia, dan alam sekitar dimana dia hidup, semua mendapat bagian tertentu dari cintanya itu. Sudah barang tentu, cintanya kepada semua itu tidak akan sama besar. Cinta tertinggi diberikan kepada Allah. Cintanya kepada yang lain adalah dalam rangka cinta kepada Allah. Melihat dampak yang akan terjadi dalam cinta itu, berikut ini dibicarakan tingkatan-tingkatannya:

1. Hubungan terendah dalam cinta adalah hubungan biasa-biasa saja. cinta dengan tingkat ini diberikan kepada materi maupun fasilitas hidup di dunia, baik itu hewan, tumbuhan maupun benda-benda lainnya. Semua materi yang ada di langit dan di bumi Allah ditundukkan untuk manusia sebagai fasilita hidup dalam rangka ibadah kepada-Nya.

2. Cintanya kepada sesama manusia ada pada tingkat ‘athf [simpati]. Dengan cinta ini dia dakwahi sesama manusia agar mereka selamat di dunia dan di akhirat, terhindar dari hal-hal yang tidak baik.

3. Shabaabah [empati] diberikan kepada manusia yang muslim lagi mukmin. Disini dia merasakan adanya hubungan persaudaraan dengannya.

4. Asy-syauq [kerinduan] diberikan kepada manusia yang muslim lagi mukmin. Kepada merekalah kedekatan cinta dan kasih sayang diberikan.

5. Cinta kepada Rasul tidak sampai ke tingkat penghambaan. Cinta kepada Rasul saw. dan Islam yang diajarkannya ada pada tingkat ‘isyq [kemesraan] yang diwujudkan dengan menteladaninya.
“Katakanlah hai Muhammad, jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”(Ali ‘Imraan: 31)

6. Cinta tertinggi kalau terjadi tatayyun [penghambaan] dimana seseorang akan menghamba dan menyembah apa yang ia cintai. Cinta dengan tingkat semacam ini hanya boleh diberikan kepada Allah.

Hubungan dengan tingkat perasaan cinta yang tertinggi, sudah barang tentu meliputi perasaan dan tingkat cinta di bawahnya. Sebaliknya, cinta kepada sesuatu yang ada di bawahnya tidak boleh melebihi cinta dan perasaan dan tingkat yang diberikan kepada yang di atasnya. Cinta kepada materi misalnya tidak boleh sampai pada tingkat simpati yang kemudian ditindaklanjuti dengan ajakan, apalagi tujuan. Manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding materi. Memberikan cinta kepada materi dengan tingkat simpati yang kemudian dilanjutkan dengan ajakan adalah perbuatan sia-sia.

Hakikat ini Allah ungkapkan dalam kitab suci-Nya dalam mengkritik kaum musyrikin:
“Dan tuhan-tuhan yang kalian seru [sembah] selain Allah tiada memiliki walaupun hanya sehelai qithmiir [kulit ari yang ada pada biji-bijian]. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak dapat mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaanmu.” (Fathir: 13-14)

Dengan ini dapat dimengerti betapa bodoh dan sesatnya orang yang memberikan cinta kepada materi dunia sampai pada tingkat menghamba dan menyembah. Na’udzubillaaH.

&

Cinta kepada Allah

27 Sep

Cinta kepada Allah
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Cinta seseorang pada sesuatu terjadi karena ada dorongan, baik positif maupun negatif. Namun yang jelas ada hal menarik, menyenangkan, dan memberi harapan dibalik cinta itu. Melihat sifatnya, secara umum dorongan cinta itu terbagi menjadi dua yaitu: cinta syar’i yang lahir karena dorongan iman dan cinta tidak syar’i yang timbul karena nafsu. Islam memandang bahwa nafsu itu sifatnya fithri, sehingga Islam tidak mematikan atau mengebirinya. Mengapa? Karena dorongan cinta tersebut dapat dimanfaatkan untuk hal-hal positif dan produktif apabila dikendalikan dengan arif. Kaidah-kaidah syar’iyah yang berfungsi sebagai pagar untuk membimbing dan mengendalikan nafsu supaya tidak melewati batas-batas Allah. Sinergi yang baik antara iman dan nafsu akan menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, bila tidak dikendalikan ia akan mendatangkan bencana dan petaka di dunia dan di akhirat.

