Arsip | 15.59

Mengetahui Gelar (Laqab)

3 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi menurut bahasa
Alqab itu jamak dari kata laqab. Laqab merupakan sifat yang menunjukkan keutamaan atau kelemahan, atau yang menunjukkan pujian atau celaan.

2. Maksud pembahasan
Mencari dan mengkaji mengenai laqab para ahli hadits dan para perawi untuk mengenalnya dan menghafalnya.

3. Manfaatnya
a. Menghilangkan dugaan terhadap berbagai laqab yang sama; dan mengetahui bahwa adakalanya seseorang itu disebut dengan namanya, di waktu lain disebut laqabnya, sehingga disangka dua orang, padahal satu orang.
b. Untuk mengetahui penyebab dilekatkannya laqab terhadap perawi, sehingga dapat diketahui maksud yang sebenarnya dari laqab yang seringkali maknanya banyak berbeda dengan penampakannya.

4. Pembagiannya
a. Tidak boleh dikenalkan dengannya: yaitu jika dia [yang mendapatkan laqab] tidak menyukainya
b. Boleh dikenalkan dengannya: yaitu jika dia [yang mendapatkan laqab] tidak membencinya.

5. Contoh
a. Ad-Dlal: ini laqab bagi Mu’awiyah bin Abdul Karim ad-Dlal, diberi laqab ini karena dia pernah tersesat di jalan kota Makkah
b. Ad-Dlaif: ini laqab bagi Abdullah bin Muhammad ad-Dlaif, diberi laqab ini karena badannya lemah, bukan haditsnya yang lemah. Abdul Ghani bin Sa’id berkata: “Dua orang laki-laki yang sama-sama memiliki kemuliaan tetapi memiliki laqab yang buruk, yaitu ad-Dlal dan ad-Dla’if.”
c. Ghundar: artinya si pengacau [pembuat keributan], ini menurut penduduk Hijaz. Laqab ini ditujukan bagi Muhammad bin Ja’far al-Bashri, shahabat dari Syu’bah. Penyebab munculnya laqab ini adalah, bahwa Ibnu Juraij datang ke kota Bashrah, kemudian menuturkan hadits dari Hasan al-Bashri, tetapi mereka mengingkari hadits tersebut dan membuat kegaduhan, dan orang yang paling membuat kegaduhan adalah Muhammad bin Ja’far, sehingga dikatakan kepadanya: “Diamlah hai pengacau!”
d. Ghunjar: laqab bagi Isa bin Musa at-Taimi. Laqab ghunjar karena warna merahnya dan kebunnya.
e. Sha’iqah: laqab bagi Muhammad bin Ibrahim al-Hafidh. Bukhari meriwayatkan haditsnya. Diberi laqab ini karena kuat hafalan dan ingatannya.
f. Musyukudanah: laqab bagi Abdullah bin Umar al-Umawi. Arti dalam bahasa Persia, yaitu biji dari minyak wangi atau tempat minyak wangi.
g. Muthayyan: laqab bagi Abi Ja’far al-Hadlrami. Disebut begitu karena sewaktu masih kecil, dia bermain-main air dengan teman-temannay, kemudian punggungnya dilumuri tanah. Abu Nu’aim berkata kepadanya: “Wahai muthayyan, mengapa engkau tidak menghadiri majelis ilmu?”

6. Kitab yang populer
Sekelompok ulama yang terdahulu maupun yang kontemporer telah menyusun kitab membahas masalah ini. Kitab yang palingt baik dan ringkas adalah Nuzhatu al-Albab, karya Hafidh Ibnu Hajar.

&

Mengetahui Sejarah para Perawi

3 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: tawarikh itu merupakan bentuk jamak dari tarikh, yang merupakan mashdar dari arrakha, huruf hamzah yang ada di dalamnya dipermudah.
b. Menurut istilah: pengetahuan mengenai waktu yang merekam kondisi rawi, baik kelahirannya, kematiannya, berbagai kejadian yang dialaminya dan lain-lain.