Tanda cinta
Cinta apapun, baik sesuatu yang bersifat syar’i maupun yang tidak syar’i, akan menunjukkan tanda-tanda yang dapat kita tengarai dengan jelas. Di antaranya adalah: banyak mengingat/ menyebut, kagum, ridla, berkorban, cemas, berharap, dan taat.

1. Banyak menyebut
Karena Allah adalah yang paling pantas untuk diharap dan ditakuti maka sudah seharusnya apabila dia paling sering diingat-ingat dan disebut-sebut. Sebab, banyak mengingat dan menyebut Allah merupakan salah satu sebab kemenangan.
“Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah [nama] Allah sebanyak-banyaknya agar kamu mendapat kenemangan.” (al-Anfaal: 45)

2. Kagum
Karena keindahan, kebesaran, kekuasaan, dan sisi-sisi kesempurnaan lainnya, orang akan mengagumi pihak yang dicintainya. Allah-lah yang memiliki segala sifat kesempurnaan karena itu Allah pulalah yang paling berhak untuk mendapat segala bentuk pengagungan. Segala puji bagi Allah, bagaimana pun kondisi yang dialami dan apapun yang terjadi.

3. Ridla
Cinta menyebabkan orang rela terhadap apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya. Apapun yang dilakukan oleh kekasihnya, menurut pandangannya selalu baik, meskipun kadang menimbulkan kerugian fisik/ materi pada dirinya. Baginya merupakan keberuntungan dan kemenangan apabila kekasihnya ridla kepadanya, meskipun ia harus mengorbankan segala sesuatu yang paling berharga dalam dirinya.

4. Berkorban
Bagi orang yang cinta, kebahagiaan bahkan merupakan puncak kebahagiaannya adalah apabila ia telah berkorban demi cintanya. Semakin besar cintanya, semakin besar pengorbanan yang dilakukan. Semakin besar cinta yang didapatkan dari kekasihnya, semakin besarlah kebahagiaannya.

5. Cemas
Dalam waktu yang sama ia cemas bila cinta tidak terbalas. Perasaan ini mendorongnya untuk selalu berusaha maksimal mencari ridla kekasihnya. Apapun dilakukan untuk mengobati kecemasannya.

6. Berharap
Ia tidak pernah berputus asa andai apa yang dia harapkan dari kekasihnya belum juga didapat, sebab memang tidak ada harapan lain baginya. Harapan kepada Allah itulah yang menggerakkan dan mengarahkan langkah kehidupan seseorang.

7. Taat
Karena terlalu banyak mengingat, selalu kagum, senantiasa ridla, rela berkorban, selalu cemas dan berharap, maka ia selalu mentaati semua perintah dan menjauhi segala larangan Allah.

Semua perasaan di atas berpadu menjadi satu dalam cinta. Cinta yang terbesar dan paling utama diberikan kepada Allah. Sedangkan cinta kepada yang lain harus dalam kerangka cinta-Nya.

&

Makna-Makna Laa ilaaHa illallaaH

27 Sep

Makna-Makna Laa ilaaHa illallaaH
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Pada pembahasan tentang makna ilaah telah kita pahami sebagian dari makna kalimat tauhid. Berikut ini disebutkan makna-makna lainnya dengan merujuk pada Al-Qur’an dan sunnah. Sebelumnya perlu diketahui bahwa lafadz itu berbunyi laa ilaaHa –dengan nashab [fathah] di atas manfi [ilaaHa] dan bukan ilaaHun- artinya tidak ada ilaah sama sekali. Kemudian illallaaH yang artinya kecuali Allah. Sehingga kalimat ini bermakna:

1. Tidak ada yang pencipta sebenarnya kecuali Allah.
“Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqaan: 2)
2. Tidak ada pemberi rizky yang sebenarnya kecuali Allah.
“Sesungguhnya Allah, Dia lah yang Maha Pemberi rizky yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (adz-Dzaariyaat: 58)
3. Tidak ada pemilik sebenarnya kecuali Allah
“dan kepunyaan-Nya lah segala yang di langit dan di bumi.” (an-Nisaa’: 131-132)
4. Tidak ada yang berhak membuat hukum kecuali Allah
“Keputusan [hukum] itu hanyalah milik Allah.” (Yusuf: 40)
“Maka patutkah aku mencari hakim selain Allah?” (al-An’am: 114)
5. Tidak ada yang memberi perintah kecuali Allah
“ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.” (al-A’raaf: 54)
6. Tidak ada yang memimpin [melindungi] kecuali Allah
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; ….sedang orang-orang kafir pelindung-pelinndungnya adalah thaghut.” (al-Baqarah: 257)
7. Tidak ada yang dicintai kecuali Allah.
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)
8. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah.
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, senantiasa menegakkan shalat; menunaikan zakat, dan tidak takut [kepada siapapun] kecuali kepada Allah.” (at-Taubah: 18)
9. Tidak ada yang diharapkan kecuali Allah
“Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap.” (al-Insyirah: 8)
10. Tidak ada yang memberi manfaat maupun mudharat kecuali Allah
“Jika Allah menimpakan suatu kemudlaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia sendiri. Jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-An’am: 17)
11. Tidak ada yang menghidupkan maupun mematikan kecuali Allah
“Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku adalah Yang menghidupkan dan mematikan…’” (al-Baqarah: 258)
12. Tidak ada yang mengabulkan doa kecuali Allah
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku.” (al-Baqarah: 186)
13. Tidak ada yang dimintai perlindungan kecuali Allah
“apabila kamu membaca al-Qur’an maka berlindunglah kepada Allah.” (an-Nahl: 98)
14. Tidak ada yang memberi jaminan kecuali Allah.
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka hendaklah engkau bertawakal kepada Allah.” (Ali ‘Imraan: 159)
15. Tidak ada yang diagungkan kecuali Allah
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan mengagungkan yang semestinya padahal…” (al-An’am: 91)
16. Tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Allah
“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya keada-Mu lah kami mohon pertolongan.” (al-Faathihah: 5)

&

Hidup di bawah naungan Tauhid

27 Sep

Hidup di bawah naungan Tauhid
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Setiap insan mendambakan kehidupan yang baik, penuh kebahagiaan, bebas dari rasa takut, dan memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi tidak semua orang dapat merasakan kehidupan yang demikian. Banyak orang yang selalu dihantui rasa takut dan kecemasan luar biasa, mereka merasa tidak ada yang menjamin kehidupannya. Ada di antara mereka yang mendapat jaminan akan tetapi harus mengorbankan sebagian dari kebahagiaanya. Ia selalu terombang-ambing dalam keraguan kerena harapannya ada pada lebih dari satu pihak yang ia takuti. Bila menyenangkan yang satu, yang lain marah; mendapat jaminan dari yang satu namun yang lainnya mengancam. Ini terjadi apabila orang memiliki tuhan lebih dari satu. Dua kondisi digambarkan al-Qur’an seperti seorang budak yang menjadi milik satu tuan dan seorang budak yang menjadi milik lebih dari satu tuan, yang mana masing-masing tuan menuntut loyalitas darinya.

“Allah membuat perumpamaan [yaitu] seorang budak yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat namun mereka saling berselisih dan seorang budak yang menjadi milik penuh seorang tuan. Adakah kedua budak itu sama halnya?” (az-Zumar: 29)

Kehidupan yang baik hanya akan didapat apabila orang hanya berwala’ kepada satu tuhan yang Mahasempurna yaitu Allah. Aqidahnya tentang dzat Allah, sifat-sifat, nama-nama [asma], dan perbuatan-Nya harus benar sesuai dengan prinsip-prinsip tauhid, yang diajarkan oleh Rasulullah saw., yaitu mentauhidkan Allah dalam hal:

1. Asma dan sifat
Dalam hal asma dan sifat ini yakin bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Asma Allah lebih dari yang kita ketahui karena Allah masih merahasiakan nama-nama-Nya sebagaimana dikatakan Rasulullah saw. dalam doa: “…aku mohon dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamai diri-Mu sendiri, atau yang Kau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau Kau turunkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu..”