2. Maksud pembahasan
Untuk mengetahui sejarah [biografi] kelahiran perawi, tata cara mendengar dari guru-gurunya, kedatangannya di berbagai negeri, dan meninggalnya.

3. Urgensi dan manfaatnya
Ini termasuk cabang ilmu hadits yang penting. Sufyan ats-Tsauri berkata: “Tatkala perawi berbuat dusta maka kita melakukan penelusuran sejarah hidupnya. Di antara manfaatnya adalah mengetahui bersambungnya atau terputusnya sanad.”
Pernah suatu kaum telah meriwayatkan dari kaum lain, lalu ditelusuri dalam sejarah, ternyata, ternyata kaum tersebut menerima riwayat setelah mereka meninggal beberapa tahun sebelumnya.

4. Contoh-contoh Fakta sejarah
a. Pendapat yang shahih mengenai usia Nabi Muhammad saw. sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar ra. adalah 63 tahun.
– Rasulullah saw. wafat pada waktu dluha, hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun ke 11 H
– Abu Bakar ra. wafat pada bulan Jumadil Ula, tahun ke 13 H.
– Umar ra. wafat pada bulan Dzulhijjah, tahun ke 23 H.
– Utsman ra terbunuh pada bulan Dzulhijjah, tahun ke 35 H, usianya 82 tahun, tetapi ada yang mengatakan 90 tahun.
– Ali ra. terbunuh pada bulan Ramadhan, tahun ke 40 H, usianya 63 tahun.
b. Dua orang shahabat yang hidup 60 tahun pada masa Jahiliyyah dan 60 tahun pada masa Islam, serta meninggal di Madinah pada tahun 54 H adalah:
– Hakim bin Hizam
– Hasan bin Tsabit
c. Pemilik madzab yang mempunyai pengikut:
– Nu’man bin Tsabit, lahir tahun 80 H, dan wafat tahun 150 H
– Malik bin Anas, lahir tahun 93 H, dan wafat tahun 179 H
– Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 204 H
– Ahmad bin Hanbal, lahir tahun 164 H, dan wafat tahun 241 H.
d. Penyusun kitab-kitab rujukan:
– Muhammad bin Ismail al-Bukhari, lahir tahun 194 H dan wafat tahun 256 H
– Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, lahir tahun 204 H dan wafat tahun 261 H
– Abu Daud as-Sijistani, lahir tahun 202 H dan wafat tahun 275 H
– Abu Isa at-Tirmidzi, lahir tahun 209 H, dan wafat tahun 279 H
– Ahmad bin Syu’aib an-Nasai, lahir tahun 214 H, dan wafat tahun 303 H.
– Ibnu Majah al-Quzwaini, lahir tahun 207 H, dan wafat tahun 275 H

5. Kitab yang Populer
a. Al-Wafayat, karya Ibnu Zabr Muhammad bin Ubaidillah ar-Rabi’i, ahli hadits dari kota Damaskus, wafat tahun 379 H. Beliau menyusun dua kitab sunan.
b. Pemberi keterangan [lampiran] pada kitab terdahulu, di antaranya al-Kittani, al-Akfani dan al’Iraqi, di samping yang lainnya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa Ayat 1-8

3 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 1-8bismillaaHir rahmaanir rahiim
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”
“1. Thaahaa*. 2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; 3. tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), 4. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. 5. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy. 6. kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. 7. dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. 8. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik).” (Thaahaa: 1-8)

* Thaahaa Termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian daripada surat-surat Al Quran, ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Firman Allah Ta’ala: maa anzalnaa ‘alaikal qur-aana litasyqaa (“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”) Juwaibir meriwayatkan dari adh-Dhahhak, setelah Allah menurunkan al-Qur’an kepada Rasul-Nya, maka beliau dan juga para shahabatnya melaksanakannya, lalu orang-orang musyrik dari kaum Quraisy berkata: “Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada Muhammad agar dia menadi susah.” Maka Allah ta’ala menurunkan ayat ini: ThaaHaa. maa anzalnaa ‘alaikal qur-aana litasyqaa, illa tadzkiratal limay yakhsyaa (“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut [kepada Allah].”) kenyataan yang terjadi tidak seperti yang diakui oleh orang-orang sesat itu, tetapi barangsiapa yang diberi ilmu oleh Allah, berarti Dia telah menghendaki kebaikan yang banyak baginya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam kitab ash-Shahihain dari Mu’awiyah, dimana dia bercerita, Rasulullah saw. berabda: “Barangsiapa yang Allah mengehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memahamkan ilmu agama kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mengenai firman-Nya: maa anzalnaa ‘alaikal qur-aana litasyqaa (“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”) Qatadah mengemukakan: “Tidak. Demi Allah, Allah tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang menyusahkan, tetapi justru Dia menjadikannya sebagai rahmat, cahaya dan petunjuk ke surga.” Illaa tadzkiratal limay yakhsyaa (“tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut [kepada Allah].”) sesungguhnya Allah menurunkan kitab-Nya dan mengutus Rasul-Nya agar orang yang ingat semakin ingat, dan orang yang mendengar bisa mengambil manfaat dari apa yang didengarnya dari kitab Allah. Dan al-Qur’an merupakan peringatan yang diturunkan oleh Allah yang memuat ketetapan halal dan haram-Nya.

Firman-Nya: tanziilam mimman khalaqal ardla was samaawaatil ‘ulaa (“Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.”) artinya al-Qur’an yang datang kepadamu, hai Muhammad, adalah diturunkan dari Rabbmu, Rabb pemelihara segala sesuatu sekaligus pemiliknya yang kuasa atas segala yang Dia kehendaki, yang Dia telah menciptakan bumi dengan kerendahan dan kepadatannya, juga menciptakan langit yang tinggi dengan ketinggiannya dan juga kelembutannya. Telah disebutkan dalam hadits yang dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan juga perawi lainnya, bahwa ketebalan setiap langit itu sama dengan perjalanan lima ratus tahun, dan jarak antara satu langit dengan langit lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun.

Firman-Nya: arrahmaanu ‘alal ‘arsyis tawaa (“[yaitu] Yang Mahapemurah, yang bersemyam di atas ‘Arsy.”) pembahasan mengenai masalah ini telah diberikan di surah al-A’raaf. Jalan yang paling selamat dalam hal tersebut adalah manhaj Salaf, yaitu menetapkan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Hadits tanpa takyif [menanyakan bagaimana], tahrif [penyimpangan], tasybih [penyerupaan], ta’thil [penolakan], dan tamtsil [persamaan].

Firman-Nya selanjutnya: laHuu maa fis samaawaati wamaa fil ardli wa maa bainaHumaa wa maatahtats tsaraa (“Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.”) maksudnya, segala sesuatu adalah milik-Nya, berada di bawah kendali, kehendak, keinginan, dan keputusan-Nya, dan Dialah Pencipta semua itu sekaligus Rajanya dan juga Rabbnya, yang tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia, dan tidak juga ada Rabb selain Dia semata.

Firman-Nya: wa maa tahtats tsaraa (“Dan semua yang ada di bawah tanah.”) Muhammad bin Ka’ab mengatakan, yakni, apa yang terdapat di bawah bumi ketujuh. wallaaHu a’lam.

Firman-Nya: wa in tajHar bil qauli fa innaHuu ya’lamus sirra wa akhfaa (“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunui.”) maksudnya, yang menurunkan al-Qur’an ini adalah Rabb yang telah menciptakan bumi dan langit yang tinggi, dan Dia mengetahui segala rahasia yang lebih tersembunyi lagi. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: ya’lamus sirra wa akhfaa (“Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi.”) Dia mengetahui: assirru; adalah yang dirahasiakan oleh anak cucu Adam di dalam dirinya. Wa akhfaa; yakni apa yang tersembunyi pada anak cucu Adam yang dia akan menjadi pelakunya sebelum dia mengetahuinya. Dengan demikian Allah Ta’ala mengetahui semuanya itu. Ilmu-Nya tentang hal-hal yang telah berlalu dan yang masih berjalan adalah satu. Dan bagi-nya, dalam hal itu semua makhluk adalah seperti satu jiwa. Itulah makna firman-Nya: maa khalqukum wa laa ba’tsukum illaa kanafsiw waahidatin (“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu [dari dalam kubur] itu melainkan hanyalah seperti [menciptakan dan membangkitkan] satu jiwa saja.”)( Luqman: 28)