2. Rububiyah
Ia yakin bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan dirinya, menciptakan alam semesta dan segala yang ada di langit dan di bumi sebagai fasilitas hidup. Allah swt. tundukkan seluruh alam serta isinya untuk jaminan kehidupannya, memberi rizky tiasa habis-habisnya, memelihara, dan melindungi keselamatannya.

3. Mulkiyah
Ia yakin bahwa Allah Yang Menguasai seluruh kerajaan langit dan bumi. Allah adalah Pemilik segala kerajaan.
“Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ali ‘Imraan: 26)

4. Uluhiyah
Bahwa karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya itu, Allah adalah salah satunya Dzat yang berhak disembah.

Dengan demikian ketika mengikrarkan laa ilaaHa illallaaH seseorang yakin seyakin-yakinnya bahwa tiada tuhan selain Allah, tidak ada yang dicintai dan dituju selain Allah; Raja yang ditaati dan disembah.
Bila demikian yang diyakini seseorang, pada saat itulah ia merasa kehidupan yang baik yang Allah janjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Maryam Ayat 1-6

27 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam
Surah Makkiyyah; surah ke 19: 98 ayat

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dalam as-Siirah dari hadits Ummu Salamah serta Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Mas’ud dalam kisah hijrah dari Makkah ke Ethiopia, bahwa Ja’far bin Abi Thalib membacakan awal-awal surah ini kepada Raja Najasyi dan para pendukungnya.

tulisan arab alquran surat maryam ayat 1-6bismillaaHir rahmaanir rahiim
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”
“1. Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. 2. (yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, 3. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. 4. ia berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. 5. dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, 6. yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. (Maryam: 1-6)

Pembicaraan tentang huruf-huruf terputus telah dibahas pada awal surah al-Baqarah.
Firman-Nya: dzikru rahmati rabbika (“Penjelasan tentang rahmat Rabb-mu.”) yaitu ini adalah penjelasan tentang rahmat Allah kepada hamba-Nya yaitu Zakariya as. Yahya bin Ya’mar membaca: dzikru rahmati rabbika ‘abdaHuu zakariyyaa (“Mengingatkan tentang rahmat Rabb-mu kepada hamba-Nya Zakariya.”) dibaca panjang atau pendek adalah dua qiraat yang masyhur. Beliau adalah seorang nabi besar di antara para Nabi Bani Israil. Di dalam shahih al-Bukhari dinyatakan bahwa beliau adalah seorang tukang kayu yang mencari nafkah sendiri melalui pertukangannya itu.

Firman-Nya: idznaadaa rabbaHuu nidaa-an khafiyyan (“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabb-nya dengan suara yang pelan.”) sebagian ahli tafsir berkata: “Beliau [Zakariya] menyembunyikan suara doanya agar permohonannya mendapatkan anak tidak dinilai mengada-ada karena ketuaannya.” Pendapat ini diceritakan oleh al-Muwardi. Sedangkan ahli tafsir yang lain berkata: “Beliau menyembunyikan doanya karena hal tersebut lebih disukai oleh Allah.” Sebagaimana Qatadah berkata tentang ayat ini: idznaadaa rabbaHuu nidaa-an khafiyyan (“Yaitu, tatkala ia berdoa kepada Rabb-nya dengan suara pelan.”) sesungguhnya Allah mengetahui hati yang bertakwa dan mendengar suara yang tersembunyi. Sebagian ulama salaf berkata: “Beliau bangun di waktu malam di saat orang lain sedang tidur. Beliau berbisik dengan Rabb-nya, berkata dengan penuh kelembutan: “Ya Rabbi, Ya Rabbi.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Labbaik, labbaik, labbaik.”
Qaala rabbi innii waHanal adhmu minnii (“Dia berkata: ‘Ya Rabbi, sesungguhnya tulangku telah lemah.”) yaitu kekuatanku telah lemah dan hilang, dan telah muncul uban di bagian kepalaku yang hitam. Sebagaimana perkataan Ibnu Duraid dalam sajaknya:
Tidakkah engkau lihat warna kepalaku bagikan
Kilatan shubuh di bawah ekor kegelapan
Yang putih menyala dalam kehitamannya
Bagaikan kobaran api dalam bara sekam

Yang dimaksud adalah mengabarkan tentang kelemahan, ketuaan serta tanda-tanda dhahir dan bathinnya.