Mengenai firman-Nya: ya’lamus sirra wa akhfaa (“Dia mengetahui segala rahasia dan yang telah tersembunyi.”) adh-Dhahhak mengatakan, yang disebut rahasia adalah yang terbetik di dalam jiwamu, sedangkan yang tersembunyi adalah apa yang belum terbetik di dalam dirimu.
Sedangkan menurut Sa’id bin Jubair, artinya kamu mengetahui apa yang kamu rahasiakan hari ini, tapi tidak mengetahui apa yang kamu rahasiakan besok. Sedangkan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan hari ini dan apa yang kamu rahasiakan besok.

Mujahid mengatakan: wa akhfaa (“dan yang telah tersembunyi.”) yakni rasa was-was.

Firman Allah: AllaaHu laa ilaaHa illaa Huwa laHul asmaa-ul husnaa (“Dialah Allah, tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia. Dia mempunyai al-Asmaa-ul husna [nama-nama yang baik].”) maksudnya Rabb yang telah menurunkan al-Qur’an kepadamu itu adalah Allah yang tiada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang baik [Asmaul husna] dan sifat-sifat yang tinggi. Dan telah dikemukakan penjelasan beberapa hadits yang berkenaan dengan Asmaul husna pada bagian akhir surah al-A’raaf. alhamdulillaaH.

Bersambung ke bagian 2

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf (1)

3 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 260 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 1-3bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Alif laam mim shaad*. 2. ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. 3. ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (al-A’raaf: 1-3)

* Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Firman-Nya: kitaabun unzila ilaika (“Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu.”) maksudnya, inilah kitab yang diturunkan kepadamu [Muhammad] dari Rabbmu. Falaa yakun fii shadrika harajum minHu (“Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya.”) Mujahid, Qatadah dan as-Suddi berkata: “Yaitu keraguan terhadapnya.” Ada juga yang mengatakan: “Janganlah engkau merasa keberatan untuk menyampaikannya dan memberikan peringatan kepada manusia dengannya.”

Oleh karena itu, Allah berfirman: litundzira biHii (“Supaya engkau memberi peringatan dengan kitab itu [kepada orang kafir].” Maksudnya, kami turunkan kitab itu kepadamu supaya dengan kitab ini engkau memberikan peringatan kepada orang-orang kafir. Wa dzikraa lil mu’miniin (“Danng menajadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”

Kemudian Allah berfirman yang ditujukan kepada orang yang berilmu: ittabi’uu maa unzila ilaikum mir rabbikum (“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.”) artinya ikutilah jejak Nabi yang ummi yang telah membawakan kepada kalian sebuah kitab yang diturunkan kepada kalian dari Rabb pemelihara dan pemilik segala sesuatu. Wa laa tattabi’uu min duuniHii auliyaa-a (“Dan janganlah kamu mengikut pemimpin-pemimpin selain-Nya.”) maksudnya janganlah kalian keluar menyimpang dari apa yang telah diajarkan Rasul kepada kalian. Sehingga dengan demikian kalian berarti telah menyeleweng dari hukum Allah menuju hukum selain hukum-Nya. Qaliilam maa tadzakkaruuna (“Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran [darinya].”)

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 4-7“4. betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, Maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. 5. Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: “Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim”. 6. Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan Sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami), 7. Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (al-A’raaf: 4-7)

Allah berfirman: wa kam ming qaryatin aHlaknaaHaa (“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan.”) maksudnya disebabkan menyelisihi dan mendustakan para Rasul Kami. Maka Allah pun menimpakan kepada mereka kehinaan di dunia yang bersambung dengan kehinaan di akhirat.