Firman-Nya: walam akum bidu’aa-ika rabbi syaqiyyan (“Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbi.”) yaitu aku tidak meminta kepadamu kecuali dalam berdoa dan Engkau tidak menolak permintaanku.

Firman-Nya: wa innii khiftul mawaaliya miw waraa-ii (“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalanku.”) kebanyakan ulama membacanya dengan nashab [fathah] ya’ pada kalimat almawaaliya yang menjadi maf’ul. Sedangkan riwayat al-Kisa-i adalah mensukunkan huruf ya’.

Mujahid, Qatadah, dan as-Suddi berkata: “Yang dimaksud almawali adalah pewaris ‘ashabah.” Sedangkan Abu shalih berkata: “Yaitu pewaris Kalalah. Menurut qiraat pertama, kekhawatiran beliau adalah [jikalau] mereka melakukan tindakan buruk kepada manusia sepeninggalannya. Maka ia meminta anak kepada Allah untuk menjadi Nabi sepeninggalannya agar ia dapat mendidik dan memimpin mereka dengan kenabiannya sesuai dengan wahyu yang diberikan. Lalu permintaannya itu dikabulkan. Dia sama sekali tidak merasa khawatir tentang harta yang dimilikinya bagi para ahli warisnya. Karena, posisi kenabian lebih tinggi kedudukannya dan lebih mulia ukurannya dibandingkan keinginannya pada harta. Di dalam ash-Shahihain tercantum dari berbagai jalan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kami [para Nabi] harta kami tidak diwariskan. Apa yang kami tinggalkan menjadi shadaqah.”
Di dalam satu riwayat at-Tirmidzi dengan isnad yang shahih: “Sesungguhnya kami para Nabi, harta kami tidak diwariskan.”

Atas dasar ini, firman-Nya: faHablii mil ladunka waliyyan. Yaritsunii (“maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putera yang akan mewarisiku.”) ditujukan kepada warisan kenabian. Untuk itu Dia berfirman: wa yaritsu min aali ya’quuba (“Dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub.”) seperti firman-Nya: wa waritsa sulaimaanu daawuuda (“Dan Sulaiman mewarisi Dawud”) yaitu dalam kenabian. Karena seandainya hal tersebut adalah harta, mengapa hanya dikhususkan untuknya, bukan untuk saudara-saudaranya yang lain. Di dalam berita itu pula mengandung faedah yang besar. Karena sebagaimana yang telah dimaklumi dan telah ditetapkan dalam seluruh syariat dan agama bahwa anak mewarisi harta ayahnya. Seandainya hal itu bukan warisan khusus, niscaya tidak akan dikabarkan. Semua itu telah ditetapkan dan dipastikan. Apa yang sudah shahih dalam hadits: “Kami [para Nabi] harta kami tidak diwariskan. Apa yang kami tinggalkan menjadi shadaqah.”

As-Suddi berkata dari Malik, dari Zaid bin Aslam: wa yaritsu min aali ya’quubaq (“dan mewarisi sebagian keluarga Ya’quub”) yaitu kenabian mereka. wallaaHu a’lam.”)

Firman-Nya: waj’alHu rabbi ra-dliyyan (“Dan jadikanlah ia wahai Rabbku seorang yang diridlai.”) yaitu diridlai di sisi-Mu dan di sisi makhluk-Mu. Engkau mencintainya dan menanamkan rasa cinta kepadanya bagi makhluk-Nya karena agama dan akhlaknya.

Bersambung ke bagian 2