Dan firman-Nya lebih lanjut: fajaa-aHaa ba’sunaa bayaatan au Hum qaa-iluuna (“Maka datanglah siksaan Kami [menimpa penduduk]nya pada waktu mereka berada di malam hari, atau pada waktu mereka beristirahat di tengah hari.”) maksudnya di antara mereka ada yang kedatangan siksa dan hukuman Allah pada malam hari atau ketika mereka sedang beristirahat di siang hari. Kedua waktu tersebut adalah waktu yang melengahkan dan waktu bermain-main.

Dan firman-Nya: famaa kaana da’waaHum idz jaa-aHum ba’sunaa illaa ang qaaluu innaa kunnaa dhaalimiin (“Maka tidak ada keluhan mereka pada waktu datang kepada mereka siksaan Kami kecuali mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim.’”) setelah adzab Allah menimpa mereka, maka tidak ada kata lain yang mereka ucapkan melainkan mereka mengakui dosa-dosa mereka, sebab mereka pantas mendapatkannya, seperti firman Allah berikut ini yang artinya:
“11. dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). 12. Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. 13. janganlah kamu lari tergesa-gesa; Kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. 14. mereka berkata: “Aduhai, celaka Kami, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zaIim”. 15. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi.” (al-Anbiyaa’: 11-15)

Dan firman Allah berikutnya: falanas-alannal ladziina ursila ilaiHim (“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus kepada Rasul kepada mereka.”) ayat ini sama seperti firman-Nya yang artinya: “Dan [ingatlah] hari [pada waktu] Allah menyeru mereka seraya berkata: ‘Apakah jawaban kalian kepada para Rasul.” (al-Qashshas: 65) demikian juga firman-Nya yang artinya: “[Ingatlah] hari [pada waktu] Allah mengumpulkan para Rasul, lalu Allah bertanya [kepada mereka]: ‘Apa jawaban kaummu terhadap [seruan]mu?’ Para Rasul menjawab: ‘Tidak ada pengetahuan kami [tentang itu] sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib.’” (al-Maa-idah: 109)

Maka Allah swt. bertanya kepada seluruh umat pada hari kiamat kelak, tentang jawaban yang mereka berikan kepada para Rasul-Nya, mengenai apa yang telah dibawakan kepada mereka. Dan para rasul-pun ditanya mengenai penyampaian risalah-Nya.

Ibnu Mardawaih mengatakan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: “Setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka seorang imam [penguasa] akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyat yang dipimpinnya. Seorang laki-laki akan dimintai pertanggungjawaban mengenai [kepengurusannya dalam] rumah suaminya. Sedangkan seorang budak akan dimintai pertanggungjawaban mengenai [kepengurusannya dalam] harta tuannya.” (HR Ibnu Mardwawaih)

Al-Laits mengatkan, Ibnu Thawus menceritakan kepadaku mengenai hal yang sama. Kemudian ia membacakan ayat: falanas-alannal ladziina ursila ilaiHim wa lanas-alannal mursaliina (“Maka sesungguhnay Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus para Rasul kepada mereka. Dan sesungguhnya Kami akan menanyai [pula] Rasul-rasul [Kami].”) hadits ini juga dikeluarkan dalam ash-Shahihain tanpa adanya penambahan ini.

Mengenai firman Allah swt.: falanaqushshanna ‘alaiHim bi’ilmiw wa maa kunnaa ghaa-ibiina (“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka [apa-apa yang telah mereka perbuat], sedang Kami mengetahui [keadaan mereka] dan Kami sekali-sekali tidak jauh [dari mereka].”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Buku catatan akan diletakkan pada hari kiamat kelak, maka buku catatan itupun akan berbicara mengenai apa yang telah mereka kerjakan.” Wamaa kunnaa ghaa-ibiin (“Sedang Kami mengetahui [keadaan mereka] dan Kami sekali-sekali tidak jauh [dari mereka].”) maksudnya bahwa Allah memberitahu hamba-hamba-Nya pada hari kiamat kelak, mengenai apa yang telah mereka ucapkan dan kerjakan, baik yang berjumlah sedikit, banyak, yang bertumpuk-tumpuk, maupun yang hina, karena Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya dan tidak pula Allah lengah dari sesuatu, bahkan Allah Mahamengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam hati.

Bersambung ke bagian 2